Part 12

4924 Kata
"Kalau begitu, saya permisi dulu.." pamit Pak Emrick padaku, George, Ivory dan Jhion. "Hati - hati di jalan.. Sampai jumpa lagi," ujar kami berempat secara bersamaan. "Sampai jumpa lagi, kakak peri !" seru Helia sambil melambaikan tangannya padaku. Aku tersenyum sambil membalas lambaian tangan Helia, "Sampai bertemu lagi, Helia.." Begitu Pak Emrick dan Helia pergi, aku serta Jhion pun akhirnya memutuskan untuk pulang dan berpisah dengan George serta Ivory. Jhion dan aku sudah berada di dalam mobil, "Kau masih ingin makan sushi ?" tanya Jhion. Aku mengangguk dengan cepat, "Tentu saja ! Dan bisakah kita pergi ke suatu tempat ?" "Tentu.. Kau ingin pergi kemana ?" tanya Jhion. "Bisakah kita pergi ke taman bunga milikku ?" ujarku. Jhion tampak bingung, "Taman bunga milikmu ?" "Ada seseorang yang sengaja membuatkan taman bunga untukku, jadi bukankah itu artinya taman bunga itu adalah milikku ?" tanyaku sambil tersenyum lebar, "Atau bisa di bilang, taman bunga rahasia Jhionsy ?" Jhion menatap kedua mataku lekat - lekat, entah kenapa aku seperti terhipnotis oleh tatapan matanya, Tiba - tiba secara perlahan wajah Jhion mendekat ke arahku, "Ya Tuhan ! Apa ini ?!" jeritku dalam hati, "Kenapa dia menatapku dan mengapa dia mendekatkan wajahnya padaku ?!" Dag ... Dig ... Dug ... Jantungku berdegup kencang ! Sangat kencang ! Aku terus memperhatikan Jhion yang semakin mendekat ke arahku, Hangatnya nafas Jhion terasa dekat dan menyentuh wajahku dengan lembut, "Apakah dia akan menciumku ? B-bagaimana ini ? Aku harus apa ?!" lagi - lagi aku menjerit dalam hati. Rasanya jantungku seperti mau meledak ! "Pakai sabuk pengamanmu," ucap Jhion sambil memakaikan sabuk pengaman padaku. Aku langsung melemas, "Ya Tuhan ! Ku kira dia akan menciumku.." batinku. "Kau kenapa ?" tanya Jhion. "Apanya ?" aku balik bertanya, "Apa maksudmu ?" "Kau terlihat lemas.. Apa kau sakit ?" tanya Jhion. "Tidak ! Aku baik - baik saja," seruku dengan suara lantang. Jhion sedikit terkejut dengan suaraku, "Aku kan hanya bertanya," Aku berdeham sedikit, "S-seharusnya kau tak perlu memakaikanku sabuk pengaman, aku kan bisa melakukannya sendiri, kau pikir aku anak kecil ?" "Entahlah.. Aku hanya ingin melakukannya," ucap Jhion sambil menyalakan mesin mobilnya. Sekilas aku melihat Jhion mengulum senyumnya, "K-kau sengaja ya ?!" protesku. "Apa maksudmu ?" tanya Jhion sambil menjalankan mobilnya keluar dari area parkir rumah sakit. "Wah ! Aku tidak tahu kau punya sisi yang seperti ini," ucapku, "Kau sengaja kan memakaikan sabuk pengaman padaku ?" "Memangnya kenapa ? Ada yang salah dengan hal itu ?" Jhion tampak tidak peduli dengan ocehanku. "ADA ! YANG JADI MASALAH ADALAH,.... K-KENAPA KAU MEMBUATKU BERPIKIR KAU AKAN MENCIUMKU ?!" teriakku dalam hati. "Sudahlah.. Lupakan saja," ujarku. Sepertinya ada yang salah dengan otakku dan bisa - bisanya jantungku berdegup kencang seperti itu, Bisa gila aku ! "Ayolah Wensy ! Luruskan pikiranmu !" ucapku dalam hati. Tarik nafas.. Buang.. Mari kita singkirkan segala pikiran - pikiran aneh ini dari otakku, Sepertinya aku sudah terlalu lama tidak berkencan, sampai - sampai berdebar hanya karena hal seperti ini. ~ Setelah membeli dan membungkus makanan beserta minuman, aku dan Jhion akhirnya tiba juga di taman bunga pribadi milik Jhion, Aku segera melompat turun dari mobil begitu Jhion selesai memarkir mobil dan mematikan mesin mobilnya. "Senangnya.. Sudah lama aku tidak merasakan kedamaian ini," ucapku dalam hati. Tanpa mempedulikan Jhion yang masih berada di dalam mobil, aku dengan cepat berjalan menuju sebuah gazebo yang berada di tengah - tengah taman, "Sepertinya aku baru pertama kali melihat gazebo ini," batinku sambil duduk di sebuah bangku yang ada di dalam gazebo tersebut. Aku memperhatikan setiap sudut gazebo dengan seksama, Gazebo modern yang memiliki rangka kayu berwarna putih, memiliki atap berwarna abu - abu, dan dalam gazebo tersebut di letakkan sebuah meja serta beberapa bangku berwarna putih, Suara gemericik air mengalihkan pikiranku, aku menoleh ke sana kemari untuk mencari darimana sumber suara tersebut, Rupanya tak jauh dari gazebo, terdapat sebuah kolam kecil berbentuk lingkaran dengan air yang jernih dan terdapat beberapa ikan di dalamnya, "Kau menyukainya ?" tanya Jhion yang datang menyusulku sembari meletakkan sebuah paperbag yang berisi makanan serta minuman di atas meja. Aku mengangguk cepat sambil tersenyum lebar, "Baguslah," komentar Jhion sembari duduk di sebelahku, "Tidak sia - sia aku menambahkan gazebo serta kolam ikan itu," "Sejak kapan kau membuat gazebo serta kolam ikan itu ?" tanyaku. "Mungkin sekitar 2 minggu yang lalu ? Ah tidak.. Sepertinya seminggu yang lalu," jawab Jhion. Aku tercengang tak percaya, "Yang benar saja ? Bukankah membangun gazebo serta kolam ikan membutuhkan waktu lebih dari seminggu ?" Jhion tersenyum tipis, "Itu hal yang mudah untukku," Aku berdecak sambil menggelengkan kepalaku, "Kau pasti menghabiskan banyak uang untuk semua ini.." "Mungkin.." jawab Jhion sambil terkekeh. "Kenapa kau melakukannya ?" tanyaku. "Melakukan apa ?" Jhion balik bertanya. "Membuat gazebo dan kolam ikan," ujarku, "Yang ku tahu, kau bukanlah orang yang tertarik dengan hal seperti ini.. Kau lebih suka menghabiskan waktu dengan komputer dan semacamnya," "Karena kau menyukainya," ujar Jhion pelan. Aku menatap Jhion tanpa berkedip, memastikan bahwa pendengaranku tidak salah, "A-apa hubungannya dengan itu ?" Jhion menatapku sejenak seperti ingin mengatakan sesuatu, "Rahasia," ujarnya pelan, kemudian tangannya meraih paper bag coklat yang ada di atas meja dan mengeluarkan dua buah dus yang di d******i dengan warna orange dan putih, "Ayo kita makan.. Sesuai janjiku, aku membelikanmu sushi," Aku menepuk kedua tanganku sambil tersenyum lebar, "Kau memang yang terbaik !" "Aku juga membeli caramel macchiato untuk kita berdua," ujar Jhion lagi sembari mengeluarkan dua paper cup dari dalam paper bag coklat itu. Aku tak bisa menyembunyikan lagi kesenanganku karena hal - hal kesukaanku ada di depan mataku, sontak aku memeluk Jhion dengan erat, "Kau selalu tahu apa yang menjadi kesukaanku dan selalu membuatku senang.. Terimakasih Jhion !" Jhion tampak diam membeku melihat tingkahku, "Astaga, Wensy !! Kau kenapa sih ? Apa yang kau lakukan ?!!" teriakku dalam hati. Buru - buru aku melepaskan pelukanku dari Jhion, "Maaf, aku spontan memelukmu.." ujarku pelan karena menahan malu. Jhion berdeham, "T-tidak apa - apa.." ujarnya. "Aduh ! Jhion pasti akan menganggapku aneh !" batinku, "Memalukan sekali !!" "A-yo kita makan," ujar Jhion, "Sepertinya makanan dan minuman kita semakin hangat,- M-maksudku semakin dingin.." "O-oh iya, kau benar.. Ayo kita makan," ucapku sambil terkekeh dan menggaruk - garuk kepalaku yang tidak gatal. Aku dan Jhion buru - buru membuka dus sushi yang ada di hadapan kami masing - masing, benar - benar canggung sekali ! Aku tidak tahu bagaimana aku harus menghadapi Jhion setelah ini ! Bisa - bisanya aku berperilaku bodoh seperti itu ! Hahhh !! Wensy ! Kau sudah gila !! Duhh !! Memalukan sekali !! ~ Tok.. Tok... Tok.. "Masuk.." ujarku saat mendengar ketukan dari luar pintu ruanganku tanpa mengalihkan pandanganku dari laptopku. Bryan muncul dari balik pintu setelah aku memperbolehkannya untuk masuk, "Manager Wensy.. Ada seseorang yang mencari anda," "Siapa ?" tanyaku sambil tetap memperhatikan data – data keuangan yang ada di laptopku. "Namanya Dominic ..." ujar Bryan. "Dominic ?" tanyaku seraya mengerutkan dahiku sambil menatap Bryan yang masih berdiri di ambang pintu ruanganku. Bryan mengangguk, "Dari divisi perencanaan dan strategis, manager.." "Persilahkan dia masuk," ujarku kemudian. Seorang pemuda dengan rambut pirang masuk ke dalam ruanganku, Ah ! Aku ingat sekarang.. Dia pemuda yang memberikanku sebuah scarf putih dengan motif bunga sakura berwarna pink muda serta surat beberapa minggu lalu. Dan aku baru ingat kalau aku belum memberikan jawaban padanya perihal dia mengajakku untuk berkencan, padahal ajakannya untuk berkencan sudah lewat dari waktu yang di tentukan. "Selamat siang, Manager Wensy.." sapanya padaku dengan sedikit gugup. Aku sejujurnya merasa tak enak hati karena lupa dan tidak memberikan jawaban secepatnya, namun tetap saja pada akhirnya aku berpura – pura tidak ingat dengan ajakannya untuk berkencan, "Selamat siang,.. Ada apa anda datang kemari ?" "A-nu, manager.." Dominic tampak meremas – remas kedua tangannya dan beberapa kali berdeham. "Apakah ada masalah dengan divisi perencanaan dan strategis ?" tanyaku. "Oh bukan, manager.." jawab Dominic dengan cepat, "Tentu saja bukan tentang hal itu dan hal yang ingin saya bicarakan ini sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaan," Aku menaikkan kedua alisku, "Oh... Lalu ??" "Emm.. Itu, manager,-" wajah Dominic tiba – tiba terlihat memerah. Aku menghela nafas, perasaanku berkata bahwa dia pasti ingin membahas perihal ajakannya untuk berkencan beberapa minggu lalu, "Tunggu dulu, Dominic.. Jangan katakan apapun," ujarku sambil memotong ucapan Dominic, kemudian aku menatap ke arah pintu ruanganku sembari menyilangkan kedua tanganku di depan dadaku, "Vony ! Nasya ! Steve !! Apa sekarang pekerjaan kalian adalah menguping pembicaraan orang lain ?! Selesaikan laporan kalian sebelum jam makan siang !!" teriakku kencang saat dengan jelas aku melihat anggota teamku yang sedang berjongkok di depan ruanganku dan menempelkan telinga mereka di pintu ruangan kerjaku yang sedikit terbuka. "B-baik, manager.. Maafkan kami," sontak Vony, Nasya dan Steve langsung membubarkan diri dan cepat – cepat kembali ke meja mereka masing – masing untuk menyelesaikan pekerjaan mereka sebelum aku semakin murka. Dominic tampak terkejut melihatku yang berteriak pada anggota teamku seperti itu, mungkin selama ini dia selalu berpikir bahwa aku adalah atasan yang lembut dan ini pertama kalinya dia melihatku marah, "Maaf karena membuat anda terkejut," ujarku pada Dominic, "Jadi hal apa yang ingin anda bicarakan ?" "Manager, anda keren sekali !" ucap Dominic tiba – tiba sambil mengacungkan kedua ibu jarinya padaku. "Y-ya ?" aku heran dengan reaksi dan ucapan Dominic. "Ah tidak.. Saya sangat kagum dengan ketegasan anda pada anggota team anda," jelas Dominic, "Lalu.. Sebenarnya kedatangan saya ke sini adalah karena saya ingin menanyakan jawaban anda tentang ajakan saya untuk berkencan,.." Nah ! Tepat seperti dugaanku ! "Apakah anda ingin berkencan dengan saya ?" tanya Dominic kemudian. BRAKK !! Terdengar suara yang cukup kencang dan membuatku serta Dominic langsung menoleh ke arah sumber suara, "Asisten Bryan ? Anda baik – baik saja ?" tanyaku saat melihat Bryan yang sedang berjongkok sembari mengambil beberapa file tebal yang terjatuh di atas lantai. "Saya baik – baik saja, manager.." jawab Bryan, "Maaf.. Karena tidak hati – hati, saya jadi mengganggu pembicaraan anda berdua," Aku berjalan mendekati Bryan, "Tidak apa – apa.. Itu bukan masalah besar, tapi sepertinya tadi anda menabrak lemari saat membawa file – file ini, apakah benar anda baik – baik saja ?" Bryan tampak memalingkan wajahnya, mungkin dia malu karena secara tidak langsung aku melihatnya menabrak lemari yang ada di ruanganku, "J-angan khawatir, manager.. Saya tidak apa – apa," ujar Bryan, "Silahkan lanjutkan pembicaraan anda, saya hanya ingin merapikan file – file ini dan setelah itu saya akan keluar," "Baiklah," ujarku seraya kembali menuju meja kerjaku, "Maaf Dominic, mari kita lanjutkan pembicaraan kita," "Ah iya.." ujar Dominic, "Jadi manager, apakah anda mau berkencan dengan saya ?" BRAKK !! Lagi – lagi Bryan menjatuhkan sebuah file yang cukup tebal dan besar, "Asisten Bryan, anda yakin baik – baik saja ?" tanyaku lagi saat melihat Bryan yang tidak pernah sekalipun ceroboh, tiba – tiba menjadi ceroboh, "Apakah anda sakit ?" "Tidak, manager.. Saya minta maaf," ujar Bryan, "Tolong jangan hiraukan kehadiran saya," Aku bersandar pada kursiku dan menatap Bryan selama beberapa detik, memastikan bahwa asistenku benar – benar dalam keadaan sehat, kemudian aku kembali menatap Dominic yang ada di hadapanku, "Jadi Dominic.. Mengenai ajakan anda untuk berkencan,-" "Ah, jika anda keberatan.. Bagaimana jika di mulai dengan tahap pengenalan terlebih dahulu ?" Tanya Dominic, "Sepertinya terlalu tiba – tiba, jika saya langsung mengajak anda untuk berkencan.." "Apa alasan anda ?" tanyaku pada Dominic. "Ya ??" Dominic tampak bingung dengan pertanyaanku. Aku meletakkan kedua tanganku di atas meja, "Apa alasan anda mengajak saya berkencan ?" Wajah Dominic memerah begitu mendengar pertanyaanku, "Itu.. Karena saya sangat menyukai anda," "Sejak kapan ?" tanyaku lagi. "Saya tidak yakin," jawab Dominic, "Tapi sepertinya sejak anda masih bekerja sebagai asisten manager,.." Aku mengangkat kedua alisku, "Anda menyukai saya sejak saat itu ?" tanyaku tak percaya, "Kalau begitu, kenapa anda menyukai saya ?" "Karena anda sangat cantik dan bersinar begitu saya melihat anda,.. Sepertinya saya jatuh cinta pada pandangan yang pertama," jawab Dominic dengan sangat yakin, "Saya semakin menyukai anda ketika melihat anda dengan berani bernegosiasi dengan para penyusup untuk menyelamatkan pada sandera," "Tentang itu lagi rupanya,.." batinku. "Hmm... Begitu ya," ucapku, "Lalu apa saja yang anda ketahui tentang saya ?" "Anda selalu tepat waktu, berani, bertanggung jawab, peduli pada orang lain," jawab Dominic. "Selain itu ?" tanyaku lagi, "Seperti hobi atau warna kesukaan ?" "Emm... Sepertinya anda menyukai warna merah," jawab Dominic ragu – ragu, "Lalu hobi anda adalah emm... Jujur saya tidak tahu," Aku tersenyum, "Dominic..." panggilku lembut. "Iya, manager ?" Dominic tampak gugup. "Saya sangat menghargai perasaan anda.. Terimakasih karena sudah menyukai dan jatuh cinta pada seseorang seperti saya," ujarku pelan, "Tapi, saya minta maaf karena sepertinya saya tidak bisa menerima perasaan anda," Dominic tidak bersalah di sini, hanya saja aku tak yakin bisa menjalin hubungan lagi dengan orang lain. Jika aku menjalin hubungan dengan Dominic, bagaimana aku bisa menceritakan tentang masa lalu ku yang buruk ? Lalu bagaimana jika setelah mengetahui tentang masa lalu ku, Dominic jadi memilih untuk meninggalkanku ? Aku tidak berani untuk membuka hatiku kembali ... Lalu, tentang traumaku.. Aku tak ingin ada lagi yang mengetahuinya.. "Ah.. Sepertinya saya terlalu terburu – buru," ujar Dominic kemudian sambil tersenyum, namun dari sorot matanya, aku tahu dia kecewa dengan jawabanku. "Maafkan saya, Dominic.." ujarku. "Tidak apa – apa, manager..." ujar Dominic, "Anda memiliki hak untuk menerima ataupun menolak pernyataan cinta saya," Aku benar – benar merasa tak enak hati karena menolak Dominic, bagaimanapun, sepertinya dia orang yang baik dan tulus hati, "Saya benar – benar minta maaf..." ujarku pada Dominic, "Saya harap anda bisa bertemu dengan orang yang lebih baik dari saya," Dominic tersenyum, "Sebagai gantinya.. Bolehkah saya menjabat tangan anda ?" ucapnya sembari mengulurkan tangannya padaku. Aku mengangguk dan menerima uluran tangan Dominic, "Tolong jangan merasa terbeban atau pun merasa bersalah dengan perbincangan hari ini, manager.. Anda sama sekali tidak melakukan kesalahan," ujar Dominic, "Dan jika anda tidak keberatan, bolehkah saya menjadi teman atau sahabat anda ?" "Dia menghargai dan mengerti perasaanku," ucapku dalam hati. Aku tersenyum, "Saya tidak akan menolak persahabatan," Dominic tersenyum, "Terimakasih, Manager Wensy.. Lalu, untuk hadiah yang saya berikan waktu itu, anggap saja sebagai hadiah persahabatan dan saya harap anda tidak merasa terbeban untuk menerima hadiah tersebut.." "Baiklah.. Saya akan menganggap hadiah tersebut sebagai hadiah persahabatan," ujarku. Dominic masih menjabat tanganku, sepertinya dia enggan untuk melepaskan genggaman tangannya dari tanganku, "Ehem !!" Bryan berdeham cukup keras dan membuat Dominic langsung melepaskan genggaman tangannya dari tanganku. "K-kalau begitu saya permisi, Manager Wensy.." ujar Dominic. "Baiklah.." ujarku sambil tersenyum. Dominic berjalan keluar dari ruanganku, aku memperhatikan punggung Dominic, "Maaf Dominic..." batinku. Lebih baik aku menolak Dominic seperti ini, daripada aku membuatnya berharap dan tidak memberikan kepastian padanya. Mungkin saat ini Dominic akan kecewa, tapi aku yakin, dengan penolakanku ini, Dominic akan lebih mudah untuk melupakanku dan menemukan seorang wanita yang lebih baik dan pantas untuknya. "Manager, apakah siang ini anda jadi menemui Pak CEO ?" Tanya Bryan membuyarkan pikiranku. Aku mengangguk, "Setelah Nasya menyelesaikan laporan dan menyerahkannya pada saya," "Apakah ada hal lain yang perlu saya persiapkan atau saya bantu ?" Tanya Bryan lagi. "Setelah Nasya menyerahkan laporan, tolong bantu saya untuk memeriksa ulang semuanya.." ucapku. "Baik, manager.." ujar Bryan. "Lalu bagaimana tentang pengawasan di divisi pemasaran ?" tanyaku sambil memangku daguku dengan tangan kiriku. "Sepertinya anggota divisi pemasaran mengetahui kalau saya sedang mengawasi mereka, dan mungkin karena itu mereka sangat berhati – hati sekarang," jawab Bryan. Aku mengetuk – ngetuk jari telunjuk tangan kananku di atas meja, "Hmm... Begitu ya," "Menurut manager, mereka melakukan korupsi ?" tanya Bryan. "Yah sepertinya sebutan "korupsi" agak terlalu berlebihan, tapi mungkin bisa di bilang beberapa di antara mereka "sedikit" menyalahgunakan dana perusahaan... Meskipun mungkin biaya tersebut tidaklah besar, tapi tetap saja kita memerlukan kejujuran agar perusahaan tidak mengalami kerugian," ujarku, "Jika di biarkan begitu saja, bisa jadi suatu saat penggelapan dana yang lebih besar terjadi.." Bryan mengangguk mendengar penjelasanku, "Saya setuju dengan anda.. Lalu apakah ada orang – orang yang anda curigai ?" "Sejauh ini, Saya tak berani mencurigai siapapun karena belum ada bukti yang kuat," jawabku, "Bagaimana dengan anda ?" "Setidaknya ada 4 orang yang saya curigai, tapi saya tak ingin mengatakan siapa saja karena sama seperti yang manager katakan, belum ada bukti yang kuat.." jelas Bryan. Aku menyandarkan tubuhku pada kursi, "Sepertinya divisi kita harus mempersiapkan diri," "Mempersiapkan diri untuk apa, manager ?" Bryan tampak bingung dengan ucapanku. Aku tersenyum penuh arti, "Nanti juga anda akan tahu.." Bryan menatapku dengan wajah bertanya – tanya, dia terlihat ingin mendesakku agar menjelaskan maksud dari ucapanku, tapi sepertinya dia mengurungkan niatnya itu. "Asisten Bryan, tolong panggil semua anggota ke ruangan saya karena ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan.." ujarku. "Baik, manager.." ujar Bryan sembari keluar dari ruanganku. Selang beberapa menit kemudian Bryan kembali ke ruanganku bersama dengan anggota teamku yang lain, "Nasya, apakah laporan yang saya minta sudah selesai ?" tanyaku saat melihat Nasya yang berjalan tepat di belakang Bryan. Nasya mengintip dari balik tubuh Bryan, dia sedikit meringis ke arahku dan menatapku dengan sedikit takut, "Manager.. Saya butuh waktu sedikit lagi untuk menyelesaikannya.." Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dadaku sembari menghela nafas dan menatap Nasya dengan galak, "Apakah 1 jam cukup ?" Nasya dengan cepat mengangguk, "Baiklah.." ujarku kemudian, "1 jam dan tidak lebih," "Terimakasih, manager.. Saya akan menyelesaikannya dengan cepat," ujar Nasya. Aku menganggukkan kepalaku mendengar ucapan Nasya, kemudian aku beranjak berdiri dan menyuruh anggota teamku untuk duduk di sofa yang ada di ruanganku, Semua anggota teamku pun menuruti perkataanku, dan aku memilih untuk tetap berdiri sambil menatap mereka semua, "Baiklah.. Ada beberapa hal yang akan saya sampaikan," ujarku, "Siang ini, setelah Nasya menyelesaikan laporan," aku menatap Nasya sekilas dan dengan sedikit canggung Nasya tersenyum padaku, "Saya dan asisten Bryan akan menunjukkan laporan tersebut langsung kepada Pak CEO.." "Manager, maaf menyela, tapi apakah tidak apa – apa jika langsung memberikan laporan tersebut kepada Pak CEO ? Bagaimana jika direktur marah ?" tanya Vony. "Kau ini bicara apa ? Bukankah Pak CEO sendiri yang bicara kalau Manager Wensy sekarang termasuk orang kepercayaannya.. Waktu itu kita mendengarnya langsung," ucap Steve. "Tetap saja, kalau direktur marah, Manager Wensy yang akan kena getahnya.." ucap Vony. "Vony, Steve.. Tolong dengarkan Manager Wensy terlebih dahulu," tegur Pak Jeffrand. "Maaf, manager.." ujar Vony dan Steve bersamaan. "Tidak apa – apa.. Saya mengerti kecemasan kalian," ujarku, "Tapi kalian tidak perlu khawatir karena saya sudah menyampaikan hal ini pada direktur dan beliau menyuruh saya untuk menemui Pak CEO secara langsung, tentu saja atas perintah Pak CEO.." "Syukurlah kalau memang begitu.." ujar Vony, "Saya takut jika nantinya manager terkena masalah dengan alasan tidak mematuhi prosedur yang ada," Aku tersenyum, "Terimakasih sudah mengkhawatirkan saya.." kemudian aku melanjutkan topik pembicaraan, "Lalu setelah saya menyerahkan laporan ini pada Pak CEO, ada dua kemungkinan yang akan terjadi.." aku menarik nafas sejenak dan melanjutkan ucapanku, "Pertama, kemungkinan Pak CEO akan langsung menyelidiki siapa yang menyalahgunakan dana perusahaan... Tapi, kemungkinan yang kedua, bisa jadi Pak CEO tidak mau mempermasalahkan hal tersebut, karena seperti yang kalian tahu, jumlahnya tidak besar.." Semuanya terdiam mendengar ucapanku saat aku menyebutkan kemungkinan kedua, jika Pak CEO menutup mata tentang hal ini, semua usaha mereka dalam menyelidiki, memperbaiki laporan dan mengawasi divisi pemasaran akan menjadi hal yang sia – sia dan membuang waktu. "Saya mengatakan hal ini agar kita sama – sama mempersiapkan diri apapun tindakan Pak CEO nantinya.." ucapku, "Dan jika Pak CEO memilih untuk menyelidiki siapa yang melakukan penggelapan dana, maka kalian semua harus menyiapkan mental kalian... Bisa saja anggota divisi pemasaran maupun anggota dari divisi lain, tidak akan menyukai divisi kita," Semua tampak menahan nafas sejenak begitu mendengar ucapanku, "Tapi jangan khawatir, karena kita akan menghadapinya bersama – sama.. Yang terpenting adalah kita menunjukkan kejujuran dalam bekerja dan berusaha sebaik mungkin agar tidak menimbulkan kerugian pada perusahaan," ujarku lagi sambil tersenyum hangat. "Baiklah, manager !" ujar Cloe dengan suara nyaring, dia anggota yang berambisi tinggi ketimbang yang lainnya, "Apapun hasilnya nanti, kita akan hadapi bersama.." "Semangat semuanya !" ujar Pak Jeffrand. "SEMANGATT !!" sahut anggota team yang lain termasuk aku sambil tersenyum lebar. Aku menepuk tangan satu kali, "Baiklah semuanya.. Silahkan lanjutkan pekerjaan kalian," ujarku pada semua anggota teamku. "Baik, manager.." jawab semua anggota teamku sambil beranjak berdiri dan berjalan keluar menuju ruanganku. "Nasya.." panggilku sambil menatap Nasya dengan tegas, "Ingat ! Selesaikan laporanmu dalam waktu 1 jam," "B-baik, manager.." jawab Nasya sembari buru – buru keluar dari ruanganku, entah karena dia takut padaku atau karena dia ingin segera menyelesaikan laporannya. ~ Gedung perkantoran " J-VISION PAPER " terlihat menjulang tinggi dan berdiri megah di hadapanku, "Kau tidak turun ?" tanya Jhion yang mengantarku untuk bekerja pagi ini. Bukannya menjawab pertanyaan Jhion, aku malah menarik nafas dalam – dalam dan menghembuskannya perlahan, begitu terus selama beberapa menit, "Kau sakit ? Atau apakah serangan panikmu kambuh lagi ? Perlukah kita ke rumah sakit sekarang ?" Jhion tampak khawatir dan menghujaniku dengan pertanyaan. Aku menoleh ke arah Jhion dan tersenyum kecil, "Aku baik – baik saja.." "Kau yakin ?" tanya Jhion dengan penuh selidik, "Aku masih punya banyak waktu untuk mengantarmu ke rumah sakit jika kau mau.." Aku terkekeh, "Sungguh.. Aku baik – baik saja.. Jangan khawatir," "Apakah para wartawan masih berkeliaran di sekitar sini dan itu membuatmu tak nyaman ?" tanya Jhion lagi. "Kau kan bisa lihat kalau suasana kantor masih sepi, dan wartawan biasanya bermunculan tepat pukul 8 pagi, lagipula akhir – akhir ini wartawan mulai jarang terlihat karena sepertinya mereka lelah karena tak berhasil mendapat berita apapun tentangku" ujarku. "Lalu kenapa kau hanya menatap gedung kantormu dan terus menerus menarik nafas dalam – dalam serta menghembuskannya perlahan ? Apakah ada masalah di kantor ?" lagi – lagi Jhion bertanya. Memang Jhion sangat peka dan bisa dengan cepat membaca suasana hatiku. "Aku hanya sedang mempersiapkan diri.." jawabku pelan. Jhion mengerutkan dahinya, "Untuk apa ??" Aku tak menjawab pertanyaan Jhion, hanya tersenyum tipis sembari melepaskan sabuk pengamanku, "Aku pergi ya.. Terimakasih sudah mengantarku hari ini," "Hei, Wensy.. Jawab dulu pertanyaanku," ujar Jhion saat aku membuka pintu mobil. Aku terkekeh, "Rahasia.." ucapku seraya buru – buru turun dan menutup pintu mobil. "Wensy !" Jhion membuka jendela mobilnya dan berseru memanggilku. Aku melambaikan tanganku pada Jhion sambil tertawa renyah, "Hati – hati di jalan," Jhion menatapku dengan serius, "Aku akan menjemputmu nanti dan sebaiknya kau harus ceritakan apa yang sedang terjadi..." "Kalau aku tidak mau, bagaimana ?" godaku sambil tertawa kecil. "Aku akan memaksamu sampai kau mau menceritakannya padaku," ujar Jhion sambil menatapku galak, "Awas kalau kau menghindar ! Aku akan terus mengganggumu sampai aku tahu apa yang terjadi.." Aku menjulurkan lidahku pada Jhion, "Coba saja kalau kau bisa.. Aku ini sangat berbakat dalam menghindar.." "Kau,-" "Sudah ya.. Aku masuk dulu," ujarku memotong ucapan Jhion seraya membalikkan badan dan berjalan cepat masuk ke dalam gedung kantorku sebelum Jhion mulai menceramahiku. Begitu menginjakkan kakiku di lobby kantor, aku lagi – lagi menarik nafas dalam – dalam dan menghembuskannya perlahan, Padahal kemarin aku bicara di depan anggota teamku seolah – olah aku sudah mempersiapkan diri dan mentalku dengan keputusan Pak CEO, tapi saat tahu jawaban Pak CEO kemarin siang, aku jadi gugup juga. Aku tak menyangka Pak CEO pada akhirnya memilih mendengarkan pendapatku dan Bryan untuk menyelidiki divisi pemasaran. Beliau setuju meskipun dana yang di salahgunakan tidak dalam jumlah yang besar, tapi tetap saja hal tersebut masuk dalam pelanggaran pekerjaan. Bisa – bisanya aku berbicara dengan lantang di depan anggota teamku dan sok bijaksana dalam berkata – kata, nyatanya saat ini aku sedikit takut dengan pandangan orang – orang mengenai hal ini, apalagi Pak CEO bilang penyelidikan akan dilakukan secara terang – terangan dan aku di minta untuk ikut mengawasi penyelidikan. "Ini melelahkan.." batinku. Sebuah tepukan di pundakku berhasil menyadarkanku dari lamunanku, "Hei.. Kau sudah datang ?" "Ivory, jelas – jelas kau melihatku saat ini sedang berada di lobby kantor.. Dan kau bertanya apakah aku sudah datang ? Menurutmu jawaban apa yang harus aku berikan ? Padahal fisikku saat ini terlihat nyata di hadapanmu !" omelku saat mendengar pertanyaan Ivory yang menurutku sangat konyol itu. TING ! Pintu lift terbuka di hadapanku dan Ivory, kami berdua masuk ke dalam lift dan aku menekan angka 5 dan angka 9 pada tombol lift, Ivory tertawa mendengar ucapanku, tapi dia tidak menggubris omelanku, "Kau berangkat bersama Jhion ?" "Begitulah.." jawabku. "Kalau di pikir – pikir, bukankah akhir – akhir ini Jhion terlihat sering mengantar dan menjemputmu ?" tanya Ivory, "Aku berani bertaruh, anak itu sebenarnya sangat menyukaimu, hanya saja dia tidak sadar dengan perasaannya." "Jangan mengada – ngada.." ujarku, "Jhion melakukan hal itu hanya karena dia khawatir padaku sebagai teman, dan juga kau sendiri tahu kan kalau rumah kami bersebelahan.." Ivory tampak mengusap dagunya, "Tapi tetap saja, menurutku cara dia memperlakukanmu berbeda dan cara dia menatapmu pun tidak sedingin dia menatap orang lain.." "Kau ini,.." aku menyikut lengan Ivory, "Dia tidak pernah menatap kita semua dengan tatapan dingin," "Ya.. Ya.. Ya.. Dia memang tidak seperti itu pada kita," ujar Ivory sambil mengangguk-nganggukkan kepalanya, "Tapi jika di perhatikan lagi, saat dia menatapmu dan berbicara denganmu sorot matanya terlihat berbinar – binar karena bahagia, entah kau sadar atau tidak, dia sering sekali tersenyum saat menatapmu.." "Mana mungkin.." sangkalku, "Kau terlalu banyak menonton drama, Ivory.." "Aku serius !" Ivory berusaha meyakinkanku. TING ! lift berhenti di lantai 5 dan pintu lift pun terbuka, dengan cepat aku keluar dari dalam lift sebelum Ivory melanjutkan khayalannya, "Aku bertaruh, sebentar lagi kau akan berpacaran dengan Jhion," ujar Ivory dengan wajah yakin dan serius. Aku hanya tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalaku, "Teruslah bermimpi, Ivory.. Itu tidak akan pernah terjadi," "Kalau hal itu sampai terjadi, kau harus mengabulkan 1 permintaanku," ujar Ivory. Aku memutar kedua bola mataku, "Terserah kau saja," ucapku sambil melengos pergi. "Aku serius, Wensy !" seru Ivory sebelum akhirnya pintu lift kembali tertutup. Jujur mendengar ocehan Ivory tadi, sempat membuatku berpikir, apa iya jangan – jangan Jhion menyukaiku ? Kalau memang benar begitu, respon apa yang harus aku berikan ? Dan.. Apakah saat ini aku juga menyukai Jhion ? Kalau di ingat – ingat lagi, sikap Jhion padaku memang sangatlah hangat dan perhatian.. Tapi bukankah dia juga bersikap seperti itu pada Ivory, Leila, dan Viola ? Kami kan sudah bersahabat lama sekali, tidak mungkin ada rasa suka dan cinta di antara aku dan Jhion bukan ? "Hmm.. Tapi, dia sengaja membeli tanah hanya untuk membuat taman bunga agar aku merasa terhibur," pikirku, "Apakah hal itu termasuk rasa perhatian sebagai teman atau lawan jenis ?" Aku menggeleng – gelengkan kepalaku dan menjernihkan pikiranku, "Sudahlah, Wensy.. Itu tidak penting sekarang," gumamku pelan saat berjalan menuju ruanganku, "Yang terpenting adalah penyelidikan hari ini," "Manager Wensy.. Selamat pagi," sapa Bryan padaku. "Oh ! Selamat pagi, Asisten Bryan.. Saya kira belum ada satu pun yang datang karena masih pukul 7 pagi," ujarku. "Saya memang sengaja datang lebih awal hari ini," ujar Bryan, "Anda ingin saya buatkan kopi ? Atau mungkin teh ?" "Ah, mungkin secangkir kopi hangat jika anda tidak keberatan untuk membuatkannya," jawabku sambil tersenyum. "Apakah anda ingin saya menambahkan gula dalam kopi anda ?" tanya Bryan. Aku mengangguk, "Tolong tambahkan gula sebanyak 2 sendok teh.. Terimakasih, Asisten Bryan.." Bryan tersenyum tipis, "Baik, manager.. Akan saya siapkan kopi untuk anda," Setelah Bryan pergi menuju dapur kecil yang ada di lantai 5, aku pun masuk ke dalam ruanganku, Aku meletakkan laptop serta tasku di atas meja, namun kemudian pandangan mataku menangkap sebuah kotak berukuran 20 cm x 20 cm berwarna merah berhiaskan pita hitam berada di atas mejaku, di kotak tersebut terselip sebuah kertas, bertuliskan " For Wensy ". "Apa ini ?" gumamku sambil meraih serta menggoyang – goyangkan kotak tersebut di dekat telingaku, barangkali saja aku bisa menebak isinya, namun kotak tersebut sangat ringan sampai aku sendiri tak bisa menebak apa yang ada di dalamnya. Aku mengangkat kedua alisku, bertanya – tanya siapa yang memberikan ini padaku,.. Karena penasaran, tanpa berpikir 2 kali, aku pun membuka kotak tersebut, "AAAAAAAA !!!!" teriakku kaget dan sontak melemparkan kotak tersebut ke lantai saat melihat isinya yang membuatku ketakutan setengah mati. Aku menutupi kedua mataku dengan tanganku yang gemetar... Kepalaku langsung terasa berputar, nafasku terengah – engah, rasanya serangan panikku akan kambuh... Apa – apaan ini ?! S-siapa ?? Siapa yang mengirimkan ini padaku ?! "MANAGER !! ADA APA ?!" Bryan membuka pintu ruanganku dengan tergesa – gesa, suaranya terdengar panik. Aku menurunkan tanganku yang semula menutupi mataku, sambil berpegangan pada meja agar tubuhku tidak ambruk, aku menunjuk ke arah kotak yang aku lemparkan ke lantai tadi tanpa menatap ke arah kotak tersebut, "T-tolong.. S-singkirkan itu dari sini," ucapku dengan sedikit terbata – bata dan nafas sesak. Bryan melihat ke arah lantai, dan sedetik kemudian dia langsung mengambil kotak itu dan meletakkannya jauh – jauh dari pandanganku, Bagaimana bisa seseorang mengirimkan foto - fotoku yang mengalami penyiksaan oleh Athan 3 tahun yang lalu ?! Bahkan ada sepucuk kertas yang bertuliskan, Kau ingat ini ? Bukankah menyenangkan jika kita mengulang kejadian yang sama ?? Tangan kananku mengatup mulutku, rasa mual mulai menyerangku, Tubuhku rasanya lemas dan pandanganku sedikit demi sedikit terlihat kabur, namun aku masih berusaha menahannya agar tubuhku tidak ambruk begitu saja, Telingaku berdengung dan suara – suara di sekitarku mulai tidak terdengar, "Manager !! Anda dengar saya ?!" suara Bryan terdengar samar. "O-obat saya.." lirihku pelan dan sepertinya Bryan tak mendengar ucapanku. Aku melihat Bryan berlari ke arahku dan aku merasa tubuhku mulai kehilangan keseimbangannya, "Manager Wensy !! Tolong sadarlah !" Bryan dengan cepat menangkap tubuhku yang oleng sudah hampir ambruk itu. Pandanganku sudah gelap sepenuhnya, perlahan aku memejamkan mataku, tak bisa aku pungkiri bahwa rasa sakit dan sesak di dadaku ini sangat menghimpitku, Aku merasa Bryan mengangkat tubuhku, Ah... Lagi – lagi.. Aku terlihat lemah dan menunjukkan sisi terburukku pada Bryan.. Tapi, aku sudah tidak peduli lagi.. Aku hanya ingin terbebas dari belenggu yang menghimpit kehidupanku ini.. ~ To Be Continued ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN