Chapter 9

1016 Kata
Chapter 9 ** ** Aku mencoba bersikap biasa saja dengan tanganku yang digenggam Amel kuat, memberikan kekuatan dalam jiwa dengan diam. Aku mencoba berdiri tegak di anatara ratusan orang yang tengah berbahagia, aku mengatakan ini bukan berarti aku tak Bahagia dengan sore ini. Aku hanya merasa sedikit canggung dengan nama lelaki itu di setiap sudut, dan aku hanya sedang bingung memikirkan bagaimana aku harus bersikap jika bertemu dengannya atau sekedar mengucap salam. Aku dan Husain bertemu dalam sebuah majelis di kota X, kami terlibat dalam satu panitia di berbagai kegiatan majelis shalawat. Kami kompak, dan banyak yang mengatakan kami sangat serasi, karenanya kami lebih banyak berkomunikasi banyak hal baik agama, akhlak, keseharian kami, dan banyak lelucon lucu lainnya. Aku merasa hidupku lebih lucu setelah kehadiran Husain lalu sempat aku berpikir jika Husain adalah salah satu dari warna dalam perjalanan hidupku. Tapi sekejap, warna merah hati kembali menghitam setelah kami dekat dengan berbagai hal bahkan tentang serupa hari ini. Ya, pernikahan. Kami pernah membahasnya dan pernah lelaki itu mengatakan berniat menemui Abi tapi nyatanya semua omong kosong. Semua hal yang kami persiapkan dengan lucu akhirnya ter realisasi hari ini namun tidak denganku. Ck, aku hampir dibuat menangis mengingat ini dan aku hampir saja membuat celak mataku luntur. Berusaha santai dan santai, aku mencoba santai dan tersenyum lalu setelahnya aku dan Amel berjalan mendekati Syifa yang tak ditemani pengantin prianya. Aku melihat raut Bahagia Syifa yang begitu ayu, dengan polsean make up natural. Syifa tersenyum melambai ke arah kami. Syifa dengan gaun putih beraksen burkat Mutiara dan sedikit sentuhan berlian beberapa karat sepertinya, khimar yang tetap menutup d**a dan bulu mata yang lentik tanpa manipulasi bulu mata, dengan semua itu Syifa sangat cantik. ‘’Fa!!!’’ teriak Amel dengan khasnya. Bagi kami, Amel adalah pusat energi di pertemanan ini. Ia yang selalu membawa kesan ceria meskipun tahu salah satu di antara kami berduka. Aku sanat bersyukur Allah mengirimkan malaikat gendut ini. ‘’Haii!! Amel, Khadijah!’’ saut Syifa tak kalah Bahagia. Kami saling memeluk setelahnya,berbincang seperlunya dan aku sama sekali tak melihat kehadiran Husain, huh aku sangat bersyukur. Ah, rupanya setelah aku berpikir demikian Husain datang tak lama dengan setelan Tuxedo yang aku desain ketika itu. Dia tampak manis dan gagah, beruntungnya Syifa. Kehadiran Husain membuatku berdiri kaku, tangannku gemetar dalam genggaman amel. ‘’Hai!’’ sapa Amel. Sapaan Amel menyadarkan Syifa akan kehadiran pasangannya. ‘’Eh mas, kenalkan mereka sahabatku. Dia Amel dan dia Khadijah,’’ Aku sama sekali tak melihat wajah pria ini, Gugup rasanya maasyallah, bagaimana aku harus bersikap saat ini. Sebenarnya, Syifa tak tahu menahu tentang pertemanan aku dan Husain karena aku sangat menutupnya rapat dan hanya Amel, dan Allah yang tahu. ‘’Oh hai, salam kenal. Saya Husain Al Attas.’’ Kata lelaki itu. ** Aku memilikimu sebagaimana engkau selalu berada dalam jiwaku Aku menjagamu sebagaimana aku mengharapkanmu untuk bersamaku Dan aku mencintaimu sebagaimana dpáku pada Tuhanku Namun bagaimana? Bila Tuhan menakdirkan kita tak bersama Akankah garis takdir yang terukir di telapak tanganku bisa mengubah sesuai yang aku inginkan? Tuan? Aku tak meminta engkau menjadi bagian dari jiwaku dengan apa yang telah terjadi Tapi bisakah engkau keluarkan aku… Dari semua hal tentang dirimu **** ‘’Eh mas, kenalkan mereka sahabatku. Dia Amel dan dia Khadijah,’’ Aku sama sekali tak melihat wajah pria ini, Gugup rasanya maasyallah, bagaimana aku harus bersikap saat ini. Sebenarnya, Syifa tak tahu menahu tentang pertemanan aku dan Husain karena aku sangat menutupnya rapat dan hanya Amel, dan Allah yang tahu. ‘’Oh hai, salam kenal. Saya Husain Al Attas.’’ Kata lelaki itu. Haha, batinku tertawa. Bagaimana lelaki ini bisa bersikap biasa saja dan tidak mengenalku. Tapi tak masalah bagiku, dia tidak lebih dari seorang sampah saat ini. Memang pada nyatanya aku yang dicampakan, dan mulai hari ini aku akan balas dendam dengan caraku. Jadi Husain yang terhormat, Husain yang masih aku cintai, tunggu saatnya. ‘’Khadijah,’’ kataku. ‘’Nama yang bagus,’’ kata Husain. Cih, masih sempat dia berkata demikian. Aku yang tertunduk dengan wajah dingin mulai tersulut, emosiku tidak stabil dan bersyukur Amel mengalihkan perhatian. ‘’Gue Amel,’’ kata Amel sinis sementara Syifa masih tidak menyadari keadaan saat ini. ‘’Fa, gue sama Lilla cek out dulu, udah laper nih.’’ Kata Amel sekali lagi dengan tatapan sinis yang tertuju pada Hasan. ‘’Oh oke… Kalo gitu aku sapa undangan yang lain dulu ya… bye’’ kata Syifa. Amel membawa Khadijah ke taman sedikit jauh dengan keberadaan Syifa, sejenak mereka merasa lega meskipun kedua hati gadis ini sama-sama ingin membasmi lelaki sepeti Husain yang meninggalkan Khadijah tanpa alasan dan pergi begitu saja alias Ghosting. ‘’Gila ya! Husain masih aja nge gombal! Untung aja Syifa lemot,’’ ‘’Ssst, gak baik bilang gitu Mel.’’ ‘’But, are you okay?!’’ kata Amel pada Khadijah yang masih menatap pria gagah dengan Tuxedo impianny. ‘’Im okay, tapi aku masih ngga bisa berpikir. Apa kesalahanku, alasan dibalik semua ini, dan bagaimana bisa Syifa yang teribat. Aku ngga bisa berpikir, bagaimana aku masih bisa ngeliat Husain tanpa malu dan masih beum bisa nglupain Husain. Dan aku yang gila, bukan Husain.’’ ‘’Tapi La… Seharusnya Husain ngga sejauh ini bohongin lo…’’ Emosi Amel. ‘’Mel, sejauh ini Husain ngga salah apapun. Dia ngga banyak ngasih harapan ke gue. Gue salah, bukan Husain… Oke? Sekarang kita makan yuk!’’ kata Khadijah riang yang sebenarnya ia tak ingin Amel terlibat kesedihannya. Dan itu sangat merepotkan. ‘ ‘’Yuhu!!!! Lets go honey!’’ semangat Amel. Keduanya berjalan beriringan dengan senyum riang yang tiada henti. Bahkan semua orang yang menatap Khadijah karena kecantikannya tidak akan pernah tau bahwa hati gadis ini tengah remuk. Disisi lain… Husain sesekali melirik ke arah wanita yang ia cintai hingga saat ini, senyumnya, semua hal yang ada pada gadis itu menjadi candu yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Lelaki ini sedikit tersenyum di balik wajahnya yang dingin dan kaku. ‘’Khadijah… maaf’’ kata Husain dalam hatinya. Sejauh semua ini terjadi, Husain hanya mencintai Khadijah dalam dirinya. Bahkan Tuhan tau jika wanita itu sudah berkali-kali ia usahakan untuk menjadi pendampingnya. Tapi rupanya tuhan berkehendak lain dengan takdirnya. Ia menginginkan yang lain dan terbaik untuk Husan, yaitu menikai Syifa, putri dari mitra bisnis keluarganya. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN