Disetel oleh Suami

822 Kata
"Mobilnya ada, berarti Paman sudah pulang," gumam Zelda, berjalan dengan santai sembari menatap mobil mewah yang sering Marvin pakai ke mana-mana. Mobil tersebut ada di sini, artinya pamannya sudah pulang dari luar kota. Zelda mengacungkan pundak dan memilih acuh tak acuh, dia berjalan masuk dalam rumah mewah dan besar tersebut. Dia senang mampir tak di rumah, karena Zelda merasa sangat bebas dan ketika malam dia tak harus deg degan serta merasa takut. Dia dan Marvin satu kamar! Karena itu, Zelda merasa terancam jika Marvin di rumah. Sejak menikah dengan pamannya tersebut, Zelda selalu berdoa-doa supaya Marvin diberikan kesibukan yang banyak agar pamannya tersebut sering ke luar kota atau ke luar negeri. Ketika akan menaiki tangga– menuju kamar, tiba-tiba saja seseorang menarik rambutnya– lebih tepatnya menarik ikat rambut Zelda, membuat simpul rambutnya terlepas dan tergerai begitu saja. Zelda cukup kaget, tetapi sedikit kesal karena ada yang berani memegang rambutnya. Masalahnya rambut Zelda baru dishampo-in!! Zelda paling tidak suka jika rambutnya disentuh oleh orang asing. "Paman?" gumam Zelda pelan saat membalik tubuhnya dan mendapati Marvin di belakangnya. Seketika Zelda gagal marah. Hell! Dia tak terlalu berani dengan pria ini. Aura pria ini mengerikan, dan pembawaannya terlalu dingin. Zelda dominan takut pada Marvin! Pria tampan dengan air muka lempeng tersebut hanya menatap dingin ke arah Zelda, dia mengantongi ikat rambut tersebut kemudian mengisyaratkan agar Zelda kembali melanjutkan langkahnya. "Itu ikat rambutku, Paman," celutuk Zelda pelan dan takut-takut. Jujur saja, selain takut dia juga merasa merinding dengan pria ini. Marvin jarang berbicara, ekspresinya selalu datar dan tatapannya tajam. Ditambah pria ini menikahinya, entah kenapa rasa takut Zelda semakin menjadi-jadi pada Marvin. Tetapi bukan berarti dia tunduk pada pria ini. Dia takut-- lebih tepatnya segan pada Marvin. "Ke kamar," titah pria itu dengan nada dingin. 'Apaan sih?' batin Zelda, akan tetapi tetap menurut dengan melanjutkan kembali langkahnya menuju lantai tiga– kamarnya dan pria ini. 'Aku paling tidak suka seseorang berusaha mendominasiku! Tapi aku tidak bisa melawan makhluk satu ini.' Sampainya dalam kamar, Zelda kembali mendekati Marvin dan meminta ikat rambut tersebut. Namun, pria itu malah duduk di sopa dan sama sekali tak menjawab apapun. "Paman, itu ikat rambutku satu-satunya. Yang lain sudah hilang, aku tidak punya ikat rambut lagi," ucap Zelda, meminta agar Marvin memulangkan ikat rambut tersebut. "Kau tidak boleh menguncir rambut di luar kamar." "He--hei! Apa-apaan kau?!" protes Zelda, sudah berkacak pinggang sembari menatap syok dan horor ke arah pamannya. Enak saja! Memangnya siapa dia melarang-larang Zelda?! Dan terserah Zelda ingin menguncir rambut di mana saja. "Berbicara yang sopan, Amore. Aku suamimu!" peringat Marvin, tiba-tiba menarik pergelangan Zelda dengan sekali sentakan dan membuat perempuan tersebut jatuh ke atas pangkuannya. "Cik, lepas, Paman! Argkkk!" kesal Zelda, menjerit penuh protes dan memberontak ketika Marvin memeluk tubuhnya dengan erat. "Paman Marvin, tolonglah! Ini gerah dan …-" "Aku merindukanmu, Amore," bisik Marvin tiba-tiba, membuat Zelda terdiam– mendadak berhenti memberontak dan membiarkan Marvin memeluknya serta mengecupi lehernya. 'Ke--kenapa aku tidak melawan? Ah, pasti Siluman ampibi ini telah menyihirku!' "Ingat, Amore, kau tidak boleh menguncir rambutmu di tempat umum." Marvin kembali memperingati. "Aku tidak suka lehermu dipertontonkan oleh lelaki selain aku. Tubuhmu hanya milikku, Zelda Amira. Aku suamimu dan kau milikku!" "Paham, Zelda?" tambah Marvin, tiba-tiba mengangkat pandangannya dan menoleh ke arah Zelda dengan tajam serta penuh peringatan. "I--iya, Paman," jawab Zelda dengan gugup dan gelagapan, merasa tertekan dengan posisinya yang berada di pangkuan Marvin, serta terintimidasi oleh aura mengerikan pria ini. 'Cik, terserah lah. Yang penting aku dapat uang jajan yang banyak.' "Ini." Tiba-tiba saja Marvin memberinya sebuah paper bag–sebetulnya sudah ada di sopa, dan Zelda melihatnya tadi. "Oleh oleh kah?" hanya Zelda sembari mengeluarkan isinya dengan sangat antusias. "Humm." Marvin hanya berdehem, memeluk pinggang Zelda yang masih duduk di pangkuannya sembari meletakkan dagu di atas pundak istrinya ini. s**t! Feromon perempuan ini menguar dan sangat memikat. Marvin menginginkan istri kecilnya ini!! Sejak lama Marvin menunggunya, dan ada sesuatu antara dia, Zelda dan orang Tua perempuan ini. Sejak lama Zelda menjadi miliknya, sialnya mereka merampas Zelda dari Marvin! Sekarang perempuan ini kembali padanya, menjadi miliknya seutuhnya! Namun, masalah memperkosa gadis ini. Percayalah, Marvin juga tak menginginkan itu terjadi. Marvin menginginkan Zelda, tetapi tidak dengan merusaknya. Damn it! Marvin hampir kehilangan kendali atas dirinya saat melihat Zelda melompat ke sungai untuk bunuh diri. Dia marah, tetapi dia tak bisa melampiaskannya pada Zelda. Karena Marvin lah yang salah. "Ini baju perempuan," dengkus Zelda sembari menatap tak semangat pada sebuah blus, dress dan macam lainnya– isi dari paper bag pemberian Marvin. "Kau perempuan, Amore." "Iya, tapi ini bukan seleraku." Zelda memprotes. "Yang mengonsumsimu adalah aku. Jadi pakaian dan seluruh yang kau gunakan harus sesuai seleraku-- suamimu!" ucap Marvin rendah, tetapi penuh peringatan dan ancaman. "Besok kau mulai praktek kerja di perusahaan kita, Bukan? Datang dan pakai dress pemberianku." Zelda melongo dengan air muka konyol, menoleh sekilas pada Marvin lalu menatap lurus ke depan dengan raut masam dan campur aduk. "Jadi Paman yang menukar tempat Praktek Kerjaku?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN