Aji vs Birowo pendekar mayat hidup

738 Kata
Selepas kepergian Aji, Ratih menghela napas panjang sebelum meloloskan semua kain yang melekat di tubuhnya, dan memakai pakaian lainnya. Entah kenapa, sejak Aji menggandeng tangannya, pikiran Ratih tak bisa lepas dari wajah tampan yang selalu bersliweran di otaknya. Bahkan ketika dia sudah merebahkan tubuhnya untuk beristirahat, bayangan wajah tampan Aji sampai masuk ke dalam alam mimpinya. Keesokan paginya, suasana di sekitar panggung sudah dijubeli oleh para penonton dan peserta yang masih bertahan masuk ke babak kedua. Aji dan Ratih juga tampak berdiri berdampingan di antara ratusan orang di sekitarnya. Wajah rupawan yang mereka berdua miliki, menjadi pusat perhatian puluhan pasang mata yang berada di tempat itu. Mereka menilai jika Aji dan Ratih adalah pasangan pendekar yang sangat serasi, baik dari segi wajah maupun penampilan. Tak berapa lama, pembawa acara menaiki panggung. Suaranya sangat lantang membacakan para peserta yang berhasil lolos ke babak kedua. Tidak lupa juga lelaki itu membacakan jadwal pertandingan yang akan dilangsungkan pada hari itu. Aji mendapatkan kesempatan pertama bertanding untuk membuka turnamen di babak kedua tersebut. Lawannya adalah seorang lelaki setengah baya berwajah pucat dengan pedang yang tergantung di pundaknya. "Sebagai partai pembuka, mari kita saksikan pertandingan pertama yang sekaligus juga sebagai pertandingan pembuka di babak kedua, Aji melawan Birowo yang berjuluk Pendekar Mayat Hidup!" teriak lelaki pembawa acara yang tampak begitu bersemangat di pagi itu. Aji mengernyitkan dahinya begitu mendengar julukan yang dipakai lelaki yang akan menjadi lawannya di babak kedua. Pandangannya tertuju kepada wajah Birowo yang begitu pucat selayaknya mayat. Suara teriakan dan juga siulan yang keluar dari para penonton, membuat suasana di pagi itu begitu meriah. Dua orang bandar judi pun tidak malu-malu berteriak menawarkan perbandingan untuk kedua pendekar yang akan bertarung di atas panggung. Tujuannya jelas, agar ada yang bertaruh memilih salah satu di antara dua pendekar itu. "Tenang saja... Aku tidak akan melukaimu dengan parah. Paling hanya patah tulang saja!" kata Birowo datar. Tidak terlihat sedikitpun perubahan ekspresi di wajahnya ketika berbicara. Tetap dingin seperti mayat hidup. Aji tersenyum tipis mendengar ancaman yang dilontarkan Birowo kepadanya. Dengan tangan kanannya, dia memberi kode kepada lawannya itu untuk menyerangnya terlebih dahulu. Birowo mendengus pelan, meski ekspresi di wajahnya tetap sama dan tidak berubah. Setelah memasang kuda-kudanya dengan kokoh, lelaki berwajah pucat itu menyerang Aji dengan kecepatannya. Pukulan dan tendangan diarahkannya bertubi-tubi mengarah pada setiap titik vital lawannya. Berbeda dengan pertandingan pertamanya kemarin, kali ini Aji bisa merasakan perbedaan yang signifikan. Dia menilai lawannya kali ini benar-benar seorang pendekar yang mempunyai kemampuan lumayan. Itu dibuktikan dengan serangan lelaki berwajah pucat tersebut yang begitu. cepat, dan dengan kombinasi gerakan tangan serta kaki yang begitu liar namun saling menutupi. Untuk beberapa saat, Aji dibuat kerepotan dengan serangan yang dilakukan Birowo. Namun secara perlahan dia bisa mengimbangi serangan yang dilancarkan lawannya. Pertarungan tangan kosong dan dalam jarak dekat itu begitu sengit. Para penonton bertepuk tangan penuh semangat karena disuguhi pertunjukkan yang begitu seru dan menegangkan. Mereka bisa menilai jika pertarungan kali ini lebih berbobot dari pada pertarungan-pertarungan yang diadakan di babak pertama. Aji berkelit menghindari tendangan yang dilepaskan Birowo. Dia menarik tubuhnya ke samping satu langkah, lalu melepaskan pukulan yang mengincar leher lawannya. Namun serangan balik cepat yang dilancarkan Aji bisa ditepis dengan mudah oleh lelaki berjuluk Pendekar Mayat Hidup tersebut. Dengan tangan kirinya, dia menangkis pukulan yang dilepaskan Aji. Bahkan dalam satu gerakan bersamaan, tendangan kaki kanannya menghujam dengan keras ke arah perut lelaki tampan itu. Beruntung Aji bisa menahan tendangan yang dilambari tenaga dalam tersebut dengan tangan kirinya. Dampaknya, Aji terdorong mundur hingga ke bibir panggung. Mendapatkan momentum bagus, Birowo melanjutkan serangannya dan kembali melepaskan pukulannya bertubi-tubi tanpa henti. Lelaki berwajah dingin itu bahkan tidak memberi kesempatan kepada Aji untuk keluar dari tekanannya. Setiap kali Aji berusaha berpindah tempat dari bibir panggung, Birowo selalu menghadang gerak langkahnya. Ratih merasa was-was dengan posisi Aji yang terdesak dan sudah di bibir panggung. Dia berteriak keras, bahkan sampai berlari ke bibir panggung untuk menyemangati lelaki tampan yang sudah membuat membuat pikirannya kacau. Suara Ratih yang melengking, membuat Birowo merasa risih. Sambil terus menyerang Aji, dia berseru kepada gadis cantik itu, Tenang, Gadis cantik... nanti akan tiba giliranmu untuk melawanku. Aku jamin tanganku ini akan menjamah tubuh indahmu itu!" Aji mendengus mendengar ucapan Birowo. Dia mencari kesempatan untuk memberikan serangan balik sekaligus membalikkan posisinya yang sejauh ini masih terdesak. "Jaga ucapanmu itu!" teriak Aji tepat di muka Birowo. Dengan reflek cepat, lelaki tampan itu berhasil memegang kaki Setiono yang melesat ke tubuhnya, dan langsung menariknya untuk membalikkan posisi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN