Chapter 4
**
AUTHOR POV
"Ini"
Ahmad menjulurkan tangannya yang sudah menggenggam sapu tangan miliknya sementara Khadijah menatapnya bingung, enggan untuk menerimanya.
"Ambil!"
Perlahan Khadijah menarik cepat sapu tangan, sejenak memandang huruf yang melekat merangkai sebuah nama.
"Kok Asyifa? Kan bapak laki-laki" Tanya Khadijah tanpa sengaja setelah membaca deretan huruf tepat di tengah sapu tangan milik Ahmad.
"Diam! Pakai saja, tak usah banyak tanya"
"Ah okeoke, santai aja bisa ngga pak, sinis amat"
Ahmad yang mendengarnya hanya melirik tak minat, jenuh dan bosan terlebih sadarnya Khadijah yang sudah mulai cerewet semakin menekan tinggi hasrat untuk meninggalkan tempat ini. Segera Ahmad bangkit dan berlalu pergi tanpa mengucap salam dan Khadijah yang melihatnya hanya mengangkat bahu, terserah batinnya.
***
Aku sendiri tidak tau, entah kenapa hujan selalu datang disaat seperti ini, saat yang tepat karena aku merindukannya. Sesekali pikiranku melayang bersama kenangan lampau bersama gadis itu, Asyifa Humaira.
-Hujan & Nafas Tauhid Khadijah-
-Aisyadzahra-
***
Ahmad POV
"Wah hujan ya pak"
Aku melihat dia lagi, di sampingku. Semesta menakdirkan kami menunggu usainya hujan.
"Hm"
"Bapak lagi sariawan ya? Ngomongnya pelit amat"
Mencibir kesal itu hal yang sedang aku lakukan, bibirku mengerucut sebal dan dia malah terkekeh tidak jelas. Tangan mungil itu berusaha meraih tetes demi tetes air hujan, bibirnya terus melengkung dan tawanya yang merdu, ku lihat tangannya melambai ke arahku
"Pak dosen, cobain sih tangkap hujan kayak begini"
Kedua tangannya menyatu, membentuk lengkungan indah serupa senyumnya. Tapi tetap saja aku tak minat meskipun ku lihat gadis ini tertawa sumringah seolah tiada beban dan melupakan tangisannya beberapa menit lalu.
"Tidak"
"Ck, ini asik pak! Coba sini"
"Brisik!"
Jujur, aku ingin tertawa ketika mataku menangkap wajahnya yang kusut karena hujan yang tak kunjung dia tangkap, Wajahnya frustasi sementara khimarnya sudah hampir sempurna basah, pikirku apa dia tidak merasa dingin didekap hujan?
"Bapak tau tidak?"
Aku menggeleng, memangnya aku tau apa ck,
"Kata Umi, hujan itu hal yang paling indah"
Aku menatapnya yang mulai menunduk dan tenang, mulai tertarik dengan hujan.
"Kenapa?"
"Umi pernah mengatakan, jika hujan adalah satu hal penuh kebohongan, seperti ini"
Bodoh! Satu kata yang sama dan kembali untum gadis itu! Ahh, bodoh sekali dia. Dia sudah berlari menembus hujan dan berhenti beberapa meter dariku, ia bahkan tak khawatir tas dan isinya basah kuyup.
"Pak dosen, sini!"
Kekanak-kanakan batinku, dan lihat saat ini dia sedang tertawa tak perduli tubuhnya yang dingin.
Tak perduli padanya, aku berbalik dan pergi. Agar tidak larut kembali pada kisah lama. Meninggalkan gadis yang ternyata menatap punggungku dengan kaku.
***
Jika memang hadirku tidak pernah diinginkan
Mengapa tidak sedari dulu kau tutup pintu hatimu agar aku tak melangkah masuk
Jika sudi usir saja aku, agar aku tak lama menetap dan mencari celah dalam hatimu
Hingga aku enggan untuk melangkah maju mendapakanmu
Bahkan mengemis pada Rabbku biarlah engkau menjadi separuh jiwaku
Nyatanya aku terlalu bodoh mengharapkanmu yang tak pernah melihatku sebagai wanita yang mencintaimu
-Memejam Sekejap-
@aisyadzahra
***
Lagi, lagi, dan lagi merasakan dingin yang sama dan kesakitan yang sama. Hanya dengan ini tangisku yang tak terbendung mampu hanyut tanpa curiga, hanya dengan ini tawa sumbangku tak terdengar tanpa curiga. Berlomba bersama tangis alam itulah hal yang aku tunggu. Sudah lama sebenarnya itu terjadi, tapi ini sulit sekali melepas ikhlas dalam hati, ikhlas yang terkunci dan mati belum sampai terucap hingga kehati menjadikan kesakitan yang amat luar biasa disini, tepat dihatiku.
Aku tergugu mengingat berapa tahun lagi aku akan hidup. Aku bukan Allah yang menjadikan hidup dan mati, tapi aku manusia yang harus sadar jika aku bisa mati kapan saja dan dengan keadaan apa saja seperti yang tertulis dalam diagnosa rahasia.
"Tak apa-apa Khadijah"
Ucapku pada diri sendiri. Pria yang sekaligus pengajar tidak tetap di kelasku itu sudah berlalu pergi setelah melihatku turun memeluk hujan, yang ku lihat dari matanya dia membenci hujan entah kenapa. Meskipun sedingin kutub utara, ternyata dia baik juga. Buktinya sapu tangan ini sukses membersihkan air mata sekaligus ingusku. Aku terkekeh ketika mengingat wajahnya yang menampilkan ekspresi jijik saat mendengar aku membersihkan cairan di hidung mungilku ini.
Langkah demi langkah ku gerakan tanpa pasti, aku rasa bibirku mulai membiru dan tubuhku dingin namun enggan untuk beranjak pergi melepas peluk rindu bersama sang hujan.
Bisa dikatakan aku terlalu hanyut dalam kesedihan, apa benar? Aku sendiri tidak tau, yang jelas saat ini airmataku tak berhenti menetes, aku menangis tanpa suara. Bersama hujan aku mampu menangis meluapkan semua yang aku ingin hempaskan terlebih malangnya cintaku yang ditinggalkan secara sepihak , aku bersyuku hari ini hujan jadi tidak perlu repot atau kesulitan menutupi kesedihanku tapi jika hari ini tidak bersama hujan maka tangisku sudah membanjiri seluruh hatiku yang rasanya akan menyesakan.
Enggan menangis dikala sendiri itu adalah hal penting dalam hidupku, mereka bisa mendengar isaku, melihat airmataku, dan melihat kesedihanku
"Berhenti!"
Langkahku terhenti, aku tak berani berbalik.
"Pakai!"
Hangat.
Itulah yang aku rasakan saat ini setelah jas hitam terslampir tak beraturan di pundaku, sampa-sampai air hujan sudah melepas pelukannya padaku, atap langit mendung kini terganti payung hitam tak bermotif. Aku mematung, dan hari ini seseorang menyaksikan tangis pertamaku.
"Berhenti menangis"
"Enak saja! Siapa juga yang nangis, sok tau banget"
"Dzolim!’’
"Aku mau !"
Saat hendak melangkah tiba-tiba khimarku tertarik ke belakang, ah rupanya pria ini yang menarik khimarku.
"Apa lagi sih!"69
"Jas mahalku akan basah jika kamu kembali hujan-hujanan seperti itu,"
Rasanya aku ingin mencakar wajahnya yang tanpa ekspresi itu lalu membungkusnya dengan kantung belanjaan milik Ibukku, hanya karena jas mahalnya ini, lalu kenapa dia memberikannya padaku.
"Iyaiya ini!" Aku menarik jasnya yang terslampir di pundaku,
"Pakai!"
Lagi-lagi dia mencegahku,
"Maunya apa sih! Ya ini sama-sama basah, lagipula pakaianku juga basah,"
"Pakai jasnya!" paksanya lagi.
"Oke oke cerewet banget,"
Setelah memakai jas miliknya aku kembali melangkahkan kakiku dan lagi-lagi arrrggghh, apa mau dosen ini sebenarnya.
"Aku akan pulang, jangan menarik jasku!"
"Jas saya" katanya mengingatkan.
"Ya maksudnya itu,’’
Diam, hanya hujan yang mengisi kekosongan ini.
"Ini"
"Gunakan payung dan ganti pakaianmu dengan ini, lalu silahkan kembali ke rumah. Jangan bodoh dengan kembali ke rumah dalam keadaan basah kuyup seperti itu, tak ada gunanya menyembunyikan tangismu tapi tak pandai mengkondisikan fisik yang jelas paling terlihat selain hatimu"