Akibat paksaan dan rayuan iblis bernama Marvin Abelard, sekarang Zelda sah menjadi istri pria itu. Mereka menikah di rumah mewah ini, dilaksanakan secara tertutup–sengaja dirahasiakan karena perbedaan usia mereka yang lumayan jauh serta alasan tertentu lainnya.
Zelda masih fokus pada pendidikannya, dan Marvin tak ingin pendidikan Zelda terganggu karena status mereka sebagai suami istri. Percayalah! Marvin punya banyak musuh, baik yang terang-terangan atau tersembunyi. Setidaknya tunggu sampai Zelda menyelesaikan pendidikannya lebih dulu, baru Marvin mempublish istrinya tersebut.
"Baru pertama kalinya aku memakai gaun, dan … ini gaun pernikahanku," gumam Zelda pelan, berdiri di depan cermin sembari menatap pantulan dirinya yang tengah mengenakan gaun tersebut. Gaun ini lengan panjang dan bagian d**a tertutup, sangat sopan namun tidak mengurangi kecantikannya sama sekali. "Gaun yang bagus," gumamnya lagi sembari mengangguk-anggukkan kepala.
Zelda kuliah di salah satu universitas swasta ternama di kota ini– universitas impiannya sejak di bangku SMA. Walau ada perdebatan dengan mendiang orang tuanya dahulu karena tak mengizinkan Zelda kuliah di kota ini, tetapi Zelda tetap berhasil memasuki universitas tersebut. Dia mengambil jurusan fashion design karena dia punya cita-cita menjadi seorang desainer terkenal. Namun, karena pribadinya dan cara berpakaiannya yang kerap kali tomboy, orang-orang selalu mempertanyakan jurusannya tersebut. Mereka sering menganggap Zelda salah jurusan dan tidak cocok di sana.
'Anak tata busana? What?! Nggak cocok banget!'
'Loh, kenapa kamu nggak masuk fakultas tehnik saja? Kamu kayaknya lebih cocok dan bersahabat di sana.'
'Kampus kita ada kok jurusan ilmu keolahragaan, kenapa tidak ke sana saja? Kamu cocok loh.'
Banyak yang mengatakan seperti itu pada Zelda, hanya karena penampilannya. Namun, bukankah seni itu tidak terbatas? Dan anehnya orang-orang awam lah yang sering membatasi seseorang pada bidangnya. Ini hidup Zelda, dia menuruti keinginannya sendiri, bukan orang-orang seperti mereka yang hanya suka menilai dari luar.
Ceklek'
Pintu tiba-tiba terbuka, Zelda yang hanyut dalam pikirannya sontak menoleh ke arah pintu–menatap pamannya yang masuk dalam kamar dan sedang berjalan ke arah Zelda.
Dua hal yang Zelda rasakan pada pria ini, pertama takut dan yang kedua waspada. Marvin bukan orang sembarangan, dia misterius dan mengerikan.
Selama pernikahan mereka tadi, tamu mereka yang tak seberapa tersebut terdiri dari orang penting semua dan orang yang berpengaruh di setiap negara. Mereka semua–tamu yang tak seberapa tersebut, merupakan teman baik pamannya dan mereka juga berjanji untuk merahasiakan pernikahan ini.
"Kau ingin mengganti pakaianmu?" tanya Marvin setelah berada di dekat Zelda–berada tepat di depan istrinya tersebut. s**t! Jelas ini istrinya. Dia sudah menikahi Zelda, perempuan ini resmi menjadi istrinya.
"Tidak." Zelda menggelengkan kepala, reflek menyilangkan tangan di depan d**a karena takut Marvin melakukan hal seperti itu lagi padanya. Pria ini telah resmi menjadi suaminya dan malam ini adalah malam pertama mereka.
"Paman kenapa datang ke sini?" tambah Zelda spontan bergerak mundur ketika Marvin melangkah mendekatinya, semakin mengikis jarak dengannya.
"Ini kamarku." Marvin menjawab singkat, dengan cepat meraih pinggang Zelda– mengalungkan tangannya di pinggang perempuan itu dengan possessive dan erat. "Dan mulai malam ini, kita akan tidur di kamar yang sama. Sekarang kau bukan keponakanku lagi, Zelda. Kau sudah merangkap menjadi istriku."
"Ta--tapi …-" Zelda meneguk saliva dengan kasar. Ini terlalu dekat, jantungnya berdebar kencang dan dia sangat ketakutan. Malam saat 'itu membuat Zelda sangat takut pada pria ini, "bagiku … Paman Marvin masih pamanku. Dan-- aku mau menikah karena dipaksa olehmu."
"Kita tidak punya hubungan darah, kita resmi secara agama dan negara," ucap Marvin dengan serak, tiba-tiba menggendong Zelda dan membawanya ke atas ranjang.
"He-he-hei--hei …," pekik Zelda setengah menjerit, saat Marvin membaringkannya di atas ranjang lalu menindih tubunnya. Sial! Zelda ketakutan! "Paman, to--tolong pergi dari atasku. Tolong menyingkir …."
Marvin hanya diam, menyelipkan tangannya ke bawah punggung Zelda– mulai menurunkan resleting gaun perempuan ini sembari matanya yang tak lepas dari wajah cantik Zelda.
"A--apa?! Tolong, aku tidak mau. A--aku mau menikah denganmu karena paksaanmu. Aku … Paman berjanji untuk tidak seperti ini," racau Zelda sembari berusaha melepas tangan Marvin dari bahwa punggungnya.
"Aku hanya ingin memperbaiki kesalahanku malam itu. Aku membuatmu takut, Amore." Dengan lembut dan secara perlahan Marvin melepaskan gaun tersebut dari tubuh Zelda. Perempuan itu sama sekali tak berkutik, terlalu takut jika Marvin akan melakukan hal seperti saat 'itu padanya.
Suara serak dan berat pria ini membiusnya, semakin membuat Zelda menegang dan membatu.
"Aku harus memperbaikinya agar kau merasa lebih baik, Amore," bisik Marvin sembari membelai lembut leher Zelda.
"A--aku tidak bisa. Aku sangat takut, Paman. Aku tidak … aku tidak mau," parau Zalda, sudah hampir menangis ketika melihat Marvin melucuti pakaiannya sendiri.
Marvin hanya tersenyum secara misterius, tak menjawab ucapan Zelda lagi. Pria itu mulai menggerayapi tubunnya, membuat Zelda memejamkan mata dan menangis secara tertahan.
Dia sangat takut!
***
Zelda membelalak kaget, menatap seorang pria yang berbaring di ranjang yang sama dengannya. Pria itu topless dan … hei, mereka berbuat tanpa busana.
Zelda terdiam sesaat mencerna apa yang terjadi dengannya dan pria ini. Namun, setelah mengingat kejadian semalam, pipi Zelda seketika memerah dan terasa panas dari dalam.
Tadi malam-- Marvin dan dia … pria itu berhasil meyakinkannya, Zelda pada akhirnya mau dan bersedia. Oh tidak! Marvin itu pamannya, meskipun mereka menikah merasa sudah sepakat untuk tidak melakukan hubungan suami istri karena Marvin menikahinya sekedar untuk bertanggung jawab. Sedangkan Zelda pada akhirnya mau menikah karena–dia kasihan pada Marvin. Usia tiga puluh lima tahun, jangankan menikah, kekasih pun dia tak punya.
'Dia sudah menampungku dan memberiku banyak uang jajan. Sebenarnya jika saja insiden itu tak pernah terjadi, Paman sangat baik padaku dan sangat peduli. Mungkin dengan cara menikah dengannya, rumor buruk tentangnya akan hilang. Dan … anggap saja itu balas budiku padanya.' Itu yang Zelda pikirkan saat Marvin merayunya untuk menikah.
Yeah, karena usianya yang sudah memasuki kepala tiga–tidak punya kekasih dan hanya dekat dengan satu perempuan saja, itu pun ia kenalkan sebagai sahabat. Alasan karena itulah Marvin sering dituding menyimpang. Ia sering digosibkan punya kekasih sejenisnya, alias gay. Fakta diperkuat karena Marvin tak pernah dekat dengan lawan jenis dan menghindari lawan jenis juga.
Dan dengan setuju menikah bersama pria ini, Zelda berpikir dia membantu Marvin untuk meredam rumor buruk tersebut. Tetapi … sekarang dia menyesal!!
Ingat! Pernikahan atau status menikah Marvin dipublish, tetapi Zelda sebagai istrinya yang tak dipublish.
'Aku harus pergi sebelum dia bangun. Aku takut berhadapan dengan mata elangnya.' batin Zelda sembari bergeser perlahan dari sebelah Marvin. Dia memejamkan mata sejenak, meraih tangan Marvin yang melingkar di atas perutnya lalu memindahkannya dari sana. Hais, pantas saja perutnya terasa berat dan seperti ketindihan sesuatu, ternyata tangan besar dan kekar pria ini semalam ada di sana. Dan setelah itu, Zelda berniat bangkit dari ranjang.
Namun, tiba-tiba saja, tangan besar dan kekar tersebut sudah berada di atas perut Zelda– kembali melingkar dan lebih erat dari yang sebelumnya.
"Jangan pergi, Amore," ucap Marvin dengan suara serak– melayangkan tatapan kantuk yang terkesan tajam dan menghunus tepat ke arah Zelda, "temani aku tidur," lanjut pria itu, menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Zelda kemudian mengalungkan kakinya ke tubuh Zelda; menjadikan perempuan ini sebagai guling pribadinya.
'Aku geli!!' batin Zelda dengan air muka muram bercampur tertekan. 'Jangan-jangan ini jebakannya lagi. Sejak awal dia memang sudah menargetkanku sebagai istrinya untuk menutupi rumor itu atau … dia sebenarnya seorang saat p*****l, pura-pura menjadi seorang paman dan merampas mahkota gadis itu lalu menikahinya untuk diambil serat-seratnya sampai habis. Setelah itu dia akan membuang si gadis yang sudah tinggal ampas, trus dia cari target baru. Sial! Jadi aku korban yang keberapa?'
"Jaga pikiranmu!" peringat Marvin secara tiba-tiba, sontak membuat Zelda menoleh kaget ke arah pria ini–Zelda sangat terkejut.
***
"Kok bisa yah kita ke sana?" tanya Zelda, menggaruk kepala karena tak paham kenapa dia bisa melaksanakan Praktek Kerja Profesi di perusahaan itu.
Setelah pernikahannya dengan Marvin, Zelda memilih libur kuliah selama tiga hari–dia memanfaatkan itu untuk healing dan ziarah kubur ke makam orang tuanya. Sedangkan Marvin, setelah malam pengantin mereka, pria itu pamit pergi ke luar kota. Ada urusan mendadak dan kepentingan.
Zelda tidak masalah dan tak kepo juga pada apa urusan serta kepentingan suaminya tersebut. s**t! Sampai sekarang dia masih belum bisa menerima pernikahannya dengan Marvin. Di matanya Marvin tetaplah seorang paman. Dia tahu jika pria itu sudah menyentuhnya–pertanda jika hubungan mereka sudah layaknya seperti suami istri pada umumnya. Namun, tetap saja Zelda sulit menerimanya.
Seperti …- guru. Meskipun sudah lulus dari sekolah tersebut, jika bertemu dengan sang guru, tetap saja bukan, di mata kita dia adalah seorang guru yang notabe-nya harus kita hormati. Nah, begitu yang Zelda rasakan sekarang. Meskipun Marvin sudah menikahinya, melakukan hubungan suami istri dengannya, tetap saja di mata Zelda jika Marvin adalah pamannya. Sulit! Apalagi usia pria itu dan Zelda jaraknya sangat jauh, kurang lebih lima belas tahun!
Dan sekarang Zelda terpaksa ke kampus karena dia harus mengikuti pembekalan dan pelepasan PKP (Praktek Kerja Profesi) sebagaimana itu merupakan tugas akhir dari kampus dan ketetapan fakultas–tempat ia menempuh pendidikan jenjang perguruan tinggi.
"Aku nggak tahu, Zel. Tetapi aku senang banget!! Itu kan perusahaan raksasa dan perusahaan ternama di negara kita. Dan … wahhh … ajaib kita bisa praktek kerja di sana. Ya ampun!!" Reca, salah satu sahabat Zelda tersebut memekik dengan bahagia dan riang.
"Cik." Zelda berdecak malas. Masalahnya itu perusahaan Pamannya ah katakan suaminya juga, dan dia yakin jika Marvin ikut campur di sini. Karena perusahaan tersebut tak pernah menerima anak magang atau sejenisnya, perusahaan itu tidak ada dalam list pilihan dari kampus mereka sebagai tempat praktek kerja dan seingat Zelda mereka bebas memilih perusahaan atau tempat praktek mereka kelak–sesuai list pilihan dari kampus. Seingat Zelda dia memilih salah satu butik yang lumayan punya nama di kota ini, jadi kenapa tiba-tiba dia, kedua sahabatnya dan beberapa anak lainnya kesasar di sana?!
"Aku lumayan senang. Ahahaha … pasti banyak cewek cantik body seksi di sana," ucap Dimas sembari tertawa-tawa riang. Dia, Reca dan Zelda masih satu fakultas. Hanya beda jurusan saja. Beruntungnya, mereka satu pertemanan di tempatkan di perusahaan raksasa tersebut.
"E'eleh. Kamu niat belajar apa bagaimana sih?" gerutu Reca yang mendapat acungan pundak dari Dimas. Pria manis dengan tinggi 175 cm tersebut menggaruk tengkuk, melirik ke arah Zelda kemudian senyum-senyum sendiri.
"Sebenarnya tipeku yang seperti Zelda sih. Asik, tomboy dan-- galak-galak mengigit. Rawwwrrr!" goda Dimas sembari menirukan suara singa mengeram.
"Anak basket? Kalau iya, kamu tipeku balik. Tapi kalau enggak, skip ajah deh," jawab Zelda santai, melirik Dimas sekilas lalu menyunggingkan smirk tipis.
"Sebenarnya tipeku juga yang seperti Zelda," ucap Reca dengan suaranya yang imut.
"Normal!" ketus Zelda. 'Padahal aku nggak tomboy-tomboy amat deh, masih kebanyakan sisi perempuannya dibandingkan sisi lakinya. Kenapa nih anak dan perempuan lainnya banyak yang naksir sih? Sialan, aku kan normal!' batin Zelda, sedikit resa karena tak pernah ditembak oleh laki-laki tetapi sering diajak pacaran oleh perempuan.
Apa ini karma karena dia sempat berpikir jika Pamannya gay? Tapi kan sebelum bertemu dengan Marvin, Zelda memang sudah banyak peminatnya dari kalangan sejenis.
"Halo, Kak Zelda," sapa seorang mahasiswi sembari tersenyum begitu manis ke arah Zelda.
"Hai," balas Zelda menyapa, membuat perempuan tersebut langsung berlari terbirit-b***t ke rombongan temannya lalu senyum-senyum tak jelas.
'Disapa balik salah, tak disapa dikatai sombong. Sialan emang!' batin Zelda.
"Alasan kenapa aku malas jalan denganmu, Zel," dengkus Dimas setengah dongkol. Ada dia lelaki tampan di sini, tetapi kenapa Zelda yang notabe-nya perempuan yang malah disapa oleh mahasiswi cantik tadi?
Oke, dia akui Zelda memang keren dan terlalu wah untuk semua genre.
Zelda hanya menyengir dan cengengesan. Dibilang laki-laki di fakultas mereka ini sedikit-- iya, memang lebih banyak cewek dibandingkan cowok. Hanya saja, speak cowok di fakultas mereka itu hampir semua tampannya di atas standar. Walau memang ada beberapa yang ngondek, meskipun tampan. Tapi-- hell! Dimas ini tampan dan cool, Coy. Jika bukan karena sahabatnya, Zelda mungkin mau jadi pacar pria tampan dan humoris ini.
Namun, entah dengan para perempuan di sini. Banyak yang kurang waras, mungkin! Atau katarak dan buta.