bc

Senja Sang Penakluk Hati Mahardika

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
contract marriage
one-night stand
family
HE
age gap
fated
goodgirl
mafia
single mother
gangster
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
campus
city
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Senja Pertiwi seorang gadis cantik sederhana berusia 18 tahun yang hidup dengan penuh ketulusan dan kebaikan hati. Di balik penampilan sederhananya tersimpan kekuatan besar yang mampu menggetarkan hati seseorang yang paling dingin sekalipun. Takdir mempertemukannya dengan Mahardika Angkasa seorang pemuda tampan yang menjabat sebagai CEO muda kaya raya dan sangat berpengaruh. Namun di balik kemewahan dan ketampanannya Mahardika menyimpan identitas gelap sebagai seorang Mafia kejam yang ditakuti banyak orang. Ia dikenal dengan sikap dingin cuek dan tak tersentuh yang justru membuatnya menjadi idola dan incaran banyak wanita cantik. Bagi Mahardika wanita hanyalah hiburan semata dan tak ada satu pun yang mampu bertahan lama di sisinya hingga Senja hadir mengubah segalanya. Dengan kepolosan dan ketulusan cintanya Senja perlahan namun pasti mampu meruntuhkan tembok tinggi yang dibangun Mahardika bertahun tahun lamanya. Mampukah gadis sederhana ini bertahan di dua dunia yang sangat berbeda atau justru ikut hancur terbawa arus kekejaman dunia milik Mahardika.

chap-preview
Pratinjau gratis
Pertemuan di Ujung Takdir
Di tengah kegelapan malam yang pekat, aroma besi berkarat dan darah segar memenuhi udara dingin penjara bawah tanah milik kelompok Tenkū-ryū yang baru saja dikalahkan. Mahardika berdiri tegak di tengah ruangan yang kini hening, dikelilingi oleh pasukan kepercayaannya. Ia baru saja menyelesaikan eksekusi para tawanan terakhir yang menjadi ancaman bagi organisasinya. Wajahnya tetap datar dan dingin, seolah apa yang baru saja ia lakukan hanyalah hal sepele. Tanpa banyak bicara, Mahardika melepas sarung tangan kulit dan kemeja hitam yang kini berlumuran noda merah pekat. Dengan gerakan tenang namun berwibawa, ia melemparkan kedua benda itu ke tumpukan kayu kering di sudut ruangan, lalu menyalakan api. Nyala api segera berkobar tinggi, melahap habis segala bukti dan jejak pertempuran malam ini, meninggalkan abu yang tak akan pernah bisa dikenali lagi. Tiba-tiba, langkah langkah kaki ringan namun tegas terdengar mendekat. Seorang wanita cantik dengan sorot mata tajam namun indah melangkah masuk melewati gerbang besi yang terbuka. Penampilannya rapi, berwibawa, dan memancarkan aura kepercayaan diri yang tinggi. "Komandan, apa Bos ada di dalam?" tanya wanita itu—Bianca—kepada salah satu anak buah yang berjaga di pintu. "Sedang mengeksekusi. Tapi sepertinya sudah selesai," jawab Raka, anak buah yang bertugas menjaga pintu, dengan nada hormat. Tanpa menunggu izin lebih lanjut, Bianca melangkah cepat masuk menembus asap tipis yang masih mengepul. Ia langsung menghampiri Mahardika yang kini hanya mengenakan kaus dalam, sedang membersihkan sedikit sisa noda di lengan kekarnya. "Mahardika, kami baru saja menerima laporan dari mata-mata di lapangan," ucap Bianca dengan napas sedikit terengah namun suara yang jelas dan tegas. Wajahnya yang cantik tampak serius dan penuh perhatian. "Kami sudah menemukan lokasi penempatan bom yang mereka rencanakan. Mereka berniat meledakkan seluruh wilayah itu dalam waktu dekat. Tujuan utama mereka bukan sekadar menghancurkan tempat itu, tapi untuk menggali dan merebut sebuah benda berharga yang tersembunyi di bawah tanah... sebuah bongkahan berlian biru raksasa yang konon memiliki nilai tak ternilai dan kekuatan besar." Mahardika mengangkat wajahnya, manik matanya yang tajam menatap lurus ke mata Bianca. Di balik ketenangannya, ada kilatan ambisi dan kewaspadaan tinggi. Berlian biru itu memang legenda yang sudah lama dicari oleh banyak organisasi gelap, dan ia tidak akan membiarkannya jatuh ke tangan musuh. "Kau dan Nostro Tenkū berangkat sekarang juga ke lokasi itu," perintah Mahardika dengan suara berat dan berwibawa, tanpa ragu sedikit pun. "Temukan ruang penyimpanan di bawah tanah, cari berlian itu, ambil, dan segera kembali. Jangan pedulikan apa pun yang terjadi di sepanjang jalan, prioritas utamamu hanyalah membawa benda itu ke tanganku sebelum mereka sempat meledakkan tempat itu. Mengerti?" Bianca mengangguk mantap, sorot matanya berkilau siap menjalankan tugas. "Baik, siap dilaksanakan," jawabnya singkat dan lancer, lalu berbalik badan secepat kilat untuk pergi mempersiapkan diri bersama rekannya, Nostro Tenkū. * * Mentari pagi bersinar cerah, menyinari gang-gang sempit yang berjejer di pemukiman warga sederhana. Di antara keramaian itu, terlihat sosok gadis kecil bertubuh kurus namun lincah sedang berlarian tergesa-gesa. Rambut panjangnya terurai berantakan tertiup angin, napasnya terengah-engah memburu waktu. Itu adalah Senja. "Aduh, aku terlambat lagi..." batin Senja sambil terus mempercepat langkah kakinya, hatinya berdebar cemas. Padahal ia sudah bangun jauh sebelum matahari terbit. Namun, sebelum berangkat bekerja, ibu tirinya selalu memberinya segudang perintah—memasak, mencuci pakaian, menyapu seluruh rumah, hingga bersih-bersih halaman. Senja tak pernah berani menolak atau mengeluh, karena jika ia melawan, ia tidak hanya akan dimarahi, tapi juga tidak akan diberi uang makan seharian. Ia harus menanggung semua beban itu sendirian demi bisa bertahan hidup. Sesampainya di toko makanan sederhana tempatnya bekerja, Senja langsung melihat wajah Pak Manajer yang sudah berdiri di depan pintu dengan raut wajah tak senang. Jam kerja sudah dimulai lima belas menit yang lalu. "Senja! Kamu telat lagi ya?" tegur Pak Manajer dengan suara keras, menarik perhatian pelanggan dan rekan kerja lainnya. Senja langsung menghentikan larinya, napasnya masih memburu. Ia menunduk dalam, tangannya saling meremas gugup. Rasa takut kehilangan satu-satunya pekerjaan yang ia miliki begitu kuat menyergap hatinya. "Maafkan saya, Pak... Maafkan saya... Lain kali saya janji akan datang lebih awal, sungguh," ucap Senja dengan suara lembut dan memohon, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tahu betul betapa sulitnya mencari pekerjaan lain untuk gadis seumurannya dengan latar belakang seperti dirinya. Pak Manajer menghela napas panjang, menatap gadis itu. Sebenarnya ia tahu betapa rajin, jujur, dan telitinya Senja bekerja. Di antara semua karyawannya, Senja adalah yang paling berdedikasi dan hasil kerjanya selalu memuaskan. Ia sering melihat gadis itu bekerja lebih keras dari siapa pun, meski tahu Senja sedang menahan rasa lelah atau lapar. Karena itulah, kemarahan Pak Manajer perlahan luntur. "Ya sudah, masuklah dan mulailah bekerja," ucap Pak Manajer akhirnya dengan nada yang lebih lunak, namun masih tegas. "Tapi ingat, mulai besok kalau kau terlambat lagi seperti ini, aku tidak akan memberi toleransi lagi. Aku terpaksa harus memecatmu, mengerti?" Wajah pucat Senja seketika berubah cerah. Ia mengangkat wajahnya, menatap Pak Manajer dengan mata berbinar penuh rasa syukur dan lega. "Baiklah, terima kasih banyak, Pak! Terima kasih! Saya janji, saya nggak akan terlambat lagi," jawabnya dengan gembira yang tulus, lalu segera berlari masuk ke dalam ruangan untuk berganti pakaian kerja dan mulai melayani pelanggan. Jam demi jam berlalu, hingga akhirnya tiba waktu istirahat makan siang. Toko itu mulai dipenuhi pembeli yang ingin bersantap. Di tengah keramaian itu, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan toko. Seorang pemuda tampan berwajah dingin turun dari dalam, mengenakan kaus hitam polos yang justru membuatnya terlihat semakin gagah dan berkarisma. Di belakangnya, mengikuti seorang pria paruh baya berpakaian rapi—asisten pribadinya. Pemuda itu adalah Mahardika. Ia melangkah masuk ke dalam toko sederhana itu, aura kewibawaannya begitu kuat hingga membuat suasana ruangan seketika berubah hening sejenak. Ia duduk di meja yang paling pojok, sementara asistennya berdiri tegap di belakang kursinya. Melihat kedatangan pelanggan yang tampan dan berkelas itu, Olive—rekan kerja Senja yang dikenal ramah dan sedikit genit—langsung berjalan cepat menghampiri meja itu dengan senyum paling manis yang ia buat. "Permisi, Tuan. Selamat siang. Mau pesan apa?" tanya Olive dengan nada suara yang dilembutkan. Mahardika melirik sekilas daftar menu di meja, lalu menjawab dengan nada datar dan dinginnya yang khas, tanpa banyak menatap Olive. "Sushi dan jus jeruk. Dua porsi," ucapnya singkat. Olive mengangguk, mencatat pesanan itu dengan semangat, lalu bergegas ke dapur. Tak lama kemudian, Senja berjalan membawa nampan besar berisi piring-piring makanan dan dua gelas minuman yang penuh. Ia berjalan perlahan menyelinap di antara meja-meja pelanggan untuk mengantar pesanan ke meja pojok itu. Sejak pagi tadi, Senja sama sekali belum sempat mengisi perutnya. Tenaganya habis terkuras saat membantu ibu tirinya di rumah, berlari mengejar waktu, dan bekerja sekeras tenaga di toko itu. Kepalanya mulai terasa berdenyut hebat, pandangannya sedikit kabur, dan kakinya terasa sangat lemas seolah tak bertulang. Rasa lapar yang tertahan sedari pagi kini meledak menjadi rasa pusing yang menyiksa. Langkah kakinya semakin gontai. Di tengah jalan, keseimbangannya perlahan hilang. Tangan kecilnya yang gemetar tak sanggup lagi menahan beban nampan itu. "Ah..." teriaknya pelan. Bersamaan dengan itu, tubuh kurus Senja terhuyung ke samping, dan seketika jatuh terjerembap ke lantai. Piring-piring makanan dan gelas-gelas minuman itu terlempar bersamaan, berjatuhan hingga pecah dan tumpah membasahi lantai, tepat di dekat kaki meja tempat Mahardika duduk. Senja tergeletak di antara pecahan piring dan tumpahan makanan, kepalanya berputar hebat, matanya perlahan mulai tertutup karena kehilangan kesadaran. Di tengah samar-samar pandangannya, ia melihat sepasang sepatu kulit mahal tepat di hadapannya, dan sepasang mata tajam yang kini menatapnya lekat-lekat—mata yang sama sekali tidak ia kenal, namun entah mengapa membuat jantungnya berdebar kencang dengan cara yang aneh. BBRRUUAAAAKKK...!!! Suara benturan keras terdengar nyaring memecah keheningan, diikuti dentingan pecahan piring dan tumpahan makanan yang berceceran di lantai. Seketika seluruh suasana toko makanan itu menjadi hening total. Semua mata tertuju pada sosok gadis kecil yang tergeletak lemas di antara sampah makanan itu. Tidak ada satu pun orang yang berani bergerak atau beranjak dari tempat duduknya, apalagi berniat untuk membantu Senja berdiri. Mereka semua tahu betul siapa sosok yang duduk tepat di hadapan Senja yang sedang terguncang ketakutan itu. Pria berwajah dingin, berpenampilan rapi, dan memancarkan aura kekuasaan yang mencekam itu adalah Mahardika Angkasa, atau yang lebih dikenal sebagai Mahardika. Di balik kemewahan dan jabatan tingginya sebagai CEO perusahaan raksasa, nama Mahardika sangat ditakuti di seluruh penjuru kota. Ia adalah pemimpin organisasi bayangan, seorang Mafia kejam yang tak segan menghabisi nyawa siapa saja yang berani membuat kesalahan atau menentang kehendaknya. Di sampingnya berdiri setia asisten pribadi sekaligus tangan kanannya yang tegas dan berwibawa, Satria Cakra Buana. Satria segera bergerak. Tanpa ekspresi berlebih, ia maju selangkah dan dengan sigap membantu Senja bangkit berdiri. Tatapan mata Satria yang tajam dan menyelidik membuat lutut Senja semakin lemas, rasa takutnya menjalar ke seluruh tubuh. Sementara itu, Mahardika sendiri hanya diam duduk di kursinya yang empuk. Ia sama sekali tidak bergerak sedikit pun. Matanya yang hitam pekat menatap tajam ke arah Senja, seolah sedang menilai sebuah benda remeh yang baru saja mengotori kakinya. Tatapan itu dingin, kosong, dan mengintimidasi. "Apakah kau baik-baik saja?" tanya Satria dengan suara datar, namun cukup terdengar oleh Senja. Senja mengangguk cepat, tangannya gemetar membersihkan sisa makanan di bajunya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap berdiri tegak dan menjaga ketenangannya meski hatinya sedang berteriak ketakutan. "A... Aku baik-baik saja, terima kasih, Tuan," jawab Senja terbata-bata, suaranya nyaris tak terdengar. Tanpa basa-basi lagi, Mahardika berdiri. Ia melewati Senja begitu saja seolah gadis itu sama sekali tidak ada, diikuti oleh Satria yang berjalan di belakangnya. Keduanya meninggalkan tempat itu dengan langkah tegap dan tatapan dingin yang menusuk, membuat siapa saja yang melihatnya kembali menahan napas hingga sosok mereka hilang di balik pintu keluar. Begitu kepergian mereka, suasana toko kembali riuh, namun belum sempat Senja bernapas lega, pemilik toko sudah bergegas menghampirinya dengan wajah merah padam menahan amarah. "Kau ini bagaimana sih?! Kerja saja tidak becus!" bentak pemilik toko dengan suara melengking. "Kau tidak tahu siapa yang baru saja ada di sini hah?! Itu Mahardika Angkasa! CEO paling terkenal, berkuasa, dan ditakuti se-kota ini! Kau mau mempermalukan toko saya di depan orang sebesar dia?!" "Maa... Maafkan saya, Pak... Saya tidak sengaja... Saya benar-benar tidak bermaksud," ucap Senja sambil menunduk dalam, air matanya mulai menetes membasahi pipi pucatnya. Ia menangis sambil terus menyesali kelalaiannya itu. "Maaf katamu?! Kau ingin membuatku bangkrut hah?!" hardik pria itu lagi, tidak mau mendengar alasan apa pun. "Kalau tiba-tiba toko ini ditutup atau dicap buruk gara-gara kejadian ini, bagaimana?! Kau mau tanggung jawab? Kau sanggup mengganti kerugianku?!" Senja hanya bisa menangis tersedu-sedu. Ia sadar, ini memang kesalahannya. Tubuhnya yang lemas karena lapar dan kelelahan telah membawanya pada masalah besar. Dari sudut ruangan, terlihat Olive dan rekan kerja lainnya tersenyum sinis melihat kejadian itu. Sudah lama mereka tidak suka melihat Senja yang selalu dipercaya dan mendapatkan perhatian lebih dari pemilik toko karena ketekunannya, dan kini saat yang mereka tunggu-tunggu akhirnya tiba. "Sudah cukup! Jangan banyak alasan!" bentak pemilik toko dengan tegas. "Senja, mulai besok kau tidak perlu datang ke sini lagi! Kau dipecat!" Hati Senja seakan remuk seketika. Pekerjaan ini adalah satu-satunya sandaran hidupnya, satu-satunya jalan agar ia bisa bertahan di tengah perlakuan ibu tirinya. Ia segera menjatuhkan diri berlutut di lantai, memegang ujung baju pemilik toko dengan tangisan yang semakin menjadi. "Maafkan saya, Pak! Tolong jangan pecat saya! Saya mohon... Saya janji akan bekerja lebih keras lagi, tolong beri saya kesempatan sekali lagi..." pintanya di sela isak tangisnya. Namun, hati pemilik toko sudah tertutup. Ia menarik ujung bajunya dari genggaman Senja, lalu memanggil karyawan lain untuk mengusir gadis itu keluar. Ia sama sekali tidak peduli dengan tangisan atau permohonan Senja. Senja didorong keluar dari toko dan pintu ditutup rapat di hadapannya. Dengan langkah gontai dan hati yang hancur, Senja berjalan pulang menuju rumah kecilnya. Pikirannya kacau balau, bingung bagaimana cara memberitahu ayah dan ibu tirinya mengenai apa yang baru saja terjadi. Sesampainya di depan rumah, ayahnya, Wira, sedang duduk santai di beranda. Pria itu tersenyum lembut saat melihat putri tunggalnya pulang lebih awal dari biasanya. "Jam segini kau sudah pulang, Sayang? Ada apa? Toko sepi hari ini?" tanya Wira ramah. Senja menunduk dalam, tangannya meremas ujung bajunya. Air matanya kembali menggenang. "A... Aku... Ayah... Aku dipecat..." jawab Senja terbata-bata, suaranya parau tertahan di tenggorokan. Dari kejauhan, di balik jendela ruang tengah, sepasang mata menatap sinis ke arah ayah dan anak itu. Erine, ibu tirinya, mendengar setiap kata yang terucap. Di dalam hati kecilnya, wanita itu sama sekali tidak menyukai kehadiran Senja. Baginya, Senja hanyalah beban dan penghalang, namun selama ini ia selalu pandai berpura-pura menjadi ibu yang baik dan penyayang di depan suaminya. Tak lama kemudian, Erine keluar menghampiri dengan senyum palsu yang manis terukir di bibirnya. "Ehh, Sayang? Kok sudah pulang jam segini?" tanyanya pura-pura tidak tahu, sambil mengelus bahu Senja seolah penuh kasih sayang. "Eee... Iya, Ma..." jawab Senja sambil memaksakan senyum pahit, takut jika ibu tirinya sampai marah atau kecewa. * * Keesokan harinya, setelah Wira berangkat bekerja dan meninggalkan rumah, topeng kebaikan Erine pun langsung runtuh. Begitu suara motor suaminya tak terdengar lagi, Erine langsung berubah menjadi sosok yang mengerikan. Ia berjalan cepat menghampiri Senja yang sedang sibuk membersihkan lantai rumah. "Heh! Anak sialan!!!" bentak Erine tiba-tiba, membuat Senja tersentak kaget hingga sapu di tangannya terjatuh. "I... Iya, Ma... Ada apa?" jawab Senja sambil menunduk gemetar, sudah siap menerima makian apa pun. "Kenapa kau masih diam saja di sini?! Berangkat kerja sana! Jangan cuma bisa makan dan tidur di rumah orang!" hardik Erine dengan mata melotot. Senja menggeleng pelan, air matanya mulai menetes kembali. "Maaf, Ma... Aku... Aku sudah dipecat kemarin..." jawabnya lirih, ketakutan setengah mati. "Apaaa?! Dipecat?!" teriak Erine kencang, seolah mendengar hal paling menjijikkan di dunia. Ia mencengkeram bahu Senja dengan kasar. "Dasar anak tidak berguna! Tidak becus apa-apa! Sudah menyusahkan hidup ayahmu, sekarang malah jadi beban bagiku juga!" "Maaf, Ma... Ampun, Ma..." isak Senja. "Oke, kalau begitu berarti kau tidak ada gunanya lagi tinggal di rumah ini!" seru Erine tegas dan kejam. Ia melepaskan cengkeramannya dan berjalan cepat masuk ke kamar Senja, mengacak-acak isi lemari dan membuang semua pakaian gadis itu ke dalam sebuah koper tua. "Ma... Jangan, Ma... Aku mohon... Aku akan mencari pekerjaan lain, Ma... Jangan usir aku..." teriak Senja sambil menangis histeris, berusaha mencegah langkah ibu tirinya. Namun, Erine sama sekali tidak peduli. Dengan kasar ia menyeret Senja beserta kopernya keluar dari rumah sederhana itu, lalu menutup dan mengunci pintu pagar dengan keras tepat di hadapan gadis itu. Senja berjalan keluar dari gang kecil itu sendirian, meneteskan air mata yang tak kunjung berhenti. Ia menarik koper tuanya yang berat, tak tahu lagi harus pergi ke mana atau berlindung pada siapa. "Aku harus ke mana...?" gumamnya lirih di tengah isak tangis yang pilu. Belum sempat ia menenangkan dirinya, tiba-tiba seseorang berlari cepat dari arah samping dan dengan kasar menyambar tas kecil yang tersampir di bahu Senja. Di dalam tas itu tersimpan dompet dan sisa uang tabungan yang ia miliki, hasil kerja kerasnya selama berbulan-bulan. Bbbrruuubbbbbkkk...!!! "Tolong! Copet... Copettt!!!" teriak Senja sekuat tenaga, berlari mencoba mengejar, namun pencuri itu sudah hilang di balik keramaian jalan raya. Di sekitar gang yang ia lewati itu, suasana lumayan sepi, sehingga teriakannya tak terdengar atau dihiraukan siapa pun. Senja kembali terduduk lemas di pinggir jalan, menangis sejadi-jadinya. Segala harapan dan sisa hidupnya seakan direnggut paksa. "Hiikkhh... Hiikhh... Ya Tuhan... Bagaimana ini... Apa lagi yang harus aku hadapi..." rintihnya memelas. Waktu berlalu dengan sangat cepat. Matahari mulai tenggelam dan berganti dengan gelapnya malam yang dingin. Senja masih terus berjalan tanpa tujuan, kakinya sudah terasa nyeri dan lelah luar biasa. Di jalanan yang semakin sepi, gelap, dan sunyi itu, tiba-tiba... DORRR!!!... DORRR!!!... Suara letusan senjata api terdengar keras memecah keheningan malam, disusul suara teriakan dan langkah kaki orang-orang yang berlarian. Senja tersentak kaget, tubuhnya membeku di tempat. Jantungnya berdegup kencang, rasa takut yang lebih besar dari sebelumnya kembali menyergapnya di tengah kegelapan yang asing itu. DORRR..!! DORRR..!! SSRRRRTTTTTTT..!! BBRRRUUUAAAKKKK..!! Dua butir peluru melesat tepat mengenai ban belakang mobil mewah yang sedang melaju kencang di jalanan sepi itu. Mobil itu langsung kehilangan kendali, terhuyung ke kiri dan kanan sebelum akhirnya menghantam pembatas jalan dengan benturan yang sangat keras. Suara tabrakan itu menggema memecah keheningan malam. Body depan dan samping mobil itu hancur penyok tak berbentuk, kaca-kacanya pecah berhamburan ke aspal. Di balik kemudi, terlihat pengendaranya sudah terkulai lemas tak sadarkan diri, masih terikat sabuk pengaman di kursinya yang kini sudah berantakan. Senja yang kebetulan berada tidak jauh dari lokasi kejadian seketika diliputi rasa panik yang luar biasa. Tubuhnya menegang, jantungnya berdegup kencang. Tanpa berpikir panjang, ia bergegas berlari kecil dan bersembunyi di balik semak-semak lebat di pinggir jalan, menahan napasnya, berharap dirinya tidak terlihat oleh siapa pun. Ia diam cukup lama di sana, mendengarkan dengan saksama keadaan sekitar hingga suasana kembali hening dan aman. Setelah dirasa keadaan sekitar sudah cukup aman dan tidak ada lagi tanda-tanda bahaya, Senja pun memberanikan diri keluar dari persembunyiannya. Langkah kakinya masih gemetar, namun rasa penasaran dan rasa kemanusiaannya mendorongnya untuk mendekat. Ia kaget bukan main kala melihat mobil mewah yang menabrak pembatas jalan tadi. Senja tahu persis bahwa pengendara mobil tersebut masih ada di dalam dan dalam keadaan kritis, ia pun menjadi sangat bingung. "Apa yang harus kulakukan? Bagaimana ini? Apa aku tolong saja orang itu?" gumam Senja sambil berpikir keras dan mondar-mandir di pinggir jalan, hati kecilnya bergolak antara rasa takut dan rasa iba. Akhirnya, niat baiknya menang. Ia memutuskan untuk menolong pemuda itu. Senja pun bergegas mendekati mobil yang penyok itu, berusaha sekuat tenaga membuka pintu yang terjepit keras. Dengan susah payah ia berhasil mengeluarkan tubuh pemuda itu dari dalam mobil. Tanpa ia sadari, sebuah ponsel kecil terjatuh dari saku celananya dan tergeletak begitu saja di jalanan. Senja terus berjuang menyeret tubuh pemuda itu menjauh beberapa meter dari mobil itu, teringat pelajaran yang sering ia dengar bahwa mobil bekas tabrakan bisa meledak kapan saja. "Astaga... Dia berat sekali, persis seperti batu besar!" ketus Senja pelan sambil menekan suaranya, mengerahkan seluruh tenaga kecilnya. Saat ia berniat menghubungi ambulans, ia merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, namun tangannya hanya menyentuh ruang kosong. "Dimana ponselku??!!" ucap Senja dengan nada panik yang mulai melanda. * * Di rumah kecil tempat Senja tinggal, suasana terlihat tenang namun ada yang mengganjal di hati Wira. Ayah Senja itu duduk santai di ruang tamu sambil melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. "Mah... Dimana Senja? Belum terlihat pulang dari tadi sore," tanya Wira kepada Erine, ibu tirinya Senja. DEGGG...!! Jantung Erine seketika berpacu cepat secara refleks. Wanita itu menahan rasa gugupnya, lalu dengan cepat menyusun senyum kosong di bibirnya. "Eehh... Senja bilang padaku kalau dia ingin mencari kerjaan baru, Pa. Katanya di luar kota," jawab Erine dengan nada biasa saja, berusaha meyakinkan suaminya. "Kenapa tidak bilang langsung sama Papa? Tidak pamit juga?" tanya Wira yang terlihat sangat kebingungan. "Mungkin dia lupa, Pa... Tadi sudah Mama suruh dia buat ngabarin Papa sebelum berangkat. Kirain Papa sudah tahu makanya Mama nggak mengulang ngasih tahu Papa lagi," jawab Erine dengan alasan yang terasa masuk akal. Wira mengerutkan kening, masih merasa ada yang kurang pas. "Ya sudah, coba Papa telpon saja deh biar tahu dia ada di mana," ucap Wira sambil meraih ponselnya di meja. Erine yang melihat itu hampir saja kehilangan kendali, ia hanya bisa diam sambil tersenyum kaku, berharap rencananya berjalan mulus. "TTUUTTT... TTUUTTT... TTUUTTT... Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi..." "Hmm... Mungkin habis baterai HP-nya, Pa. Kan anak muda zaman gitu, lupa ngecas kalau lagi asyik jalan-jalan," kata Erine, napasnya perlahan kembali teratur karena merasa lega luar biasa. "Hmm... Ya sudah. Ini sudah larut malam, mungkin dia sudah sampai dan sedang tidur di tempat barunya," ucap Wira akhirnya, mencoba menenangkan dirinya sendiri. * * Sementara itu, di lokasi kecelakaan, Senja mendengar suara dering ponsel yang sangat ia kenali bergetar tidak jauh dari tempatnya berdiri. "Itu pasti Ayah yang nelpon..." batin Senja, hatinya sedikit berdebar. Kemudian ia mencari-cari sumber suara itu dan menemukan ponselnya yang ternyata tergeletak di dekat puing-puing mobil itu. Saat ia ingin melangkah mendekati ponselnya untuk mengangkat telepon ayahnya, tiba-tiba... DDDUUUAAARRRRR....!!!! Sebuah ledakan dahsyat menggema hebat, menyala terang menerangi gelapnya malam. Tangki bahan bakar mobil itu akhirnya meledak. Senja terlempar sedikit ke belakang akibat hembusan anginnya. Ponsel miliknya hancur lebur dan rusak parah akibat terkena ledakan serta kobaran api itu. Senja terdiam terpaku, panik dan kebingungan melanda dirinya sepenuhnya. Namun, ia kembali teringat pada pemuda yang masih terbaring diam tak sadarkan diri di pinggir jalan. Dengan ragu, tangan kecilnya menyelidiki saku jas dan celana pemuda itu. Ia menemukan sebuah ponsel mahal dan dompet kulit tebal milik pemuda itu. Tanpa membuang waktu lagi, ia pun dengan cepat menelpon ke nomor darurat, menjelaskan lokasi kejadian dan meminta agar segera membawa pemuda itu ke rumah sakit terdekat. Tak lama kemudian, mobil ambulans datang dan membawa mereka berdua. Sesampainya di rumah sakit, pemuda itu langsung dibawa masuk ke ruang perawatan khusus, sedangkan Senja dimintai keterangan untuk mengisi biodata pasien di meja pendaftaran. "Aduh bagaimana ya, Sus... Sebenarnya dia adalah korban kecelakaan yang saya temukan di jalan. Saya nggak kenal sama dia, kami tidak ada hubungan apa-apa," ucap Senja jujur sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi tenang saja Sus, ini ada kartu namanya, saya temukan di dalam dompetnya." Sang suster menerima kartu nama berwarna hitam bertuliskan huruf emas itu dan membacanya perlahan. Namun, sesaat kemudian, suster itu pun terdiam kaku sejenak. Wajahnya berubah pucat, tangannya sedikit gemetar memegang kartu nama itu. Ia baru saja mengetahui bahwa pemuda yang baru saja dibawa ke ruang ICU itu adalah sosok paling berkuasa dan ditakuti, Pemimpin Organisasi Nostro Tenkū yang bernama Mahardika Angkasa.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
706.1K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.5M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
945.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
339.5K
bc

Not just, the Beta

read
338.0K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook