Zelda Merasa Bebas

650 Kata
Sekitar tengah sembilan malam, Zelda pulang ke rumah sang Paman. Tentunya setelah dia menghabiskan waktu bersama teman-temannya, nongkrong untuk menghilangkan stress ala mahasiswa angkatan akhir. Sejujurnya, Zelda merasa sedikit takut karena ini sudah malam dan dia baru pulang. Dia takut berhadapan dengan Marvin, di mana pamannya tersebut akan memarahinya habis-habisan. Namun, rasa ke khawatiran Zelda tersebut seketika lenyap saat tak melihat mobil yang biasa Marvin pakai terparkir di tempatnya. Karena mungkin Marvin sering mengenakan mobil hitam mewah tersebut, dia punya parkiran khusus yang bisa dipantau dari luar–seperti yang Zelda lakukan sekarang. Mobil sang Paman belum ada di sana. Artinya, pamannya belum pulang. "Yes yes yes …!" Zelda memekik senang, menaikkan tangan yang dikepal lalu menarik tangan dengan semangat sembari melangkah riang masuk dalam rumah mewah tersebut. "Atau jangan-jangan Paman ke luar kota lagi," monolog Zelda sembari berjalan riang, menaiki tangga dengan langkah bahagia sembari terus mengatakan yes'. "Paman ke luar kota, paman ke luar kota, paman ke luar kota," senandung Zelda, terlalu senang walau belum pasti jika Pamannya ke luar kota. Namun, Zelda sangat yakin jika pamannya memang ke luar kota. Karena sebelumnya Marvin seperti ini jika sedang ke luar kota atau ke luar negeri. Mobil yang biasa ia pakai tidak ada di sana, dan Marvin sendiri yang mengatakan jika dia sangat jarang di rumah ini. Artinya, Marvin memang ke luar kota. Setelah sampai dalam kamar, Zelda langsung berhambur ke atas ranjang. Dia berguling-guling ke sana kemari sembari ber hip hip hore. Tak hanya itu, Zelda berdiri di atas ranjang kemudian mulai melompat-lompat riang dan semangat. "Aku bebas aku bebas …," ucap Zelda dengan setengah berteriak. "Semoga Paman lama di sana. Agar aku bebas, ahahaha ahaha ahaha … uhuk uhuk uhuk." Zelda terus tertawa dengan bahagia dan senang, melompat-lompat di atas ranjang sembari menari-nari senang. Namun tawanya tersebut berubah menjadi batuk-batuk ketika melihat sosok pria dewasa dengan postur tubuh yang tinggi dan raut muka dingin berdiri di ambang pintu menuju balkon. Pria itu menyender dengan cool, merokok dan menghadap ke arah Zelda–menatap datar ke arah Zelda yang sudah memucat dan gugup setengah mati. 'Di--dia di sini,' batin Zelda, mendadak terdiam–masih berdiri di atas ranjang dan menatap cemas serta takut-takut ke arah Pamannya. Akan tetapi seorang Marvin merokok? Bolehkah Zelda terkejut?! Sungguh dia tidak menyangka jika Marvin merokok. Marvin menghembuskan asap rokok dari mulut, terus menatap istrinya dengan raut muka dingin dan tatapan datar namun menyala serta penuh ancaman. Dia menjatuhkan rokok lalu menginjaknya dengan kaki telanjang, mematikan puntung rokok kemudian berjalan sembari menggulung lengan kemeja hitam yang dia kenakan hingga sikut. Zelda meneguk saliva secara kasar, semakin panik dan takut kala Marvin melangkah ke arahnya. Sial! Zelda sudah terlanjur senang Marvin tak di sini, tetapi ternyata pria ini malah tak pergi kemana-mana. 'Mana kepergok lagi. Ck, untung aku tidak sampai ke tahap mengata-ngatai Paman. Ah, shibal!' batin Zelda, dengan kikuk dan gugup setengah mati turun dari ranjang. "Se--selamat malam, Paman," sapa Zelda dengan nada gugup dan terbata-bata, saat Marvin sudah di depannya–membuat mata Zelda bergerak tak nyaman. Sialnya lagi, beberapa kancing kemeja Marvin pada bagian atas terbuka begitu saja–membuat d**a bidang dan kokoh milik pria itu terlihat samar tetapi menggoda. "O--oh, Paman ingin istirahat yah? Si--silahkan." Zelda meminggir, mempersilahkan Marvin ke ranjang. Namun, Marvin tetap diam, bersedekap dengan dingin sembari menatap penuh ancaman pada Zelda. Auranya yang mengerikan mendominasi dan mencekik Zelda, membuat Zelda diam-diam merinding takut serta merasa terancam. "Ouh kasurnya sedikit berantakan ternyata. A--aku akan perbaiki." Zelda cengengesan. Buru-buru memperbaiki kekacauan yang dia buat di ranjang estetik dan mewah milik pria dingin serta kaku ini. Namun tiba-tiba saja, Marvin menarik pergelangan tangannya–menyentaknya dengan cukup kuat dan membuat Zelda berakhir menabrak d**a bidang pria itu. Sadar akan posisinya yang terlalu intim menurut Zelda, dia berniat menjauh. Namun sebelum dia beranjak sedikitpun, tangan Marvin lebih dulu mengalung di pinggang Zelda; melingkar di sana dengan erat dan sangat posesif.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN