Rasaku Padanya bagai Internet Spesial ( INDOMIE Goreng TELOR KORNET)
Part.1.
Written by dewienovie.
***
Tahun ini akhirnya wisudaan juga, Pagi ini udah didandanin cantik sama MUA panggilan mamah walau dananya hasil mamah gempor nyari honor dari tulisannya. Yap, akhirnya setelah ngejar - ngejar dosen tanpa ampun dan dikerjain tiap sore dadakan pula reviewnya, hari D day yang ditunggu datang juga. Kenalin aku Theresa Aulia Putri, anak semata wayang, hmm. dihari wisuda aku yang masih Jomblo, rasanya beda banget ya. Kalo ternyata kita hanya bertiga foto wisuda, mama, papa, dan aku saja tanpa yang disebut si " Ayank". Udah lama banget setelah lose kontak sama namanya si Ayank yang kuliah dijogya dan mungkin ketemu sama cewek jogya yang ayu dan cantik melupakanku seketika yang udah berpartisipasi ngirimin uang kost selama doi di jogya, kadang - apa - apa minta dibeliin buat keperluannya di kosan. Hah.., menyedihkan. Kulalui hari biru yang ngak pasti mirip ketidakpastiaan selama covid pandemi dua tahun ini. Pada Era VUCA ( Volatility Uncertainly Complexity Ambiguity) dan penuh keambiguan akhirnya lulus juga, walau selama ini kuliah online dengan sampingan jualan masker dan hand sanitizer dadakan ala homemade.
Aku anak FMIPA lulusan universitas ternama dibogor, dan siap sih yang gak tau Universitas IPB, ya.., karena pandemi kita lalui tanpa ngobrol lagi dikampus atau sekedar jajan di sekitar area kampus. Kini setelah lulus kayaknya wajib banget buat nyari kerjaan yang sesuai passion, tapi.." Kerjaan ternyata gak segampang membalikan telapak tangan. sebelum lulus udah sana sini kirim lamaran via portal dan seleksi onlinee selalu gak lulus karena fresh graduate.
" Mah, aku ada panggilan kerja.." Teriaku histeris jingkrakan dari ruang tengah menuju kamarku , melihatkan ponselku dan email panggilan dari salah satu lowongan yang dipublish pada portal job ke mamah yang lagi beresin sepre kamarku. " Akhirnya aku keterima jadi content creator, mah." Teriakku lagi, tubuhku meloncat - loncat girang di tempat tidur bersama mama yang lumayan erornya sama aku, karena mamaku seorang penulis yang punya banyak ide dan karakter di kepalanya jadi ngikuin alur imaginatif aku juga deh lonvcat kayak anak - kecil di tempat tidur.
" Wah hebat kamu, Ther.., tapi bukanya jurusan kamu kimia apa gak seharusnya kamu melamar jadi.."
" Data analyst. mah.." cetusku singkat sambil manyun kek tutut.
Mama mengangguk,
Aku masih diam berfikir kayaknya belum waktunya buat jadi seorang data analis saat ini, posisi yang aku inginkan masih belum kudapatkan karena fresh graduate. Rasanya nyesek sih tapi gapapa deh, kerja apa dulu ajah biar punya pengalaman kerja ajah, sambil nyari perusahaan yang lebih bonafid atau international buat melebarkan sayap kedepannya, kata mamah pamali kalo nolak rezeki pertama, harus dijalani dulu. walau gajinya masih standar ajah.
Mamah udah jalan ke dapur dan keliatan didapur lagi goyang - goyang dangdut sambil bawa centong nasi ditangan kanan dan panci mie ditangan kiri, geol kekanan dan kiri mirip mba inul daratista, atau entah mau masak mie atau mau ngapain atau juga lagi mikirin naskahnya buat lanjutin karakter lain cerita si mamah, lucunya punya mamah yang kocak dan ngak diktator kayak ortu laen, mamahku bisa gaul ala roker, pedangdut, atau ala kpop. keknya si mamah punya banyak imaginatif luar biasa dikepalanya, karyanya udah banyak numpuk di aplikasi novelnya tapi entah kenapa? karyanya masih belom bisa tembus ke pak Manoj Punjabi, ya..., supaya bisa dijadiin film layar lebar ataulah iklan. Pikirku dalam hati.
***
Hari kerja pertamaku, pertama subuh ini aku sudah dandan rapi setelah lulus dari interview online, waktu itu yang interview adalah HR disana namanya bu Aletta, salah satu perusahaan Startup. Udara kutarik dari hidungku seketika melihat langit masih biru muda dengan matahari yang malu - malu untuk keluar, lalu kuhembuskan pelan, duduk di dekat jendela dengan memandangi jalanan rel kereta api . Naik kereta saat ini udah lumayan enak dan nyaman. Jam 7.35 wib Hariku menginjakan kakiku ke gedung abu penuh dengan kaca, dengan bantuan lift naik ke lantai 7 untuk sampai dimana tempat kantorku beroperasi.
" Pagi, ini hari pertamaku kerja disini, Salam kenal." Jantungku degdegan memperkenalkan diri keruangan para kreator, mereka hanya senyum dan juga ada yang membalasnya dengan ucapan selamat datang, wajah mereka terlihat kusut seperti belum mandi, ataukah memang mereka gak pulang kerumah dan menginap dikantor, karena kondisinya kantor modern dengan konsep millenial, tapi banyak sampah di meja mereka dan kasur santai dipojokan. Senyum kecilku melebar dan mengembang lalu dan duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh bu Aletta, ia senior manajerku di tim kreator, Ia sudah menyiapkan beberapa materi yang harus dibuat konsep dan laptop yang sudah disediakan dimeja. Seharian ini kembali kurapikan poniku dan kacamata seketika untuk bersiap berperang dengan konten dan konsep yang akan di iklankan di berbagai media sosial mereka.
" Baiklah.." Semangatku membara ketika mendapat kerjaan pertamaku. Bibirku mengembang ketika imaginasiku saat ini adalah sebaik mungkin bekerja agar menghasilkan uang yang banyak untuk bisa liburan ke korea. Hatiku tertawa bersama wajah idola K-pop ku disana yang sudah melambaikan tangannya untuk makan tteobokki disana dan jajan jajangmyeon. Hatiku tertawa bahagia.. betapa gembiranya aku bisa pergi ke korea, nongkrong ke sungai han atau sekedar foto ke tempat Historinya korea, hampir saja aku berjingkrak - jingkrak menahan seluruh tubuhku bersorak dan meledak - ledak akhirnya bisa nabung pakai uang sendiri
" Pergi ke Korea...!!!" seruku dalam hati.
_______
Sebulan sudah aku bekerja, bolak balik bogor - jakarta yang melelahkan tidak membuatku ingin kost disana, pasti kalau aku minta kost disana mamah kesepian karena gak ada yang bisa diajaknya ngobrol atau tuker pikiran tentang bagaimana nasib karakter ceritanya, terus pasti boring juga ngekost gak punya temen karena aku itu orang yang introvert, gak pandai bergaul apalagi ngedeketin cowo, tim kreator selama sebulan ajah cuman bisa kenal sama si Yumi doang yang lain sibuk dengan dunia mereka.
waktu sudah menunjukan pukul 12.00 wib, jamnya makan siang, yang lain pesan makan lewat pesan antar dan kopi shop mereka di aplikasi, mungkin uang mereka juga cukup buat jajan mereka beli pakai dompet digital, tapi uang saku ku kayaknya gak bakalan cukup buat beli itu, tunggu tanggal gajian yang hanya tinggal 5 hari lagi serasa sangatlah lama, sudah sebulan ini minta mama memberikan uang ongkos itupun ia berikan hanya secukupnya, sisanya aku harus berjuang sendiri ucapnya.
" Harus hemat." desisku dalam hati, menggebu ketika liat uang ongkos tinggal 50ribu.
Aku menarik nafas, bagai cerita korea didalam drama Startup, khayalanku mulai liar ketika membayangkan pertemuan dengan
Do San, Saat itu pikiranku kosong hanya suara perutku yang berdendang suara keroncong memanggil tukang baso atau somay dulu deh buat ganjel perut, tapi cuman dalam khayalan saja, nyatanya kaki ku berjalan dan turun melalui tangga bukan naik lift untuk ke lantai dasar.
Tuk..Tuk..Tuk..
Suara langkah kaki dari seseorang dihadapanku,
Mataku masih memandangi pria kira - kira umurnya 35 tahunan masih muda dengan setelan jas dan kemeja merah muda dengan celana jeans mirip Do San yang ku bayangkan dalam khayalan, entah kenapa pengen banget jingkrakan ketemu pemain Nam Do San atau nama aktornya Nam Joo Hyuk. Coba bayangkan akulah Bae Suzy menjadi Hye mi, dengan dandanan ala artis idolaku setelan blazer abu - abu dengan celana jeans rawis dengan rambut pendek sebahu dan ekor kuda. Do San dalam khayalanku sedang menyapa dan senyum hangat membuatku melted seketika, ia menyapa dan senyum melihatku dibelakang yang sama sedang menuruni anak tangga menuju lobby.
Deg..Deg..
Jantungku berdebar seketika.
Aku kembali menarik nafasku, tapi kali ini spontan berdesah "Akh..." setengah berteriak. Pria itu langsung melirik kebelakang, ia menaikan alisnya sebelah dengan bibir yang masih mencucut, sedangkan aku hanya bisa senyum kecil padanya tanpa salam.
" Mau turun." Ucapnya ketus.
Aku mengangguk. ia memberikanku jalan agar aku berjalan lebih dulu.
" terima kasih."
langkahku sengaja dipercepat untuk turuni tangga, tapi di pintu tujuan, malah pintunya gak bisa dibuka sama sekali bikin gelisah, aku menarik gagang pintu darurat itu tapi beneran keras banget . " Engselnya gak rusak, Kan? " celetukku. Cobalagi ku tarik pintu itu dengan kedua tanganku dengan kuda - kuda yang siap untuk tarik tambang pintunya masih belum terbuka.
Tapp
Langkah pria itu berakhir di anak tangga terakhir hingga aku meliriknya dengan tatapan Spechless minta tolong. Pria itu bertanya apakah aku bisa membukanya tapi wajahku menunjukan dan hanya menggelang kepala. Ia mencoba membantu menariknya sekuat mungkin, tapi benar pintu daruratnya terkunci.
Ia mengangkat kedua bahunya menyerah, bibirku langsung manyun.
Aku menarik nafas lagi.
" Ah, capek - capek turun malah gak bisa dibuka, perasaan kemaren bisa lewat sini." Kesalku, masih mengedor pintu lalu duduk di anak tangga terakhir, masih kuatur untuk bernafas kembali lalu naik ke lantai 7. " Gimana sih. ini.." ringisku menahan perih perut yang mulai keroncongan.
" Hei, Sudah baik difasilitasi lift, dan itu diciptakan untuk dipakai, kenapa pakai tangga kalo ada lift yang sudah disediakan." ketusnya, sambil membuka ponsel miliknya entah nelpon siapa, ia serius sekali dan terlihat kesal juga.
" Mana gue laper ini, harus naik lagi." aku mengacuhkan perkataannya tadi langsung naik lagi ke tangga untuk naik lift. ya sih, kenapa gak naik lift ajah, tadinya naik tangga biar gak ketemu sama teman yang nantinya mo ngajakin ke caffe atau resto terdekat.
" Hei.." Teriaknya memanggil dengan suara bass nya " Bentar lagi dibuka, tunggu saja.."
Aku menghentikan langkahku lalu, kembali turun dan duduk di tangga terakhir menunggu sekuriti membukakan pintu, sambil menunggu, kuputar lagu idola k-pop lewat video youtube tanpa headset. tanpa kusadari Pria itu cengengesan liat aku lipsing suara mereka, aku meliriknya ternyata benar ia menertawaiku dan membuatku malu dan langsung menutup video itu dan memasukan ponsel kedalam saku blazer.
He..he
Gigiku melebar kearahnya ketika ia senyum cengengesan liat tingkahku yang masih pecicilan kayak anak baru lulus SMA.
" Bagian apa?" Suara maskulinya kini muncul tiba- tiba dengan nada yang berat. " Kayaknya baru liat." ia menelakan wajahku seketika.
" Tim Kreatif." jawabku singkat lalu permisi mendahuluinya keluar dari pintu darurat dan menuju lobi ke arah parkiran. Aku memukul kepalaku karena tadi itu diketawain sama cowo yang belum ku kenal sama sekali, malu dong pastinya wajahku udah kayak udang rebus yang siap dimakan enak.
" kabur.." desisku. Percepat langkah setengah berlari menuju parkiran luar lobi.
Langkah kakiku sangat cepat, karena bunyi perutku lebih keras dibandingkan bunyi telepon ponselku saat ini, ia berdendang bukan lagi musik dangdut tapi udah jadi musik rock yang siap teriak bahwa ia sangatlah lapar.
Lima langkah lagi setelah menyebrangi kantor dan berbelok ke perempatan ada gang ojek kecil dengan warung mie dan gorengan disana. Tujuanku sudah terlihat, sebenernya aku ngak nyaman disana, tempat dimana banyak bapak - bapak ojek dan kernet supir yang suka sekali mangkal disana sekedar makan mie atau minum kopi dengan makan gorengan.
" Pesen Internet bang, Biasa.." kulihat dari menu spanduknya yang ditempel di dinding pojokan belakang etalase.
" Siap neng." jempol si abang langsung terbang kearahku.
sambil menunggu si abang datang sama internet dan esteh manis, aku membuka ponselku dan kembali ngabarin mamah, kalo hari ini menunya internet, karena mamah ngak mgasih uang saku lebih.
" Ini neng Internetnya.." siap si abang bawa piring Indomie goreng pesananku yang wangi dengan kornet diatasnya dengan goreng bawang renyah dan sayur sawi. Panas- panas diaduk aromanya nyess..banget, siapa yang gak kegoda sama bau mie goreng indomie ini coba, dari jaman aku kecil sampe sekarang siapa yang bilang bosan makan mie, itu bohong banget. Bosan sehari besok kalo gak ada makanan pasti lo nyari mie disaat krisis dan kondisi laper begini. Apalagi dicampurin kornet yang digoreng setengah mateng pakai bawang bombay dan aroma merica yang wangi banget. dan mie goreng yang enak banget. paduan pas walau dikasih toping telor dan kornet.
" INTERNET..." ceteus pria asing yang tiba- tiba duduk disamping tanpa permisi.
Aku meliriknya, pria yang duduk disampingku adalah pria tadi yang sama dipintu darurat, ia melihatku dengan suapan dan mie yang bergelantungan dibibirku dan siap ditarik kedalam mulut seketika. aku ngak bisa lagi ngejawab pertanyaannya hanya mangguk saja karena mulutku penuh dengan suapan mie pertamaku.
liat wajah innocentnya polos dengan tatapannya.membuatku tersedak seketika.
" Uhuk.." Aku menepuk dadaku langsung ditambah dengan minum esteh manis segera dan menelannya lalu kembali minum.
" INTERNET, gak ada diwarung ini." cetusnya kembali.
Aku melihat wajah siabang nyengir dan aku pura - pura nyembunyiin tawaku seketika. mulai ngangguk ajah dihadapannya.
" IN_TER_NET itu INDOMI _TELOR_ KORNET, kang.."jelasku dihadapannya, lalu kupamerkan sepiring mie dihadapannya dan kembali kusuap lagi kemulutku untuk mengisi perut yang masih memanggil mie itu untuk masuk.
" Kalau Gitu aku mau satu, bang ." Ucap Pria tadi. " Sama capucino satu."
" Siap, Mas."
Wajahnya dan tampangnya memang innocent banget ya, biasanya potongan lelaki gitu pantesnya nongkrong ditempat Caffe shop atau di restoran, dan ngak pantes ajah dia ikutan nongkrong di warung WARMINDO begini, sesak jubelan tempat duduk kanankiri kayak bangku angkot dengan aroma yang becampur asap knalpot dan bau keringat orang - orang dan kipas angin yang udah tebel banget debunya. Ditambah tisu yang disiapkan bukan tisu makan melainkan tisu toilet gulung yang disimpen dimeja.
" Ini mas"
Hanya butuh lima menit pesanannya datang, lima menit itu juga pesananku sudah ludes. Ia cengengesan dihirupnya seketika indomie pesenannya ia seperti makhluk alien yang datang ke bumi dan tidak pernah makan mie, makanan rakyat seperti ini. lalu cara makannya benar - benar aneh, ia menyendoknya ala italia prancis, makan spagetti. kayaknya Do San dalam khayalanku lancar banget makan mie pakai sumpit.
" Nice.." celetukku spontan, baru saja khayalanku jadi kenyataan Nam jo hyuk makan Indomie internet disebelah, jadi gak perlu jauh - jauh ke korea dulu.
" Perfect.." Celetuknya.
" Good, Apa menu ini baru, mas makan?" tanyaku penasaran.
Ia senyum, dan terus menyendok mienya hingga habis. aku memandanginya takjub, kukira yang lapar hari ini cuman perutku tapi kulihat dirinya lebih lahap dan cepat menghabiskan mie ini. Ialu diseruputnya kopi capucino miliknya.
" Berapa Totalnya?" tanya pria itu langsung berdiri. " Sama dia juga.." tunjuknya kearahku
" Tiga puluh ribu, mas."
Pria itu bengong nominalnya hanya 30ribu. lalu ia kembali menghitung warga yang makan yang ada diwarung mang Aji. " Tambah 5 orang disini jadi berapa, bang ?
Mang Aji pemilik warung menghitung apa saja yang dimakan 5 orang yang sedang makan, ia menghitung dengan kedua jarinya dan berfikir sejenak.
" Seratus lima puluh lima ribu.." jawab mang Aji.
Pria itu langsung memberikan lembaran seratus dan limapuluh ribu rupiah dan langsung pergi meninggalkan warung dengan ucapan banyak terima kasih dari pelanggan warung yang masih makan disana dan akhirnya mereka nambah minta gorengan dan kerupuk lagi.
Aku masih diam memandang punggungnya, ia memang seperti Do San dalam drama korea Startup. " Keren banget.." desisku dalam hati hampir meloncat. dan akhirnya uang limapuluh ribuku utuh untuk pulang, karena si Yumi mau ngajakin bareng pulang ke Bogor pakai mobilnya.
Rasaku padanya memang seperti Indomi Telor kornet, ( INTERNET ) mengantarkan sinyal tercepat yang kutangkap lewat wajah dan hatinya. Ia begitu sederhana dan murah hati, membayarkan makanan kami semua disini yang mayoritas kelas ekonomi bawah. membuatku meleleh seketika.
" Do San.." desisku mengaguminya entah siapa namanya dan dimana tim nya, ngak mungkin juga tiap lantai kudatangi hanya untuk bertanya siapa pria itu? apakah masih lajang ataukah sudah menikah. kupanggil untukku dia adalah Do San.
_____________
Hari ini hujan, kembali dari jakarta dan tiba di bogor sudah menunjukan waktu 19.00 Wib. Pandanganku tertuju kearah langit yang sudah mulai menghitam tanpa bintang dengan rintik hujan salju yang membuat kuliku kedinginan tanpa jaket dan payung. Tubuhku mulai menggigil setelah keluar dari Stasiun, entah ada angin apa, kali ini kakiku ingin sekali duduk dulu ditaman sempur untuk menikmati malam mingguku yang kelabu, Sudah beberapa bulan setelah diterima kerja hanya pria itu yang selalu menggelayuti pikiranku, meskipun itu hal yang mustahil untuk digapai, ia ternyata CEO ku, yang sudah bertunangan dengan anak golongan atas, dan cincin tunangan mereka membuatku sangat iri.
Aku menghela nafas panjang, ketika CEO ku yang bernama YoSan, seperti Do San dalam khayalanku telah mematahkan hatiku sekaligus, Ia sering sekali memanggil untuk meeting bersama dan makan malam tim. Ia sering sekali minta bantuanku untuk project - project yang sedang dikerjakan bahkan membantu menganalisa data pasaran. Tatapannya selalu membuatku risih, ada binar yang membuatku meletup - letup, ada senyum yang selalu membuatku jantungan. Entah kenapa harus mencintai dengan sebelah tangan seperti ini, Ia sangat Humble, Makan ke warmindo pun ia suka mengikutiku, bahkan ia selalu mentraktirku makan.
" kenapa tak makan saja, di caffe atau restoran seperti yang lain." Rutuku dalam hati. " Tau gitu gofod ajah kalo gini.".
Ada hati yang mencelos ketika siang ini makan siang dengannya, Aku tak lagi makan INTERNET. Karena mengingatkanku padanya pertama kali kita bertemu. Siang ini Aku hanya makan Mie soto Kuah ditambah telur dan sayur dengan potongan cabe rawit dan kerupuk. Tapi sayang nya suasana hatiku rusak ketika ia ikut duduk di hadapanku dengan memesan Mie yang sama lagi. Ia menebarkan senyuman yang selalu membuatku jantungan, lalu menanyakan beberapa project yang dia berikan sudah rillis ataukah masih setengah jalan.
" Udah riliskah, yang aku berikan?" tanya Yosan.
Aku mengangguk saja sambil menyendok mie dan makan dengan tenang, Lima jari kirinya diletakan di meja, mengalihkan pandanganku seketika melihat cincin putih dengan permata, membuatku tersedak.
" Kok nangis?" Ucapnya spontan memberikan tisu.
" Kepedesan, pak. Keselek.."kilahku.
" Hari Ini aku juga mau kebogor? mau skalian bareng?" ajaknya.
" Ngak usah, saya lebih nyaman naik kereta."
" Ther, aku selama satu minggu ini liat kamu, kok murung? kamu ada masalah?"
Aku menggeleng. Dan kembali menyendok lagi makananku.
" Ther, aku suka semua ide - idemu. Kamu mau ngak untuk ikut ke timku dilantai 3, kita buat project khusus, jadi aku ngak usah bolak - balik ke lantai 7 dimana kamu kerja."
" Maaf, pak. sepertinya project saya juga akan segera saya kerjakan, dan saya mau risign." Ucapku ringan.
" Risign? kenapa?, apakah kamu dapat tawaran lagi ditempat lain atau kamu mau aku naikan gaji lagi? atau apakah kamu mau ke korea."
Aku menghela nafas.
" Mimpiku pergi sama Do San, hancur."
" Kenapa?"
" Aku sudah ngak tertarik lagi padanya."
Entah kenapa saking dulu aku suka padanya, aku sering bercerita beberapa mimpiku padanya, makanan kesukaanku dimana aku nongkrong bahkan impianku untuk pergi ke korea. Mungkin aku terlalu banyak menceritakan kehidupanku, hingga aku lupa dia juga memiliki kehidupan yang tidak pernah kuketahui sebelumnya.
" Apa Pak Yosan akan segera menikah? " tanyaku spontan, masih melihat cincin dijemarinya." Selamat, ya.."
CEO ku hanya mengangguk dan senyum kecil. Reflaks aku bangkit dan meninggalkannya makan sendirian, aku membayar makananku yang kusimpan di etalase tanpa berteriak pada bang aji membayar tagihan. Langkahku gontai kembali ke tempat dimana aku selalu bertemu dengannya setiap hari.
" There, kenapa kamu tiba- tiba seperti ini?" Ucapnya bingung, Ia menghentikan langkahku seketika. Mataku membulat melihat wajahnya. " Maaf, kalau selama ini saya berfikir macam - macam. Selamat atas pertunangan bapak, kalau selama ini bapak mengenal saya sebagai teman, tapi saya yang lancang, saya mengenal bapak sebagai seorang pria dan wanita. Maaf.. saya harus segera bereskan kerjaan saya. Minggu depan saya terakir bekerja." Jelasku dan langsung meninggalkannya.
Mulut ini sudah lancang mengatakannya, tapi itu meluncur begitu saja dan tak bisa lagi kutahan, selama beberapa bulan, ia selalu didekatku. memberikan perhatian dengan segelas Coffe dari kopi shop, dan ia selalu saja memayungiku disaat hujan turun bahkan ia selalu membawakan cokelat kesukaanku dari tempat ia pergi keluar negeri.
Tiap malam kami selalu mengobrol baik itu pekerjaan atau saling menyapa malam, saling menanyakan apa yang sedang dilakukan, apa aku tidak pantas untuk berharap kalau ia hanya memberikan harapan palsu. Tiap pagi kami bertemu ditangga dan minum kopi pagi bersama, saling bercerita perjalanan pagi yang melelahkan.
________
" Ia yang pertama memberiku cinta, ia juga yang pertama lagi yang membuatku kecewa." lirihku. " ia yang meberikan harapan palsu untukku.."
Malam semakin dingin aku masih duduk melihat orang - orang uyang masih olah raga hingga malam, adajuga yang nongkrong buat mamingan.
" Jadi ternyata benar kamu disini."
Seseorang tba - tiba duduk disampingku dengan payung ditangannya. Mataku membulat dan langsung meneteskan air mata seketika.
" Iya, seminggu lalu, aku bertunangan dengan Stefany, Ia lulusan Oxford." Jelasnya sambil mendesah. " Aku dijodohkan, selama ini aku hidup dengan segala kemewahan. Dan hidupku semuanya sudah ditentukan oleh orang tuaku." Jelasnya sambil menatapku yang masih berusaha melap air mataku seketika.
" AKU PERGI.."Pamitku. tanpa Ba_Bi_Bu. " Jangan jelaskan macam- macam lagi, kumohon.." lirihku.
" Kamu ngak salah, Ther.. AKU YANG SALAH.."
" Maaf, kalau selama ini aku sangat bahagia dekatmu, aku bisa bicara dengan memanggil namamu diluaran, aku bisa berkhayal kalau kamu sosok Do San, aku terlalu bermimpi tanpa ingat siapa aku?" lirihku tanpa bisa menahan airmata lagi yang kutahan dan bahwa aku sangat menyukainya. Hiks, kembali airmataku jatuh perlahan ia masih berusaha memayungiku agar tak kehujanan.
" Jangan minta maaf, karena aku tau, kalau aku juga menyukaimu."
Aku diam, masih memandanginya dalam kedalam bola matanya.
" Aku pergi.." Ia menahan lenganku untuk pergi. " Plis, aku gak tahan lagi nahannya, aku sangat mencintaimu, dan ini egois banget, aku ngak sadar siapa aku, aku ngak pantas dan ngak berhak..kamu sudah bertunangan."
Yosan mengangguk. Ia ngak lagi jelasin apapun dan melepasku perlahan hingga aku berjalan kearah jalan segera mungkin untuk meninggalkannya.