Pertarungan Ratih

789 Kata
"Itu hanya kebetulan saja," jawab Aji. Bibirnya tersungging tipis menimbulkan misteri bagi Ratih yang melihatnya. "Tidak mungkin," gumam Ratih dalam hati. Dia sangat yakin jika Aji tidak asal menebak saja. Dan menurutnya, jika Aji bisa membaca pergerakan mereka yang sedang bertarung dan juga menebak siapa yang kalah dan siapa yang menang, pastinya Aji bukanlah pendekar biasa. Beberapa orang yang mendengar tebakan Aji, merangsek mendekati lelaki tampan tersebut. Mereka berharap Aji akan menebak lagi pertarungan berikutnya yang akan segera digelar. Dengan begitu mereka akan mendapatkan keuntungan besar saat bertaruh. Sayangnya mereka dibuat kecewa, Aji berjalan menjauh secara tiba-tiba sambil menggandeng tangan Ratih. Gadis cantik berlesung pipi itupun dibuat kaget setelah Aji menggandeng tangannya dengan erat. Seumur hidupnya, hanya ayahnya, lelaki satu-satunya yang pernah bersentuhan kulit dengannya. Itupun sebatas dia sungkem kepada ayahnya. Raut muka Ratih merona merah karena malu. Namun dia tidak berusaha menepis gandengan tangan lelaki tampan yang tanpa sadar menggandeng tangannya. Ada sensasi dan getaran yang berbeda dirasakannya kini. Aji sendiri baru sadar bahwa tangannya sedang memegang tangan Ratih. Dia segera melepaskan tangan yang jari-jarinya lentik itu setelah sampai disebuah tempat makan yang tidak jauh dari panggung. "Ma-maaf, Ratih. Aku tidak sengaja menggandeng tanganmu." Aji menundukkan kepalanya. Dia merasa bersalah karena tanpa ijin sudah menyentuh tubuh Ratih. Ratih tersenyum untuk menyembunyikan perasaan aneh yang dirasakannya, "tidak apa-apa, Aji. Aku tahu kalau kau ingin menghindari orang-orang itu, bukan?" Aji mengangguk. Dia kemudian mengajak Ratih berjalan mendekati seorang pelayan yang sedang membersihkan sebuah meja. Setelah memesan makanan, keduanya menempati sebuah meja yang berada di dekat jendela. Mereka butuh untuk melihat ke arah panggung, sehingga memutuskan untuk memilih meja tersebut. Selang beberapa saat, seorang pelayan mendatangi mereka berdua dengan membawa makanan di tangannya. Dengan senyum hangat, pelayan tersebut meletakan makanan di atas meja, "silahkan dinikmati selagi hangat, kisanak, nyisanak," ucap pelayan tersebut ramah. Aji dan Ratih keduanya membalas senyuman pelayan tersebut dengan senyuman pula. Setelahnya mereka dengan lahap menyantap makanan yang sudah tersaji di atas meja. Cukup lama mereka berdua berada di tempat makan itu, sampai seorang lelaki masuk dan menghampiri mereka berdua. "Apakah nyisanak yang bernama Ratih?" Tanya lelaki tersebut dengan sopan. Benar, kisanak. Ada apa?" Tanya Ratih. Gadis cantik itu mengernyitkan dahinya karena merasa tidak mengenal lelaki itu. "Tidak apa-apa nyisanak, cuma sekarang sudah waktunya nyisanak untuk tampil," jawab lelaki itu sambil menunjuk panggung. "Maaf, kisanak. Kami berdua terlalu asik menikmati makanan. Sehingga tidak tahu jika sudah waktunya bagiku untuk tampil di atas panggung," sahut Ratih. Dia menoleh ke arah Aji yang masih asik menikmati makanannya. "Aji, aku ke panggung dulu. Nanti kau susul aku ke sana, ya!" Ucapnya penuh harap. Aji mengangkat wajahnya, mulutnya masih penuh dengan makanan membuat Ratih tertawa pelan. "Baiklah. Setelah selesai makan, nanti aku akan menyusulmu." "Doakan aku bisa menang," bisik Ratih pelan di telinga Aji. Hembusan napas Ratih membuat bulu halus di sekitar telinga Aji berdiri. Lelaki tampan itu menatap wajah cantik Ratih lalu mengalihkannya lagi. Setelah menegak minuman yang ada di dalam gelas bambu, Ratih berdiri dan berjalan mengikuti ayunan langkah lelaki yang menjemputnya tersebut. Di atas panggung, pembawa acara sedang berdiri dengan seorang lelaki bertubuh tinggi, sedikit kurus dan berambut ikal. "Akhirnya, satu-satunya peserta wanita di turnamen kali muncul juga. Mari kita sambut kedatangan Ratih!" Teriakan menggema pembawa acara begitu terasa berbeda jika dibandingkan dengan sebelumnya, semangatnya menjadi berlipat-lipat karena tahu kalau satu-satunya peserta wanita dalam turnamen kali ini adalah seorang gadis yang cantik. Siulan dari para penonton dan juga para peserta turnamen, terdengar bersahutan tanpa henti. Kebanyakan dari mereka ngiler melihat kecantikan gadis tersebut. Jakun mereka naik turun membayangkan tubuh sintal gadis cantik tersebut yang terbalut pakaian sedikit ketat. Setelah Rati berada di atas panggung, pembawa acara kembali berseru dengan penuh semangat, "mari kita saksikan, Si Bogang. Melawan Ratih!" Riuh suara ratusan penonton kembali terdengar menggema. Tepuk tangan penyemangat pun tak berhenti terdengar, mayoritas dari mereka mendukung Ratih untuk memenangkan pertarungan. Lelaki yang menjadi lawan Ratih menyeringai menunjukan gigi-giginya yang tinggal beberapa biji saja. Mungkin itu alasannya sehingga dia memakai nama Si Bogang dalam turnamen kali ini. "Tenang, gadis cantik. Aku tidak akan memukulmu dengan keras, tapi dengan penuh kelembutan, "ucap, Si Bogang. Lidahnya menjilat bibirnya penuh nafsu melihat kesintalan tubuh Ratih. Begitu pula dengan kecantikan gadis itu, membuatnya semakin bersemangat untuk bisa menyentuh tubuhnya. "Bagaimana kalau kau menjadi istri mudaku saja? Aku jamin akan ku istimewakan dirimu," sambung Si Bogang, lalu tertawa lepas. Ratih dibuat jijik dengan air liur yang menetes di bibir lelaki tersebut, "sebaiknya kau berkaca dulu sebelum banyak bicara!" Cibirnya. Si Bogang tersulut emosinya mendengar ejekan Ratih. Dengan cepat, lelaki berambut ikal itu memberi serangan tanpa jeda menyasar setiap bagian tubuh gadis cantik tersebut. Namun Ratih dengan sigap menghindari setiap serangan yang menyasar tubuhnya, dia tentu tida rela tubuhnya di jamah oleh lelaki berotak kotor itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN