CHAPTER 6

989 Kata
Chapter 6 ** "enggak la!! Ni dapet B kan lumayan yah," "Kan bi, Umar bilang apa? Badut dan B kan sama aja? Ya kan Umi? Sementara Ibu hanya terkekeh mendengar kami saling mengejek satu sama lain, sementra Ayah tetap sama dengan tatapan dingin dan kecewa, kadang aku merasa tidak percaya jika Ibuku yang lembut bisa jatuh cinta dan menikah dengan Ayah. Apakah aku akan begitu? Tapi mana mungkin? Hubungan yang baru sempat akan aku mulai saja sudah kandas ckckck. "Abi. Maafin Qilla ya" Hening, bahkan Umar menghentikan kegiatannya. Mereka menatapku aneh dan bingung, memang aku kenapa? Cantik? Lucu? Ya kalo itu memang sudah dari dulu, tapi ini beda, tatapannya lebih mengisyaratkan sebuah tanya dan yap! "Kenapa?" "Ehe ngga kok Abi, Qilla sayang Abi" Author POV Syauqi menyiritkan alisnya bingung menatap putrinya, sementra dia melihat Umar mencibik kesal dan sedikit tertawa, "Emm, iyaiya. Kamu dapat nilai B?" "Ehehe, iya bi. Maafin ya," Khadijah menunduk, sedetik kemudian air matanya luruh. Perasaan takut, menyesal yang kini mendominasi hatinya. "Kemari, mendekat dengan Abi" Khadijah mendekat, namun hanya sampai di depan Syauqi dia berhenti "Kenapa berhenti?" "Itu..." tunjuk Khadijah pada Syadza yang sudah tertidur di rangkulan Syauqi "Umi suruh geser bi, nanti Khadijah ngga muat. Sempittt, kan Umi gendutan sekarang" ucap Khadijah liris, tapi siapa sangka jika Syadza mendengar yang dikatakan putrinya "Kamu bilang Umi gendut gitu?!" "Eh engga kok, Umi salah denger. Yakin! Khadijah bohong!" Ucap Khadijah yang langsung sembunyi di balik tubuh Umar. "Kak, minggir ih risih!" "Bodo amat" "Kak, minggir!" "Ngga mau Umar, lagian pelit banget sih, sama kakaknya juga ck" "Iya tapi awas ih. Ane ngga mau di peluk gini. Minggir ngga!" "Kaya ngga biasa dipeluk aja kamu" "Minggir ngga Khadijah Syauqillah!" "Brisik banget sih dek, tuh liat Umi. Kamu berani emang?" "Umi?" "Iya tu, udah kayak macan betina kehilangan anaknya" Tunjuk Khadijah pada Syadza yabg sedang menatap mereka berdua dengan pandangan sebal. Gendut? Memang ada wanita yang suka dikata gendut? Pasti tidak, begitu juga Syadza yang kini berkepala 3. "Sudahlah sayang, Qilla hanya bercanda" "Tapi apa aku gendut?" Tanya Syadza pada Syauqi "Kamu?" "Iya aku siapa lagi? Emang kamu punya istri berapa?" "Astagfirullah, sini duduk dulu Khumairaku" Syadza duduk, tepat di sebelah Syauqi. Kemudian Syauqi meraih kepala istrinya untuk di letakan tepat di dadanya, "Jadi? Apa?" "Kamu memang lebih berisi dari 20 tahun yang lalu sayang" ucap Syauqi sambil mengusap kepala istrinya yang tertutup khimar hitam panjang. "Jadi Sya gendut kan?" "Mm, tapi tidak masalah. Kan Syanya Syauqi sudah punya satu putri dan satu pangeran jadi jangan khawatir" "Sya masih cantik kah Syauqi?" "Tentu saja, Aisya akan tetap cantik di mata Allah karena Takwa dan Imannya. Lalu Aisya akan cantik di mata Syauqi, Khadijah, dan Umar" "Ekhem! Berasa dunia milik berdua dan yang lainnya ngontrak, ya ngga de!" Teriak Khadijah yang sama bapernya melihat Syauqi begitu tenang mengontrol sang Zaujati kembali hangat. Syadza tersipu, wajahnya yang putih langsung memerah dan segera ia sembunyikan wajahnya. "Sekarang Khumairanya Syauqi pindah dulu ya, ada Khumaira junior yang sudah iri disana" tunjuk Syauqi pada Khadijah. Baper, itulah yang Khadijah rasakan saat ini. "Qilla sini" "Ngga mau ah" "Loh kenapa?" "Qilla bapeeer, Ayah ngga ngertiin Qilla ya sampe mesra-mesraan di depan kita ber dua gini. Qilla kan jadi pengen nikah yah, bukan ayah aja wkwk!" "Nikah tinggal nikah kok dibikin ribet." Jawab Umar spontan "Heh tengil!, kamu kira nikah kaya mau beli cilok depan g**g apa! Enak aja, nikah tu persiapannya banyak. Duit kudu ada, ilmu ada, hati juga kudu siap semuanya. Lagian nikah tu bukan melulu mesra-mesraan tau. Entah konflik sekecil aja juga tetep ada, namanya juga pemanis rumah tangga..." "Terserah ane dong, mulut-mulut ane kok kakak yang ribet" "Wah ngeselin," "Y!" Jawab Umar, Syadza yang melihat putrinya seketika terbayang kejadian dimana dia dan Syauqi berdebat karena pernyataan cintanya. Syadza begitu bersyukur Allah menyatukan keduanya. Maha Suci Allah. "Udah deh jangan berisik, sini kamu!" Tukas Syauqi dingin. Sementara Khadijah mulai mendekat dan duduk di samping Syauqi. "Dapat nilai apa nih ujiannya? Mata kuliah yang ngga kamu suka itu?" "Jangan manggil gitu ,.nanti Qilla baper loh. Lumayan si yah, dapet B" Syauqi terkekeh, Khadijahnya ini persis seperti Syadza istrinya ketika masih duduk di bangku SMA, begitu menggemaskan dan cantik meskipun sebenarnya bukan Syadza yang ada dalam diri Khadijah. "Jangan ketawa dong, Ayah ketawanya bikin Qilla deg-degan" Lagi-lagi Syauqi terkekeh, kini kekehannya berubah menjadi tawa. "Jangan ketawa yahhh!, ketawanya mengalihkan dunia Qilla ngerti nggak. Emang Umar, ketawanya sumbang banget bikin dunia gua mau ambles" "Jadi nilainya B,sayang?" "Iya Yah" jawab Qilla menunduk. "Ya sudah" "Kok ya sudah sih , kan biasanya Orang tua berharap anakny juara?’’ "Ya memang kenapa? Memang sudah hasilnya bukan?" "Iya Ayah tapi kan" "Tapi apa Sayang?" "Qilla dengarkan Abi. Kadang banyak yang berpikir jika pendidikan itu tidak penting. Rasanya hanya sebatas SMA, SMK, atau MA itu sudah cukup. Padahal waktu semakin berkembang dan jaman akan semakin keras, disitu kiamat sudah semakin dekat. Pendidikan adalah investasi dunia yang paling utama terlebih Pendidikan agama, Abi hanya tidak ingin kamu menyesal nantinya jika nilai ujian dan ijazahmu hanya sebatas rata-rata. Bukannya Khadijah Syauqillah ini punya mimpi untuk belajar lagi untuk jenjang s-2 di Jerman?" Khadijah yang mendengar itu hanya mendunduk, apa yang di katakan Syauqi memang benar adanya. Pendidikan bukan hanya sebatas background saja, melainkan lebih dari itu. Maasyaallah.... "Jadi? Mau lebih giat belajar lagi?" "Iyah yah, akan aku usahakan." "Alhamdulillah. Tapi dari semua yang Ayah katakana. Tetap harus mengutamakan kejujuran ya, jangan lupa menghargai proses yang sudah dilalui kalian masing-masing. Terus jangan lupa juga nih terimakasih ke diri sendiri karena sudah mau berkerja sama, oke. Jadi jangan terus disesali, tapi bangkit" jawab Syauqi mengecup kening putrinya, Khadijahnya sudah dewasa, ketika dulu Khadijahnya masih menangis dan senang sekali menarik Niqab yang di kenakan istrinya, Khadijahnya yang suka mengusili orang lain, dan Khadijahnya yang menjadi Hafidzah di umur tujuh tahun. Sungguh, Syauqi merasa bahwa Allah begitu memperhatikan hidupnya. Kekasih hati yang Shalihah, anak-anak yang Sholeh dan kehidupan rumah tangga yang sederhana namun indah baginya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN