7 GUSTAV 2 & PENUGASAN KE ITALIA

1278 Kata
#GUSTAV POV 2# Senyum lebar tak lepas dari mulutku seharian itu. Sekretarisku, Beatrice, yang sedang mengikuti rapat besar dengan para vendor kami, sampai berkerut bingung karena aku betul-betul terlihat seperti orang yang sama sekali berbeda. Biasanya aku tidak banyak bicara dan sangat jarang tersenyum. Aku bahkan mendapat julukan cinta dari para bawahanku. Patung Es. Beuh…masih untung mereka tidak menjulukiku “Es Batu”….. Benar-benar hancur imageku kalau seperti itu ceritanya. Yah…. semuanya karena wajah datarku serta komentarku yang seringkali ceplas-ceplos dan melukai harga diri mereka walaupun aku jarang sekali bicara kalau tidak benar-benar diperlukan. Tapi menurut laporan harian yang kuterima dari Sascha Marie. Salah satu bawahanku yang “kumutasi paksa” ke Jakarta dengan beberapa persyaratan dan sekaligus juga salah satu teman dekatku, membuat jantungku berdebar-debar gembira hari ini! Renata-ku memang sudah pindah. Tapi untungnya, wanita itu masih bekerja di tempat yang sama. Di kantor cabang perusahaan media kami, Viva Dolcia. Dan ia memang sudah berpisah dengan suaminya! Seperti pernyataannya saat mabuk berat kemarin malam itu. Dan ia juga sudah membeli apartemen baru untuk dijadikan sebagai tempat tinggalnya yang baru. WOW!! Dan fakta lain yang mengejutkanku adalah…. Sepertinya Renata sama sekali tidak menggunakan uang di dalam kartu debet yang sengaja kutinggalkan untuknya. Tunggu! Apa ini berarti ia membeli serta mengurus semua keperluannya sendiri tanpa bantuan finansial dariku atau Johan, mantan suaminya? Kalau ya, aku benar-benar harus mengacungkan empat jempol untuknya! Dan alasanku untuk mengejarnya, bertambah satu lagi. Seorang wanita cantik yang punya prinsip dan sangat mandiri. Sangat pas sebagai kriteria wanita idamanku. Dan untuk menjadi pendampingku. Sehidup semati. “Stay close and keep watching her, Marie….” perintahku tegas pada Sascha sebelum aku mengakhiri panggilan telepon kami. (Tetap berdekatan dan terus awasi dia, Marie…)   ………………………………………………………………………… Rumah Mrs. Collins Renata duduk dengan gugup di depan seorang wanita bule yang sudah agak berumur. Penampilannya santai dan kasual. Sama sekali tidak terlihat seperti seorang peramal yang luar biasa seperti yang dikatakan oleh Sascha kepadanya atau seperti bayangan wanita-wanita gipsi dengan dandanan nyentrik seperti yang dibayangkan oleh Renata sebelumnya. Mrs. Collins juga menyuguhkan secangkir teh chamomile panas untuknya. Teh favorit Renata. Entah dari mana wanita ini tahu tentang beberapa kesukaannya secara spesifik. Tapi Renata sama sekali tak berani membuka mulutnya. Sebaliknya, entah kenapa, bulu kuduknya sedikit meremang di hadapan wanita tua ini. Pandangan matanya terlihat teduh tapi sangat tajam. Seakan – akan bisa menelanjangi dirinya secara utuh dan mampu menerawang ke dalam mata batinnya dalam sekali lihat. “ Don’t be scared, my dear…” kata Mrs. Collins pelan sambil tersenyum. “Please have a drink first…” Dengan tangan sedikit gemetar, Renata menyesap tehnya. Dalam sekali tegukan, air teh itu mengalir masuk ke dalam tenggorokannya dan dengan mulus memasuki tubuhnya. Yang anehnya, langsung membuat perasaan Renata menjadi jauh lebih rileks dan tenang. “Feeling better?” Renata mengangguk. “Thank you for your time, Mrs. Collins. And I would like to……” “Ask me some private questions which are related with your future. Am I right, Darling?” Renata tertegun sejenak sebelum kemudian menganggukkan kepalanya. “Yes…” “My guardian spirit has wake up me today and informed me already about your arrival…”   Renata meneguk ludahnya sendiri. Ia benar-benar gugup sekarang. How did she know all these? Today is their first meeting!! Is she really a clairvoyant or a witch? “I’m a fortune teller, Sweetheart. If you think anything else about my existence, that one was pretty close. Some people even call me a clairvoyant, well… whatever, but I can’t do magic. That’s for sure….” “So… no, I’m not a witch…” Renata tercekat kaget. DAMN!!! SHE’S REALLY GOOD!!! “And.. are you a mind reader as well??” tanya Renata penasaran. Bagaimana bisa wanita ini mengetahui semua yang ia sedang pikirkan dengan sangat akurat?? “Not me but my guardian spirit. He told me everything about what are you thinking now. So…. Shall we begin now, Miss Renata?” tanya Mrs. Collins sambil meletakkan segepok kartu tarot miliknya di atas meja.               “Please take one card and put it here….”             Renata lalu melakukan sesuai dengan instruksi yang diberikan kepadanya. Mrs Collins lalu mengambil 3 kartu lagi dan menempatkannya di bawah kartu yang sudah dipilih oleh Renata sebelumnya. Terakhir, Renata lalu memilih satu kartu lagi yang ditempatkan di bawah dua baris kartu tadi. Mrs. Collins lalu membuka kartu pertama. The Magician. “Hmmm…. interesting. You’re a solo fighter. A warrior. A woman who can build her own future independently without any dependence with someone’s help. With your own bare hands, you can create your own miracles. Am I right?” Renata tersipu malu sambil mengangguk. Apa yang dikatakan oleh Mrs. Collins tentang dirinya sangatlah tepat dan akurat. Dari dulu, Renata selalu bersikap mandiri dalam memutuskan segala sesuatunya. Termasuk dalam membangun karirnya sendiri sampai seperti sekarang. Posisi yang diraihnya ini juga adalah salah satu buah dari kerja kerasnya selama ia bekerja 7 tahun di Viva Dolcia. “Now, let’s see your past….” Mrs Collins lalu membuka satu kartu lagi di bawahnya. The Empress. “Well… well… you had a stable life before. A high lifestyle and a well-balanced of love, work, and friendship. You were a merciful and blessed lady with generous blessing from heaven…” Renata mengangguk lagi. Ya, dulu ia memiliki segalanya. Suami, teman-teman, dan karir yang mapan. Sekarang? Mrs. Collins lalu membuka kartu kedua. “This one symbolize your present life….” The Tower. “You fell down from your throne. Your tower collapsed…..” Renata tercekat. Matanya mulai berkaca-kaca. Tanpa sengaja, ia mulai terngiang kembali pada saat di mana Johan memberikannya surat cerai serta mencampakkan dirinya di resto sky dining favorit mereka. Mrs. Collins membuka kartu di bawah kartu The Tower. The Lovers. “Doubt. Hatred. Disappointment. Sadness. Marriage failure. No offspring. Divorce….” Airmata Renata mulai meleleh deras. Ia menangis tersedu-sedu saat kata-kata Johan mulai kembali terngiang olehnya. “Mamaku sangat menginginkan anak laki-laki untuk bisa meneruskan garis keturunan keluarga besar kami…” Hatinya kembali hancur saat ia terkenang pada ucapan mantan suaminya tersebut. Ya, secara medis, peluangnya sangat kecil untuk dapat memberikan keturunan untuk keluarga suaminya. Tapi, hanya karena itukah ia harus dicampakkan sedemikian rupa?    “But, there’s another story in this card, my dear…” kata Mrs. Collins lembut sambil memberikan tisu untuk wanita cantik di hadapannya tersebut. “There’s someone who fall in love with you unconditionally…” “You might be broken now but this sorrow won’t last forever….” Mrs Collins lalu membuka kartu berikutnya. The Chariot. “A long journey awaits you, my dear. Don’t be scared and be brave. Encourage yourself to face any possibilities in front of you. You’ll survive this…” Seulas senyum nampak di wajah sendu Renata. Bahkan ketika menangis, wanita ini ternyata cantik sekali. Mrs. Collins tercekat. Ia lalu mengambil satu kartu lagi dari tumpukan di hadapannya. Wheel of Fortune. “A wind of change….” bisik Mrs Collins pelan. Jika digabungkan dengan kartu sebelumnya, maka kartu terakhir ini adalah sebuah pertanda baik. A good omen for her. Krrrrr…… krrrrr……krrrrrrrr……. Ponsel Renata tiba-tiba bergetar keras. Renata tersentak kaget dan mengambil ponselnya. Ia lalu meminta ijin pada Mrs Collins untuk mengangkat teleponnya. Nama bosnya. Meilani. Terpampang jelas di sana. “Mei? Kenapa?” “LO DI MANAAA????” Terdengar jelas kalau Meilani sedang panik sepanik-paniknya. “Ada di rumah temen. Kenapa?” Dahi Renata berkerut bingung. “Besok. Jam 7 pagi. Lo dah harus sampai di kantor yaa!!” “Eh?” “Byeee…” Mei langsung menutup telepon. Renata hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, kembali ke tempat duduknya, serta membayar biaya konsultasi dan langsung pamit pulang. Mrs. Collins hanya mengantarnya sampai di depan pintu masuk dengan sebuah senyuman. Seperti biasa. ………………………………………………………………………………………….. Setelah mobil Renata menjauh pergi. Mrs. Collins lalu menelepon seseorang dengan ponselnya. “Hello, Gustav?” “Yes, I did everything as you planned before. No, she cried out loud before. But now, she’s ok..” “Ok, thank you so much for your help, madam…” kata pria di seberang sana sambil menatap pemandangan laut dari atas bangunan kantornya yang megah. “By the way, is there something for me from your card reading today?” Mrs Collins lalu mengambil sebuah kartu dari tumpukannya. The Strength. “It’s time for you to move on, Gustav. Don’t let the past strangle you anymore. She… might be the right answer for you..” “I’ll keep that in mind, madam… thanks a lot for your help..” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN