Ancaman di Balik Ledakan

2359 Kata
"Baiklah, Nona!" ucap suster itu dengan sopan, lalu bergegas mencatat data yang diperlukan. Setelah menunggu beberapa waktu, pintu ruang perawatan terbuka. Dokter keluar dengan wajah lega sambil melepas masker medisnya. "Pasien aman, kondisinya baik-baik saja. Hanya mengalami luka ringan dan sedikit benturan keras di kepala. Tidak ada kerusakan serius, dia hanya butuh istirahat dan pemulihan," jelas dokter itu panjang lebar. "Syukurlah... Terima kasih banyak, Dokter!" ucap Senja sambil menghela napas lega, hatinya yang sempat cemas kini sedikit tenang. Perlahan Senja melangkah masuk ke dalam ruangan yang beraroma obat itu. Ia menghampiri ranjang tempat Mahardika terbaring diam. Di bawah cahaya lampu ruangan yang lembut, Senja tak bisa mengalihkan pandangannya. Wajah pemuda itu sangat tampan, dengan rahang tegas dan kulit bersih, membuatnya terlihat seperti pangeran dalam dongeng, meski saat ini mata itu tertutup rapat. "Dia tampan sekali..." batin Senja, matanya membelalak kagum tanpa sadar. "Emmmppphhh..." Tiba-tiba suara erangan pelan terdengar. Mahardika mulai bergerak gelisah, lalu perlahan membuka kedua matanya yang tajam dan pekat. Kesadarannya perlahan kembali sepenuhnya. "Kau sudah sadar!" seru Senja sedikit kaget namun bernada gembira. Mahardika mengerjap beberapa kali, menyesuaikan penglihatannya, lalu menatap sekeliling ruangan dengan tatapan bingung namun tetap berwibawa. "Di mana aku?" tanyanya dengan suara berat dan serak. "Kau ada di rumah sakit. Kau mengalami kecelakaan hebat di jalan raya, aku yang menemukan dan membawamu ke sini," jawab Senja jujur. Mahardika diam sejenak, matanya menatap kosong ke arah langit-langit ruangan. Pikirannya berputar cepat mengingat kejadian penembakan itu. Ia tahu itu ulah musuh bebuyutannya yang ingin merebut kekuasaan Klan Angkasa - Nostro Tenkū. "Ini ponselmu, dompetmu juga ada di sini. Aku menyimpannya agar tidak hilang," ucap Senja sambil menyodorkan barang-barang milik Mahardika kepadanya. Mahardika mengambil benda itu tanpa banyak bicara. Tangannya bergerak cekatan mengetik pesan singkat di layar ponsel canggihnya, memberi kode khusus kepada anak buahnya bahwa ia selamat, namun bahaya masih mengancam. Setelah itu, ia menoleh ke arah Senja dengan wajah datar tanpa ekspresi apa pun. "Dimana rumahmu?" tanyanya singkat. Senja terdiam, menundukkan kepalanya dengan tatapan sedih. "Aku... aku baru saja diusir dari rumah oleh ibu tiriku pagi tadi. Aku tidak punya tempat tinggal sekarang..." "Bagai sebuah drama sekali hidupmu," ucap Mahardika dengan nada dingin dan datar, seolah tak ada rasa iba sedikit pun. Senja hanya diam membisu, tangannya meremas ujung bajunya, menahan rasa malu dan sedih yang kembali menyelinap. Namun tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka lebar dengan kasar. Seorang pria berjas rapi bergegas masuk dengan napas terengah, wajahnya terlihat sangat cemas meski ia berusaha menyembunyikannya di balik sikap dinginnya. Itu adalah Satria Cakra Buana, asisten pribadi sekaligus tangan kanan terpercaya Mahardika. "Tuan! Aku datang, Tuan... Apa Tuan baik-baik saja?!" tanya Satria cepat, segera mendekati ranjang tuannya. "Aku tidak apa-apa. Tenang saja," jawab Mahardika pelan. "Dan... gadis inilah yang telah menolongku malam ini. Jika bukan karena dia, mungkin kau sudah tidak melihatku lagi." Satria menoleh cepat ke arah Senja. Matanya menyipit mengenali wajah polos itu. "Kau... Kau gadis pelayan toko makanan kemarin siang?!" seru Satria kaget, mengingat kejadian di mana Senja menjatuhkan makanan di dekat tuannya. Senja hanya tersenyum canggung lalu mengangguk pelan. "Iya, itu aku..." "Terima kasih. Terima kasih banyak karena telah membantu Tuan Mahardika," ucap Satria dengan nada hormat dan tulus, sikapnya berubah drastis dari yang biasanya tajam dan mengintimidasi. "Sama-sama... Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan manusia," jawab Senja sambil tersenyum lembut. "Baiklah, Tuan... Kapan Tuan berencana pulang ke kediaman?" tanya Satria beralih ke urusan penting. "Besok pagi. Aku butuh istirahat satu malam ini saja," jawab Mahardika tegas. Satria lalu menoleh kembali ke arah Senja. "Kalau begitu... Nona, di mana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang sekarang sebagai tanda terima kasih kami." "Dia tidak punya rumah," potong Mahardika cepat dengan nada cuek dan datar, membuat Senja terkejut. "Aku... aku bisa ke rumah ibu kandungku. Rumahnya masih ada, meskipun sudah tua dan jarang dihuni," sahut Senja pelan. "Baiklah, ayo. Aku akan mengantarmu ke sana, Nona," ucap Satria sopan. Satria pun mengantar Senja menuju mobil mewah hitamnya. Sepanjang perjalanan, suasana hening. Senja hanya diam memandangi jalanan kota yang mulai sepi, sementara Satria fokus menyetir namun sesekali melirik kaca spion ke arah gadis itu. Sesampainya di sebuah gang sempit dan masuk ke kawasan pemukiman tua yang agak kumuh, Senja menatap bangunan rumah kayu tua itu dengan tatapan sedih dan penuh kerinduan. "Nona, boleh aku tahu siapa namamu?" tanya Satria memecah keheningan. "Namaku Senja," jawab gadis itu sambil tersenyum tipis. "Baiklah, Namaku Satria. Kalau ada apa-apa, carilah aku di markas besar Klan Angkasa - Nostro Tenkū. Sekarang aku pergi dulu ya, Nona Senja," pamit Satria. "Terima kasih banyak, Kak Satria!" ucap Senja sambil melambaikan tangan. Mobil itu pun melaju pergi menjauh. Senja menghela napas panjang. "Syukurlah ada yang mengantarkanku ke sini... Aku sama sekali tidak punya uang untuk naik taksi, dan jika harus jalan kaki mungkin baru sampai besok pagi. Memang benar kata orang, berbuat baik akan selalu mendapat balasan yang baik," gumamnya pelan pada diri sendiri. * * Setelah memastikan Senja aman, Satria kembali bergegas menuju rumah sakit. Ia masuk kembali ke ruangan rawat Mahardika dan melapor. "Tuan, Nona Senja ternyata tinggal di kawasan pemukiman tua di utara kota, di daerah kumuh dekat perbatasan rel kereta api," ucap Satria tenang. "Apa??!" Mahardika langsung bangkit duduk kaget, matanya terbelalak tak percaya. "Lalu kau tetap meninggalkannya di sana?!!" "Iya, Tuan... Beliau bilang itu rumah ibunya," jawab Satria bingung. "Sialan!! Kau lupa apa yang kita bahas?! Kau lupa tugas pasukan khusus Tenkū-Ryū?!" bentak Mahardika marah dan kesal, napasnya memburu. "Mereka akan meledakkan bom besar itu malam ini tepat di daerah itu! Di bawah tanah tempat itu ada simpanan berlian biru dan sarang musuh kita! Daerah itu akan rata dengan tanah malam ini juga!" Wajah Satria seketika pucat pasi. Ia baru saja mengingat misi rahasia itu. "Akan ku jemput kembali sekarang juga, Tuan!!" seru Satria panik, berbalik badan hendak berlari keluar. "Cepat!! Bawa dia kembali selamat, atau kau ikut hancur bersamamu!" hardik Mahardika menggelegar. * * Sementara itu, di rumah tua peninggalan ibunya, Senja sedang berbaring di atas kasur tipis yang sudah agak lapuk. Di tangannya, ia menggenggam erat sebuah bingkai foto usang berisi wajah wanita cantik yang tersenyum hangat—ibunya yang sudah lama meninggal dunia. "Seandainya Ibu masih ada... Pasti hidupku tidak akan sesepi dan sesulit ini..." batin Senja, air matanya kembali menetes membasahi pipi. Tiba-tiba... DDDUUUAAARRRR!!!... DDDUUUAAAARRRR!!!... Suara dentuman yang sangat keras dan berulang kali menggema menggetarkan seluruh bangunan. Senja seketika terlonjak kaget dan jatuh dari kasurnya. Tanah berguncang hebat seolah ada gempa bumi. Dari luar terdengar jeritan ketakutan banyak orang, disertai suara runtuhan bangunan dan kaca yang pecah berantakan. Senja gemetar ketakutan. Ia bergegas mengunci semua pintu dan jendela rumah itu, lalu bersembunyi di sudut kamar, memeluk lututnya erat-erat. "Ya Tuhan... Apa ini... Apa yang terjadi..." isaknya pelan. Suasana semakin kacau. Bunyi sirine ambulans, truk pemadam kebakaran, dan teriakan tangisan terdengar di mana-mana. Ledakan terus terjadi tanpa henti, membuat tanah bergetar terus-menerus. Rasa takut yang luar biasa menyerang seluruh saraf Senja, hingga perlahan pandangannya kabur, tubuhnya melemas, dan ia pun terbaring pingsan tak sadarkan diri di lantai dingin itu. Di luar sana, Satria baru saja tiba. Matanya terbelalak melihat kekacauan yang terjadi. Asap hitam membumbung tinggi, api mulai menjilat beberapa bangunan, dan garis polisi sudah terbentang panjang mengelilingi seluruh daerah itu. Para petugas berlarian membawa korban dan mengevakuasi warga yang masih selamat. Satria mendekati seorang petugas polisi yang sedang mengatur arus. "Pak Polisi! Apa yang terjadi sebenarnya di sini?!" tanya Satria pura-pura tidak tahu apa-apa, meski hatinya berdebar ngeri. "Ada bom raksasa yang meledak dari bawah tanah, Tuan! Seluruh wilayah ini berbahaya dan tidak aman lagi! Sebaiknya Tuan segera pergi dari sini!" jawab petugas itu tegas. "Tolong Pak, saya ingin menjemput teman saya di dalam sana. Bolehkah saya masuk sebentar saja? Ia sendirian di rumah tuanya," pinta Satria dengan nada mendesak. Awalnya Pak Polisi itu ragu-ragu dan berniat melarang, namun saat melihat wajah dan aura Satria yang mengintimidasi, ditambah lencana kecil tersembunyi di jas Satria yang menandakan identitasnya sebagai orang penting dari Nostro Tenkū, petugas itu pun mengalah. Ia tahu betul siapa penguasa kota ini. "Baiklah, cepat saja Tuan! Hati-hati!" izin petugas itu. Satria langsung berlari menerobos masuk menuju rumah tua tempat ia mengantar Senja tadi. Jantungnya berpacu kencang. Sesampainya di depan rumah itu, pintu dan jendela tertutup rapat dan terkunci. "Terkunci dari dalam... Artinya dia masih ada di sini!" gumam Satria lega namun cemas. Tanpa buang waktu, Satria mengerahkan tenaganya mendobrak pintu kayu tua itu. BRRUUUAAKKK!!! Pintu itu pun terbuka. "Nona Senja!! Ini saya, Satria! Saya datang menjemput Anda!!" teriaknya keras memecah suara gaduh di luar. Satria memeriksa ruang tamu, ruang tengah, hingga sampai ke pintu kamar yang juga terkunci rapat. "Nona Senja! Apa Anda masih di dalam?!" teriaknya lagi, namun tak ada jawaban sama sekali. Hening. Dengan perasaan cemas yang memuncak, Satria mendobrak pintu kamar itu juga. Begitu terbuka, ia melihat sosok kecil Senja tergeletak diam tak berdaya di lantai. Kulitnya pucat pasi, tubuhnya dingin namun masih bernapas. "Astaga... Nona Senja!!" seru Satria kaget, segera menghampiri dan merasakan denyut nadi gadis itu. Masih ada. Tanpa berpikir panjang, Satria langsung menggendong tubuh mungil itu, membungkusnya dengan jasnya sendiri, lalu berlari keluar dari kawasan maut itu secepat kilat. Ia langsung membawa Senja kembali ke rumah sakit, tempat tuannya berada. Sesampainya di sana, Senja langsung dibawa ke ruang pemeriksaan darurat. Satria berjalan mondar-mandir di depan pintu ruangan itu dengan wajah cemas luar biasa, menunggu dokter keluar. Tak lama kemudian dokter pun keluar dengan wajah yang sedikit lega namun serius. "Bagaimana keadaan dia, Dok?!" serbu Satria segera. "Secara fisik, pasien tidak mengalami cedera sedikit pun. Tidak ada luka gores atau benturan," jelas dokter itu. "Tapi... tubuhnya terus gemetar hebat meski tidak kedinginan, dan ia belum juga sadar. Sepertinya pasien mengalami goncangan jiwa yang sangat hebat akibat kejadian mengerikan tadi. Dia harus mendapatkan penanganan psikologis khusus." "Baiklah... Terima kasih, Dokter!" ucap Satria mengangguk paham. Satria segera memanggil dokter spesialis psikologi untuk menangani Senja, sementara dirinya bergegas menuju ruangan rawat Mahardika untuk melapor. Ia masuk dan melihat Mahardika yang sudah duduk tegak di atas ranjang, menunggu dengan tatapan tajam penuh tanya. "Tuan... Saya sudah membawa Nona Senja keluar dengan selamat. Dia sekarang sedang diperiksa oleh dokter di ruang sebelah," lapor Satria. "Apa dia terluka?! Kenapa diperiksa?!" Mahardika langsung bangkit hendak turun dari ranjangnya. "Cepat bawa aku ke sana sekarang!" "Tenang dulu, Tuan! Nona Senja tidak terluka sedikit pun secara fisik. Tubuhnya utuh dan aman," cegah Satria cepat. "Apa maksudmu tidak terluka?! Kalau tidak apa-apa, lalu kenapa dia diperiksa?!" tanya Mahardika dengan nada tidak percaya dan semakin khawatir. "Entahlah, Tuan... Sulit dijelaskan dengan kata-kata. Dokter bilang ada sesuatu yang salah dengan keadaannya, tapi bukan cedera fisik," jawab Satria menggeleng. "Kalau begitu jangan banyak bicara lagi! Cepat bawa aku ke ruangannya! Biar dokter yang menjelaskan semuanya padaku di depan!" perintah Mahardika tegas. Ia tak peduli lagi pada rasa sakit di tubuhnya, satu-satunya yang ada di kepalanya saat ini hanyalah Senja. * * Di sebuah kediaman mewah nan megah, bak istana tersembunyi di balik tembok tinggi berpagar besi, terlihat seorang pemuda tampan namun bermata tajam sedang duduk bersantai di kursi kebesarannya. Di ruangan yang dingin dan beraroma mahal itu, suasana terasa tegang namun penuh kekuasaan. Ia adalah Dimas Ardiwirang, pemimpin tertinggi organisasi bayangan saingan berat Klan Angkasa. "Tuan Dimas, semua berjalan sesuai rencana!" ucap Arga, tangan kanan kepercayaannya, sambil menunduk hormat. "Bagus... Hancurkan tempat itu hingga rata dengan tanah. Jangan sisakan satu pun bangunan yang berdiri di sana!" perintah Dimas dengan nada datar namun berisi ancaman yang mengerikan. "Sedang dilaksanakan, Tuan. Ledakan besar telah terjadi tepat di sasaran," jawab Arga sigap. Dimas tersenyum tipis, namun senyum itu sama sekali tidak menyentuh matanya. "Lalu, bagaimana dengan Mahardika Angkasa? Apa kau pastikan dia mati?" Arga sedikit menunduk lebih dalam, raut wajahnya berubah sedikit cemas. "Mobil yang dikendarainya sudah meledak hebat, Tuan. Tapi... saat kami kembali memeriksa puing-puingnya, tubuhnya tidak ada di sana. Mobil itu kosong. Sepertinya ada seseorang yang menyelamatkannya tepat sebelum ledakan terjadi." "b*****h!!" Dimas menggeram marah, tangannya yang mengepal kuat seketika menghantam meja marmer di depannya hingga benda-benda di atasnya berguncang hebat. Emosinya meluap tak terkendali. Mahardika adalah satu-satunya duri dalam daging yang selama ini menghalangi ambisinya menguasai seluruh kota, dan gagal membunuhnya adalah kegagalan terbesar. Sementara itu, di rumah sakit, tepat di depan ruang rawat tempat Senja dirawat, Mahardika terlihat gelisah luar biasa. Ia terus berusaha membuka pintu ruangan itu paksa, namun selalu dicegah oleh Satria. "Aku ingin masuk sekarang juga! Minggir!" desak Mahardika dengan nada rendah yang menahan amarah dan kekhawatiran. "Tunggu sebentar, Tuan! Biarkan dokter melakukan tugasnya terlebih dahulu. Kondisi Nona Senja butuh ketenangan," cegah Satria tegas namun tetap hormat. Tiba-tiba ponsel Satria berdering nyaring. Ia segera mengangkatnya, dan dari ujung telepon terdengar suara Bianca—mata-mata andalan mereka yang sedang bertugas di lokasi kejadian ledakan tadi. "Ada apa? Kau menemukan sesuatu?" tanya Satria langsung pada intinya. "Ya, Pak. Kami menemukan barang bukti berupa senjata api dan sisa bahan peledak yang tertinggal di lokasi pengeboman. Di sana terukir jelas lambang Unmei," lapor Bianca dengan suara serius di seberang telepon. "Baiklah, teruskan penyelidikanmu dan amankan tempat itu. Jangan sampai ada yang tahu," perintah Satria sebelum mematikan sambungan telepon. Satria berbalik badan menghadap tuannya, raut wajahnya menjadi serius. Perlu diketahui, Unmei adalah organisasi mafia kelas atas yang sangat kejam dan berambisi tinggi. Organisasi ini saat ini dipimpin oleh Dimas Ardiwirang, yang merupakan penerus generasi ke-4 dari pendiri sekaligus peletak dasar organisasi tersebut, Jayanegara Wijayakusuma. Organisasi ini adalah saingan abadi dari Klan Angkasa - Nostro Tenkū, yang dipimpin oleh Mahardika Angkasa. Mahardika sendiri adalah penerus generasi ke-6 dari silsilah keluarga besar Angkasa, bermula dari pendiri utama sekaligus pencipta nama besar organisasi itu, Raditya Ario Angkasa, yang kemudian diteruskan oleh anaknya Arya Daneswara Angkasa, dan seterusnya hingga sampai ke tangan Mahardika. Satria mendekatkan badannya, membisikkan laporan itu tepat di samping telinga Mahardika. "Tuan... Sepertinya semua kekacauan, penembakan, hingga ledakan dahsyat tadi, semuanya ada kaitannya dengan Unmei. Ini ulah mereka," bisik Satria pelan namun tegas. Mahardika menatap tajam ke arah pintu ruangan tempat Senja berada, matanya menyala penuh api kemarahan yang tertahan. Ia mengertakkan gigi, tangannya mengepal hingga urat-urat di lengannya terlihat menonjol. "Aku sudah menduganya..." jawab Mahardika dengan suara rendah dan bergetar menahan amarah. "Ya, aku tahu persis ini semua ulah pria itu. Dimas Ardiwirang... Dia benar-benar tidak pernah berhenti mencari cara untuk menjatuhkanku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN