Konflik yang Memuncak

1451 Kata
Di Kediaman Sugeng Danu.. "Saya sedang berduka kamu juga harus berduka Aditya Hartawan." kata Sugeng Danu yang membawa senapan. Di Kediaman Aditya Hartawan.. "Mi, sebentar lagi acara akan segera di mulai, kok Bayu belum.." kata Aditya Hartawan yang di potong pembicaraan oleh istrinya. "Itu bi.." sambung Arini Hartawan yang memotong pembicaraan suaminya. "Rasakan ini.." Sugeng Danu yang menembak Bayu. "Bayu.." Arini Hartawan berteriak melihat Bayu yang di tembak oleh Sugeng Danu. "Bayu, Sugeng kamu. Hmm.." kata Aditya Hartawan ketika melihat Sugeng Danu yang baru saja menembak Bayu. "Halo ambulance." Renaldi menelepon ambulance. "Mas, sudah?" tanya Arini Hartawan. "Sudah dik.." jawab Renaldi. "Lalu bagaimana cara kita menghentikan mas Aditya, mas?" "Kalau masalah menghentikan Aditya biar itu menjadi urusan mas dik. Mas titip Amanda ya dik." "Iya mas.." kata Arini Hartawan. "Hentikan Aditya, Sugeng, hentikan.." Renaldi melerai perkelahian Aditya Hartawan dan Sugeng Danu. "Alhamdulillah ambulance sudah datang, mama, bibi, Titah dan Amanda ikut tante ya ke rumah sakit pakai mobil." pinta Arini Hartawan. "Ya sudah, mama, bibi, Amanda, dan anakmu ke mobil mu duluan ya." kata nenek Sri Hartawan. "Iya mah.." sambung Arini Hartawan. "Sudah cukup Aditya, Sugeng. Jangan berkelahi lagi." kata Renaldi yang melerai Aditya Hartawan dan Sugeng Danu berkelahi. "Asalkan mas Renal tahu ya saya tidak terima, gara-gara adik sepupu kalian berdua adik saya meninggal bunuh diri dan saya masih berduka kalian malah senang-senang. Bayu juga menikah dengan orang lain, bukan dengan adik saya." sambung Sugeng Danu. "Tunggu sebentar, apa hubungannya adik sepupu saya dengan adik kamu yang bunuh diri itu?" tanya Renaldi heran. "Adik sepupu kalian berdua menghamili adik saya, Bayu juga tidak mau bertanggung jawab." jawab Sugeng Danu. "Itu rencana kalian berdua kan, biar adik sepupu saya tidak menikah dengan anak dari teman istri saya, lalu kamu bisa melanjutkan untuk mengatur siasat lagi kan yaitu merebut Arini dari saya, iya kan..?" tanya Aditya Hartawan. "Saya dan adik saya tidak merencanakan apa pun, dan satu lagi saya tidak terima kamu menuduhku untuk merebut istrimu dari kamu, ingat itu Aditya.." jawab Sugeng Danu lagi. "Sudah, sudah, sekarang kalian berdua sudahi perdebatan ini. Oh ya Sugeng lebih baik kamu pulang saja ke rumah dan kamu Aditya, lebih baik kamu hubungi istrimu dan kita ke rumah sakit sekarang." pinta Renaldy. "Nggih mas.." kata Aditya Hartawan patuh. "Ya mas. Saya pulang, assalamu'alaikum.." kata Sugeng Danu patuh. "Wa'alaikumussalam.." Renaldi menjawab salam dari Sugeng Danu. "Ya sudah sekarang kamu sama istrimu masuk ke dalam mobil, itu tuh mobil ambulance nya sudah sampai." "Nggih mas.." Di Rumah Sakit, Di Ruang IGD.. "Maaf pak silahkan tunggu di luar dulu, biar dokter periksa." kata suster. "Baik sus.." sambung Aditya Hartawan. "Pi, bagaimana Bayu?" tanya Arini Hartawan. "Sudah ditangani oleh suster dan dokter, kita tunggu saja di sini mi." jawab Aditya Hartawan. "Dit.." panggil Renaldi. "Iya mas, kenapa?" tanya Aditya Hartawan. "Apa benar yang di bilang Sugeng tadi, kalau Bayu yang telah menghamili adiknya, sehingga adiknya depresi dan