6 SASCHA MARIE

1181 Kata
3 bulan kemudian…. “Hei, Cindy. Apa mungkin seorang wanita bisa PMS selama 3 bulan berturut-turut?” bisik Yuna pelan-pelan kepada gadis yang sedang duduk di sebelahnya. Cindy adalah salah satu dari dua sekretaris pribadi yang ditugaskan sebagai bawahan Renata dan Sascha Marie. “Sttttt… jangan keras-keras…ntar si singa betina denger loh….” bisik Yuna tak kalah pelannya sambil menatap tajam ke sekitar mereka dengan waspada.  Sascha sendiri adalah salah satu fashion editor yang dimutasi dari kantor pusat majalah mode Viva Dolcia ke kantor cabang di Jakarta dari seminggu yang lalu. Ia adalah seorang wanita bule dengan sepasang mata bermata hijau emerald yang super modis dan masih sangat kaku dalam berbahasa Indonesia. Tapi untuk masalah komunikasi, Sascha sangat fasih dalam Bahasa Inggris walaupun terkadang masih sulit dimengerti karena logat Prancisnya yang masih sangat kental. Oleh karena itu, Sascha dipasangkan dengan Renata yang kebetulan menguasai 2 bahasa asing dengan sangat fasih yaitu Bahasa Inggris –Prancis dan sebaliknya. Renata sendiri sangat terobsesi untuk bisa berkunjung ke negara tersebut yang merupakan salah satu kiblat fashion dunia sehingga ia mati-matian untuk belajar dan mengambil Sastra Perancis yang terkenal susyahh meong tersebut. Kini, setidaknya ada satu makhluk impor dari Paris yang bisa diajak sebagai sparring partnernya untuk mengobrol dalam bahasa favoritnya tersebut. ………………………………………………………………… “Jadi… foto-foto hasil liputan acara gala dinner kemarin sudah kamu taruh di folder Event belum???!!!” tanya Renata galak sambil menggebrak meja Yuna dan Cindy yang langsung terlompat kaget dari kursi mereka masing-masing. Astagamajunnnnn!!!! Galak bener ni macan betina!!! Renata sendiri baru mengirim foto-foto tersebut selewat tengah malam. Tepat setelah ia pulang ke apartemennya setelah beres acara. Selama 3 bulan ini, seberes fase perceraiannya dengan Johan, Renata benar-benar berubah total menjadi seorang sosok yang sama sekali berbeda dengan Renata yang dulu. Ramah dan baik hati. Renata yang sekarang sudah menjelma sebagai sebuah mesin tempur yang gila kerja dengan temperamen yang sangat sensitive dan keras hati. Ia bisa datang paling awal ke kantor dan pulang paling akhir setelah jam kantor selesai. Renata juga bisa mengerjakan banyak hal yang seharusnya diselesaikan selama beberapa minggu ke depan secara efektif dan sangat efisien. Parahnya lagi, yang paling tersiksa olehnya adalah Cindy. Sekretarisnya yang seringkali wajib untuk menemaninya pulang lembur untuk menyelesaikan semua pekerjaan mereka. Setiap hari, Cindy sibuk mengomel di dalam hati. Mengumpati si macan betina yang gila kerja. “Sialan!!! Sialan!!! Sialannnn!!! Kapan gue dapet pacar kalo gini caranya??? Tiap hari pulang tengah malem…bisa-bisa gue saingan sama jam ronda banci Taman Maluku…” omel Cindy jengkel sambil mencak-mencak. Hidungnya kembang kempis karena kesal. Sekarang, dengan adanya Yuna sebagai sekretaris baru sekaligus asistennya Sascha, Cindy bisa sedikit bernafas lega. Setidaknya, ia punya teman mengobrol sekarang yang juga bisa berbagi gossip kantor bersama. Hehehehehe…. ………………………………………………………………………………………………………..          “Ow.. ow….mon ami…..No, no, you can’t do that, sweetie!!!” kata Sascha panic setelah Renata menceritakan musibah apa yang terjadi kepadanya tiga bulan yang lalu. (Ow..ow.. astaga!!! Tidak! Tidak bisa! Kau tidak bisa melakukan hal tersebut, Sayang..” Untungnya saat itu mereka berdua sedang berada di sebuah café ekslusif di dalam sebuah mall yang sangat popular di Jakarta. Café ini diperuntukkan hanya untuk para anggota member yang memang menaruh sejumlah deposit tertentu untuk menikmati sajian dine in di tempat dan menginginkan privacy lebih di sela-sela waktu sibuk mereka. Dan Renata adalah salah satu dari member ekslusif tersebut. “Sttt…. don’t be too loud, Sascha!!!” bisik Renata sambil melirik kiri kanannya dengan malu-malu.  (Stttt.....jangan terlalu keras, Sascha!!) Biar bagaimanapun mereka ada di Indonesia dan orang-orang sini benar-benar suka bergosip. Renata tertawa lepas. Mungkin ini pertama kalinya ia bisa rileks selama 3 bulan belakangan ini. Walaupun Sascha baru datang seminggu yang lalu sebagai partnernya sebagai fashion editor, Renata langsung nyambung dengannya. Mereka berdua memiliki banyak sekali kesamaan. Sama-sama menyukai fashion. Sama-sama modis. Sama-sama pecinta hewan. Dan juga sangat berdedikasi terhadap pekerjaan mereka. Sascha juga sangat open minded dan terbuka terhadap hal-hal yang biasanya dianggap tabu untuk dibicarakan oleh orang Indonesia. Termasuk urusan s*x. Renata sendiri tahu kalau Sascha termasuk wanita player kelas atas. Sudah beberapa kali Renata memergoki Sascha bergonta-ganti pasangan dengan para model atau pengusaha muda yang bisa diajak “main” olehnya. Tapi untuk masalah ini, Renata termasuk wanita berprinsip yang tidak bisa seenaknya bermain hati dengan tubuhnya. Renata lebih memilih untuk bekerja seharian daripada “bersenang-senang” dengan pria asing yang tidak ia kenal. Johan sendiri kadang-kadang masih mencoba untuk menghubunginya. Tapi ia sepenuhnya mengabaikan panggilan atau pesan dari mantan suaminya tersebut. Renata bahkan berpesan pada pihak keamanan gedung untuk menolak kedatangan Johan setiap saat pria itu bermaksud mengajaknya bertemu secara langsung di jam kerja. “You must see a clairvoyant!!! Do you get it? If you had a stroke of misfortunes in one day, it means that there was something wrong with your life and you have to do something to fix it!!!” (Kau harus menemui seorang peramal nasib. Tau tidak?? Jika kau mengalami rentetan kesialan dalam satu hari, itu berarti ada sesuatu yang salah dengan hidupmu dan kau harus melakukan sesuatu untuk memperbaikinya!!!) Renata terkekeh geli saat melihat reaksi Sascha. “You’re overwhelmed!!! Do you think a clairvoyant could change my bitter past??” (Kau berlebihan!! Apa kau pikir seorang peramal nasib bisa merubah masa laluku yang pahit??) “But at least she can foresee your future, Darling!! You don’t know what the future holds, right?” (Tapi setidaknya ia bisa memperkirakan masa depanmu, Sayang!! Kau tidak tahu apa yang mungkin terjadi di masa depan bukan?? ) Renata menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa keras. Tapi ia malas berdebat dengan wanita keras kepala ini. “Here….Let me give you her number!! Mrs. Collins. She’s an expat. An American. A very helpful and friendly lady!! You should try her service..at least..once in your lifetime..” ( Nih, biar aku kasih nomornya!! Bu Collins. Orang asing. Warga USA. Wanita yang sangat ramah dan suka membantu orang lain!! Kamu harus mencoba jasanya, setidaknya, sekali seumur hidup…) Renata menghela nafas panjang sambil mengambil kartu nama yang disodorkan oleh Sascha kepadanya. “Ok, I’ll try…” Sascha langsung memeluk Renata dan mencium kedua pipinya dengan riang. “That’s my girl!!” ( Pintarrr!!) ………………………………………………………………………………………………………..        Keesokkan harinya…. Renata berkali-kali menghela nafas panjang di depan rumah mungil berdinding bata berhias ranting daun ivy yang menjalar dari arah jendelanya. Sekilas, rumah itu tampak asri dan normal seperti rumah-rumah lain di sekitarnya. Lokasinya juga terletak di area luar kota yang merupakan kawasan favorit bagi para kaum expatriate yang tinggal dan bekerja di Jakarta karena kompleks perumahan ini terkenal tenang tanpa kemacetan lalu lintas. Haruskah? Haruskah? Haruskah? Renata berjalan mondar-mandir di depan rumah tersebut. Hatinya galau. Logikanya juga masih menentang keras ide konyol ini. Tapi ia sengaja ijin lebih awal hanya demi mendatangi rumah peramal ini. Ketika ia sedang bingung, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Sebuah nomor asing mengirimkan pesan kepadanya. Tapi isi pesannya langsung membuat mata Renata terbelalak kaget sejadi-jadinya. “You’ve been in front of my house for 30 minutes. Why don’t you come in?” (Kau sudah di depan rumahku selama 30 menit. Kenapa tidak masuk saja?) I…Ini????!!! Bagaimana bisa???? Renata sama sekali tidak melihat ada seseorang yang mengintip keluar dari dalam jendela dari tadi. Jadi…. Bagaimana peramal itu bisa tahu keberadaannya??? Kamera CCTV kah?? Sebuah pesan lain masuk ke dalam ponselnya dan Renata langsung membacanya cepat-cepat. “There’s no trick or hidden camera, Darling. I know you’ll look for me today, Renata Maria…” (Tidak ada tipuan atau kamera tersembunyi, Sayang. Aku tahu kau akan mencariku hari ini, Renata Maria…) SHIT!!!! Sekarang Renata tidak bisa berkutik sama sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN