"Kamu anak yatim piatu yang Pak Marvin pungut itu kan?" bisik Lusia tiba-tiba. "Lebih baik tinggalkan Pak Marvin. Kamu dan sikap bocahmu hanya akan menyusahkan Pak Marvin. Tahu diri!" ucapnya lagi, setelah itu segera beranjak dari sana–meninggalkan Zelda yang sudah memasang air muka murung, serta mata berkaca-kaca. Tubuhnya masih bergetar, ketakutannya belum hilang. Dan ucapan wanita tadi-- itu sangat menohok hati Zelda. Sikap bocah? Apa itu yang Marvin maksud? Zelda punya sikap bocah dan Zelda harus mengubahnya karena sikapnya tersebut menyusahkan sang paman? Tapi-- "Aku tidak peduli. Aku tidak pernah menyuruhnya menikahiku," ketus Zelda, mengusap kasar bulir kristal yang jatuh dari pelupuk. *** [Aku minta maaf, Kura-kura Ninja. Plus lah, jangan mendiamiku.] [Aku berjanji tidak akan

