Chapter 7
**
"Baik, kita lanjutkan lagi materi selanjutnya. Percakapan dalam.kehidupan sehari-hari. Tolong dengarkan yang saya ucapkan selanjugnya anda semua praktikan sebagai nilai tambahan. Saya harap semuanya praktik di depan dan minimal nilai B+, paham!"
"Paham!"
Suntuk, itulah yang Khadijah rasakan saat ini. Selain kantuk yang menyerang, bosan kini yang lebih dominan hingga melamun menjadi pelariannya. Tangannya jugatak berhenti mencoret selembar kertas yang sudah ia siapkan untuk pelampiasan, Rasanya malas sekali bagi Khadijah bertemu dengan mata kuliah ini, kejadian satu minggu yang lalu membuatnya malu sekaligus kesal.
Minggu lalu sebelum matkul dimulai Khadijah sudah berbaik hati mengembalikan Jas milik Ahmad. Tapi sang pemilik menolak karena kurang wangi katanya, dan saat itu juga Khadijah merasa ingin melempar Jas tepat pada wajah dosen kutub itu.
"Sst,"
"Heh toa rongsok"
Tidak ada jawaban,
Amel mengusap dadanya istigfar, sahabatnya ini memang seperti itu.
"Heh"
Tidak ada jawaban,
"Khadijah lemot!" Arrgh, batin Amel.
Khadijah menengok tepat pada arah dimana Amel duduk.
"Apa?" Ucap Khadijah lirih
Amel yang paham hanya merespon dengan mengarahkan telunjuknya tepat ke arah pemuda yang tengah menatap Khadijah dingin. Perlahan Khadijah mengikuti arah telunjuk Amel dan Deg!. Kedua pasang mata saling bisu satu sama lain, menatap dingin dan takut.
Skak mat aku, batin Khadijah setelah sadar dosen yang tengah menatap dingin dirinya.
"Zina loh pak" cletuk Khadijah sengaja,
Dalam batin, Amel mengutuk sahabatnya. Ada-ada saja, Ahmad diam, seluruh mahasiswa yang tengah mrngikuti kelas semuanya baik-baik saja, kecuali dia Khadijah. Dengan santai dan seolah baik-baik saja dia melamun, hebat sekali batin Ahmad.
"Baik, saya rasa cukup kuliah hari ini. Assalamualaikum"
Kelas selesai, padahal baru berlangsung sekitar satu jam, terlebih lagi malang nasib Khadijah yang kini di tatap seluruh pasang mata dalam kelas, banyak kalimat yang Khadijah dengar tapi hanya sebagai nyanyian lalu saja batinnya.
"Khadijah gila bener!"
"Ngga waras dia"
"Huhh gara-gara khadijah dosen ganteng jadi pergi"
"Khadijah nyebelin ya, calon imamku kan ngambek"
Dan masih banyak lainnya, tersadar dengan apa yang di genggam, Khadijah langsung berdiri menyambar tas dan jas. Segera berlari keluar kelas,
"Woi Khadijah! Belum selesai!!" Teriak ketua kelas,
"Iya nanti ana balik lagi!!"
Jawab Khadijah sambil berlalu mengejar dosen yang belum ia ketahui namanya.
"Hooh, Pak Dosen!!"
Ahmad tak menoleh sengaja, pikirnya kan dosen banyak disini, mungkin saja bukan dirinya.
"Bapak!!" Teriak Khadijah yang masih berlari mengejar Ahmad,
Sekali lagi,
"Pak! Jasnya udah wangii!!’’
Khadijah, panggil Ahmad dalam batinnya setelah mendengar kalimat Jas Wangi. Sementara Khadijah yang masih berlari tidak sadar jika dosen yang ia kejar sudah berhenti.
"Aduh!"
Khadijah menabrak punggung kokoh Ahmad,
"Ini punggung apa tembok sih pak, keras banget!"
Ahmad POV.
"Mundur" ucapku pada gadis yang menabrak punggungku.
Ck. Aku tidak suka jika tubuhku tersentuh oleh orang lain,
"Maaf pak," jawab gadis itu padaku, aku melihatnya berlajan mendahuluiku lalu berhenti setelah dia merasa jaraknya sudah cukup jauh dariku.
"Ini, Jasnya sudah wangi,’’
Aku meraihnya, tanpa mengucap apapun aku melangkah meninggalkan gadis didepanku yang saat ini melongo tak percaya,.batinku Peduli apa,
"Pak dosen?"
Rupanya dia menyusulku, saat ini dia disampingku. Dengan gamis dan khimar yang polos menjuntai panjang menututpi seluruh tubuhnya, bahkan lekuk tubuhnya tak terlihat, sayangnya gadis cantik ini tak berniqab. Astagfirullah, kenapa pikirku kesana.
"Hmm" aku menjawab seadannya, berusaha berjalan lebih cepat agar gadis ini jauh tertinggal, tapi ternyata tidak. Luar biasa
"Bapak ngga suka hujan ya?"
"Hm"
"Kenapa pak, Hujan itu asik loh. Belum pernah hujan-hujanan yah?"
"Hmm,"
"Ohh pantesan jutek, soalnya esnya nggak mencair kena hujan sih" kekeh gadis itu di sampingku, memang apa yang lucu.
"Berhenti, jangan mengikutiku"
"Hujan itu enak pak, bisa nangis gt, terus kalo mau teriak ngga akan kedengeran"
"Berhenti Khadijah"
"Lah kenapa? Kan Khadijah mau ngobrol"
Ck, rupanya gadis itu tidak tau jika dia tengah di tatap puluhan dosen disini,
Reflek aku menggerakan tanganku menuju papan bertuliskan ruang khusus Dosen. Dan ya, reflek gadis iti di luar dugaanku.
"Assalamualaikum bapak-bapak dosen," sapa Khadijah pada semua rekanku, mereka tersenyum terkekeh
"Khadijah pamit ya pak dosen, tapi kenalan dulu? Saya, Khadijah Syauqillah 20 tahun"
Aku menyiritkan alis bingung, untuk apa mengatakan umurnya,.memang penting?
"Ahmad Ats-Tsauri, 27 tahun"
"Ahmad?"
"Hm"
"Kok mirip kakek-kakek ya pak?"
"Jangan sembarangan ngomong kamu,"
"Hihihi, sensi amat. Assalamualaikum Ahmad"
Khadijah melangkah pergi, ku lihat khimarnya bergerak kanan dan kiri, tubuhnya meloncat-loncat sepertinya tengah bahagia. Aku tersenyum melihatnya, dann ritme detak jantungku mempercepat gerakannya setelah mendengar suara gadis itu memanggilku ‘’Ahmad’’.
"Ekhm, istrinya bro?" Tanya Zaenal, teman masa kuliahku di Al-Azhar, kami satu universitas dalam menjadi dosen. Dia sahabat yang maasyaallah, aku bersyukur memilikinya.
"Calon aja belum!" Jawabku cepat dan berlalu pergi kembali ke rumah sebelum hujan kembali datang,.karena mendung sudah menyapa.
***
Serupa hujan menggelapkan suasana
Ku pinta jadikan kau cahayanya
Serupa gemuruh di langit mendung
Ku pinta kau menjadi melodi penghangat jiwa
Dan, serupa hujan yang berjatuhan di bumi
Kan ku jadikan diriku tanah, agar kau tak menyesal telah jatuh lagi, lagi, dan lagi
-Hujan & Nafas Tauhid Khadijah-
-Created by @aisyadzahra_
***
Matahari yang hampir hilang di akhir pagi dipandangi Ahmad hingga tertampak jelas. Matahari di pagi hari benar-benar indah, namun tidak dengan kisah cintanya.Desau angin pagi hari membelai pucuk rambutnya, jalanan sudah tampak sepi hanya terlihat di sebelah barat dekat rumahnya ada sepasang kekasih tengah berbincang di balkon rumah mereka. Hati Ahmad teriris sekeitika.
''Ahmad,'' panggil wanita paruh paya pada Ahmad yang berdiri di balkon kamarnya.
''Ada apa? tumben sekali kamu tidak menghabiskan waktu di masjid?'' tanya nya pada Ahmad lagi.
''Ahmad sedang ingin disini,'' jawab Ahmad sambil tersenyum.
Jika saja Ibunya tahu pasti ia akan mengerti bagiaman mengatasi putranya ini patah hati dengan menaruh harapan terlalu jauh pada selain Allah, dan pagi ini Ahmad teringat kegiatan paginya bersama Asyifa yang sudah pupus dan tak akan pernah tervisualisasikan.
''''Ibu, dimana bisa beli obat patah hati?''
''Obat patah hati..." Ibu menyeringai lucu. Tanpa sadar Umi tertawa mendengar pertayaan putranya.
''Ibu tidak tahu apotek mana yang menyediakan obat patah hati. Tapi satu hal yang Ibu tahu, tempat dimana obat patah hati yang kau cari itu ya di masjid, bukan di balkon kamar seperti ini.'' jawab malaikat tanpa sayap ini lengkap dan halus terdengar.