akhirnya bunuh diri?" tanya Renaldi juga. "Tidak mas, itu bisa-bisa nya Sugeng saja, mas tahu sendiri kan Sugeng itu seperti apa. dia akan melakukan berbagai macam cara untuk merebut Arini dariku." jawab Aditya Hartawan. "Ya sudah kalau begitu nanti kita bahas lagi, sekarang kita fokus dengan Bayu saja dulu ya." kata nenek Sri Hartawan. "Iya mah.." sambung Aditya Hartawan dan Renaldi bersamaan. Satu Jam Kemudian.. Masih di Ruang IGD.. "Permisi, keluarga Bayu?" tanya suster. "Iya, bagaimana dengan adik saya, sus?" tanya Renaldi juga. "Maaf pak, kami sudah berusaha semampu kami, tapi sayang saudara Bayu tidak bisa di selamatkan, kami turut berduka cita." jawab suster. "Apa!!, Adik saya meninggal dunia sus, Sugeng. Hmm.." "Lho.. Lho.. Lho.. Dit. Kamu mau kemana?" "Mau ke kantor polisi." "Dit tunggu dik.." "Iya kenapa mas?" "Kejar Aditya.." "Iya mas, mah maaf titip Titah ya, aku mau kejar mas Aditya." pinta Arini Hartawan. "Iya nduk hati-hati." pinta nenek Sri Hartawan juga. "Iya mah.." kata Arini Hartawan patuh. Di lobby rumah sakit.. "Mas, mas Aditya.." panggil Arini Hartawan. "Iya, lho kok kamu di sini, Titah dengan siapa sayang?" tanya Aditya Hartawan. "Aku titip mama mas, mas Aditya mau kemana?" tanya Arini Hartawan juga. "Saya mau ke kantor polisi." jawab Aditya Hartawan. "Untuk apa mas?" "Mau melaporkan Sugeng, karena Sugeng adik sepupuku meninggal." "Besok atau nanti saja mas, keluarga kita masih berduka." pinta Arini Hartawan. "Enggak bisa sayang harus hari ini juga aku melaporkan Bagus ke kantor polisi." tolak Aditya Hartawan. "Tapi mas.." "Maaf ya sayang aku nggak bisa nuruti kemauan mu hari ini, aku harus tetap pergi, kamu pulang duluan saja ya sama yang lain, nanti aku menyusul setelah pulang dari kantor polisi." "Mas.." "Sep.." panggil Aditya Hartawan. "Muhun pak Aditya." jawab Asep. "Mobil.." Aditya Hartawan memberikan kode pada Asep. "Laksanakan pak Aditya." kata Asep patuh. "Aku pergi dulu ya ke kantor polisi, assalamu'alaikum." "Wa'alaikumussalam mas.." Arini Hartawan pun tidak bisa menghentikan suaminya yang ingin pergi ke kantor polisi untuk melaporkan Sugeng Danu. Dan hari yang ke empat puluh harinya Bayu, Aditya Hartawan mendapatkan telepon dari mertuanya, kalau Aditya Hartawan di minta mertuanya untuk mengurus perusahaan barunya di Kanada. Keesokan Harinya.. Di Kediaman Pak Sugeng Danu.. "Permisi.." kata Polisi. "Iya, maaf pak polisi, mencari siapa ya?" tanya Dilla. "Apa benar ini rumah pak Sugeng Danu?" tanya pak polisi juga. "Iya benar, tunggu sebentar ya pak, saya panggilkan dulu tuan saya." jawab Dilla. "Baik saya akan menunggu di sini." kata polisi. ---- "Siapa bi?" tanya Sugeng Danu. "Polisi, tuan." jawab Dilla. "Polisi.." kata Sugeng Danu. "Iya, katanya mencari tuan." sambung Dilla. "Mencari saya, kenapa?" "Maaf sebelumnya tuan, saya tidak mengerti." "Ya sudah saya kesana." Sugeng Danu akan segera menemui polisi yang berada di depan kediamannya. ---- "Permisi pak.." kata Sugeng Danu. "Iya, maaf Pak Sugeng Danu?" tanya polisi. "Iya benar saya, ada apa yang mencari saya?" tanya Sugeng Danu juga. "Saya membawa surat penangkapan pak Sugeng Danu, karena Bapak Sugeng Danu yang telah membunuh saudara Bayu, mari ikut saya ke kantor polisi." jawab salah satu polisi. "Baik pak, tapi berikan saya waktu sebentar untuk berpamitan pada anak saya dan asisten rumah tangga saya.." pinta Sugeng Danu. "Silahkan Pak Sugeng Danu. Untuk waktunya saya persilahkan." kata polisi. Empat Puluh Hari Kemudian.. Di Kediaman Pak Aditya Hartawan.. "Rasakan kamu Sugeng.." kata Aditya Hartawan didalam hati. "Kenapa mas?" tanya Arini Hartawan. "Itu lihat.." jawab Aditya Hartawan menunjuk ke arah TV. "Sugeng, di tangkap polisi dan masuk sel selama tujuh belas tahun." kata Arini Hartawan saat membaca keterangan berita di televisi. "Iya biar sayang, biar dia di penjara saya masih tidak terima Bayu meninggal karena di bunuh oleh dia. Di tambah lagi ini adalah bagian rencana dari dia yang akan merebut kamu dariku sayang." sambung Aditya Hartawan. "Mas, tidak sepenuhnya mas Sugeng yang salah. Siapa tahu saja mas Sugeng benar kalau Dewi adiknya hamil oleh Bayu sebelum Bayu saya kenalkan pada Rini." "Kamu bela dia sayang, kamu bela orang yang telah membunuh adik saya?" tanya Aditya Hartawan. "Tidak mas, saya itu tidak membela dia. Tapi ingat mas, keluarga kita masih berduka." jawab Arini Hartawan. "Assalamu'alaikum, permisi minta maaf Bapak dan Ibu Hartawan." kata Paijo. "Iya jo, ada apa?" "Wa'alaikumussalam jo.." Arini Hartawan menjawab salam dari Paijo. "Ada telepon dari ndara ibu, pak Aditya." jawab Paijo. "Oh.. Ya sudah mana sini, kamu jaga Titah yang benar ya jo.." pinta Aditya Hartawan. "Laksanakan pak Aditya, permisi.." kata Paijo Patuh. "Inggih jo." "Mi.." panggil Aditya Hartawan. "Iya pi.." jawab Arini Hartawan. "Kira-kira ada apa ya ibu telepon pagi-pagi gini?" "Boten mangertos.." ** [Aditya Hartawan : Assalamu'alaikum bu.] [Arum Kusumawardhani : Wa'alaikumussalam ngger..] [Arum Kusumawardhani : Ngger ada yang ingin ibu bicarakan denganmu, yaitu kamu hari ini siap-siap bersama Arini dan anakmu ya.] [Aditya Hartawan : Siap-siap kemana bu?] [Arum Kusumawardhani : Kamu siap-siap ke Kanada ya, besok pagi berangkat nya, untuk mengurus cabang perusahaan bapak mertuamu yang baru. Oh ya, kakakmu ada gak?] [Aditya Hartawan : Ada bu sebentar ya.] ** "Mas.. Kang mas.." panggil Aditya Hartawan. "Inggih dhi mas enten menapa?" tanya Renaldi. "Ibu mertua saya telepon nyari kang mas, mungkin ingin berbicara dengan kang mas." jawab Aditya Hartawan. "Oh ya sudah mana teleponnya." pinta Renaldi. "Ini kang mas.." Aditya Hartawan memberikan telepon rumah pada Renaldi. ** [Renaldi : Assalamu'alaikum tante..] [Arum Kusumawardhani : Wa'alaikumussalam ngger, Renal..] [Renaldi : Iya tante, ada apa ya tante?] [Arum Kusumawardhani : Jadi gini loh ngger, tante mau kamu menggantikan Aditya untuk memimpin perusahaan om Ardian di kantornya yang sekarang di pimpin Aditya, karena Aditya mau tante kirim ke Kanada untuk memimpin perusahaan atau cabang baru di Kanada, bisa kan?] [Renaldi : Oh bisa tante, mulai kapan ya tante?] [Arum Kusumawardhani : Mulai lusa, kan besok kantor libur.] [Arum Kusumawardhani : Oh iya tante, siap, siap tante.] [Arum Kusumawardhani : Oke, kalau gitu sampai ketemu di kantor lusa ya.] [Renaldi : Iya tante..] [Arum Kusumawardhani : Assalamu'alaikum..] [Renaldi : Wa'alaikumussalam tante..]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN