Suasana kantor Goldbin malam itu terasa kaku. Dinding kaca yang biasanya menghadirkan pemandangan kota penuh lampu justru tampak suram akibat sisa hujan yang masih menempel. Goldbin duduk di kursi kerjanya, tegak, kedua siku bertumpu pada meja, menunggu kedatangan Angel, kepala bagian keuangan yang belakangan kerap mengulur waktu. Ketukan pintu terdengar. Rose masuk lebih dulu, wajahnya sedikit tegang. “Pak, Bu Angel sudah datang.” “Suruh masuk,” jawab Goldbin, singkat namun dingin. Angel melangkah dengan sepatu hak yang terdengar jelas memantul di lantai marmer. Wajahnya tampak ragu, namun tetap berusaha menjaga senyum profesional. “Selamat siang, Pak Goldbin.” “Langsung saja,” suara Goldbin berat, matanya menatap tajam. “Di mana laporan keuangan bulan lalu? Kenapa saya harus menunggu

