Chapter 5
**
Dia melangkah pergi, pengajar sementara di kelasku sekaligus pemuda yang tidak aku ketahui namanya. Aku masih diam menatap punggunya yang bergerak menjauh, tangan kananku meremas peaperbag berisi gamis lengkap dengan khimarnya sementara tangan kiriku menggengam payung yang menahanku dari dekapan hujan. Hari ini, sepertinya takdir sedang memulai cerita baru untukku.
***
Ahmad POV
"Assalamualaikum"
"Waalaikummusalam" jawab malaikat tercantik di rumahku.
"Selamat sore Ibu"
Sapaku pada Ibuku, aku mencium keningnya dan memeluknya sekejap.
"Tumben kamu pulang ngga pake jas?"
"Tadi tertinggal" jawabku kikuk, aku tak berani berbohong. Memang tadi jasku tertinggal di tubuh gadis itu bukan?
"Oh ya sudah tak apa-apa, kamu sudah makan nak?"
"Ahmad belum makan bu"
"Ya sudah ayo makan bersama"
Menikmati masakan dari Ibu merupakan hal terindah semasa hidupku, teringat ketika aku hidup di perantauan jauh dari dekapan nya , hal yang dirindukan selain keluarga adalah masakan khas rumahan yang tak bisa ku temukan dimana pun selain disini. Di tempat ini, rumah yang ayah dan ibuku bangun dengan jerit payahnya, rumah dengan ribuan kenangan yang kami ukir tiap harinya.
"Ahmad"
"Hem?"
Ibu menatapku lesu sedikit lirikan yang mematikan, entah apa salahku kali ini.
"Kenapa bu?"
"Kamu kapan nikah?"
Luar biasa yang aku rasakan saat ini. Jika yang bertanya orang lain itu tidak masalah, tapi ini! Ibuku, orang yang bertaruh nyawa demiku. Ya Allah tolong aku.
"Umm.. setepatnya Bu." jawabku seadanya
"Dari dulu jawabannya seperti itu,"
"Ya sabar , kan Ahmad belum ketemu yang cocok"
"Terserah kamu aja, ngga tau ya kalo Ibu itu sudah kepengen gendong cucu"
"Ukhuk!"
Tersedak! Aku segera meraih gelas yang terisi penuh, benar-benar mengejutkan.
"Pelan-pelan makannya!" Tegur Ibu padaku, beliau tidak tau apa jika aku tersedak karena beliau, wanita selalu benar katanya ck.
"Jadi kapan kamu nikah?"
Belum sempat aku menjawan pertanyaan sebelumnya, beliau sudah bertanya lagi padaku. Wanita adalah makhluk cerewet pada intinya.
"Insyaallah secepatnya, doakan Ahmad saja"
"Ahmad, doa saja tidak cukup kalo kamu tidak berusaha"
"Ahmad akan berusaha sesuai apa yang aku inginkan bu…"
"Atau Ibu saja yang carikan calon, bagaimana?"
Huh, terserah saja pikirku, semuanya akan aku lakukan demi malaikat tak bersayap ini.
"Terserah Ibu saja ya"
‘Iya sudah kalo begitu, Ibu sudah siapkan calon juga,"
"Ahmad ke kamar dulu ya, assalamualaikum"
"Waalaikummusalam"
Sesampainya di kamar aku segera merebahkan tubuhku, menatap langit langit kamar tanpa minat. Umurku sudah cukup untuk menikah, hartaku juga cukup untuk menafkahi bahkan membeli rumah, dan agamaku insyaallah sudah baik, lalu mengapa belum ada wanita yang ingin aku lamar. Yang jelas aku normal, ya mungkin saja Allah tengah menyembunyikan untukku, begitu saja. Dan Allah sudah memperlihtkan kuasanya lewat Ibu. Bismillah, aku yakin jika pilihan ibu nantinya adalah yang terbaik. Siapapun itu,, aku berjanji dalam diriku untuk menerimanya untuk menghargai keputusannya serta mencoba berdamai dan menerima kuasa Allah.
***
Akan ku tuliskan cerita tentang hujan
Hujan pertama setelah aku telah bangun dalam kubur kepiluan
Hujan pertama yang kembali lagi, lagi dan lagi
Ini adalah tentang kepahitan harapan yang telah ku telan
Tuhan, pantaskah aku menjadi bagian dari kekasihmu setelah sebelumnya aku menyalahkan engkau untuk takdirku.
Pantaskah aku?
Aku tahu, aku tak akan pantas.
Aku mengerti tapi lihatlah dan perhatikanlah wahai Sang Khalik,
Jika akan tiba saatnya nanti aku akan hadir dipelukanmu semoga saja dalam keadaan bibirku bergetar menyebut kalimat tauhid untuk kesaksianku.
Rabb, bolehkah aku sedikit bercerita kembali padamu?
Cerita tentang hujan yang sama setelah semesta bergerak mengurangi waktu
Tentang kepalsuan tangis dan tawa yang serupa,
Dan tentang pelukan hangat yang sebenarnya dingin
Mengapa hujan dengan tanpa malu menangis tersedu terisak
Sementara aku menangis tersedu terisak hanya sebuah mimpi imajinasi semata
Mengapa hujan selalu memberikan rindu dan sendu
Dan mengapa sunyi hujan selalu melumat hatiku, mendorongku untuk menangis bersamanya
-Khadijah Syauqillah-
@aisyadzahra
"Qila!"
Panggil Ibu padaku dari lantai bawah, tepatnya ruang tamu dimana di sana banyak sekali kaligrafi dan ya banyak sekali adegan romantis. Aku segera bangkit dan menutup catatan harianku, bergegas menggunakan khimar dan turun kebawah.
Hari ini aku menulis tentang hujan pertama setelah diagnose rahasiaku, hujan pertama yang akan ku hitung sebagai awal dan akhir kembalinya Khadijah yang semula. Tubuhku telah sampai tepat di lantai bawah menapakan kaki pada keramik putih dingin,Ya tentu saja aku kembali melihat adegan romantis yang membuatku ingin tenggelam saja di lautan,
Aku juga pengen nikaaah, teriaku dalam batinku. Sudahlah tak apa,
Umar Syauqillah Arsyad, adik kecilku. Ku lihat dia hanya melirik abi dan umi tanpa minat. Dingin, ketus, dan otak jenius itulah gambaran tentang adiku, dia tampan seperti ayah. Sangat tampan, sampai-sampai aku lelah membaca semua surat dari para wanita tempatnya belajar. Biar bagaimanapun, cinta tidak pernah salah sekalipun ia datang untuk anaj-anak remaja seperti Umar.
"Ayahhhhh!!" Teriaku padanya,
Saat ini aku sudah di hadapan mereka dan lihat, ayah sama sekali tidak menatapku, dia fokus mendengarkan apa yang tengah ibukku ceritakan. Pikirku apa mereka belum puas pacaran sebelum aku lahir kedunia, ck ada-ada saja. Tapi aku sangat bersyukur, di tengah kesibukan mereka berbisnis untuk Aku dan Umar. Mereka selalu pulang tepat waktu dan tidak pernah meninggalkan kami untuk kepentingan mereka. Aku mencintai ayah dan ibuku, bahkan seluruh dunia dan isinya tidak akan bisa menggantikan posisi mereka dalam kehidupaku.
"Kenapa"
Kan, sudah ku katakan jika Ayahku begitu datar dan satu-satunya wanita yang mengerti Ayah adalah Ibuku. Allah benar-benar sangat adil, ayahku yang cukup dingin menikah dengan wanita sebaik dan selembut ibukku.
"Tidak!"
Aku mencibik kesal dan beralih mendekati Umar,
"De, bagi jajannya"
"I think No!"
"Pelit banget sih!"
"Bodo amat"
"Dasar adik kurang ajar ck"
"Bodo amat"
Benar-benar! Seperti ini keadaan aku dan adiku, tapi aku begitu menyayanginya, sangat. Terlebih ketika aku membutuhkan seseorang yang menjadi alas untuk aku berjalan, maka Umar menjadi satu-satunya yang menolongku. Alias ketika aku malas berjalan, cukup ku gunakan ponsel untuk menelpon adikku dan dia dengan senang hati menggendong tubuhku yang lumayan berat. Umur kami terpaut hanya 2 tahun, namun Umar cenderung bertubuh lebih besar dariku.
"Qilla?"
Panggil Ayah padaku,
"Iya bi"
"Kamu bagaimana kuliahnya?"
"Emm"
"Lancar Yah Alhamdulillah,"
"Masaaa? Palingan zero to zero" kata Umar mengejek.
Brisik! Satu kata yang ingin aku katakan pada Umar, rasanya aku ingin mencekiknya sekarang juga, ah benar-benar.