Part 49

1876 Kata

Kepergian suaminya tadi menimbulkan ruang hampa di relung hatinya. Dia untuk pertama kalinya mengatakan hal yang bahkan menyakitkan dirinya sendiri semalam. Membuat sang Suami terdiam bahkan merasa bersalah. Emosi, satu hal yang bisa disalahkan adalah emosi. Jika saja Daiva bisa menahan dirinya dari emosi, mungkin kata-kata itu tidak akan pernah keluar dari mulutnya. Pedas, tajam, dan menyakitkan. Apa lagi kalau bukan lidah? Walaupun tidak setajam silet, tetapi lidah bisa menggores banyak luka hanya dari ucapannya saja. Mendapatkan izin untuk pergi hari ini bukan berarti Daiva bisa bebas. Dia harus mengirimkan ke mana lokasinya berada dan mengabarkan walau mungkin tidak akan dibaca oleh suaminya, pikir Daiva. Kejadian dua hari ini membuat Daiva paham kalau pekerjaan sang Suami masih

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN