Bab.7 Potongan Cermin Tua

1628 Kata
Mendung di ufuk barat menggulung pelan, memekat seperti selimut yang menutup dunia. Angin membawa bau tanah lembab dan sesuatu yang lebih tajam, bau logam yang lama, yang membuat Meela merasakan getaran di tulang punggungnya. Di kejauhan, bel dan gong kuil terdengar samar, bergema menandai suatu peringatan; bukan kepada penduduk kota, melainkan kepada mereka yang peka terhadap gelombang-gelombang batin: perubahan sedang datang. Di sebuah lorong sempit antara dua rumah toko, Brenda berdiri dengan mantel hitamnya yang masih berlumuran noda darah kering. Wajahnya pucat, bekas-bekas luka seperti peta kecil yang menceritakan kebrutalan pertempuran terakhir. Namun matanya menyala seperti bara yang tak pernah padam. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan kecil, dibalut kain sutra. Di dalamnya, sesuatu yang tak pernah ia tebarkan sebelumnya: potongan cermin tua yang katanya dapat memantulkan bukan hanya bayangan, tapi juga keinginan terdalam. “Kalau cinta membuatnya memilih manusia,” gumam Brenda, suaranya serak, “maka aku akan menukar hatinya dengan sesuatu yang tak bisa ditawar: rasa bersalah, penyesalan, kehancuran.” Veynar, yang duduk di bangku kayu di dekatnya, menghela napas panjang. Tangannya menutupi luka di dadanya, namun gerakan itu lebih karena kebiasaan daripada rasa sakit yang masih menganga. “Jangan membiarkan itu mengambil seluruhmu, Brenda. Dendam memberi arah, tapi juga menutup jalan.” “Arahku adalah menghancurkan mereka,” jawab Brenda dingin. “Dan jika aku harus kehilangan segala sesuatu, nama, wajah, bahkan aku akan melakukannya. Aku akan membuat Meela merasakan setiap tetes darah yang pernah mengalir di tubuh Goldbin.” Veynar menatapnya, ada keretakan tipis di sana, belas kasihan yang tak sanggup ia sembunyikan. “Kalau itu yang kau pilih, ingatlah: beberapa luka tak pernah sembuh. Mereka hanya menunggu waktu untuk menghitam.” Brenda mengangkat bahu. Ia melangkah pergi, menyisakan Veynar dalam keheningan. Di balik langkahnya, ada rencana yang mulai terbentuk, rentetan tindakan yang akan membalikkan takdir jika tak ada yang menghentikannya. Ia butuh alat, tetapi lebih dari itu: ia butuh kelemahan. Dan kelemahan itu bernama Meela. Di rumah kecil mereka, pagi berubah lambat menjadi siang. Meela menyibakkan gaun longgar, mencari bahan-bahan untuk membuat ramuan penyembuh yang sederhana. Ritual ikatan masih membekas di kepalanya; ada rasa yang aneh, seperti dua suara dalam d**a yang kini saling berbalas. Ia merasakan getaran lembut di pergelangan tangannya, seolah ada benang tipis yang mengikatnya dengan sesuatu di luar jarak, Goldbin, mungkin, tetapi juga sesuatu yang lebih besar: masa lalu Goldbin yang tak sepenuhnya tersembunyi. Goldbin datang dari ladang, membawa beberapa sayuran dan sebuah senyum yang amat tenang. Ia meletakkan barangnya, lalu mendekat. “Kau terlihat cemas,” katanya. Meela menoleh, tersenyum setengah. “Mungkin saja. Rencana Brenda tak pernah sederhana. Aku takut dia akan menyerang sesuatu yang tak berdaya, penduduk, anak-anak… atau bahkan kau.” Goldbin duduk di sampingnya, menyentuh punggung tangannya. Sentuhan itu menenangkan seperti selimut hangat. “Kalau dia menyerang yang tak bersalah, aku akan melawannya. Tapi aku tak ingin kau terpancing untuk membalas. Kau sudah memberiku rumah; jangan biarkan luka orang lain merobeknya lagi.” Mata Meela menjadi berkaca. “Kalau aku melihatmu terluka lagi, aku tak tahu apa yang akan kulakukan.” Goldbin menatapnya dalam. “Itulah mengapa kau harus percaya padaku. Ikatan kita bukan sekadar janji; itu perisai. Aku takkan membiarkanmu jadi alat kekejamannya.” Sebuah ketukan pelan terdengar di pintu. Seorang tetangga, Nenek Rima, berdiri di sana dengan wajah pucat. “Anak-anakku… ada yang berkata bahwa ada kelompok bayangan berkeliaran di pasar siang tadi. Mereka bertanya tentang kalian.” Kedua pasangan itu saling bertukar pandang. “Kelompok bayangan?” ulang Meela. “Siapa mereka?” Nenek Rima menggeleng. “Tak ada wajah, tapi mereka membawa lambang, cincin dua ular melilit, simbol yang dulu dipakai sekte lama. Mereka menanyakan nama kalian, lalu pergi. Aku takut… ini bukan kebetulan.” Goldbin berdiri, memberi isyarat agar Meela tetap di dalam. “Terima kasih, Nenek. Beritahu orang lain untuk waspada.” Ketika pintu ditutup, Meela merasakan sesuatu di dalam dadanya: ketegangan yang baru, seperti benang yang tertarik. Ia tahu, ini bukanlah kebetulan. Brenda punya sekutu, dan sekutu itu lebih rapuh daripada yang terlihat. Malam itu, Brenda berdiri di atas atap sebuah gudang tua, memandang ke arah rumah Meela dan Goldbin yang kecil dan hangat. Ia menggenggam potongan cermin di tangannya, melihat bayangannya sendiri, lelah, marah, dan begitu hampa. Di bawahnya, bayangan-bayangan berkumpul, manusia-manusia yang tersingkirkan, tersakiti, yang haus akan pembalasan. Mereka mengikuti Brenda bukan karena cinta, melainkan karena janji akan perubahan. “Aku akan mengambil apa yang menjadi milikku,” bisik Brenda pada angin. “Tak peduli berapa banyak jiwa yang harus kubawa ke dalamnya.” Di tengah kegelapan, bayangan-bayangan itu turun seperti kabut, menyusup ke jalan-jalan, berbaur dengan pedagang malam, menggoda pencuri, menyebarkan bisik-bisik. Mereka siap menunggu waktu yang tepat, saat cinta terlihat lengah, saat ketika pembela mulai menaruh kepala mereka pada buaian kepercayaan. Beberapa hari berlalu. Ketegangan menjadi rutinitas. Goldbin dan Meela melatih diri, berlatih menyelaraskan napas, menyelaraskan detak jantung, latihan yang bukan sekadar fisik, tetapi spiritual. Ikatan mereka menuntut keseimbangan; setiap kali Goldbin menyentuh Meela, ia merasakan kilasan masa lalu: medan perburuan, teriakan para lycan, wajah pemimpin yang dulu mengajarkannya pedang, sebuah masa yang penuh dengan perintah keras dan ketidakmampuan untuk memilih kelembutan. Kini, kelembutan itu ia peluk seperti harta. “Cinta ini memberiku kekuatan sekaligus kerentanan,” kata Goldbin suatu malam, saat mereka duduk di belakang rumah, menatap bulan purnama yang sama seperti malam ikatan. “Dulu aku tak pernah membiarkan siapa pun masuk begitu dalam. Sekarang, aku takut kehilanganmu seperti kehilangan sayap.” Meela meraih tangan Goldbin. “Kalau kau takut, kita hadapi bersama. Kita akan membuat dirimu utuh, bukan dengan menghapus masa lalu, tetapi dengan menenun masa lalu itu menjadi bagian dari kita.” Goldbin menunduk, lalu menatapnya penuh syukur. “Aku akan menjaga janji. Untuk selama-lamanya.” Ucapan itu bergema, tetapi di baliknya ada sesuatu yang lain, dengungan halus di ujung malam. Seperti bisik, seperti sayap yang menyapu kaca. Meela merinding. “Dengar,” katanya. “Ada yang mendekat.” Mereka berdua berdiri, waspada. Dari kejauhan, bayangan mendekat, bukan sekadar manusia, tetapi sesuatu yang lebih terlatih. Mereka datang dalam kelompok kecil, tanpa suara, seperti malam yang bergerak. Goldbin memegang pedang di pinggangnya. “Siap atau tidak, ini akan tiba.” Pertempuran itu singkat namun brutal. Bayangan-bayangan menyerang dengan strategi, menyasar pembantu rumah, memecah perhatian, menimbulkan kerusakan sekecil mungkin supaya ketakutan menyebar. Namun Goldbin dan Meela, yang kini terikat dalam jalinan jiwa, memberikan balasan yang bukan sekadar kekerasan: mereka bergerak dalam sinkron. Yang satu menutup celah, yang lain memukul tepat di titik lemah. Akhirnya, para penyerang itu mundur, meninggalkan jejak darah dan kata-kata ancaman yang terucap lirih dari mulut Brenda yang tak terlihat. Setelah pertempuran, ketika debu mengendap dan kota mencoba kembali bernafas, Meela duduk di sebuah bangku, napasnya terengah namun tenang. Goldbin duduk di sampingnya, memeriksa luka-lukanya. Mereka selamat untuk kali ini. Tapi pesan yang tersisa jelas, Brenda tidak akan menyerah. “Apa yang akan dia lakukan selanjutnya?” tanya Meela pelan. Goldbin menatap ke arah cakrawala, di mana awan menggulung dan cahaya senja memerah. “Dia akan mencoba merobek ikatan kita dari dalam. Dia tak cukup kuat menyerang langsung; dia akan memakai kelemahan kita, emosi, ketakutan, rasa bersalah. Kita harus lebih kuat dari itu.” Meela menunduk, memikirkan kata-katanya. “Maka kita harus mengajarkan orang lain untuk menjadi kuat juga. Tidak hanya melindungi diri sendiri, tapi juga menjaga satu sama lain.” Goldbin mengangguk. “Aku akan memanggil beberapa yang masih setia kepadaku. Kita akan membentuk pelindung, bukan hanya untuk kita, tapi untuk kota ini.” Keputusan itu adalah langkah baru: bukan sekadar pertahanan, tetapi perlawanan terorganisir. Mereka mulai merekrut para petani yang tahu bagaimana bertahan di malam musim dingin, para penjaga pasar yang mempunyai mata tajam, bahkan beberapa pemburu yang mengenal medan seperti telapak tangan mereka. Mereka melatih, membentuk jurus-jurus sederhana yang dapat dipelajari oleh manusia biasa, menggabungkannya dengan kemampuan Goldbin yang lebih primitif namun kuat. Di suatu malam latihan, ketika bulan hampir purnama, Meela berdiri di tengah kelompok, membagikan ramuan sederhana dan kata-kata penghibur. Ia melihat wajah-wajah yang sebelumnya takut kini berkobar, siap. Dan saat ia menatap Goldbin di kejauhan, berdiri memantau, ia merasakan sebuah keyakinan baru: cinta mereka telah menjadi benih yang tumbuh menjadi sesuatu yang tak hanya milik mereka berdua. Namun Brenda, di tempat lain, menataplah potongan cermin di tangannya. Ia menyeringai, melihat bayangan Meela di retakan, melihat darah bercampur cermin. “Kau takkan pernah aman,” katanya pada cermin. “Aku akan membuat setiap langkahmu seperti berjalan di atas pecahan kaca.” Di luar, angin semakin kencang. Awan menutup bulan, dan di kejauhan, kilat menyambar tanpa suara. Badai yang lebih besar dari sekadar hujan sedang berkumpul, bukan hanya cuaca, tetapi nasib yang akan menimpa kota dan mereka yang hidup di dalamnya. Meela menggenggam tangan Goldbin di kegelapan itu, merasakan detak jantungnya yang kini tak lagi sendirian. “Apa pun yang datang,” bisiknya, “kita hadapi bersama. Ikatan ini, kita tidak akan biarkan ia patah.” Goldbin membalas genggaman itu dengan erat, seakan menyalurkan seluruh keberadaannya menjadi sebuah perisai. “Untuk selalu,” jawabnya. Malam menelan ujung-ujung kota, membawa serta janji-janji yang belum diuji. Di balik jendela kecil sebuah rumah, bayangan memahami bahwa perang yang sesungguhnya belum dimulai. Di luar, badai mengaum, dan di dadaku, tali ikatan yang telah dibuat menguat, seperti akar pohon yang menembus tanah, mengikat, menopang, dan siap menahan badai yang akan datang. "Lalu sampai kapan kita harus menetap di sini, Perusahaanmu bagaimana, kau CEO, apa keadaan dan situasi ini tidak membuat karirmu sebagai CEO terganggu." tanya Meela dengan lembut "Kita di sini sampai lusa, dan kau mulai sekarang harus tinggal bersamaku." "Hmm..satu atap dengan Brenda? Itu tidak mungkin Goldbin." "Kau ini, tidak mungkin CEO sepertiku hanya punya satu Mansion, kita akan tinggal di Mansion baruku, dan di sana nanti akan banyak sebagian Lycan - Lycan yang baik, dan akan membantuku, menjagamu dari ancaman Brenda, saat aku tidak di rumah.' "Hmm baiklah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN