Bab 1 - Ikrar di Balik Kain Hitam
"Kau tahu apa bedanya dirimu dengan patung porselen murahan di sudut ruangan itu? Patung itu tidak menuntut perhatian, tak bersuara, dan yang paling penting—tak punya akal licik untuk mengkhianatiku. Pastikan kau menjadi benda mati yang sama selama menumpang di rumah ini."
Suara bariton yang dingin, berat, dan setajam silet itu memecah keheningan ruangan yang luasnya mengalahkan lobi hotel berbintang lima. Udara di dalam sana terasa membeku; seolah pendingin ruangan tak lagi dibutuhkan saat sang pemilik suara telah membuka mulutnya.
Titah Kesumawardani berdiri tegak di tengah hamparan karpet sutra Persia. Gaun pengantin hitamnya yang sederhana namun tertutup rapat menjuntai hingga menyapu lantai marmer. Wajahnya tersembunyi sempurna di balik sehelai kain cadar berwarna senada, hanya menyisakan sepasang mata cokelat yang menatap lurus ke depan—tepat ke arah pria yang baru beberapa jam lalu sah menjadi suaminya di mata agama dan hukum.
Pria itu adalah Afgansyah Reza. Bukan sekadar nama, melainkan sebuah institusi ketakutan di dunia bawah tanah.
Afgan adalah Tuan Mafia yang memegang kendali penuh atas seluruh jalur perdagangan logistik dan properti elit di benua ini. Ia memonopoli pasar tanpa perlu mengotori tangannya dengan darah secara langsung; cukup dengan satu jentikan jari dan tatapan yang mencekam, musuh-musuhnya akan menyerahkan segalanya secara sukarela—daripada harus berhadapan dengan kekejamannya di meja negosiasi.
Kini, pria bertubuh tegap dengan balutan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku itu duduk di sofa kulit tunggal. Kaki jenjangnya bersilang dengan penuh kesombongan. Di tangannya terdapat gelas kristal berisi cairan keemasan yang hanya ia putar perlahan, menciptakan bunyi denting es batu yang mencekam. Sorot matanya yang sekelam malam tanpa bintang menatap Titah dari ujung kepala hingga ujung kaki, penuh dengan penilaian yang merendahkan.
"Kenapa kau diam?" desis Afgan, meletakkan gelasnya dengan bantingan pelan ke atas meja kaca. Ia bangkit berdiri. Sepatu kulit mahalnya mengetuk lantai saat ia berjalan mengelilingi Titah, layaknya predator yang sedang mengukur kekuatan mangsanya.
"Apakah kain hitam yang menutupi wajahmu itu juga menutupi pita suaramu? Atau kau sedang menyusun skenario tangisan palsu seperti wanita-wanita lain yang pernah dikirim ayahku?"
Titah menarik napas pelan. Wangi kopi hitam, tembakau mahal, dan bahaya murni menguar kuat dari tubuh pria yang kini berhenti tepat di hadapannya. Jarak mereka hanya tersisa dua langkah; tingginya yang menjulang membuat Titah harus sedikit mendongak untuk menatapnya.
"Nama saya Titah Kesumawardani, Tuan," jawabnya akhirnya. Suaranya halus, mengalun lembut namun berdiri di atas pondasi ketegasan yang tak tergoyahkan. Tak ada getar ketakutan, tak ada isak tangis yang diharapkan Afgan.
"Dan saya tidak dikirim sebagai barang tebusan ataupun pajangan. Saya berada di sini atas kesepakatan pernikahan yang sah—yang Anda sendiri pun ikut menandatanganinya."
Afgan mendengus keras, tawa sinis tanpa sedikit pun humor lolos dari bibirnya. Ia mencondongkan wajah ke depan, berusaha mencari celah ketakutan di mata cokelat yang jernih itu. Namun ia tak menemukannya. Hal itu justru membuat rahangnya semakin mengeras.
"Kesepakatan," ulang Afgan dengan nada penuh cemooh.
"Dengar baik-baik, Nona. Bagiku, kau hanyalah solusi praktis untuk membungkam rengekan ayahku soal 'penerus' dan 'sosok ibu'. Tugasmu di sini hanya satu: mengurus anakku. Buat dia berhenti menghancurkan isi rumah ini. Selebihnya, kau tak punya eksistensi apa pun."
Afgan menunjuk ke arah lantai atas dengan dagunya.
"Jangan pernah mencampuri urusanku. Jangan berani melangkah masuk ke ruang kerjaku. Jangan menyentuh barang-barangku. Dan yang paling penting..." Pria itu merendahkan suaranya menjadi bisikan yang mematikan.
"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu. Wanita di mataku hanyalah makhluk parasit pengkhianat yang pandai bersandiwara."
Sejenak, bayangan masa lalu yang kelam berkelebat di mata Afgan. Pengkhianatan mantan istrinya—wanita yang meninggalkannya dan putra mereka demi pria lain saat ia berada di titik terendah—telah membunuh separuh jiwanya. Sejak saat itu, hati Afgan tertutup rapat oleh dinding baja.
Namun alih-alih hancur mendengar kata-kata kasar itu, mata Titah justru memancarkan ketenangan yang membuat Afgan merasa aneh.
"Itu kesepakatan yang sangat mudah dan masuk akal, Tuan Afgansyah Reza," sahut Titah cepat, memutus rantai intimidasi pria itu.
"Saya sama sekali tidak mengharapkan cinta Anda, apalagi sentuhan Anda. Saya akan menjalankan kewajiban saya sebagai pengasuh dan ibu sambung bagi putra Anda dengan sebaik-baiknya. Selebihnya, saya harap Anda juga menghargai ruang pribadi dan batasan saya."
Alis tebal Afgan bertaut tajam. Seumur hidupnya, tak ada yang berani menatap matanya selama ini saat ia sedang murka—apalagi membalas ucapannya dengan logika sedingin itu. Para wanita biasanya akan berlutut menangis atau merengek mencari perhatiannya. Tapi wanita di hadapannya ini... ia seolah sedang berbicara dengan rekan bisnis yang setara.
Tiba-tiba, rasa penasaran yang gelap menguasai Afgan. Tangan besarnya terulur dengan gerakan kilat, berniat menarik kain hitam yang sejak tadi mengganggu pandangannya.
"Kalau begitu, mari kita mulai dari kejujuran mutlak. Buka kain ini. Aku benci rahasia di rumahku sendiri. Aku berhak melihat wajah wanita yang kini memakai nama belakangku."
Namun sebelum jari-jari Afgan sempat menyentuh kain itu, Titah memundurkan tubuhnya dengan refleks luar biasa dan menepis punggung tangan pria itu. Sentuhan yang hanya berlangsung satu detik, namun cukup untuk membuat seluruh pengawal di ruangan itu menahan napas ngeri. Berani sekali wanita itu menepis tangan Sang Penguasa!
"Jangan. Sentuh. Cadar saya," tekan Titah. Kali ini nada suaranya berubah berat, penuh peringatan tegas.
"Ini bukan rahasia. Ini bentuk ketaatan saya kepada Tuhan saya. Anda memang suami saya, tapi hak Anda memiliki batas mutlak jika itu bertentangan dengan keyakinan dan prinsip saya. Di luar rumah, atau saat ada orang lain selain Anda di ruangan ini, cadar ini tak akan pernah terlepas."
Afgan membeku. Tangannya yang ditepis menggantung di udara beberapa detik sebelum ditarik kembali. Matanya menyipit, memancarkan aura membunuh yang biasanya membuat lawan bisnisnya menyerahkan seluruh aset mereka malam itu juga.
"Kau berani mengaturku, di istanaku sendiri?" geramnya rendah.
"Saya tidak mengatur Anda. Saya sedang menjaga kehormatan saya," jawab Titah lugas tanpa ragu.
"Jika Anda pria sejati dengan akal sehat, Anda akan menghargai prinsip wanita yang kini berada di bawah tanggung jawab Anda—bukan memaksanya layaknya preman jalanan."
Keheningan yang mematikan menyelimuti ruangan raksasa itu. Para pelayan menunduk semakin dalam, merapalkan doa keselamatan dalam hati.
Afgan menatap mata cokelat itu lekat-lekat. Ada dinding baja yang melapisi tatapan wanita itu. Egonya tertampar keras, namun di sudut hatinya yang paling gelap, sesuatu yang bernama ketertarikan mulai berdenyut perlahan.
"Kita lihat saja, berapa lama kau bisa bersikap sombong di balik kain sialan itu," desis Afgan akhirnya. Ia berbalik memunggungi Titah sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Bawa barang-barang Nyonya ke lantai dua. Kamarnya ada di sayap kiri, tepat di sebelah kamar Arga. Jauh dari kamarku."
Titah tak membalas. Ia hanya menunduk sedikit sebagai tanda pamit, lalu berbalik mengikuti langkah kepala pelayan yang wajahnya pucat pasi. Pertempuran pertama telah ia lewati—tanpa sedikit pun kehilangan harga dirinya.
****
Suara denting pecahan kaca dan bantingan benda keras memekakkan telinga, menggema kencang dari arah sayap kiri lantai dua.
Titah yang baru saja melipat mukenanya setelah menunaikan salat Duha segera beranjak. Dengan gerakan cepat ia mengenakan kembali cadarnya, lalu melangkah setengah berlari menuju sumber keributan itu.
Di depan pintu kamar kayu mahoni berukir indah, dua pelayan wanita berdiri mematung; bahu mereka gemetar hebat, wajah memerah menahan tangis yang tak sanggup lagi ditahan.
Di balik pintu itu, badai amarah sedang melanda ruangan yang dipenuhi mainan bernilai ratusan juta rupiah.
Seorang anak laki-laki berusia enam tahun berdiri di atas tempat tidur. Wajah tampannya memerah padam, urat di lehernya menonjol jelas, dan air mata menggenang di pelupuk mata yang berwarna sekelam malam—persis milik ayahnya.
Tangannya menggenggam erat mobil-mobilan besi padat, bersiap melemparkannya sekali lagi.
Itulah Arga. Putra tunggal Afgan. Bocah yang mewarisi kekayaan tanpa batas, namun miskin sepenuhnya akan kasih sayang.
Ditinggalkan ibunya yang berkhianat saat ia masih sangat kecil, membuat Arga tumbuh dengan ketidakpercayaan yang mengerikan pada seluruh dunia—terutama wanita. Ia membenci setiap sosok perempuan yang melangkahkan kaki ke rumah ini; baginya, mereka semua adalah pembohong yang kelak akan menyakitinya dan pergi.
"Pergi! Arga bilang pergi! Kalian semua pembohong! Wanita ular! Arga nggak mau suster baru! Pergi sebelum Arga bunuh kalian semua!" jeritnya. Kata-kata kasar itu meluncur dari mulut kecilnya—racikan pahit yang ia serap dari lingkungan keras tempat ia dibesarkan.
Dengan sekuat tenaga, ia melemparkan mobil-mobilan itu ke arah pintu. Para pelayan menjerit ketakutan dan berjongkok menutupi kepala.
Namun Titah yang baru tiba di ambang pintu justru melangkah masuk dengan tenang. Ia tak sempat, dan tak ingin, menghindar.
Bruk!
Benda besi itu menghantam bahu kanannya dengan keras, memantul pelan sebelum akhirnya jatuh ke atas karpet tebal.
"Akh..." ringis Titah tertahan di balik cadarnya. Rasa nyeri dan kebas menjalar cepat hingga ke ujung jari-jarinya, namun kakinya tak bergeser selangkah pun ke belakang.
"Nyonya!" pekik salah satu pelayan, suaranya gemetar ketakutan. "Jangan masuk, Nyonya! Tuan Muda Arga sedang mengamuk parah! Beliau bisa melukai Anda serius! Biasanya hanya Tuan Afgan yang sanggup menahannya, tapi Tuan sedang terjebak rapat penting di lantai bawah!"
"Biar saya yang urus. Kalian tunggu di luar, dan jangan ada yang bersuara sedikit pun," perintah Titah. Nadanya tenang, namun penuh kepastian yang tak bisa dibantah. Wibawa yang memancar darinya membuat kedua pelayan itu langsung mundur dan menutup pintu perlahan.
Kini ruangan tertutup rapat. Hanya ada dirinya, dan bocah kecil yang napasnya memburu bak singa kecil yang terluka parah.
Arga menatap sosok berpakaian hitam pekat di hadapannya dengan kewaspadaan penuh. Matanya melebar menatap cadar yang menutupi seluruh wajah wanita itu.
"Kamu siapa?!" teriaknya, tangan kecilnya kini meraih lampu meja berbahan akrilik. "Kamu mau bohongin Arga juga, kan?! Kalau kamu berani dekat-dekat, aku pukul kamu! Kamu jelek! Kayak monster kegelapan!"
Alih-alih marah atau tersinggung disebut monster, Titah justru berhenti melangkah. Ia membiarkan jarak dua meter memisahkan mereka. Tak berusaha mendekat dengan tiba-tiba, tak merayu dengan suara kekanak-kanakan palsu, dan sama sekali tak memarahinya.
Pelan-pelan Titah menurunkan tubuhnya, berlutut di atas karpet tebal hingga posisi matanya sejajar dengan mata Arga yang berdiri di atas kasur. Ia menengadah, membiarkan sepasang mata cokelatnya bertemu langsung dengan manik hitam legam yang dipenuhi amarah sekaligus ketakutan itu.
"Kalau Arga mau memukul Tante, pukullah saja. Tante tidak akan memukul balik," ucap Titah lembut.
Suaranya mengalun tenang seperti aliran sungai yang menyejukkan, terdengar jelas menembus sisa isak tangis anak itu.
"Bahu Tante memang sakit sekali terkena lemparan mobil Arga tadi. Tapi melihat mata Arga yang menangis seperti itu, Tante yakin hati Arga pasti jauh lebih sakit, kan?"
Arga tertegun. Tangannya yang memegang lampu meja gemetar hebat. Tak ada satu pun orang yang pernah berkata seperti itu padanya. Biasanya pengasuh yang ia pukul akan berteriak marah, langsung melaporkannya pada ayahnya, atau membalas tangannya dengan kasar. Namun wanita berbaju aneh ini malah mengerti, bahkan memvalidasi rasa sakitnya?
"Arga benci perempuan! Mama jahat! Mama pergi ninggalin Arga waktu Arga tidur! Semua perempuan sama saja! Semuanya jahat!" raung Arga, pertahanan dirinya perlahan runtuh. Lampu di tangannya terlepas dan jatuh berguling di atas kasur; anak itu mulai menangis histeris.
"Tante tahu, Sayang. Tante tahu," bisik Titah, matanya ikut berkaca-kaca merasakan penderitaan bocah itu. Ia tak bergerak maju, membiarkan Arga memiliki ruang aman yang ia butuhkan.
"Ditinggalkan saat kita paling butuh rasanya seperti napas dicekik, bukan? Sesak sekali. Arga boleh marah. Arga boleh menangis sekeras-kerasnya di kamar ini. Tante janji, tak akan menyuruh Arga diam. Tante akan tetap duduk di sini sampai mata Arga lelah menangis."
Kalimat itu adalah kunci yang selama ini dicari jiwa kecil Arga. Anak yang selalu dipaksa bersikap kaku layaknya penerus mafia, dilarang menangis oleh ayahnya, dan dicap nakal oleh semua orang di sekitarnya, kini akhirnya menemukan seseorang yang mengizinkannya menjadi anak kecil yang terluka.
Arga merosot duduk di atas kasur, menangis tersedu-sedu seolah ingin menumpahkan seluruh kepahitan di hatinya. Titah menepati janjinya; ia diam berlutut, hanya menatap Arga dengan sorot mata penuh pengertian dan kasih sayang yang tulus.
Tiga puluh menit berlalu. Tangis histeris Arga perlahan mereda menjadi cegukan kecil. Ia mengusap air mata dan ingusnya dengan kasar menggunakan lengan piyama. Rasa penasaran kini mengalahkan sisa amarahnya; mata sembabnya menatap lekat-lekat kain hitam yang menutupi wajah Titah.
"Kamu... ninja ya?" tanyanya dengan suara serak.
Titah tak kuasa menahan senyumnya. Ia terkekeh pelan di balik cadar, membuat matanya menyipit membentuk lengkungan bulan sabit yang sangat menenangkan.
"Bukan, Jagoan. Tante bukan ninja," jawabnya dengan nada ceria yang menular. Ia perlahan mengulurkan tangan, telapak tangannya terbuka menghadap ke atas di pinggir kasur—sebuah tawaran, bukan paksaan. "Kain ini namanya cadar. Bisa dibilang, ini adalah tameng pelindung Tante."
Arga beringsut mendekat sedikit demi sedikit, matanya tak beralih dari telapak tangan itu.
"Tameng pelindung? Buat menangkis peluru kayak milik Papa?"
"Bukan," jawab Titah lembut. "Buat menjaga hal yang paling berharga. Sama seperti brankas kaca tempat Arga menyimpan mobil-mobilan kesayangan agar tak rusak, tameng ini menjaga hati dan kehormatan Tante dari pandangan yang salah." Ia menjeda sejenak, lalu menatap Arga dalam-dalam.
"Dan kalau suatu saat Arga merasa dunia ini terlalu jahat, atau Arga butuh tempat bersembunyi dari monster, Arga boleh berlindung di balik tameng Tante ini."
Kalimat itu bagaikan mantra ajaib. Tanpa diduga, Arga—anak yang tak pernah membiarkan wanita menyentuhnya, yang akan menggigit siapa saja yang berani memeluknya—perlahan turun dari kasur. Ia mendekat dengan ragu namun pasti, lalu menjatuhkan kepalanya ke ceruk bahu Titah. Tangan kecilnya mencengkeram erat kain gamis hitam di bagian d**a wanita itu.
Titah tersenyum haru. Dengan gerakan sangat pelan dan hati-hati, ia melingkarkan lengannya ke punggung kecil yang bergetar itu, memeluknya erat. Ia mengusap punggung dan rambut Arga dengan irama yang menenangkan, menyalurkan kehangatan yang selama ini bocah itu rindukan.
"Tenanglah, Nak. Tante di sini. Kamu aman sekarang," bisiknya, mengecup puncak kepala Arga dari balik kain cadarnya.
Di ambang pintu yang sedikit terbuka, sesosok pria berdiri kaku seolah terpaku petir.
Afgan menahan napas di tenggorokan. Rahangnya mengeras, namun matanya membelalak tak percaya. Ia baru saja membubarkan rapat penting sepihak saat mendengar laporan pengawal bahwa putranya kembali mengamuk. Ia datang dengan amarah yang mendidih, siap memecat seluruh pelayan dan menyeret wanita yang baru dinikahinya keluar jika berani menyakiti Arga.
Namun pemandangan di hadapannya melumpuhkan seluruh emosinya.
Arga—anak laki-lakinya yang keras kepala dan penuh kebencian, yang mewarisi seluruh kebrutalannya—kini sedang memeluk erat wanita asing itu. Arga memeluknya sekuat tenaga, seakan Titah adalah satu-satunya jangkar penyelamat di tengah badai yang menghantam hidupnya. Dan yang paling mustahil: Arga terlihat tenang.
Mata hitam Afgan terpaku pada tangan Titah yang lembut mengusap rambut putranya. Mata cokelat yang semalam menatapnya dengan pembangkangan berani, kini memancarkan lautan kasih sayang yang begitu murni dan tulus.
Sebuah perasaan asing—hangat namun sekaligus mencekam—tiba-tiba merayap naik dan mencengkeram dadanya. Sesuatu yang sudah lama mati dan terkubur di sana, seolah tersentak bangun hanya dengan melihat siluet wanita bercadar itu.
Tiba-tiba Titah menoleh ke arah pintu. Mata cokelatnya langsung menangkap sosok tinggi besar yang berdiri di sana.
Waktu seakan berhenti berputar. Mata kelam yang menyimpan trauma dan kekejaman bertabrakan dengan mata cokelat yang memancarkan cahaya dan keteguhan hati.
Afgan melangkah masuk perlahan. Aura d******i yang menyertainya seketika mengubah suasana kamar menjadi tegang. Arga yang menyadari kehadiran ayahnya segera melepaskan pelukan dan menunduk takut.
"Arga, pergi ke kamar mandi. Bersihkan wajahmu, lalu panggil pelayan di luar," perintah Afgan singkat dan mutlak. Tak ada nada tawar-menawar.
Arga ragu sejenak, lalu menoleh menatap Titah. Wanita itu mengangguk pelan, menyiratkan senyum lebar di balik matanya untuk menenangkan bocah itu. Mendapat izin itu, barulah Arga berlari keluar kamar.
Kini hanya tersisa Afgan dan Titah.
Titah bangkit berdiri, merapikan kain gamisnya dengan tenang, siap menghadapi segala tuduhan atau kemarahan yang akan dilontarkan suaminya.
Afgan melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. Tubuh tingginya menjulang, seolah menjebak Titah di antara dirinya dan tepi ranjang. Ia menunduk, wajahnya begitu dekat hingga Titah bisa merasakan embusan napas beraroma mint yang menyapu keningnya. Afgan menatap tajam ke dalam mata cokelat itu, berusaha mencari setitik kesombongan karena telah berhasil menenangkan putranya. Namun yang ia temukan hanyalah ketenangan yang perlahan menggerus egonya.
"Kau mungkin merasa menang karena berhasil menaklukkan singa kecilku di hari pertamamu, Humaira," bisik Afgan rendah, suaranya bercampur amarah, gengsi, dan daya tarik gelap yang tak ia pahami sendiri.
"Tapi jangan pernah bermimpi kau bisa menaklukkan penguasanya. Aku akan membuat dinding baja di matamu itu runtuh. Aku akan membuatmu melepas kain sialan itu—bukan karena paksaan tanganku, tapi karena kau sendiri yang akan berlutut memohon agar aku melihatmu."
Titah tak bergeser walau satu inci pun. Ia membalas tatapan tajam itu dengan sorot mata yang sama tegarnya, namun dibalut kelembutan yang tak tergoyahkan.
"Silakan mencoba sepuas Anda," jawabnya tenang, membelah ancaman pria itu sehalus bilah sutra.
"Tapi saya pastikan, Tuan Afgansyah Reza: satu-satunya cara kain ini terbuka di hadapan Anda, adalah ketika Andalah yang belajar menundukkan kesombongan Anda, lalu berlutut untuk meminta. Bukan berdiri di sini mengancam untuk memaksa."