Seketika wajah Sekar memerah mendengar kata-kata itu. Pikirnya, Daiva sedang melancarkan aksi untuk membuatnya seperti pembantu seperti Daiva. Walaupun benar pernyataan itu, tetapi tidak seperti pembantu, justru selayaknya seorang istri yang melayani suaminya dengan baik dan benar. Apa yang dipikirkan Sekar seolah melawan semua argumen yang tidak Daiva keluarkan sehingga perempuan itu menahan tingginya emosi di dalam dirinya. “Apa semua ini adalah bagian dari memisahkan saya dan Naresh? Kamu bersikap sangat baik sampai memberikan saya sarapan, kemudian kamu suruh Naresh pergi karena sudah terlambat. Lalu yang terjadi sekarang, kamu mengatakan tidak perlu terburu-buru karena ada hal yang ingin diajarkan kepada saya. Kamu pikir saya ini seperti kamu? Saya ini Sekar, seorang perempuan yang b

