Zelda Bandel

1335 Kata
Dengan ragu, dia membuka mulut dan menerima suapan dari pamannya. Ketika makanan itu sudah masuk dalam mulutnya, Zelda spontan menutup mulut dengan tangan–dia takut mual dan memuntahkannya. Namun …. Zelda seketika terdiam, fokus mengunyah makanan dalam mulut sembari memikirkan sesuatu. 'Kenapa tidak rasa rumput yah? Ini …- enak.' batin Zelda. "Kenapa?" Zelda yang masih bingung sontak menoleh ke arah pamannya, di mana dia dengan suka rela membuka mulut dan menerima suapan kedua dari Marvin. "Ini … sayur apa, Paman?" tanya Zelda sembari menatap sayur di mangkuk. Warnanya hijau dan mirip dengan rumput daun lebar. "Mirip dengan Amaranthus spinosus," celutuk Zelda sembari mengamati sayur dalam mangkuk cantik dan antik tersebut. "Humm. Amaranthus tetapi bukan kelas spinosus," jelas Marvin, menatap lamat pada sang istri–di mana kedua pipi Zelda terlihat tembem karena diisi oleh makana dalam mulut. Oh, s**t! Di mata Marvin, ini sangat menggemaskan. Terlebih mata Zelda bulat, bulu matanya lentik serta punya manik coklat gelap yang berkilau. "Ouh, jadi begini rasa bayam?" celutuk Zelda lagi, tanpa sadar membuka mulut–meminta agar Marvin kembali menyuapinya. Bayam enak juga! Zelda baru tahu rasa bayam begitu lezat. Kenapa Zelda tidak suka dengan sayur? Karena mendiang Mamanya pernah memasak sayur yang sangat pahit. Zelda kecil memakannya dan sampai sekarang dia tak lupa bagaimana rasa pahit plus sepat yang dia rasakan dari sayur tersebut. Padahal Zelda penikmat kopi Amerikano, tetapi bisa-bisanya dia kalah oleh pahitnya sayur. Namun, sayur ada rasa rumputnya, itu yang membuat Zelda semakin tak suka dengan sayur. Sedangkan kopi-- kopi punya aroma harum yang menenangkan kalau menurut Zelda. "Aku suka," ucap Zelda pelan, hampir seperti bisikan. Bayam akan menjadi sayur favorit Zelda, rasanya tidak seperti rumput dan-- … ini lezat! Melihat ekspresi senang Zelda, Marvin diam-diam menyunggingkan senyuman tipis. Mengemaskan! *** Benar saja! Karena dipaksa sarapan oleh Marvin, Zelda terlambat. Dia sama sekali tak ke kampusnya lagi, karena dia sudah sangat terlambat. Dia langsung ke perusahaan ZelMard'Fashion– berangkat bersama sang Paman plus suami. Bagian yang paling memalukan bagi Zelda adalah dia mengenakan dress– formal, tetapi bagi Zelda yang hampir tak pernah mengenakan dress seumur hidupnya ini sangat memalukan. Namun, bagaimana lagi?! Marvin memaksa. "Hai, minta ID card," ucap Zelda, setelah dia berada di belakang Reca dan menepuk pundak Reca sejenak–agar Reca menoleh padanya. Sedangkan Marvin, entahlah! Zelda tak tahu di mana pria itu sekarang. "Kamu …." Reca membelalak, menganga sedikit sembari menatap tak percaya pada Zelda. "Kamu mirip Zelda. Kamu … siapa?" "Aku Zelda," kesal Zelda pelan. Sejujurnya dia malu dan tak nyaman; Marvin mengubah penampilannya. Dari yang tomboy menjadi sweet girl. Bagi Zelda ini sangat memalukan! Dia sangat tak PD dengan penampilan seperti ini. "Kamu Zelda?" pekik Reca cukup kuat, sontak membuat semua orang menoleh padanya dan berakhir dengan menatap Zelda dengan kaget. "Zelda," panggil Dimas dari depan sana, terlihat jika pria itu juga kaget; tak percaya melihat penampilan sahabatnya yang berubah drastis. Oh, ya Tuhan! Zelda sangat manis dan menggemaskan secara bersamaan. Wajah datar dan judes perempuan itu seketika berganti dengan wajah manis dan ceria. Zelda sangat berbeda, Dimas terpesona. 'Cik, rusak sudah image ku. Ini semua karena Paman. Dia sangat menyebalkan. Otoriter!' batin Zelda, hanya bisa cengengesan kaku ketika para teman-teman masih terus memperhatikannya. Padahal aku tidak sedang ganti muka, bisa-bisanya mereka melihatku seperti itu.' *** Insiden yang cukup memalukan bagi Zelda tersebut kini melewatkan. Dia dan kelompoknya sekarang berada di sebuah ruangan khusus–ruangan yang di sediakan untuk mereka para mahasiswa magang. Mereka terdiri dari sepuluh orang, lima perempuan dan lima laki-laki. Tadi, mereka sudah diberikan arahan oleh salah satu staf dari perusahaan ini. Mereka dikenalkan dengan petinggi penting di perusahaan ini, dan banyak lainnya. "Big Bos kita masih muda ternyata. Dia tampan sekali dan … ouh, rahimku hangat hanya dengan melihat tatapan matanya." "Aaaaaa … aku gigit jari loh pas tadi Bu Irena memperkenalkan CEO perusahaan ZelMard. Sumpah! Dia sangat tampan, seperti mitos dewa Yunani kuno." "Kamu tahu, bisa praktek kerja di sini saja rasanya sudah sangat menakjubkan. Haaaah … apalagi bisa tahu mengenai Pak Marvin. Aku seperti bermimpi." Zelda yang mendengar gosipan murah teman-temannya yang perempuan, memilih memutar bola mata dengan jengah. Dari pada ikut bergosip dengan mereka, Zelda lebih memilih bermain biliar simulasi dengan HP. Entahlah, Zelda risih mendengar perbincangan mereka. Mungkin karena Marvin adalah suaminya. "Zel, kamu tidak ikut menggosib dengan mereka?" tanya Dimas sembari terkekeh geli, duduk di sebelah Zelda sembari menatap sekilas ke layar HP sahabatnya tersebut. "Tidak." Zelda menjawab singkat. "Perempuan biasanya suka dengan yang tampan dan banyak uang," goda Dimas lagi. Zelda menggelengkan kepala. "CEO tua bukan tipeku," jawab Zelda kembali, membuat Dimas terkekeh namun malah membuat ketiga mahasiswa perempuan tadi tersinggung. "Heh, kamu!" Salah satu dari mereka mendekati Zelda. Sejujurnya, Zelda kurang mengenal mereka. Karena beda fakultas dengan Zelda. Ketiga perempuan ini berbeda dengan Zelda, Reca, Dimas dan empat mahasiswa lainnya. Zelda dan temannya berasal dari fakultas yang sama, sedangkan tiga orang ini berasal dari fakultas–jika tak salah ekonomi. Zelda kurang fokus kala mereka memperkenalkan diri, tadi. "Sok cantik banget sih jadi perempuan." Satunya lagi ikut mengatai Zelda. "Angkuh!" ucap satunya lagi. "Memangnya kamu tipe Pak Marvin apa?! Sok sekali mengatai Pak Marvin tua. Tidak sopan dan belagu!" "Ya … kalau tipe kalian om-om mah itu terserah kalian." Zelda dengan santai mengedikkan pundak. "Sombong sekali!" desis perempuan dengan kemeja blus berwarna pink cerah tersebut. Auranya lebih mendominasi dan wajahnya seperti ketua geng yang suka melabrak. "Mulai sekarang jangan ada yang mau berteman dengan si cewek belagu ini. Sok cantik!" ucap perempuan itu lagi. Sayangnya, Dimas, Reca dan yang lainnya tak ada yang menanggapi, membuat Zelda terkekeh kecil–tak menoleh sama sekali pada ketiga perempuan itu dan memilih tetap fokus pada game di handphonenya. "Tak usah di dengar, Ze," kekeh Dimas dengan nada geli. "Mending kita sehabis dari sini langsung nongkrong. Gimana?" "Hah?" Zelda bingung, menatap cengang dan gunda ke arah Dimas. Nongkrong? Artinya dia perlu izin keluar pada Marvin jika begitu. Tetapi … dia yakin sekali Marvin tak akan mengizinkannya. Ini musim hujan, dan pamannya itu tipe pria yang sangat over protektif serta sedikit possessive. Maksud Zelda, ah … intinya Marvin berlebihan! "Kenapa sih, Zel?! Kelihatan bingung banget, seolah sudah punya suami saja jadi harus sulit minta izin," celutuk Reca dengan memanyunkan bibir ke arah Zelda. Dia memang sedikit manja, terlebih pada orang yang dia sayangi–seperti Zelda dan Dimas, dua sahabatnya semenjak mereka di bangku high school. "Atau jangan-jangan kamu memang sudah punya suami lagi, soalnya penampilan kamu jadi beda begini." "Cik, tidak lah." Zelda mendengkus. 'Tebakannya nggak meleset, Cuk. Tapi nggak mungkin aku jujur, takut mereka khawatir padaku.' batin Zelda, terlihat semakin gelisah dan tak enak. Dia memang memilih merahasiakan pernikahannya. Bukan bermaksud apa-apa. Hanya saja, Zelda tak enak pada Dimas dan Reca. Cukup kematian orang tua Zelda saja yang membuat kedua sahabatnya ini ikut merasa sedih dan khawatir pada kondisinya. "Umm … aku kan sudah bilang jika aku sekarang tinggal dengan Pamanku. Jadi-- aku cukup takut kalau Paman tidak membolehkan," jawab Zelda yang membuat temannya ber oh ria. "Dan … kenapa penampilanku seperti ini, itu juga karena Paman. Katanya perempuan harus bersikap serta berpenampilan seperti perempuan," jelas Zelda kembali. "Aku setuju dengan Pamanmu kalau begitu," celutuk Dimas. "Meskipun aku harus kehilangan girl crush-ku, tapi aku bisa melihat Zelda versi manis seperti sekarang. Argkkk … kamu sangat cantik!" tambahnya, men-dramatis di akhir kalimat. Hanya bercanda! "Cik." Zelda hanya berdecak. "Nanti aku ikut deh nongkrong," putus Zelda dengan cepat dan tanpa pikir panjang. Persetan dengan Marvin! Zelda masih muda dan dia merasa dia harus menikmati hidup. "Pamanmu bagaimana?" tanya Reca dengan hati-hati. Zelda mengibas tangan di depan wajah, pertanda jika dia tak terlalu peduli. "Ya … Pamanku orang yang sibuk, aku yakin dia tak akan tahu kalau sepulang dari sini aku nongkrong dengan kalian." "Bahaya kalau tahu. Bisa-bisa kamu kena marah," ucap Reca, menasehati Zelda karena takut sahabatnya tersebut kena marah. "Tenang saja. Paman tak akan tahu. Orang dia itu sibuk banget. Di rumah saja jarang," lanjut Zelda, meyakinkan kedua sahabatnya tersebut jika Pamannya tak akan tahu rencana Zelda ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN