"Jadi Paman yang menukar tempat Praktek Kerjaku?"
Marvin dengan santai menganggukkan kepala, dia tersenyum namun itu malah mengerikan di mata Zelda–membuat Zelda meneguk saliva secara kasar dan paksa, gugup bercampur merinding menatap senyuman mengerikan suaminya. Ah, maksud Zelda pamannya.
Ditambah tatapan Marvin yang selalu tajam, itu semakin membuat Zelda khawatir dan takut. 'Bagian matanya yang hitam sangat misterius. Aku seperti menyelami samudera ketika melihatnya.'
"U--untuk apa Paman melakukannya?" tanya Zelda, masih menoleh gugup dan canggung ke arah Marvin. Pria ini tak sedikitpun membiarkan Zelda pindah, padahal sejujurnya Zelda risih duduk di atas pangkuan Marvin.
"Mengawasi istriku." Marvin berkata dingin, menyenderkan dagu di atas pundak Zelda–secara santai dan tanpa beban sedikitpun, tak tahu saja jika Zelda risih dengannya. Dia tahu sebenarnya, tetapi Marvin memilih untuk tak peduli. Zelda sudah menjadi miliknya seutuhnya, dan sudah sepantasnya tubuh Zelda terbiasa dengan sentuhan dan belaian Marvin.
"Kau sudah menjadi istriku, dan setiap gerak-gerikmu tak akan lepas dari perhatianku, Amore," lanjut Marvin, mendadak menoleh ke arah leher Zelda–membuat helaan serta hembusan nafasnya menerpa kulit leher Zelda, memberikan sensasi geli bercampur tak menyenangkan bagi perempuan berusia dua puluh satu tahun tersebut.
'Aduh … aku benar-benar risih dan tidak nyaman!' batin Zelda, berusaha menjauhkan batang lehernya dari Marvin dengan menarik kepalanya. Namun, yang terjadi malah Marvin menyosor–mencium leher Zelda sembari menggigitnya pelan dan ringan, akan tetapi terus dan berulang.
"Aku sangat merindukanmu, Amore," ucap Marvin tiba-tiba, suaranya serak dan nadanya begitu berat. Sangat seksi dan sensual secara bersamaan.
Namun, itu suara yang mengerikan dan horor bagi Zelda. Dia tidak suka suara dan situasi ini! Zelda benci! Terlebih--kenapa jantungnya harus berdebar kencang hanya karena suara berat Marvin?!
"Aku menginginkan tubuh indahmu, Mi Esposa." Marvin berdiri, menggendong Zelda secara bridal style menuju ke arah ranjang mereka.
Jantung Zelda sudah berdebar dengan sangat kencang, rasanya hampir meledak dalam sana. Tubuhnya panas dingin dan kaku. Matanya membelalak sempurna dan air mukanya tegang. Sialnya, Zelda paham dan mengerti ke mana arah tujuan Marvin saat ini. Dia tahu maksud dari kata 'menginginkan' di sini.
Ayolah! Dua puluh satu tahun itu sudah plus plus, dan Zelda tak se polos itu.
"Pa--Paman, kau telah ber--berjanji …." Zelda mengingatkan ketika Marvin membaringkannya di ranjang dan pria tersebut berada di atas tubuhnya, setengah menindih Zelda dengan tatapan mata gelap dan penuh hasrat, "Pa--Paman, aku tidak mau …-" cicit Zelda dengan suara serak, gemetar saat satu tangan Marvin menyelinap masuk dalam baju kaos yang Zelda kenakan.
Zelda menahan tangan Marvin, menghentikannya agar Marvin tidak macam-macam padanya.
"Kau tidak punya hak untuk menolak," dingin Marvin, melayangkan tatapan tajam dan menghunus mengerikan ke arah Zelda. Dia menjauhkan tangan Zelda yang berniat menghentikannya dan kembali melancarkan aksinya, menyelipkan tangan dalam pakaian Zelda dan mulai meraba serta meremas undukan indah dalam sana.
'Ahgk, sial! Ba--bagaimana caraku menghentikannya?! Aku tidak suka disentuh seperti ini. Bagiku, dia masih Paman,' batin Zelda, memalingkan wajah sembari memejamkan mata dengan erat.
"Aku tahu tubuhmu menyukainya, Amore," bisik Marvin selanjutnya, telah menyingkap baju kaos yang Zelda pakai dan semakin leluasa melancarkan aksinya. Dia suka tubuh perempuan ini, harum manis yang segar seperti buah apel dan semuanya dipahat dengan sempurna.
Zelda salah satu ciptaan tuhan yang sempurna, satu-satunya wanita yang membuat Marvin tak bisa menahan hasrat!
"Tubuhmu suka sentuhanku!" bisik Marvin lagi dengan nada serak dan sensual, mengigit pelan serta ringan ujung daun telinga Zelda.
Itu membuat Zelda membuka mata serta menoleh ke arah Marvin. Wajah Zelda memerah–bukan karena malu-malu ingin, tetapi karena rasa canggung yang berlebihan dan rasa geli yang ia tahan sejak tadi.
Entah apa yang pria dewasa ini lakukan padanya. Zelda tak suka! Namun, bodohnya Zelda tidak bisa menyuarakan ketidak sukaannya tersebut. Dia takut!
Marvin juga benar. Meskipun logika Zelda menganggap ini salah dan suatu hal yang menjijikkan, tetapi tubuhnya menyukainya. Tubuh Zelda berkhianat!
Penyatuan itu terjadi lagi, dan Zelda sama sekali tak berdaya untuk menolak atau menghentikannya.
***
"Aku terlambat!" gerutu Zelda, buru-buru keluar dari rumah mewah dan besar milik Pamannya.
Entahlah! Mungkin karena efek kelelahan akibat melayani pria dewasa ganas itu, Zelda jadi terlambat bangun. Dia baru bangun setelah jam tujuh, di mana Marvin sudah tak ada di sebelahnya.
Zelda tebak, Marvin sudah ke kantor. Tapi … bisakah tadi sebelum pergi Marvin membangunkan Zelda? Cik, mana ini hari pertama Zelda melaksanakan praktek kerja, dan itu akan ia laksanakan di perusahan milik suaminya sendiri.
Ini gila! Hari pertama masuk percobaan kerja, dan Zelda datang terlambat.
"Cik, mana harus ke kampus lagi untuk pengantaran. Argkkk!" geram Zelda, frustasi ketika melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul delapan. Artinya dia punya waktu tiga puluh menit untuk sampai ke kampus, sebelum jam pengantaran dilaksanakan. Masalahnya, Zelda tak yakin jalanan tak macet.
"Tunggu, Nona Zelda."
Zelda spontan menghentikan langkah kakinya, menghela napas untuk menahan kesal lalu menoleh ke arah seseorang yang menghentikannya. "Apa, Paman?" tanya Zelda, menaikkan sebelah alis sembari menatap pria yang tak jauh darinya dengan bingung.
Aih, Neon masih di sini? Artinya Pamannya juga belum berangkat jika begitu. Yeah, Neon adalah kepercayaan suaminya, dan Zelda memanggilnya paman karena usia Neon sama dengan Marvin. Sama-sama sudah kepala tiga-- berusia tiga puluh lima tahun.
"Hampir saja Nona berangkat tanpa sarapan. Tuan akan sangat marah jika itu terjadi," ucap Neon dengan nada ramah dan terkesan hangat serta lembut. Bagaimanapun gadis muda di depannya adalah istri sekaligus keponakan Tuannya. Dia harus bersikap ramah dan hangat, supaya sang Nona nyaman tinggal di sini.
"Aku tidak sarapan dan soal Paman, dia tidak akan tahu kan jika tak ada yang memberi tahu. Aku sudah sangat terlambat," jelas Zelda dengan cepat, dia buru-buru dan dia sangat takut untuk terlambat.
"Tuan jelas tahu jika Nona tak sarapan karena Tuan sedang menunggu Nona di ruang makan."
Zelda berdecak pelan, menggaruk alis kemudian mendengkus pelan. "Oke," ucapnya lesu, pada akhirnya memilih menurut untuk sarapan sebelum berangkat.
Sampainya di ruang makan, Zelda langsung duduk. Di mana di sana sudah ada Marvin, tengah meminum secangkir kopi serta ditemani oleh churros.
'Apa kenyangnya makan begituan?' batin Zelda, diam-diam memperhatikan Marvin yang tengah sarapan dengan santai dan estetik. 'Dia sarapan saja harus jaga image kah? Anggun-ly sekali, seperti sedang makan dengan bangsawan saja. Atau hidupnya memang selalu harus estetik yah?' dewi batin Zelda.
"Silahkan sarapannya, Nona," ucap salah satu maid, setelah menyajikan sarapan untuk Zelda.
Tenang! Zelda jauh berbeda dengan Marvin. Bagi Zelda sarapan yah makan nasi, dan harus makan nasi baru bisa dikatakan makan. Sarapan tanpa nasi, itu sama saja dengan bohong bagi Zelda. Jadi-- Zelda sarapan dengan nasi plus lauk yang disajikan dengan banyak varian.
'Aku sudah terlambat, jadi aku makan sedikit saja,' batin Zelda, melirik diam-diam pada Marvin untuk mengawasi karena Zelda sedang mengurangi nasi di piring. Dia sudah terlambat! 'Ah, telur mata sapiku mana?' batin Zelda lagi saat tak menemukan lauk favoritnya, telur mata sapi.
Namun, mengingat dia sudah terlambat Zelda tidak mempermasalahkannya. Dia mengambil ayam goreng bagian sayap, kemudian mulai sarapan dengan buru-buru.
"Makan dengan tenang dan pelan, Amore," tegur Marvin, nadanya datar–sama dengan raut mukanya yang flat dan dingin.
"Aku sudah terlambat, Paman. Aku buru-buru," jelas Zelda, susah payah karena di mulutnya penuh dengan nasi.
"Makan dengan baik atau--tidak kau ku-izinkan keluar rumah?!" ancam Marvin, langsung membuat wajah Zelda terlihat dongkol dan muram.
Pamannya ini sangat otoriter! Semua harus sesuai kemauannya.
"Tambah nasimu," ucap Marvin lagi, semakin membuat zelda bete dan dongkol.
"Aku sudah terlambat …-" Perkataan Zelda seketika berhenti, karena tiba-tiba saja Marvin menggeser tempat duduk Zelda ke dekat pria itu.
Setelahnya Marvin meraih piring Zelda, menambah nasi di piring istrinya serta mengisinya dengan sayur juga. Tidak bisa jika Zelda hanya mengonsumsi karbohidrat dan protein saja, istrinya perlu vitamin dari sayuran.
"A--aku tidak suka sayur," ucap Zelda dengan panik ketika Marvin menyuapkan nasi plus sayur dalam mulutnya. Zelda jujur! Dia tak suka dengan sayur.
"Buka mulutmu!" titah Marvin, menatap tajam dan penuh peringatan pada sang istri. Nadanya bossy, tak menerima bantahan atau penolakan sama sekali.
Dengan ragu, dia membuka mulut dan menerima suapan dari pamannya. Ketika makanan itu sudah masuk dalam mulutnya, Zelda spontan menutup mulut dengan tangan–dia takut mual dan memuntahkannya.
Namun ….