Aji mengikuti turnamen

850 Kata
Sesampainya di penginapan, mereka menuju kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Aji duduk bersila di atas ranjangnya dan pedang raja iblis berada di depan tubuhnya. Dia mencoba untuk berkomunikasi dengan pedang tersebut. Selama pedang raja iblis belum memberinya petunjuk kemana dia harus melangkah, dia akan mencoba terus untuk bertanya. Selain rasa penasaran besar tentang siapa yang harus ditemuinya, dia juga penasaran dengan tugas apa yang harus dilakukannya, sehingga dia harus menerima berkah memiliki darah murni di dalam tubuhnya. Seperti sebelumnya, pedang raja iblis hanya diam, tidak bergerak. Bahkan ketika Aji mengeluarkan pedang berwarna hitam gelap dari sarungnya. Lama tak kunjung mendapat jawaban, Aji berpikir mungkin ada rencana lain untuknya. Sebelum dia menemukan sosok yang harus ditemuinya, duda tampan berumur 25 tahun itupun memasukan kembali bilah pedang kedalam sarungnya. Setelahnya dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang, lalu memejamkan mata untuk menyambut mimpi-mimpi yang sudah tidak sabar berseliweran dalam alam bawah sadarnya. Suara ayam jantan berkokok dengan lantang menyambut mentari pagi, membangunkan Aji dari tidurnya. Pria itu bangkit dan keluar dari kamarnya menuju sungai kecil yang terletak dibelakang penginapan. Air sungai yang dingin dan jernih membuat duda tampan itu ingin menceburkan diri dan berlama-lama di dalamnya. Tapi dia harus menahan keinginannya, karena ingin segera melihat jalannya turnamen silat yang akan segera dimulai. Tanpa berlama-lama di sungai kecil, Aji lalu berjalan menuju tempat makan yang semalam dia disambanginya, untuk mengisi perutnya di pagi itu. Sementara itu di selatar panggung, sudah banyak peserta yang datang dan mendaftar untuk ikut dalam turnamen tersebut. Ratih terlihat mencolok di antara kerumunan para peserta. Selain karena dia satu-satunya wanita yang ikut dalam turnamen itu, wajahnya yang cantik tentu menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi para peserta lelaki yang berotak kotor. Tidak sedikit dari mereka yang melirik ke arah bagian vital gadis cantik itu yang terlihat menonjol. Bahkan ada juga yang secara terang-terangan tanpa malu melotot seolah hendak menelanjangi gadis cantik bertubuh sintal tersebut. Tanpa diketahui Aji, ternyata Ratih juga mendaftarkan lelaki tampan itu untuk ikut dalam turnamen Dia masih belum percaya jika Aji bukan seorang pendekar seperti pengakuannya tadi malam. Meski Ratih tidak merasakan adanya energi tenaga dalam yang kuat dari tubuh Aji, tapi entah kenapa dia sangat yakin jika Aji memiliki sesuatu yang istimewa dan belum ditunjukkan kepadanya.   "Aji!" teriak Ratih sambil melambaikan tangannya ke pria tampan itu. Aji menoleh ke samping ketika mendengar panggilan Ratih. Dia lalu berjalan mendekatinya.   "Sebentar lagi turnamen akan dimulai, aku doakan kau bisa memenangkannya," kata Aji mengawali pembicaraan antara mereka berdua.   "Terima kasih atas doanya, Aji Aku harus memenangkan turnamen ini, karena aku butuh hadiahnya," balas Ratih. Aji mengernyitkan dahinya. Dia merasa penasaran dengan pengakuan sekilas gadis Itu . "Apakah aku Boleh tahu buat apa?" Ratih memandang wajah tampan Aji dengan seksama, dia tidak melihat tanda-tanda niat jahat dari lelaki tampan yang saat ini berdiri di depannya. "Perguruan ayahku saat ini kesulitan keuangan untuk memenuhi kebutuhan makan anggotanya, dan aku berharap bisa memenangkan turnamen ini untuk membantu ayahku."   "Apakah ayahmu tahu kau ikut turnamen ini?" tanya Aji kembali. Ratih menggeleng raut mukanya tiba-tiba terlihat sendih "Beliau pasti akan melarangku untuk ikut turnamen ini jika mengetahuinya Aku hanya ingin membantu ayahku saja," jawabnya lirih   "Aku paham sekarang. Kau ingin berbakti kepada ayahmu, meski kau paham apa resiko yang akan kau hadapi dalam turnamen kali ini," balas Aji Ratih mengangguk pelan. Selang beberapa saat, seorang pembawa acara menaiki panggung dan membacakan nama para peserta yang akan bertanding sebagai pembuka acara. Tibalah saat nama Aji dipanggil untuk naik ke atas panggung sebagai partai pembuka. Aji yang merasa tidak mendaftarkan diri, hanya diam saja ketika mendengar namanya dipanggil Dia merasa mungkin ada orang lain yang bernama sama dengannya.  "Aji.. kau dipanggil naik ke atas panggung." ucap Ratih kepada Aji.   "Tapi aku kan tidak mendaftar?" bantah Aji.   "Aku yang mendaftarkanmu tadi." Ratih menutup mukanya karena malu. Tawa kecilnya terdengar pelan dari balik telapak tangan yang menutupi bibir merahnya. Raut muka Aji terlihat bingung, mau mengundurkan diri, dia merasa tidak enak hati dengan Ratih yang sudah mendaftarkannya. Keputusan harus dia buat dengan cepat karena namanya sudah dipanggil pembawa acara berulang kali.   "Baiklah, aku akan berusaha sebaik mungkin. Kalaupun aku memenangkan turnamen ini, hadiahnya hanya untukmu," kata Aji. Dia berjalan ke tangga di sisi panggung. Ratih terbengong mendengar ucapan Aji yang baru saja memasuki gendang telinganya. Dia tidak menyangka jika lelaki muda nan tampan itu memiliki jiwa yang begitu luhur. Sebelum melangkah menaiki tangga, lelaki tampan itu menoleh kepada Ratih yang mengepalkan tangannya memberi semangat. Aji tersenyum sejenak sebelum menaiki tangga. Matanya tertuju pada tuan rumah yang menyuruhnya segera naik. Ajl tersenytim sebentar sebelum menaiki anak tangga. Pandangan matanya terarah kepada pembawa acara yang menyuruhnya untuk segera naik Di atas panggung, seorang pria kekar berkepala gundul dan hanya memakai rompi tanpa lengan berwarna hitam, sudah menunggunya dengan senyum mengeringai menunjukkan giginya yang kehitaman   "Apa kau takut tulang-tulangmu kupatahkan semua?! ” ejek pria berkepala botak yang mau menjadi lawannya. Aji terlihat tenang tanpa ekspresi. Pandangan matanya yang dingin, membuat lelaki gundul itu merasa terhina serasa diremehkan.   "Aji, Sapto, kalian boleh saling melukai, tapi tidak boleh membunuh. Siapapun yang keluar dari panggung terlebih dahulu, dinyatakan kalah. Apa kalian sudah siap?" tanya pembawa acara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN