Chapter 3

1038 Kata
Chapter 3 ** ** Sudah semenjak dua minggu yang lalu ketika profesiku sebagai dosen tidak tetap yang selalu menyuguhi lauk karakter puluhan mahasiswa yang harus aku pahami dan ku rasa tidak ada yang perlu perhatian khusus terkcuali mahasiswa yang belagu dan tidak tau aturan , dia Khadijah Syauqillah. Kenapa? Kalian tak usah berpikir macam-macam kenapa aku hafal dan cepat menyebut namanya, tentu saja hafal karna gadis itu sudah memberi coretan merah dalam buku harianku. Khadijah Syauqillah, jika di artikan nama gadis itu berarti Khadijah Perindu Allah. Aku akui keren sekali namanya, secara fisik gadis itu bisa di katakana sangat cantik, dia punya manik mata yang jernih, bahkan coklat terang tak bisa mendefinisikan, wajahnya bersih ayu dan matanya yang hitam karena celak hitam yang melukis matanya lebih membuatnya seperti gadis langka, tapi siapa sangka! Ternyata gadis dibalik wajahnya yang halus itu , rupanya dia sangat agresif. Ah sudah lupakan, aku hanya mengenalkan diriku saja. Hari ini aku kembali menyendiri setelah menghindar dari seribu satu pertanyaan tentang kapan aku menikah dari ibu. Menikmati waktu dengan duduk diikuti rasa dingin dari AC yang menembus kulitku begitu saja, menikmati senja berbatas kaca transparan dan rintik hujan yang melukisnya, mendekap bayang sosok lain dalam hatiku, aku menikmatinya. Suasana hening dan tenang yang menjaga hatiku tetap dingin dan hangat kembali mengingatkanku pada kisah lampau yang sempat terkubur waktu tapi nyatanya ia sanggup bangkit untuk menghantui kehidupanku saat ini. Dan parahnya, masa lalu itu juga hampir mencabik-cabik masa depanku. Bagimana tidak! Aku hampir melajang se umur hidup karena masa lalu yang gila ini. Dan begitulah, bak aliran sungai yang tenang. Masa lalu ini kembali berputar, ia memperlihatkan pertunjukan bak sebuah drama yang aku nikmati dengan ketakutan dan kepedihan. "Ahmad!!" "Jika aku sudah dewasa nanti, aku ingin membaca buku di sana" Tunjuk gadis kecil pada sebuah bangunan khas Belanda , di dalam sana terdapat jutaan ilmu dan miliyaran lembar kertas, Ahmad kecil yang mendengarnya hanya tersenyum dan mengangguk "Kamu mau menemaniku?" "Tentu saja, nanti jika kita sudah besar kita akan baca buku disana," "Tapi kalo nanti Syifa tidak bisa menemani Ahmad disana jangan sedih ya" ‘’Tapi kan kita selalu bersama, kita sudah janji untuk jadi sahabat sampai kakek nenek,’’ ‘’Wahhh, berarti kita nanti akan menikah kayak Ibu sama Bapak ya Kak Ahmad?’’ ‘’Iya, Syifa mau kan??’’ ‘’Mauu! Syifa sayang Kaka!’’ Ahmad kecil menerima pelukan dari sahabat yang dia cintai. Bersambung… Ya, aku kembali datang setiap minggunya, menyempatkan waktuku untuk mencoba merakit kapal bambu yang akan ku dayug hingga sampai ke hati gasdis kecilku.. Aku hanya datang dengan bayang diriku sendiri yang sudah mulai habis dimakan senja. Aku begitu memprihatinkan karena mencintai wanita yang sudah dipinang oleh orang lain, sejak saat itu ketika aku menyaksikan bagaimana orang yang ku cintai resmi menjadi milik orang lain aku merasa Allah tidak pernah adil padaku dan aku selalu mendzolimi dirku sendiri. Aku merasa jika dunia ini tak pernah memandangku hidup, aku mati baginya dan aku hanya pemeran sampingan yang tak bernyawa. Aku hanya sempat berpikir beberapa saat, apakah selama kami bersama dalam segala hal? Dia tidak pernah menganggap aku sebagai pria yang harus ia cintai juga? Apakah selama kami bersama, aku hanya sekedar teman lelaki dan mitra bisnisnya?? Jika memang demikian, aku akui perjalanan cintaku begitu memalukan karena hanya mencintai sepihak. Ck. Dan dengan menikmati senja di perpustakaan ini, aku merasa tangan-tangan malaikat kiriman tuhan menyetuh jiwaku dengan halus. Telingaku yang berdengung karena teringat percakapan puluhan tahun silam kini melembut karena earphone dan ponsel yang memutar murrotal syahdu. Aku mendapat ketenangan di sini dan aku juga mendapatkan obat minimalisir rindu pada calon istri pria lain. Aku katakana, aku merindukannya. Satu kata penuh penekanan, satu kata penuh penderitaan, dan satu kata penuh kesakitan. Aku hanya lelaki biasa yang juga merasa rindu, jangan mencoba berpikir jika laki-laki tak akan pernah merasa rindu, tapi justru Aku sang pria sangat tersiksa merasakan rindu ketika merindu pada sosok yang tak dapat ku tatap. Biar alam dan takdir saja yang meminimalisir rasa sakit ini, yang terpenting saat ini hanya aku harus menikmatinya saja, serta tak perlu disesali. Biar bagaimanapun tangan Tuhan lebih indah dari sekedar yang aku inginkan sekalipun aku berkali-kali aku mencoba bangkit untuk membuka malighai cinta yang baru tapi apalah daya hati ini tak mampu untuk bergerak meskipun hanya se inchi. "Hiks.." Lamunan dan ketenanganku terhenti karena tak sengaja mendengar tangis wanita yang sudah semenjak aku disini hanya menelungkupkan wajahnya di antara lekukan tangannya, Aku mendengar isakan dan guman gadis didepanku ini sesekali dia memukulkam tangannya di meja dan mengundang banyak tatap orang disini, Aku berpikir sejenak jika gadis ini bodoh sekali, menangis di perpustakaan dan membuat gaduh, apa dia waras?? Ck, "Hikss… bagaimana pria itu berkata hal yang menyakiti proses yang aku lewati. Aku belajar dengan sangat berat, aku kan bodoh tapi aku tetap berusaha. Hiks…’’ "Huaaaaaa! Apakah dia tidak tau jika aku berusaha sangat keras untuk dapat nilai yang dia katakana rendah dan memalukan?!’’ ‘’Dia harusnya maluuu! Apa dia tidak pernah belajar berprosesss!’’ ‘’Ibuuuuu! Maafin Khadijah yaaa huaa!!’’ "Hikss, Ayaaah maafin Khadijah" Terdengar sangat jelas semua keluhan wanita di sampingku ini, semuanya tamak jelas. Mau tidak mau, aku ikut mengerti jika akulah yang sedang dibicarakan. Lihat! Seluruh pengunjung perpustakaan menatapku horor, padahal gadis ini yang membuat bising dengan tangisannya dan aku yang tertimpa tangganya, bagaimana tidak. Gadis ini menangis tepat di depanku dan mungkin mereka pikir aku suami atau pacarnya. Ah brisik sekali dia!, secepatnya aku melepas earphone dan menegakan tubuhku "Apa kamu tidak bisa diam?" kataku Perlahan dia mendongak menghapus sisa air matanya dengan khimar yang menutup mahkotanya, dia menatapku gugup dan penuh ketakutan tapi hanya sejekap karna dia kembali memberiku tatapan dingin bermusuhan. Gadis ini cantik, batinku. Tapi sayang sekali dia tidak masuk dalam kategori calon istriku. "Apa!!!" Dia menatap dan membentaku, rupanya dia tidak merasa bersalah ya tuhan. "Kenapa melihat seperti itu hah! Biasa saja dong, Aku ngerti kalo aku ini cantik!" Pfft, rasanya aku ingin tertawa mendengar tuturnya, lihat saja dia masih menatapku dingin dan nengatakan seprti itu, selain bodoh ternyata gadis di hadapanku ini lucu juga. Ah, dia menantangku rupanya. "Brisik!"Jawabku singkat dan dingin masih mempertahankan gaya cool. Matanya perlahan menunduk menatap lembar kertas di genggamannya dan dia, menangis lagi. Gadis ini menangis. "Hikss…. Kenapa kasih nilai aku ini! Ah ngeselin!’’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN