The Real Pengorbanan

1867 Kata

Pagi itu, Nayara membuka mata. Jam rumah sakit menunjuk pada angka 4 pagi. Ia merasakan ada tangan yang menggenggam jemarinya hangat. Nayara pikir itu Farzan, tapi... Saat gadis itu terbangun, ia melihat Navendra yang tampak mengulas senyum di sisinya “ Kak Vendra.” Senyumnya pucat, Nayara berusaha duduk tapi kepalanya terasa begitu pusing “ Tidak apa apa, beristirahatlah! Aku hanya ingin pamit.” Senyum Navendra manis. Nayara mengernyit “ Pamit?” Ia mempererat genggaman tangan Navendra di tangannya seakan enggan mendengarkan kata kata itu. Navendra pernah pergi begitu lama, dan Nayara tidak ingin hal itu terulang kembali. Sayangnya, pemuda itu mengangguk pelan “ Aku melihat ada cinta di matamu untuk Farzan. Mungkin aku telah menyia nyiakan cintamu terlalu lama, Nara. Aku harap mulai se

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN