Part 7 Cewek Onar

1793 Kata
Selamat membaca gengs! ** “Halo, Van. Ini sarapan buat kamu.” Seorang perempuan dengan pakaian yang menurut Nevan tidak mencerminkan seorang mahasiswa membuat Nevan menatapnya dengan tatapan tidak suka. Ya bagaimana tidak, perempuan ini memakai rok yang terlalu pendek dengan atasan yang begitu ketat membuat setiap lekuk tubuhnya kentara begitu jelas. Sudah satu minggu ini perempuan yang belakangan ini dia ketahui bernama Diana mendekati dirinya secara terang-terangan. Semua mahasiswa di sini tahu siapa Diana. Jelas perempuan itu sangat populer, apalagi kalau bukan karena pakaian dan dandanan yang ia kenakan yang mencolok di bandingkan dengan mahasiswi lainnya, belum lagi popularitasnya di kampus yang memang menjadi banyak incaran kaum adam. Nevan akui Diana ini cantik, apalagi kalau tidak dandan yang berlebihan. Tentu saja sebagai laki-laki tulen, Nevan melihat Diana yang memang cantik di bandingkan dengan teman-teman perempuan itu yang selalu terlihat jalan bersama. Namun cantik bukan patokan untuk Nevan bisa memiliki ketertarikan kepada Diana. Nevan tidak menyukai Diana, si mahasiswi seniorr yang satu tahun di atasnya. Lagipula kalau sekedar cantik, Bunda dan adiknya juga cantik, sangat cantik malah. Nevan mengambil kotak bekal yang di berikan oleh Diana kepadanya, lalu menyerahkan itu kepada Leon yang saat ini tengah duduk di samping dirinya. Mereka memang sedang berada di kantin, makan siang sebelum kembali masuk kelas selanjutnya sampai kelas sore nanti. Diana yang melihat Nevan menyerahkan kotak bekal itu kepada laki-laki di sampingnya mendengkus. Memang bukan kali pertama saja Nevan melakukan hal itu namun ia pikir kali ini Nevan akan menerimanya dengan senang hati karena Diana sudah sangat sering memberikan makan siang untuk Nevan dan berharap laki-laki yang di sukainya itu bisa memakan masakannya. “Thank you, Van,” ucap Leon tanpa perduli bagaimana tatapan tajam Diana yang seolah melarang Leon menerima makanan itu dari tangan Nevan. Setelah itu Nevan sudah kembali menyantap makanan yang tadi dia pesan, menghiraukan Diana yang masih berdiri di dekat meja mereka bersama dengan dua orang perempuan yang merupakan teman-temannya. “Sekali aja kenapa kamu enggak makan bekal dari aku sih?” Diana tampak menyerukan isi hatinya. Dia kesal kali ini karena lagi-lagi Nevan memberikan makanan itu kepada orang lain. “Gue sama sekali enggak minta,” balas Nevan tanpa melihat wajah Diana, nasi dan ayam goreng dari Ibu kantin seolah lebih menarik di bandingkan perempuan yang ada di hadapannya saat ini. “Lagian udah tau kena tolak, masih aja caper. Sadar diri Mbak-nya,” celetuk Leon yang tentu saja membuat Diana geram apalagi suara Leon yang sengaja di keraskan sampai beberapa orang melihat ke arah mereka. Diana akhirnya menghentakkan kaki meninggalkan area kantin karena malu menjadi tontonan mahasiswa lain. Nevan? Laki-laki itu mana perduli, lebih baik menikmati makanannya saja. Bahkan sejak tadi dia sama sekali tidak terganggu dengan tatapan mahasiswa lain saat Diana dengan terang-terangan menghampirinya. Bukan kali pertama mereka menjadi pusat perhatian apalagi keduanya populer di kalangan mahasiswa. “Gue heran deh, Van. Kenapa ngebet banget dia sama lo. Ya oke lah si Mbak itu cantik tapi sayang enggak menarik, gue yakin lo juga nggak tertarik sama sekali sama modelan wajah penuh warna warni kaya dia,” ucap Leon yang selalu menyebut Diana dengan panggilan Mbak-nya dan tidak lupa terus mengejek wajah Diana “warna-warni” yang di maksud adalah make-up cukup tebal yang di pakai perempuan itu. . Nevan mengedikkan bahunya. Dia sama sekali tidak ingin membahas. Dia setuju dengan apa yang Leon katakan. Diana cantik tetapi tidak menarik. Lagipula sejak masa sekolah dulu saja dia sama sekali tidak pernah berminat untuk dekat atau menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Yang Nevan lakukan hanya belajar dan belajar, atau sesekali bermain dengan teman-temannya. Mungkin juga karena belum ada yang bisa membuat hati Nevan berdesir saat ada perempuan yang ingin dekat dengan dirinya. Entah. Yang pasti Nevan masih normal, bukan pisang makan pisang. *** Nevan baru saja selesai kelas, keluar dari ruang kelas terakhirnya bersama dengan Leon masih dengan obrolan ringan membahas tujuan mereka setelah selesai kuliah. Leon memang tadi mengajak dia main ke rumahnya, katanya tidak ada orang di rumah dan dia ingin di temani. Kalau bukan karena Leon adalah temannya, mana mau Nevan ke rumah laki-laki itu untuk sekedar menemaninya, mending Nevan berada di kosan saja dan menikmati waktunya sendiri. Tetapi sayangnya Leon terus cerewet sampai Nevan pusing sendiri. Lagi pula dia jadi heran kenapa bisa berteman dengan laki-laki yang mulutnya sudah seperti adik kembarnya, cerewet sekali. Mungkin ini yang di sebut pertemanan yang saling melengkapi, menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Karena yang Nevan sadari meski sikapnya yang sangat irit bicara dan Leon yang kebanyakan bicara tetapi ada kalanya mereka saling membutuhkan bantuan, apalagi Nevan yang merupakan anak rantau di kota orang. Leon selalu bisa di andalkan jika dirinya ingin ke tempat yang belum terlalu di kenalnya. Atau hanya sekedar ke toko buku yang lengkap, Nevan selalu meminta Leon untuk mengantarnya. “Eh ada apa tu rame banget?” Leon yang tampak melihat kerumunan membuat langkah mereka terhenti. Karena penasaran akhirnya Leon mengajak Nevan untuk mendekati kerumunan tersebut. Hanya memastikan saja bukan karena ada perkelahian sampai mahasiswa lain ramai-ramai melihatnya. Mudah sekali untuk Nevan bisa masuk ke dalam kerumunan, karena kedatangannya juga malah menjadi ajang cuci mata mahasiswi yang berada di sana lalu menyingkir memberikan jalan untuk sang idola kampus tahun ini. Berbeda dengan Nevan yang masih dengan sikap cuek bebeknya, Leon justru berdecak kagum karena popularitas Nevan yang mampu membuat segalanya menjadi mudah. Tampak seorang mahasiswa yang tengah berdiri dengan memegang sebuah spanduk berukuran sedang yang di bantu oleh dua orang lainnya. Pun dengan seorang mahasiswi yang berada di depan laki-laki itu dengan wajah tidak bersahabat. Nevan jadi penasaran juga apa yang sebenarnya terjadi di sini. “Beruntung banget sih cewek itu di tembak sama Kak Fadil.” Samar-samar Nevan mendengar obrolan mahasiswa lain yang berdiri tidak jauh dari dia dan Leon. Jadi mahasiswa itu sedang menyatakan cinta, tetapi kenapa perempuan yang berada di hadapannya tampak sekali tidak berminat untuk menjawab. Itu yang Nevan lihat dari tempatnya. “Perasaan gue udah bilang deh, kalau gue itu nggak akan terima. Gue udah punya pacar!” suara penuh penegasan terdengar di telinga Nevan. Dia dan Leon malah menjadi tertarik untuk melihat dua orang yang tengah di tonton oleh banyak orang. Posisi mereka memang berada di tengah-tengah kampus. Pas sekali di jalan yang tentu saja menjadi lalu lalang mahasiswa lain apalagi saat baru masuk ke area kampus maupun keluar kampus. “Aku nggak percaya. Kamu pasti bohong, selama ini aku lihat nggak ada cowok yang dekat sama kamu,” ucap laki-laki tersebut. Perempuan itu tampak mendengkus. “Memangnya gue harus tunjukin sama semua orang kalau gue udah punya pacar,” kesalnya. Karena sudah sekian kali dia menerima pernyataan cinta dari laki-laki di hadapannya ini. Kakak tingkatnya yang sudah berulang kali mendekati dan tidak pernah menyerah padahal dia sudah terang-terangan menolak bahkan di depan umum sekali pun. “Aku cuma butuh bukti. Kalau emang kamu punya cowok, kasih bukti dan aku nggak akan dekatin kamu lagi.” Laki-laki itu belum juga menyerah membuat sang perempuan berpikit keras bagaimana cara untuk membuktikannya agar dia terbebas dari kakak tingkatnya ini. Percayalah dia sudah muak sekali. Lalu pandangan mereka bertemu. Nevan tidak memalingkan pandangannya ketika perempuan itu menatap ke arahnya. Keduanya seolah tengah berkontak secara batin apalagi dengan posisi Nevan yang memang tepat di satu garis lurus dengan posisi perempuan tersebut. Nevan tidak menyadari. Langkah kaki itu semakin mendekat, jarak di antara mereka semakin terkikis dan tatapan mahasiswa lain kali ini tertuju kepada mereka berdua. Perempuan tadi tengah berjalan ke arahnya dan Nevan sama sekali tida beranjak dari posisinya. Mereka tampak terkejut dengan apa yang terjadi. Di depan banyak pasang mata hal yang tidak terduga terjadi. Sang mahasiswa populer menyatukan bibirnya dengan perempuan yang di kenal dengan mahasiswa pembuat onar. Nevan tidak bergerak sedikit pun, itu terlalu tiba-tiba membuat dia tidak bisa berpikir dengan cepat. Tetapi satu hal yang Nevan rasakan, hatinya menghangat dan entah kenapa rasanya ada yang menggelitik perutnya. Ciuman pertamanya. Di saksikan oleh banyak orang dan dengan perempuan yang sama sekali tidak terduga. Di sisi lain Diana dengan wajah yang memerah dan tangan yang mengepal menyaksikan apa yang terjadi. Dia sangat kesal karena laki-laki yang dia sukai berciuman dengan perempuan yang dia benci. *** “Dia pacar gue,” ucap perempuan tersebut setelah melepas tautan bibirnya dengan Nevan. Bahkan dia sendiri tidak tahu tentang Nevan. Seolah tidak merasa bersalah sedikit pun dengan apa yang baru saja di lakukannya, tangannya dengan manja merangkul lengan Nevan yang berdiri di sampingnya. Fadil -Laki-laki yang menyatakan cinta kepadanya tadi- tampak mematung. Dia tidak menyangka bahwa perempuan yang dia sukai nyatanya sudah memiliki kekasih, bahkan dengan tidak tahu malunya beradegan seperti tadi di depan banyak orang. Fadil ingin menyangkal bahwa apa yang di lihatnya salah tetapi semua itu tampak jelas di depan matanya. “Oke, Tasya,” katanya memanggil perempuan itu dengan nama Tasya. Tasya –perempuan yang mencium Nevan- tidak berkata apa pun. Dia baru tersadar dengan apa yang sudah dia perbuat. Nevan yang sudah menyadari kondisinya saat ini dan tidak ingin perempuan yang tadi dia dengar bernama Tasya malu karena banyak pasang mata yang menatap mereka akhirnya menarik tangan Tasya keluar dari area kampus. Sementara Leon yang sejak tadi hanya bisa menganga masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Temannya sendiri mendapatkan ciuman dari seorang perempuan yang di kenalnya sebagai mahasiswa pembuat onar di tahun pertama menjadi mahasiswa. Ya siapa yang tidak kenal Tasya. Mahasiswa baru yang terkenal berani apalagi selama masa orientasi mahasiswa. Sama seperti Nevan dulu bedanya Tasya lebih bar-bar sampai tidak takut mengatai kakak tingkatnya, karena selagi dia tidak melakukan kesalahan, dia tidak suka jika di injak-injak. Apalagi menurutnya orientasi mahasiswa bukan untuk ajang perpeloncoan yang kerap kali di lakukan. *** “Maaf,” katanya. Tasya menunduk tidak berani menatap kedua mata Nevan yang memiliki sorot mata begitu tajam. Nevan melipat tangan di depan dadaanya. Gilaa! Bayangkan saja ciuman pertamanya telah di ambil oleh perempuan ini bahkan mereka tidak memiliki hubungan apa pun. Dan lebih gilaanya lagi dia sama sekali tidak menolak. Meski tadi terlalu tiba-tiba tetapi Nevan menyukainya, oke karena dia juga laki-laki normal. Jadi tidak salah kan? Atau salah? “Kayanya lo harus tanggung jawab,” ucap Nevan membuat Tasya mendongak terkejut. “A-apa?” “Tanggung jawab.” “Kamu mau apa?” “Karena lo udah cium gue di depan orang banyak dan udah bilang kalau gue pacar lo. Gimana kalau kita bikin itu jadi nyata?” Nevan tampak tenang berbeda dengan Tasya yang terbelalak tidak percaya dengan apa yang Nevan katakan. “Ta-tapi ...” “Nggak ada tapi. Sekarang lo pacar gue!” tegas Nevan tanpa bantahan. “Gue Nevan, dan selamat hari jadian, cewek onar!” lanjutnya tersenyum miring. Seperti keluar dari kandang buaya dan masuk ke kandang singa. Tasya menggerutu dalam hati, kenapa dia sampai melakukan hal seperti tadi. Astaga ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN