Chapter 8

1047 Kata
Chapter 8 ** Ahmad bergeming, bibirnya terkatup rapat tingga tak satupun kata muncul dari bibir merahnya. Pandangannya kini menyendu pada matahari yang sudah bulat sempurna menandakan panas yang tiada redup seperti hatinya. ''Ahmad, setahu Ibu semua patah hati itu sama perihnya. Dan yang Ibu tahu, kamu pasti bisa menyembuhkannya. Kita punya Allah, yang punya banyak sekali obat di semua keresahan yang manusia ciptakan sendiri'' nasehat Umi sekali lagi. Ahmad tersenyum mengangguk lalu setelahnya wanita paruh baya itu undur diri dan membiarkan Ahmad bersiap diri bekerja yang sudah menjadi rutinitasnya. *** Di suasana lain yang sama menyendu… Khadijah memutar kembali perjalanan lima belas hari yang lalu saat kakinya berhenti tepat di keramik putih yang setiap ruangannya tercium aroma obat-obatan. Ia melamun setelah selesai bersiap untuk kuliah, masih rasanya tidak percaya dengan diagnose rahasia yang dikatakan pria ber umur dengan jas putih dan mengatakan jika yang ada dalam dirinya termasuk dalam turunan atau lebih jelasnya akan tetap ada jika ia punya keturunan. Rasanya masih tidak mungkin bagi Khadijah, mengingat kedua orang tua dan adiknya sehat-sehat saja dan tak ada riwayat apapun. Dan apa kedua orangtuanya itu tahu akan ini? Logika Khadijah mengatakan tidak, pasalnya mereka semua masih bersikap biasa saja. Dan yang paling membuatnya menangis tergugu adalah diagnose kehidupannya. Masih terasa aneh bagi Khadijah, hanya dengan selembar kertas bisa merubah hidup dan pola pikirnya seketika. Ia tahu jika Allah yang menciptakan hidup dan mati, dan ia sudah siap untuk keduanya. Kini, saatnya untuk bertakwa dan mencintai semua orang. Seusai melamun dan melirik jarum jam, ia segera turun menuju ruang makan dan langsung berpamitan untuk kuliah. Sebenarnya keluarganya menanyakan kenapa tidak sarapan? Ia hanya menjawab sedang tak ingin sarapan sama sekali. Khadijah mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan 60 km-80 km/jam,suasana hatinya tidak baik sama sekali. Setelah menghabiskan 15 menit waktu di perjalanan, ia sampai di kampus tercintanya lalu bergegas memarkir motor dan bertemu Amel dan selanjutnya waktu berjalan sebagaimana mestinya. Kegiatan Khadijah dan Ahmad berjalan mulus karena keduanya tidak bertemu mengingat jadwalnya bukan hari ini. Setelah itu dengan suasana dan tempat yang berbeda ponsel keduanya berdering bersamaan menandakan sebuah pesan masuk. Ponsel Khadijah From Aira ‘’Lilla, assalamualaikum… Lilla, nanti sore bada Ashar tolong datang ya ke rumah Syifa. Alhamdulillah hari ini ada syukuran dan aku mau sahabat aku datang. Oiya jangan lupa ajak amel. Sampai ketemu Lilla!’’ Setelah mendapat pesan itu Khadijah yang bersebelahan dengan Amel di dalam kelas langsung menyuguhkan ponsel di hadapan amel dan menahan nafasnya seketika, jika datang ke rumah Syifa otomatis ia akan bertemu dengan suami Syifa yang notabenya mantan lelaki yang pernah ia sukai atau lebih cenderung cinta monyet, ah tapi tidak masalah bagi gadis ini karena baginya persahabatan jauh lebih penting dibandingkan rasa perih di balik kulit serta tulang dadanya. ‘’Lo dateng?’’ tanya Amel ragu. ‘’Ya dateng lah Mel, masa di undang syukuran temen kita sendiri ngga dateng sih,’’ ‘’Iya gue ngerti, tapi bukannya?” ‘’Ah itu mah ngga masalah Mel,’’ ‘’Tapi kan lo?’’ tanya Amel sekali lagi pada Khadijah yang memaksakan senyumnya. ‘’Iya-iya makasih banget Amel sayang sudah perduli, tapi bukan itu sekarang poinnya. Syifa sedang Bahagia, dan untuk Husain aku sudah tidak terlalu sensitive. Lagipula yang tahu ceritaku dan Husain itu aku dan kamu Mel, oke!’’ jelas Khadijah meyakinkan Amel semampunya. Gadis itu tahu jika Amel masih khawatir tentang harapan yang diucapkan Husain lewat surat yang pernah di berikan kepada gadis itu. ‘’Tapi lo yakin?’’ ‘Banget!’’ jawab Khadijah bersemangat. ‘’Ya udah yu, lo balik dulu ke rumah gue. Sekalian pamit sama Umi dan Abi,’’ ‘’Yuk!’’ *** ‘’Assalamualaikum Mi, Abi!’’ ucap Khadijah dan Amel bersamaan. ‘’Waalaikummusallam, eh Amel!” seru Syadza selaku Ibu Khadijah yang langsung memeluk dan menyalami Amel. Keduanya memang sudah akrab karena Amel, Asyifa dan Khadijah berada di satu pelatihan yang sama pada saat itu/ ‘’Pada mau kemana nih?’’ tanya Syadza ‘’Ini Umi, Saya sama Khadijah ma uke rumah Syifa. Katanya hari ini ada syukuran,’’ jelas Amel sopan. ‘’Ooh iya. Tadi ayahnya Syifa juga sempat telfon Abinya Khadijah supaya mengizinkan kalian pergi,’’ Khadijah dan Amel bernafas lega setelah mendengar penuturan wanita cantik ini. ‘’Ya sudah sana kalian siap-siap, nanti Umi juga nitip ya buat Uminya Syifa juga Uminya Amel,’’ ‘’Iya mi, kalo gitu Qilla sama Amel ke kamar dulu,’’ Keduanya sudah hampir menaiki tangga untuk menuju ke kamar, tapi di hentikan lagi oleh Syadza. ‘’Eh sebentar, kok Ibu baru tahu ya Syifa sudah menikah? Kok kalian ngga cerita sama Umi?” kata Syadza bingung. Khadijah membuang nafasnya lemas, ia menjawab dengan pelan dan mendekati Syadza. ‘’Ibuku sayang, kita ber dua juga baru tahun kemarin, karena memang Syifa baru akad dan belum resepsi. Mungkin masih rahasia, dan hari ini baru akan di umumkan. Maafin Qilla ya bu,’’ ‘’Oh begitu, ya sudah kalian siap-siap,’’ ‘’Lah orang Ibu yang nahan kita terus kok,’’ gerutu Khadijah dianjut Amel yang tertawa. Suara knop pintu membawa mereka masuk ke dalam kamar bernuansa putih dan keduanya juga dikejutkan dengan pakaian yang sudah menggantung di depan lemari kayu besar. Pakaian dengan burkat mewah yang tetap didesain syar’i terpampang cantik dan nyata di depan Khadijanh dan Amel. Gamis berwarna silver dengan burkat Mutiara dan khimar pashmina itu adalah desainnya ketika membahas pakaian bridesmaid Bersama Husain. Dan ini nyata terjadi tapi bukan ia yang memiliki hajat, melainkan Husain dengan wanita lain. ‘’Wah! Gilaa! Ini keren banget gaunnya, kita pakai ini?’’ tanya Amel antusias. ‘’Iya pakai,’’ ‘’Wah! Jadi semangat dah gua. Gue ganti baju dulu, oke!’’ ‘’Iya mel, aku tunggu ya. Jangan lama-lama.’’ Setelah selesai memperindah diri, Amel dan Khadijah berangkat Bersama diantar sopir pribadi Syauqi menyusuri jalanan sore hari. Keduanya sampai di depan rumah desain belanda dengan cat putih, halaman tamannya sudah dihias sedemikian indah dan rasanya ini bukan syukuran biasa. Bisa jadi ini adalah acara resepsi singkat outdoor. Khadijah Pov. Aku tiba di kediaman Syifa dan keluarganya, di rumah ini kami biasa menghafal dan murojjah Bersama. Tapi aku masih tak menyangka jika kini aku bersinggah di tempat ini bukan untuk itu, melainkan untuk menghadiri pernikahan yang Bahagia bagi Syifa dan Husain. Halaman rumah mewah Syifa didesain dengan cantik, pesta resepsi outdoor ini sangat anggun. Jujur aku menyukainya dan terheran-heran, mungkin jika aku menikah bisa ku tanyakan pada syifa WO mana yang digunakan ehe.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN