Kemenangan pertama

859 Kata
Hanya dengan anggukan kepala, keduanya menjawab pertanyaan tersebut. Selepas itu, pembawa acara menghela napas lega lalu menuruni panggung Di bawah panggung, seorang lelaki yang merupakan bandar judi, berteriak keras memancing para penonton agar bertaruh dan memilih salah satu petarung yang sudah ada di atas panggung. Berbagai upaya dia lakukan agar partai pembuka dalam turnamen kali ini bisa sarat orang orang yang bertaruh. "Satu banding dua... satu banding dua!" teriaknya mempromosikan. Karena tidak ada yang meresponnya, bandar tersebut menaikkan lagi tawarannya, "Satu banding tiga... satu banding tiga!" Satu persatu penonton mulai tertarik memasang taruhan. Mayoritas dari mereka memilih Sapto sebagai pemenangnya, dan hanya dua orang saja yang memilih Aji. Salah satunya adalah Ratih. yang menggunakan sisa uang dari Aji kemarin sebagai bahannya bertaruh. Gadis cantik itu memiliki keyakinan tinggi jika Aji yang akan memenangkan pertandingan pembuka "Hahaha, aku tidak perlu lama untuk mengalahkanmul" Sapto bergerak menyerang Aji dengan tubuhnya yang besar dan kekar. Meskipun tidak memiliki kecepatan layaknya pendekar, namun kekuatan pukulan Sapto bisa mematahkan rusuk hanya dalam sekali pukulan saja. Melawan musuh yang tidak mempunyai kecepatan, Aji hanya menggeser kakinya selangkah ataupun memiringkan tubuhnya untuk menghindari serangan yang mengarah kepadanya. Dalam waktu singkat, belasan pukulan dan tendangan dilepaskan Sapto mengarah ke tubuh Aji. Namun tidak sekalipun serangannya mampu mengenai tubuh Aji. Sapto semakin murka, dia yang awalnya sangat yakin bisa menang dengan mudah, kini harus berpikir ulang. Tenaganya sudah terkuras karna dia melakukan serangan dengan sekuat tenaga. Aji sendiri belum ada keinginan untuk menyerang sama sekali. Dia hanya memancing Sapto hingga ke bibir panggung. Sesekali senyuman dilayangkannya kepada Sapto untuk memancing emosinya. Sapto yang tidak menyadari jika Aji telah memancingnya masuk ke dalam sebuah jebakan, melakukan tendangan mengarah perut lawannya. Hanya dengan memiringkan tubuhnya, Aji menghindari serangan tersebut sekaligus menarik kaki Sapto dan mendorongnya keluar dari panggung. Lelaki bertubuh kekar dan berkepala gundul itu terjerembah keluar dari panggung dan dinyatakan kalah. "Curang!" Teriak Sapto berapi-api. Dia tidak terima sudah kalah dengan cara yang aneh. Lelaki itu berusaha untuk kembali ke atas panggung. Namun 2 orang yang ditugaskan sebagai pengamanan, menghalanginya dengan sekuat tenaga. Dengan tubuh yang kekar dan tubuhnya yang kuat, Sapto berusaha berontak dan berhasil membanting salah satu orang yang menghalanginya hingga pingsan seketika. Aji tanpa ekspresi memandang apa yang dilakukan Sapto. Sesaat kemudian dia berujar, "biarkan dia naik! Mungkin dia masih penasaran." Sapto mendelik memandang Aji. Dia kemudian melompat ke atas panggung dan berdiri didepan wajah Aji. "Kubunuh kau!" Sapto melayangkan sebuah pukulan dengan kekuatan penuhnya, namun tiba-tiba saja matanya berkunang-kunang dan tubuhnya limbung lalu jatuh pingsan. Sebelum pukulan sapto mengenai tubuhnya, Aji bergerak cepat terlebih dahulu dan melepaskan tendangan memutar yang tepat mengenai kepala gundul Sapto dengan telak. Para petaruh yang kalah karena memilih Sapto sebagai pemenang, meloncat ke atas panggung dan memeriksa denyut nadi lelaki berkepala gundul itu. Kernyitan di dahinya terlihat menebal karena tahu bahwa Sapto sudah benar-benar pingsan, "dia memang sudah kalah!" Teriaknya kepada para penonton. Pendekar tersebut melihat kearah Aji sebentar, sebelum berdiri dan berjalan menuruni panggung, "Aneh, aku tidak merasakan tenaga dalamnya sama sekali. Tapi kenapa lelaki itu bisa langsung pingsan hanya dalam sekali tendangan," gumamnya dalam hati. Dua orang lelaki bergegas menaiki panggung dan membawa tubuh Sapto yang pingsan ke bawah untuk dirawat. Aji berjalan dengan santai menuruni panggung dan berjalan menuju Ratih yang tersenyum sumringah melihat kemenangannya. Dia tahu kalau Aji bukanlah orang biasa yang seperti selalu diucapkan lelaki tampan itu kepadanya.   "Kau tidak akan bisa menipuku, Aji. Aku tahu kau pasti seorang pendekar." ucapnya penuh semangat.   "Itu tadi hanya kebetulan saja. Lelaki itu tadi kakinya tidak seimbang, sehingga ketika aku menendangnya, dia langsung pingsan," sanggah Aji.  "Baiklah kalau kau tidak mau mengaku. Tapi aku tadi menang dari bertaruh memilihmu sebagai pemenangnya," balas Ratih dengan senyum lebarnya terurai memancing hasrat.   "Lain kali jangan bertaruh, Ratih! Itu perbuatan tidak baik. Kalaupun kau menang, apa yang kau makan dari hasil bertaruh itu tidak akan menjadi daging. Cukup sekali ini saja kau bertaruh, dan aku juga tidak suka menjadi bahan taruhan." Aji memandang ke atas panggung. Dua orang berperawakan seperti pendekar, sudah berdiri saling berhadapan. Tatapan membunuh terlihat di kedua pasang mata yang saling memandang.   "Akhirnya kita dipertemukan di panggung ini, Wojo. Aku akan membalas atas kekalahanku saat itu!" Lelaki bertubuh tinggi sedikit kekar, terlihat menaruh dendam yang teramat sangat kepada lawannya.   "Cipto...Cipto... Saat itu aku tidak bertarung dengan sepenuh hati, dan kau kalah juga akhirnya. Walaupun kau sudah berlatih dengan keras, kau tetap tidak akan bisa mengalahkanku! "Wojo tersenyum mencibir.  "b******n! Aku akan membunuhmu hari ini!" Cipto mendengus kesal. Dalam satu tarikan napas, lelaki itu menyerang Wajo dengan jangkauan kaki dan tangannya yang panjang. Aji memandang pertarungan itu dengan seksama. Dia berusaha membaca kemampuan keduanya, karena bisa saja di antara mereka ada yang akan menjadi lawannya   "Lelaki tinggi itu sebentar lagi akan kalah," gumam Aji pelan, namun masih terdengar di telinga Ratih dan beberapa orang yang berada di dekatnya Pertarungan di atas panggung itu sesuai dengan prediksi Aji. Cipto bisa dikalahkan dengan mudah oleh Wojo. Lelaki tinggi itu terkena sebuah tendangan yang mengenai dadanya dengan telak, hingga memuntahkan darah segar. Sesaat kemudian, Cipto jatuh pingsan.   "Bagaimana kau bisa menebaknya dengan tepat Aji?" tanya Ratih merasa penasaran, karena tebakan Aji terbukti benar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN