Chapter 32 ** ‘’Sorry la, gue kira gue udah paling bener dengan nasehatin lo. Tapi ternayta gue gagal jadi temen lo satu – satunya.’’ ‘’Engga,’’ Khadijah menyentuh pundak Amel dengan keras memberikan kode buka seperti itu yang ia maksud. ‘’Nyatanya gitu, setelah gue pikir. Gue ternyata malah nahan tangisan lo sampai sampai lo depresi karena beban di pundak lo gak pernah luruh tapi justru menggunung.,’’ ‘’No, kamu sahabat aku yang palinggg terbaik dan aku gak pernah menemukan orang kayak kamu di dunia ini. Sekarang dengerin aku tanpa memotong pembicaraan aku dan jangan nangis. Karena aku udah gak mau nangis xixixi..’’ ‘’Ya, oke… say it.’’ Khadijah menarik nafasnya dalam – dalam lalu menghembuskannya perlahan. ‘’Aku sakit, aku punya tumor otak stadium dua. Dan yang tau itu semua

