Pagi itu, Nayara membuka mata. Jam rumah sakit menunjuk pada angka 4 pagi. Ia merasakan ada tangan yang menggenggam jemarinya hangat. Nayara pikir itu Farzan, tapi... Saat gadis itu terbangun, ia melihat Navendra yang tampak mengulas senyum di sisinya “ Kak Vendra.” Senyumnya pucat, Nayara berusaha duduk tapi kepalanya terasa begitu pusing “ Tidak apa apa, beristirahatlah! Aku hanya ingin pamit.” Senyum Navendra manis. Nayara mengernyit “ Pamit?” Ia mempererat genggaman tangan Navendra di tangannya seakan enggan mendengarkan kata kata itu. Navendra pernah pergi begitu lama, dan Nayara tidak ingin hal itu terulang kembali. Sayangnya, pemuda itu mengangguk pelan “ Aku melihat ada cinta di matamu untuk Farzan. Mungkin aku telah menyia nyiakan cintamu terlalu lama, Nara. Aku harap mulai se

