Part 67

1918 Kata

“Semalam Ibu datang.” Tiga kata yang sanggup membuat Naresh terdiam dari pergerakannya memakan sebuah roti isi daging yang dibuat oleh istrinya. Rona wajahnya tiba-tiba menghilang bak direnggup oleh suasana yang mulai menegang. Yang terdengar di telinga Naresh hanya minyak minyak menggelutuk dari atas penggorengan yang dipakai istrinya untuk menumis bawang. Makanya setelah itu, Daiva pun menoleh ke belakang dan mendapati suaminya yang terdiam. Benar-benar terdiam dari pergerakan sebelumnya, garpu yang masih dia pegang dan mulut yang masih penuh dengan makanan. Daiva sampai heran melihatnya, dia menggelengkan kepala saja sambil kembali melihat ke arah penggorengan. “Sama Sekar juga, Mas,” kata Daiva. Tentu Daiva sengaja mengatakannya karena dia pikir semua ini harus diselesaikan. Tida

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN