“ Makananmu!” Tutur petugas penjara membuka sedikit sel kemudian meletakkan piring berisi nasi putih, sedikit sayur, sambal dan goreng tempe. Tak lupa segelas air. Bumi terdiam dengan wajah pucat menatap piring yang bahkan tidak terbuat dari keramik itu. Hanya piring plastik mirip seperti piring yang biasa digunakan pembantunya untuk memberi makan kucing. Bumi yang biasanya hidup mewah, meja penuh dengan makanan yang bisa ia pilih sesuai selera, tentu terlihat sedih melihat keadaannya saat ini. Ia tidak mau menyentuh makanan yang diberikan petugas sedikit pun. Siapa yang menyangka nasibnya akan berakhir seburuk ini. Farzan meninggalkannya dengan wajah penuh kekecewaan, Navendra juga tidak mau menolongnya. Tidak ada lagi yang bisa Bumi harapkan. Perlahan... Wanita paruh baya itu merogoh

