Perkenalan

809 Kata
Sesaat kemudian, gadis cantik itu memanggil pelayan untuk membayar tagihannya. Namun tiba-tiba raut muka kebingungan tercetak jelas di wajah cantiknya. Keringat dingin secara perlahan meronta keluar membasahi pakaiannya. Aji sedikit mengernyitkan dahinya saat melihat kebingungan di wajah gadis cantik tersebut, lelaki tampan itu kemudian bertanya kepada gadis itu "ada masalah apa nyisanak? Apa ada yang bisa kubantu?" Gadis cantik itu menatap Aji sebentar lalu menundukkan kepalanya. Dia takut jika lelaki itu akan meminta balas budi jika ia menerimanya. Dan yang lebih ditakutkan lagi, bisa saja lelaki itu meminta membalas jasanya dengan cara menikmati tubuhnya. Dia bergidik ngeri. Tapi dia juga dibuat bingung dengan situasi yang saat ini bisa benar-benar membuatnya malu besar. Tak bisa membayar makanan yang sudah berpindah ke dalam perutnya tentu adalah hal yang sangat memalukan buatnya. "Kenapa kau malah melamun, nyisanak? Apa ada yang bis kubantu?" Akhirnya, gadis cantik itu memilih untuk menerima bantuan dari lelaki yang hendak membantunya itu paling tidak masalah kecil yang bisa membuatnya malu bisa teratasi lebih dulu. Dan masalah lain yang ditakutkannya akan terjadi jika dugaan buruknya menjadi kenyataan, akan dia lawan meski nyawa yang akan jadi taruhannya. Setelah menghela napas panjang, dia pun menjawab pertanyaan aji, "kantong uangku hilang. Sepertinya ada yang mencopet tadi saat aku melihat pertunjukan didekat panggung." Aji tersenyum tipis. dia merogoh kedalam balik pakaiannya dan mengambil beberapa koin perak, lalu diberikannya kepada gadis cantik tersebut. "Bayarlah makanannya, sekalian dengan makanku ini. Sisanya kau bawa saja untuk makan besok." Gadis itu terkejut dengan sikap Aji yang begitu mudah membantunya, padahal mereka belum mengenal sama sekali. Dia merasa menyesal telah berburuk sangka kepada lelaki yang sudah membantunya itu. "Terima kasih, kisanak. Nanti aku akan menggantinya setelah aku memenangkan turnamen," jawabnya, merasa tak enak hati. "Tidak usah kau pikirkan untuk menggantinya. Aku ikhlas membantumu." Aji menggeleng pelan sambil senyum hangat tersungging di bibirnya. Gadis berambut hitam panjang, berkulit putih, berbibir merah dan berhidung mancung itu pun meraih koin perak pemberian Aji dan membayarkannya kepada pelayan. Penyesalan atas pikiran buruknya kepada lelaki tampan itu mulai menggelayut di benaknya. "Apakah kau besok juga akan ikut turnamen?" tanya Ratih lirih. Aji menggelengkan kepalanya, "Aku hanya bisa sedikit ilmu kanuragan. Jikalaupun aku ikut, pasti akan langsung kalah di babak awal." Gadis cantik itu mengernyitkan dahinya tidak percaya. Dia melihat Aji seperti seorang pendekar, jika dilihat dari tubuhnya yang kekar dan sebuah pedang yang tergantung di punggungnya. "Tapi pedang itu..." "Pedang Ini hanya untuk berjaga-jaga saja bila ada orang yang berniat jahat kepadaku," sahut Aji cepat, menyela pertanyaan yang belum selesai keluar dari bibir merah gadis cantik tersebut. "Kenalkan, namaku Ratih. Namamu siapa?" Ratih menyodorkan tangannya untuk bersalaman. "Namaku Aji," jawab Aji seraya memandang wajah Ratih yang cantik. Tangannya menyambut uluran jari lentik yang berada di depannya Ratih berdiri dan berpamitan untuk kembali ke penginapannya, dia harus mempersiapkan diri untuk pertandingan turnamen yang akan digelar besok pagi. "Silahkan, Nisanak. Semoga kau bisa menjadi pemenangnya." Setelah tubuh Ratih menghilang di balik pintu, Aji melanjutkan kembali menikmati makanannya yang belum berpindah semuanya kedalam perutnya. Sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil, dia tidak akan menghabiskan makanannya jika makanan di piringnya belum habis Tak berapa lama, duda tampan itu pun beranjak bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari ruang makan untuk kembali ke penginapan. Namun baru beberapa langkah keluar dari tempat makan, samar-samar dilihatnya ada pertarungan tidak jauh dari tempatnya berdiri. Bergegas Aji berjalan untuk melihatnya dari jarak yang lebih dekat. Sekilas dahinya mengernyit tebal setelah berada dalam jarak pandang yang jelas. Aji terkejut karena melihat gadis cantik yang baru saja ditemuinya di dalam tempat makan, sedang dikeroyok 4, orang lelaki sekaligus Namun setelah merasa Ratih bisa mengatasi 4 orang yang menggangunya, Aji mengurungkan niatnya untuk membantu. Tidak butuh waktu lama bagi Ratih untuk mengalahkan 4 orang lelaki yang mengeroyoknya. Dia bisa membuat keempat lelaki itu babak belur dan lari tunggang langgang ketakutan, padahal gadis cantik itu belun mencabut pedangnya. "Aji, kenapa kau berdiri di situ?" Meskipun suasana cukup gelap, tapi Ratih langsung bisa mengenali sosok Aji yang berdiri dan memakai caping bambu untuk menutupi wajahnya. Aji berjalan mendekati Ratih, "Siapa mereka dan kenapa mereka mengganggumu?" "Entahlah, tiba-tiba saja mereka datang dan menggangguku. Tapi jika dilihat dari baunya, sepertinya mereka sedang mabuk," jawab Ratih pelan. Pandangannya tertuju ke arah panggung yang berjarak cukup jauh dari tempat mereka berdiri "Apa penginapanmu dekat panggung juga?" sambungnya bertanya. Aji menggangguk, lalu menunjuk sebuah bangunan lumayan besar yang terletak di belakang panggung. "Sepertinya penginapan kita sama," balas Ratih, lalu tertawa pelan. "Apa kau mau kembali ke penginapan?" Kembali lelaki tampan itu hanya menjawab. dengan anggukan dan senyuman. Apa yang dilakukannya membuat Ratih sedikit heran, padahal di tempat makan tadi, Ratih menilai jika Aji adalah sosok yang ramah. Mereka berdua kemudian berjalan bersisian menuju penginapan. Bagi mereka yang tidak tahu, pasti menganggap Aji dan Ratih adalah sepasang pendekar. Tongkrongan mereka berdua yang sama-sama tergantung pedang di punggungnya, adalah salah satu ciri seorang pendekar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN