Chapter 28 **** Ahmad memasuki ruangan yang dirasa dingin, langkah kakinya terasa ringan dengan senyum yang tak berhenti mengembang dari wajah tampannya. Ia sudah bersiap bertempur bukan di balik sujud sepertiga malam dan kertas kusam coretan tinta. Tapi kali ini pri agagah itu mempersiapkan hatinya untuk meminta wanita emnerima hati dan berkomitmen dengannya. Ia menyapa gadis cantic dengan setelah merah muda dan khimar hitam pekat yang membalas senyumnya canggung. Wajah sumringah Ahmad tak terbaca oleh gadis cantic dengan tanagn terhubung selang infus. Tak menunggu lama, Ahmad menggeser kusi satuan tepat di depan gadis yang selama ini ia doakan dan minta doa dari ibu serta ayahnya, ia berusaha setenang mungkin agar kata – katanya tak salah tempat apalagi sampai membuat hati gadis

