Selamat membaca gengs!
**
Nessa berada di depan ruangan Dosennya. Bapak Ibrahim Wicaksono, yang sekarang akan dia panggil dengan nama Bapak Wicak tetapi bukan Wicak Wicak di dinding. Nessa tidak mau durhaka.
Dia bersama dengan Ayu yang selalu setia menunggunya, alias di paksa untuk mengantar dia bertemu dengan Pak Ibra di ruangan Dosen tersebut.
Sebenarnya dia sedang berdebar tidak menentu, bukan perasaan debaran jatuh cinta ya, please Nessa mana mungkin jatuh cinta pada Bapak-bapak. Tetapi debaran itu menunjukkan perasaan takut bertemu sang Dosen dan menerima hukuman karena kelakuan dia tadi saat masuk kelas Pak Ibra.
Kadang dirinya ingin sekali merutuki diri sendiri, karena kelakuan yang kerap kali membuat masalah. Tetapi mau bagaimana lagi kalau tidak membuat masalah, bukan Nessa Nuria Wijaya namanya.
Hidup ini enggak akan seru kalau cuma biasa doang, begitu katanya.
“Ayo, Nes. Masuk sana, gue ogah masuk. Kan cuma lo yang mau ketemu sama Bapak Kinclong,” ucap Ayu menyebut Pak Ibra dengan sebutan Bapak Kinclong. Bukan meledek ya, tetapi memang wajah Pak Ibra itu kinclong semacam kaca yang tanpa butiran debu.
“Bentaran, Yu. Deg-degan ini udah kaya mau di lamar,” balas Nessa asal jeplak.
“Ah elu. Kita kan mau jalan-jalan, Nes. Nongki cantik gitu keburu sore nanti Mami gue malah suruh pulang duluan,” timpal Ayu yang sudah tidak sabaran menunggu Nessa selesai bertemu dengan Pak Ibra.
“Iya-iya. Kenapa jadi lo yang enggak sabaran begini. Bentar gue tarik napas dulu ... ” Nessa mengembuskan napasnya pelan, “Nah udah. Oke sekarang gue siap. I’m coming Bapak Wicak!” seru Nessa yang membuat Ayu berdecak.
“Pak Ibra, Nes. Bukan Wicak.”
“Lah kan itu juga nama si Bapak.”
“Iya deh terserah lo aja, sana-sana.”
Ayu mendorong Nessa agar masuk ke dalam ruangan, karena sedang dalam posisi yang tidak siap akhirnya Nessa pun mendorong pintu yang berakhir dia jatuh dengan posisi tidak cantik, menurut Ayu sebelum dia kabur karena Pak Ibra yang tampak terkejut di kursinya.
“Nessa Nuria Wijaya!”
“Siap Pak!” seru Nessa.
“Kamu kenapa malah tiduran di situ, cepat bangun!”
Nessa mengaduh karena memang posisi jatuhnya dia tidak cantik, memalukan dan juga membuat lututnya sakit.
Astaga padahal dia tadi sudah dandan dulu, merapihkan pakaiannya di toilet dengan Ayu dan sampai sini malah jatuh mengenaskan bin memalukan seperti ini, di depan Pak Ibra pula. Nessa ingin tenggelam ke dasar laut!
Dengan hati-hati akhirnya Nessa sudah kembali berdiri, lalu menutup pintu ruangan Pak Ibra saat mendapatkan kode dari Dosennya untuk menutup pintu. Setelah itu Nessa berjalan mendekati Pak Ibra yang tampak santai duduk di kursi miliknya. Seolah tadi tidak terjadi apa-apa.
“Duduk.” Nessa mengangguk lalu duduk di kursi yang tersedia. Berhadapan dengan Pak Ibra.
Nessa menatap wajah Dosennya. Kalau di lihat secara dekat seperti ini ya Nessa akui ketampanan Dosennya ini meningkat. Pantas saja Ayu menjuluki Pak Ibra ini Bapak Kinclong, wajahnya emang mulus banget kaya perosotan anak TK.
Astaga, Nessa lagi-lagi ingin mengelus dadaa karena sudah berkata yang tidak-tidak, tetapi dia tidak bermaksud menjelekkan juga kan. Seriusan dia enggak bermaksud begitu.
“Nessa!” seru Ibra.
“Astaga Bapak!” Nessa tersentak mendengar suara Ibra, belum lagi wajah mereka hampir saja bersentuhan.
Kalau ada adegan yang iya-iya kan Nessa bisa di gantung Ayah Ares. Tahu sendiri walau Ayahnya itu begitu penyayang keluarga tetapi kalau anaknya sudah berurusan dengan laki-laki bakalan kena amuk. Belum lagi Kakak kembarnya, Nevan dan tentu saja si adik bungsunya, Arlen pun ikut-ikutan. Intinya semua laki-laki di rumah membuat dia sulit untuk berteman dengan laki-laki di luaran sana.
Tubuhnya agak mundur sementara Ibra kembali ke tempatnya. Dalam hati laki-laki itu tertawa, Mahasiswanya ini begitu menggemaskan meski tingkahnya terkadang membuat kesal.
Ibra berdeham untuk membunuh kecanggungan mereka. Lalu dia memberikan satu buku materi perkuliahan kepada Nessa.
“Ini apa, Pak?” tanya Nessa polos.
“Sudah tau itu buku, masih tanya,” jawab Ibra yang malah membuat Nessa merutuki Dosenya itu tetapi hanya dalam hati.
Untung Dosen, untung cakep.
Sepertinya memang salah dirinya juga yang malah bertanya seperti itu. Oh ternyata perempuan selalu benar itu tidak terbukti juga karena sekarang malah perempuan yang salah. Dan Nessa yang salah.
“Iya Bapak saya tau ini buku namanya. Ya salah Nessa juga sih tanya yang gak jelas, gini Pak ... maksudnya ini mau di bagaimanakan?”
“Kamu rangkum satu buku itu, ketik, print dan jilid. Minggu depan serahkan pada saya. Jangan sampai terlambat, jam sembilan pagi di sini,” jelas Ibra dengan sedikit menekan jam sembilannya.
“Hah?!” Nessa terbelalak. Merangkum? Satu buku ini? Gila! “Bapak Ibra yang saya hormati, mana bisa saya rangkum satu buku ini dalam waktu satu minggu. Saya bukan Sangkuring, Bapak,” protesnya kepada Ibra.
“Belum mencobanya kan. Pasti bisa, asal kamu berusaha.”
“Usaha pasti Pak, tapi terkadang rasa malas ini menyerang secara tiba-tiba dan tidak tau waktu, tempat, situasi, pun dengan kondisi,” cerocos Nessa bahkan dia sudah seperti bukan berhadapan dengan Dosennya sendiri. Tampak begitu santai. Kalau bukan Ibra mungkin Nessa sudah mendapatkan teguran, karena ini Ibra yang sudah tahu bagaimana kelakuan Mahasiswanya ini, sudah seperti hal yang biasa baginya.
“Asalkan niat kuat pasti selesai! Sudah jangan banyak protes dan mengeluh, kerjakan saja kalau kamu banyak mengeluh tanpa melakukan tugas kamu, ya tidak akan selesai dengan cepat. Kalau kamu bisa selesaikan tugas ini, nilai kamu B.”
“Gak sekalian A gitu, Pak,” Nessa malah menawar sudah seperti penjual dan pedagang di pasar yang tengah saling tawar-menawar.
“Nessa! Kamu itu ya sudah bagus saya kasih nilai, memangnya kamu mau nilai kamu E! Ingat ini baru semester awal dan masih ada beberapa semester lagi untuk ke depannya, kamu masih berhadapan dengan saya.”
“Astagfirullah bosan banget,” gumamnya yang tentu saja dapat di dengar oleh Ibra.
“Kamu barusan mengatakan apa?”
“Tidak, Pak. Bukan apa-apa, kalau begitu saya permisi dan terima kasih atas tugas yang telah Bapak berikan kepada saya ini,” Nessa beranjak dari kursinya tanpa mendengar jawaban sang Dosen, gadis itu langsung berjalan dengan cepat keluar dari ruangan Ibra. Rasanya sudah ingin meledak kalau harus berada di satu ruangan yang sama hanya berdua dengan Bapak Ibrahim Wicaksono.
***
Nessa menatap buku yang tadi di berikan oleh Pak Ibra kepadanya. Padahal dia juga memiliki buku tersebut tetapi Dosennya malah kembali memberikan, dia juga malah membawanya tadi. Kenapa jadi berputar begitu.
Setelah makan lalu menelepon Kakak kembarnya dan menceritakan semua yang dia lalui hari ini meski berakhir dengan sambungan yang di putuskan secara sepihak oleh Nevan –memang kuraang ajaar sekali- Nessa memutuskan untuk segera mengerjakan hukuman dari Pak Ibra si Dosen yang emang ganteng sih tapi menyebalkan.
Benar kata Kak Nevan, dia harus bisa memanfaatkan waktu agar tugasnya itu cepat selesai dan Nessa bisa tenang, damai, setosa. Dan yang paling penting, tidak berurusan lagi dengan Bapak Wicaksono kecuali di dalam kelas saat perkuliahan berlangsung.
“Tapi malas ... ”
Nessa mengacak rambutnya asal. Malas ini menyerang dia di waktu yang tidak tepat. Giliran menonton drama cina sampai beberapa episode saja semangat, pun membaca novel sampai ending juga mampu Nessa lakukan.
Lantas saat di hadapkan dengan tugas merangkap sebagai hukuman seperti saat ini rasanya luar biasa malas. Tetapi kalau sampai tidak selesai bisa-bisa nilainya terancam dan Ayah dengan Bundanya pasti akan marah besar.
Astaga serba salah sekali dirinya ini!
Dengan niat yang sudah bulat akhirnya Nessa duduk di kursi belajar dan mulai merangkum bukunya. Dalam hati terus dia teriakan kalimat dia mampu dan bisa. Sabisa bisa kudu bisa (Bisa bisa harus bisa), begitu kalau kata orang Bandung.