Ciuman yang Memabukkan

969 Kata
Namun sebelum dia beranjak sedikitpun, tangan Marvin lebih dulu mengalung di pinggang Zelda; melingkar di sana dengan erat dan sangat posesif. "Pa--Paman …-" Cup' Belum selesai Zelda melanjutkan perkataannya, bibir pria itu lebih dulu menempel di atas bibirnya. Zelda membelalak kaget, beberapa detik tak bisa menguasai diri dengan hanya terdiam dan mematung. Jantungnya berdebar kencang, rasanya akan pecah di dalam sana. Bibir Marvin perlahan bergerak, menyapu dan melumat bibir lembut dan manis Zelda. Awalnya hanya lumatan dengan ritme pelan dan penuh penghayatan, namun beberapa detik setelah itu lumatan Marvin berubah kasar, menuntut dan juga rakus. Jantung Zelda semakin kacau dalam sana, wajahnya memucat dan matanya membulat sempurna. Dia tahu dia pernah melakukan ini, bahkan lebih dengan Marvin. Namun, tetap saja Zelda tidak bisa menguasai diri–dia tetap terkejut dan risih dengan semua ini. "Eungmmm," racau Zelda, memejamkan mata sembari mendorong kuat d**a bidang sang paman. Bukan! Dia sedang tak menikmati. Zelda lebih ke takut, tak nyaman dan bolehkah dia mengatakan jika ini menjijikkan? Sungguh, Zelda mual! Dia tak suka! Ditambah aroma rokok dan rasa sepat dari bibir Marvin. Mungkin karena pria ini habis merokok. Setelah Marvin melepas pangutan mereka, Zelda langsung memburu oksigen. Bukan hanya itu, dia juga berusaha menetralkan debaran jantung serta berusaha merileks-kan tubunnya. Jujur saja, Zelda terguncang dan syok! "Paman merokok," keluh Zelda, perlahan mundur sembari menutup bibir dengan telapak tangan. Dia mundur sebab Marvin mendekatinya, mengikis jarak dan membuat Zelda takut. Dug' Kaki Zelda terhantuk ke sisi ranjang, berakhir membuat Zelda terjatuh. Untung dengan cepat dia mengambil posisi duduk–reflek karena takut Marvin macam-macam dengannya. Zelda suka uang pria ini, dia suka perhatian pria ini dan dia suka pribadi tenang pria ini. Namun, Zelda sangat-sangat tak suka jika Marvin sudah seperti sekarang. Dia takut dengan sentuhan pria ini! "Kau tidak suka?" Suara dingin Marvin mengalun, dia sedikit membungkuk–mencondongkan tubuhnya ke arah wajah Zelda, menatap tajam dan penuh peringatan pada sang istri. Zelda menganggukkan kepala, spontan mendorong pelan pundak Marvin ketika pria itu berniat ingin menciumnya lagi. "Aku tidak tahan dengan aroma rokok, Paman. Aku … aku bisa pusing!" keluh Zelda, memejamkan mata dan memalingkan wajah; saking takutnya dia Marvin menciumnya kembali. Marvin berdecis geli, terus menatap Zelda secara intens dan penuh ketertarikan. Matanya gelap, tidak terbaca dan sangat misterius. Raut mukanya secara keseluruhan terlihat dingin dan menakutkan. "Aku juga tidak suka istriku keluyuran, Mi Amore." Marvin menegakkan tubuhnya–membuat Zelda yang merasa Marvin telah jauh, membuka mata secara perlahan. Zelda mengerjab lalu melirik takut-takut pada Marvin. "Kau sudah bersuami, tahu batasanmu dalam pergaulan," tambah Marvin, masih dengan suara yang dingin dan penuh peringatan. "Aku kan masih muda. Salah Paman kenapa menikahiku!" kesal Zelda mencicit pelan sembari melirik takut-takut pada Marvin. "Membantah." Marvin berucap dingin, tiba-tiba mencekal pergelangan Zelda. Dia menarik perempuan itu lalu membawanya ke arah kamar mandi. "Pa--Paman!" Zelda memekik takut. Wajahnya pias dan jantungnya berdebar kencang. "O-oke, aku meminta maaf. Besok aku tidak akan mengulangi lagi, Paman. Aku ber--berjanji." Marvin tak mendengarkan sama sekali. Dia menyalakan shower dengan suhu air rendah alias dingin, lalu memandikan Zelda saat itu juga dengan paksa. "Aaaaa … i--ini terlalu dingin. Ber--berhenti!" pekik Zelda, rasanya campur aduk. Dia panik karena terlalu kedinginan, dia juga ingin menangis tetapi sangking takutnya pada Marvin, air matanya terasa tak ingin keluar dari pelupuk. Sungguh, air ini mirip seperti air es. Dan ini sangat-sangat dingin–dinginnya menusuk kulit Zelda. "Ini hukuman karena kau tidak patuh padaku, Zelda Amira." Marvin berkata datar, mendekati Zelda dan memaksa untuk melepas Hoodie yang Zelda kenakan. Wajah Marvin terlihat semakin marah, berbeda dengan Zelda yang sudah memucat kedinginan dan takut. "Ja--jangan …." Zelda melirih dengan pelan, meringsut ke sudut kamar mandi, takut Marvin macam-macam padanya. Sedangkan Marvin, dia menyentak pergelangan tangan Zelda– menariknya dengan kuat dan setelah itu membuka Hoodie tersebut secara paksa. "Bahkan kau mengganti dress yang kuberi dengan pakaian milik seorang laki-laki, Zelda Amira," geram Marvin, nadanya begitu dingin dan mengancam. Setelah melepas Hoodie tersebut, Marvin langsung melemparnya secara kasar dan marah ke arah sembarangan. "A--aku tidak nyaman menggunakan dress …," cicit Zelda, menyilangkan tangan di depan d**a–semakin menggigil ketakutan melihat amarah yang menyelimuti wajah pamannya. Dia benar-benar tidak paham dengan pria ini. Marvin sangat lembut padanya, tetapi saat ini Marvin kenapa bisa sangat mengerikan dan kasar?! Dia seperti bukan pamannya yang penuh perhatian dan selalu berkata manis pada Zelda. Marvin hanya diam, memandikan Zelda dengan air es–sebagai hukuman agar Zelda tidak keluyuran lagi. *** "Kemari," ucap Marvin, duduk dengan menyender ke kepala ranjang–memanggil Zelda yang berbaring meringkuk kedinginan di sisi ranjang lainnya. Setelah dimandikan oleh pria ini dengan air yang sangat dingin, Marvin juga lah yang memakaikannya pakaian. Walau sempat menunjukkan sisi lucifer-nya pada zelda, namun Marvin tetap perhatian. Dia memilih pakaian berbahan tebal dan menghangatkan untuk Zelda, bahkan memakaikan kaus kaki biru muda dengan boneka beruang pada kaki Zelda. Walau Zelda tetap kedinginan! Dengan gerakan terpaksa, Zelda mendekati Marvin–di mana pria itu menarik Zelda untuk berbaring di atas tubuhnya. Posisinya, Zelda berbaring dengan menyender ke d**a bidang suaminya tersebut. Marvin menyelimuti tubuhnya dan dari dalam selimut, tangan pria itu melingkar dan memeluk tubuh Zelda yang masih mengigil kedinginan. "Masih dingin?" tanya Marvin, Zelda mengangguk pelan. 'Aku kapok! Aku kira Paman tidak bisa marah, ternyata bisa dan sangat mengerikan. Aku benar-benar kapok.' "Selanjutnya kau akan mendapat lebih dari ini jika berani keluyuran dan pergi tanpa izin padaku," peringat Marvin, mengeluarkan rokok dari laci nakas. Zelda yang melirik dan diam-diam memperhatikan, sontak dibuat panik. Dia memang bandel, tetapi Zelda anti rokok dan asapnya. Dia suka pusing dan bahkan bisa mual bila mencium aroma serta asap rokok. Dan teman-temannya yang laki-laki, Zelda tak tahu mereka merokok atau tidak. Namun mereka tak pernah tercium beraroma rokok oleh Zelda. "Ja--jangan merokok," ucap Zelda, tiba-tiba bangkit dan langsung merampas korek saat Marvin ingin menyalakan rokok.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN