Kelemahan Ratih

701 Kata
Lelaki tersebut terpancing emosinya mendengar ejekan yang dilontarkan Ratih. Dia berdiri hendak melompat ke atas panggung, tapi temennya langsung memegang lengannya sembari menggelengkan kepalanya. "Jangan mencari masalah sekarang!" Ucap lelaki lainnya sambil melirik ke arah Aji yang sedang melihat mereka. Lelaki tersebut menoleh sebentar ke arah Aji, lalu kembali memegang tangan Si Bogang dan membantunya berdiri. Kedua lelaki itu menyibak puluhan penonton dan memapah tubuh Si Bogang yang sudah tidak berdaya menjauhi panggung. Ratih dengan ringan melompat dari atas panggung. Setelah itu dia berjalan mendekati lelaki tampan yang sedikit telah melihat kemampuannya tadi. "Untuk tadi lawanmu tidak melihat kelemahanmu," bisik Aji di telinga Ratih. Gadis cantik itu mengernyitkan dahinya, "kalau boleh tahu, di mana letak kelemahanku?" "Nanti di penginapan saja kutunjukkan celah pertahananmu yang terbuka," balas Aji. Lalu dia berjalan mendekati pembawa acara yang belum naik ke atas panggung untuk melanjutkan tugasnya. "Kisanak, apakah hari ini ada lagi jadwal untukku naik ke atas panggung?" Lelaki pembawa acara itu membuka gulungan kulit kering yang dipegangnya. Sesaat kemudian dia menggelengkan kepalanya, "besok jadwalmu untuk bertanding, kisanak. Hari ini masih ada beberapa pertandingan lain sebelum memasuki babak kedua." "Baiklah kalau begitu, terima kasih untuk informasinya, Kisanak." Aji tersenyum tipis sebelum meninggalkan pembawa acara tersebut. Beberapa penonton wanita yang melihat Aji melintas di depan mereka, seketika berteriak histeris. Mereka tidak peduli kemampuan Aji seperti apa, yang membuat mereka klepek-klepek adalah ketampanan yang dimiliki duda keren tersebut. "Jadwalku bertanding masih besok. Sekarang kita ke penginapan dulu. Aku akan menunjukan kelemahan gerakanmu yang harus kau benahi sebelum bertanding di babak kedua," ajak Aji. Setelah berada di dekat Ratih. "Ayo..." Balas Ratih cepat. Kedua pendekar itupun pergi meninggalkan kerumunan penonton dan peserta yang berada di sekitar panggung. Mereka berjalan beriringan menuju penginapan yang tidak jauh dari panggung. "Benar-benar pasangan pendekar yang serasi, tampan dan juga cantik," bisik seorang penonton kepada temannya. Sesampainya di dalam penginapan, Ratih mengajak Aji masuk ke dalam kamarnya, "sekarang kau boleh menunjukan di mana letak kelemahanku," ucap gadis cantik tersebut. Senyum cantik di bibir membuat wajah cantiknya semakin terlihat jelas. "Baiklah... Kau boleh menyerangku dengan jurus yang tadi kau gunakan di pertandingan," balas Aji. Ratih mengangguk dan memasang kuda-kudanya, dengan satu tarikan nafas, gadis itu menyerang Aji dengan cepat. Namun Aji bisa melihat jika Ratih menyerangnya dengan setengah-setengah. "Jangan ragu-ragu! Serang aku dengan kemampuan terbaikmu!" Seru Aji. Ratih mempercepat gerakannya setelah Aji berseru kepadanya. Serangan gadis cantik itu semakin cepat untuk membuka pertahanan Aji yang begitu rapat. "Di sini!" Seru aji tiba-tiba, setelah mendapatan celah pertahanan Ratih di saat menyerang. Lelaki tampan itu memberi tepukan pelan kebagian rusuk kiri Ratih yang terbuka lebar. Uji tanding itu tidak berhenti sampai disitu, Aji menyuruh Ratih untuk terus menyerangnya di dalam kamar yang tidak terlalu luas. Setelah dirasa cukup, Aji menghentikan uji tanding yang mereka lakukan. Lelaku tampan itu kemudian menjelaskan beberapa kelemahan gerakan yang dilakukan Ratih dengan teliti. "Sekarang coba kau praktekan sendiri dengan gerakan sedikit lambat!" Ratih mengangguk pelan. Setelah memasang kuda-kudanya, dia menunjukan gerakannya kepada Aji. Lelaki tampan berumur 25 tahun itu tidak sungkan untuk memegang bagian tubuh gadis cantik tersebut jika dirasanya gerakannya salah. Namun sebelumnya, dia sudah meminta ijin terlebih dahulu, agar Ratih tidak salah paham dan mengiranya memanfaatkan kesempatan untuk memegang tubuhnya. "Apa kau sudah paham dimana titik kelemahan gerakanmu?" "Kau benar, Aji untung saja kau mengetahuinya dan mengajariku cara menutup celah pertahananku," sahut Ratih. "Coba kau praktekan lagi. Kali ini tambah kecepatanmu!" Ratih yang sudah paham dengan apa yang diajarkan Aji. Langsung bergerak menunjukan kemampuannya, dia bisa dengan jelas merasakan perbedaan gerakan awalnya dan setelah dibenahi Aji. Gadis cantik itu tersenyum puas setelah menyelesaikan pelatihannya. Peluh yang keluar dari pori-porinya, membuat bentuk tubuhnya tercetak dengan jelas di pakaiannya yang basah. Aji memalingkan pandangannya untuk menghindari nafsu muncul di pikirannya. Bagaimana pun juga, dia adalah lelaki normal yang pernah menikah juga punya anak. Jika dia terus-terusan memandang bodi sintal gadis tersebut, bisa jadi dia tak akan mampu menahan nafsunya. "Aku balik dulu ke kamarku, nanti kita bicara lagi sambil mencari makan di tempat tadi." Aji melangkah meninggalkan Ratih yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Dia baru sadar ketika lelaki tampan itu menutup pintunya. "Apa dia tidak menyukaiku?" Sebuah pertanyaan terlintas cepat di pikirannya, namun tiba-tiba dia tersadar dari lamunan yang menyesatkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN