Tentu Daiva mengantarkan mertuanya ke lantai atas rumah. Lebih tepatnya lantai di mana letak kamarnya dan suami berada dan juga ada kamar yang tidak terpakai yang nantinya dikhususkan untuk kamar anaknya. Namun, sayang sekali yang dituju Lusiana bukanlah sebuah kamar, melainkan balkon yang menghadap ke depan rumah. Lusiana berdiri di sudut balkon sambil menggenggam besi penahan di sana. Pandangannya menelisik jauh di antara gugusan awan dengan panas matahari yang terik. Jelas saja dia bisa melakukan itu, kaca mata hitamnya terpasang dan itu membantunya untuk tidak sakit mata. Sementara Daiva ..., dia hanya berdiri beberapa langkah di belakang mertuanya. Sambil berusaha mengatur napas yang sedikit lagi akan terburu-buru lantaran dia tahu apa yang sedang mertuanya pikirkan. Pasti permasa

