Suamiku Rivalku...

2001 Kata
“ Ini kamar kita.” Tutur Farzan seketika membuat Nara bergidik ngeri. Ia menatap Farzan, untuk pertama kalinya Nara sekamar dengan seorang pria. Suaminya ini sexi sih tapi tetap saja tidak menarik baginya, justru horor “ Kamar kita?” Tanya Nara saat masuk ke dalam. Kamar itu begitu luas, nuansa hitam gold menguasai, sesuai dengan kepribadian pemiliknya. “ Ya.” Jawab pria itu sekenanya “ T-tapi Om, kenapa kamar ini angker sih. Kenapa gak ada warna pink atau biru begitu? Apa boleh aku mengecatnya?” Tanya Nara melihat lihat. Hingga... Twing Ia langsung menelan ludah saat Farzan menatapnya tajam. “ Pink? Biru? Kau pikir ini taman anak anak?” Tanyanya menyeramkan “ Ya kan katanya kamar kita. Lagian aura kamar ini gelap kayak sarang drakula. Sedikit warna cerah kan gak apa apa, agar Om juga gak negatif mulu auranya.” Senyum Nara membuat Farzan menghela napas panjang. “ Jangan sentuh apa pun tanpa izin dariku. Kau tidur di sini!” Farzan mengambil bantal lalu melemparnya ke lantai Ya, itu adalah hari pertama Nara pulang ke rumah kediaman Adikara dan “ Sekamar “ Dengan suaminya “ Di lantai?” Tanya Nara mengerjapkan mata. Speechless dengan ketegaan yang meraja lela dalam diri Farzan. Bagaimana mungkin seorang gadis ia suruh tidur di lantai? “ Keberatan?” Senyum Farzan dingin Nara langsung menggeleng cepat. Lebih baik ia tidur di lantai dari pada seranjang dengan Farzan bukan? “ Aku senang tidur di lantai kok Om, aku suka malah.” Ucapnya kikuk. “ Bagus.” Farzan kemudian berdiri, melepas kaosnya, membuat Nara menelan ludah melihat lekuk tubuhnya yang hampir sempurna. Ia meraih handuk, seakan Nara tidak ada di sana lalu berjalan menuju kamar mandi dengan wajah tanpa dosa. “ Yang kuat ya iman. Ingat, seganteng apa pun, dia itu Om Om menyebalkan. Ok.” Gumam gadis itu mengusap dadanya sendiri kemudian mengambil bantal yang tadi dilemparkan Farzan kemudian membawanya ke sofa, melentangkan diri di sana. Bahkan sofa kamar Farzan lebih empuk dari kasur yang selama ini ia tiduri. Baru saja Nara hampir terlelap, seseorang membuka pintu dengan kasar lalu menatapnya tajam. Rasa kantuk Nayara langsung hilang tak bersisa melihat wajah Bumi yang seakan ingin menelannya hidup hidup. “ Ada apa ma?” Tanya Nara. Bumi sedikit mengulas senyum melihat Nara yang hampir tertidur di sofa. Sudah jelas, Farzan sebenarnya tidak menginginkan gadis itu. “ Ma? Kau pikir kapan aku melahirkanmu? Cepat turun dan bantu pelayan di dapur. Tinggal di sini tidak gratis.” Perintah Bumi Nara menarik napas panjang kemudian bergegas ke luar, memenuhi perintah Bumi. Ya, di rumah itu, ia diperlakukan seperti pelayan. Usai dari kamar mandi, Farzan mengernyit melihat ada Bumi di kamarnya. “ Di mana Nara?” Tanyanya tak menemukan gadis itu di mana pun “ Di tempat yang seharusnya.” Senyum Bumi mendekati putranya yang juga mengulas senyum. Menarik napas panjang lalu melemparkan handuknya asal. “ Sekarang mama senang?” Tanyanya “ Maafkan mama sayang. Mama hanya tidak suka dengan gadis itu, mana bisa mama membiarkan kamu memiliki istri seperti itu. Kamu putra tunggal keluarga ini, setidaknya, istrimu harus berkelas. Mama merasa bersalah telah membuat ayahmu masuk ke rumah sakit. Mama merasa sakit hati, mengetahui bahwa Nara adalah putri Khairana, cinta ayahmu. Sosok yang menjadi bayangan gelap dalam keluarga kita. Wanita yang telah mengambil cinta ayahmu sepenuhnya.” Tutur Bumi berkaca kaca Farzan memegang pundak ibunya itu lembut, ia kemudian menyeka air mata dari pipinya “ Jangan menangis ma, selain ingin kesembuhan ayah, aku juga membawa Nara ke tempat ini agar kau bisa membalaskan sakit hatimu pada ibunya. Lakukan apa pun yang kau mau padanya.” Senyum Farzan dingin. Ya, itulah rencana Farzan yang sebenarnya. Setelah ia tahu, siapa Nara sebenarnya. Khairana memang selalu menjadi bayangan hitam di masa kecilnya. Hendri terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mengenang sosok itu, hingga ia lupa memberikan perhatian pada istri dan putranya. Hidup dengan ibu yang selalu mabuk dan marah, membuat Farzan tumbuh menjadi pribadi yang seperti itu. Farzan juga sangat membenci ibu Nayara, mengetahui Nayara adalah putri dari cinta pertama ayahnya membuat Farzan semangat untuk membalas apa yang ia rasakan selama ini. Tekanan, kesepian dan juga kehidupan yang hampa. Menurut Farzan, Nara pantas menerima semua hal itu. Bahkan setelah semuanya, Hendri bahkan lebih peduli pada putri kekasihnya dari pada keluarga sendiri. Sikap Hendri yang terlalu menyayangi Nayara membuat Farzan muak. Sementara itu, di sana... Nayara sibuk membantu para pelayan memasak makanan. Sikap Nayara dengan mudah bisa membuat semua pelayan suka padanya. Keceriaan, ketelatenan, bahkan Nayara pun pandai memasak. Semua bumbu masakan dia hafal bahkan hampir semua resep dia tahu. Bagaimana tidak, selama ini, Nayara adalah koki pribadi ayahnya. Dalam waktu singkat, berbagai makan malam yang diminta Bumi sudah bisa disajikan di meja. Setelah itu, Nayara membantu Hendri dengan tongkatnya menuju meja makan. “ Mana Farzan?” Tanyanya melihat tidak ada Farzan di meja makan. “ Aku akan menjemputnya!” Nayara hendak bergegas. Sebelum... Tatapan mata pelayan langsung terarah ke arah tangga. Tampak Farzan turun sambil melipat lengan baju hitamnya sampai siku. Ia terlihat sangat menawan di bawah paparan lampu kristal. Bagai pangeran yang baru saja turun dari langit. Kedatangan Farzan, selalu membuat para pelayan ternganga. Nayara juga hampir saja ternganga, sebelum akhirnya ia menyadarkan diri. Beberapa saat kemudian, mereka berkumpul di meja makan. “ Hmm rasanya enak. Tumben kalian pas memasaknya.” Celetuk Farzan saat mencicipi sup ayam di depannya. “ Itu nona Nara yang memasak tuan. Dia sangat lihat.” “ Uhuk uhuk.” Farzan langsung terbatuk mendengar siapa yang memasak. Wajah gengsinya langsung terlihat jelas “ Enak kan om? Eh kak... kalau suka aku akan sering memasakkannya.” Celetuk Nara membuat Farzan semakin malu. Bumi memutar bola matanya, rasanya enggan memakan masakan Nara, hanya saja, masakan itu memang terasa sangat enak. Sebaliknya, Hendri justru berkaca kaca saat menyendokkan sup ke mulutnya. “ Hendri, kau menyukai itu?” Suara masa lalu seakan menyeruak di telinganya. Bola mata tua Hendri langsung berair, ia menatap Nara yang tersenyum duduk di sisinya. Dibelainya rambut Nara lembut “ Rasanya sangat enak, kau pandai memasak seperti ibumu.” Ucapnya tanpa sadar Deg Farzan langsung meletakkan sendoknya, ia menatap ayahnya tajam. “ Ibu? Paman mengenal ibuku? Ah tentu kan paman teman baik ayah. Ayah juga sering mengatakan hal yang sama. Aku mirip ibu, aku juga pintar memasak sepertinya.” Senyum Nara senang. Sebelum.... Prank Farzan melempar sendok itu kasar. Ia kemudian berdiri, “ Aku sudah kenyang.” Ujarnya lalu beranjak pergi begitu saja. Hendri yang menyadari perubahan sikap putranya hanya bisa menghela napas “ Kau selalu tidak bisa menahan dirimu. Suasana di meja makan ini sudah tidak nyaman lagi.” Celetuk Bumi kemudian melangkah menuju kamar “ Kak Farzan dan Tante kenapa Paman?” Tanya Nara yang memang tidak mengerti apa pun “ Tidak apa apa, lanjutkan saja makanmu. Kamu harus sehat ya.” Hendri membelai punggung Nara penuh kasih sayang. Sebelum... “ Tuan muda barusan ke luar kan? Padahal di luar sedang hujan. Dia kan tidak tahan dingin.” Bisik pelayan Benar saja, Pria itu berjalan ke luar, menuju halaman yang saat itu tengah hujan deras. Mata ambernya menatap langit pekat “ Tuan ini sedang hujan, kenapa anda ke luar?” Tanya Riko yang stanby mendekatinya. “ Siapkan mobilku, aku ingin pergi ke sebuah tempat.” Perintah Farzan. Menangkap raut wajah tak enak di wajah tuan mudanya, Riko langsung bergegas ke garasi mobil. “ Mau saya antarkan tuan?” Tanya Riko saat Farzan mengambil kunci mobil dari tangannya “ Tidak. Aku ingin sendiri.” Tolak Farzan kemudian bergegas melaju menembus derasnya hujan malam, entah ke mana ia pergi. Bumi hanya bisa melihat kepergian putranya dari jendela kamar. Ia kemudian menghubungi seseorang “ Eliana “ Karena Bumi yakin, hanya Eliana yang tahu ke mana Farzan pergi, dan hanya Eliana yang bisa menenangkannya. Sementara itu, di lain tempat... Eliana tampak duduk, masih sesenggukan dengan teh hangat di tangannya “ Kau belum mau berhenti menangis?” Tanya Vendra duduk di depannya. Ya, Eliana sedang bersama Vendra di sebuah Cafe. “ Kau tidak mengerti. Aku sedang patah hati, lagi pula kita sudah lama tidak bertemu, apa yang kau tahu tentangku.” Celetuk gadis itu sedih Mendengar itu, Vendra mengulas senyum, memalingkan wajah lalu menenggak segelas teh di meja. “ Di luar hujan begitu deras, aku ingin menghubungi seseorang. Boleh aku meminjam ponselmu?” Tanyanya kemudian “ Di mana ponselmu?” “ Tertinggal di mobil.” Eliana langsung menyerahkan ponselnya ke tangan Vendra. Melihat ada panggilan masuk, Vendra langsung mematikan sebelum Eliana sadar. Ya, ia mematikan ponsel Eliana “ Baterai ponselmu habis. Aku akan menchargernya ke kasir.” Celetuknya yang hanya dijawab dengan anggukan pasrah oleh Eliana. “ Kau masih menangisi Farzan? Kenapa hidupmu jadi semenyedihkan ini?” Eliana menatap Vendra tajam “ Aku tidak ingin membahas ini. Lagi pula, kenapa kau di sini? Bukankah kau di Australia?” Celetuk Eliana Benar, Vendra ternyata adalah salah satu teman kerja Eliana di Australia sebagai model. Itulah kenapa pemuda itu memiliki penampilan yang menawan. “ Aku menyusulmu.” Jawab Vendra dengan senyum semanis madu Eliana mengernyit “ Menyusulku?” “ Ya, menyusulmu. Kau meninggalkan pekerjaan yang belum selesai, dan perasaan yang belum terjawab. Bukankah kau tahu aku menyukaimu.” Tutur pemuda itu gamblang. Apa sebenarnya yang diinginkan Vendra, kenapa ia seakan memiliki banyak wajah Kemarin ia menyiksa Eliana dan sekarang, ia menyatakan rasa suka, walaupun tanpa ekspresi, hal itu cukup untuk membuat seorang gadis tertipu dengan wajah malaikatnya “ Jangan mengatakan hal seperti itu. Aku lelah mendengarnya.” Celetuk Eliana menyembunyikan gurat merah di pipinya. Vendra mengulas senyum dingin melihat hal itu. ----***----***----***---- Farzan menghentikan laju mobilnya di sebuah jalan setapak yang sepi. Tidak ada kehidupan di sana selain bunyi lolongan anjing, suara hujan deras dan pernah pernik malam yang menambah pekat. Pemuda itu menatap lurus ke depan dengan tangan mengepal menahan kesal. Ia kemudian turun, menerobos hujan dan melangkah menyusuri jengkal demi jengkal tanah di depannya. Langkahnya terhenti di depan sebuah makam. Ya, Farzan berada di pemakaman. “ Sampai kapan kau akan mengganggu keluargaku hah? Kau sudah mati bukan? Kenapa kau tidak mengubur semuanya bersamamu hmm?” Celetuknya emosi. Ya, itu makam bertuliskan Khairana, ibu Nayara. “ Aku sangat membencimu, sangat membencimu hingga mampu datang ke sini untuk memaki. Apa yang kau lakukan hingga ayahku tergila gila? Dengarkan aku baik baik, putrimu berada di rumahku sekarang. Lihat cincin ini! Aku berhasil menjadi suaminya. Dan itu artinya, aku bebas melakukan apa pun kepadanya, bebas membalas semuanya dan melampiaskan kebencianku. Aku bersumpah, cincin ini akan menjadi tali yang menjerat lehernya. Kau tidak akan merasa tenang bahkan setelah kematianmu! Itu sumpahku!” Tekan Farzan geram. Suara gemuruh petir seakan menyambut sumpah dari sosok berkemeja hitam itu. Tapi apakah benar, Farzan akan menepati sumpahnya? Atau justru ia yang akan terjerat dalam sumpah itu? Hanya takdir yang bisa menjawabnya -----***----***----***----- “ Ibumu adalah wanita yang sangat baik dan lembut. Tawanya mampu menenggelamkan kesedihan menjadi tenang. Paman dibesarkan di panti asuhan sejak kecil, bersama ibumu, Khairana. Jadi paman sangat mengenalnya, mungkin melebihi ayahmu. Beruntungnya, paman diadopsi oleh keluarga kaya, keluarga yang sangat menyayangi paman seperti anak kandungnya sendiri. Tapi walaupun begitu, hubungan pertemanan paman dan ibumu tetap berlanjut sampai kita dewasa. Ini, paman masih menyimpan foto kami. Ada paman, ayahmu dan ibumu. Dia benar benar terlihat mirip denganmu bukan?” Hendri menyerahkan sebuah foto ke tangan Nayara yang berkaca kaca menerimanya. Di dalam foto itu, tampak senyum ibunya begitu lepas. Pasti begitu banyak cinta yang ia terima semasa hidup, cinta yang tidak pernah Nara rasakan. Nara bahkan tidak mengenal sosok ibunya “ Paman bisa menceritakan padaku lebih banyak? Bagaimana ibu? Aku sangat senang mendengarkannya.” Pinta Nara berkaca kaca “ Tentu, paman akan menceritakan semuanya.” Senyum Hendri senang. Sebelum... “ Kenapa kau masih di sini? Cepat ke luar! Ini waktunya Hendri beristirahat. Suamimu belum pulang dan kau justru di sini? Ke luar!” Tekan Bumi meradang Nara pun mengalah, ia mencium punggung tangan Hendri sebelum ke luar dari kamar itu. Nara begitu senang mendekap foto itu ke dadanya. Air matanya tanpa sadar menetes “ Ibu, aku beruntung bertemu dengan keluarga ini. Setidaknya aku bisa mengenal seperti apa dirimu.” Gumamnya senang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN