Part 11

4988 Kata
"Kalau aku jadi kakak, mungkin aku akan membenci kakek karena tidak mempercayaiku," Aku menyandarkan tubuhku pada sofa, "Aku memang marah dan bertanya - tanya kenapa kakek lebih memilih untuk mempercayai perkataan orang lain sebelum mendengarkan penjelasanku," ujarku sambil menghela nafas panjang, "Bohong jika aku tidak merasa sakit hati pada kakek... Tapi meskipun begitu, aku tak bisa membenci kakek.." "Kalau begitu, kakak juga tidak membenci Kak Mallory meskipun dia selalu membuat kakak kesulitan dan bahkan hari ini dia sampai menampar kakak ?" tanya Leo. "Yahh.. Dia memang menyebalkan dan membuatku jengkel dengan setiap perkataan serta tingkah lakunya," jawabku, "Tapi, dia tetap bagian dari keluarga besar kita.." Leo terdiam mendengar ucapanku, entah apa yang dia pikirkan saat ini.. Mungkinkah dia berpikir kakak perempuannya terlalu naif ? "Oh iya.. Hampir saja lupa !" ujarku tiba - tiba sambil mengambil 2 toples vanillekipferl yang ada di atas meja dan memberikannya pada Kak Tawnia, "Ini untuk Kak Tawnia, Kak Bora, Mony dan Filza.." "Terimakasih, Nona Wensy.." ujar Kak Tawnia, Kak Bora, Mony dan Filza bersamaan sambil tersenyum. "Lalu ini apa ?" tanya Leo sembari menunjuk sebuah box yang ada di atas meja juga. "Ah ini.. Apfelstrudel dan berliner strawberry," jawabku, "Teman - temanku tak sanggup untuk menghabiskannya, jadi aku memutuskan untuk membawanya pulang.." "Pas sekali aku sedang ingin makan berliner strawberry," ujar Leo sambil mengambil box itu dari atas meja dan membukanya, dia mengambil sebuah berliner strawberry dari dalamnya dan menggigit berliner strawberry tersebut, "Enak sekali !" komentarnya seraya mengambil sebuah lagi dan kemudian Leo kembali menutup box tersebut, "Mony, tolong simpan sisanya di dalam kulkas," pinta Leo pada Mony. "Baik, tuan muda.." ujar Mony sambil menerima box tersebut dari tangan Leo dan berjalan menuju dapur untuk menyimpan box berisi apfelstrudel serta berliner strawberry di dalam kulkas. "Tuan Leo, Nona Wensy.. Saya permisi sebentar," ujar Kak Tawnia. "Iya, baiklah.." ujarku dan Leo bersamaan. Aku mendengar suara deru mobil yang memasuki pekarangan rumahku, "Sepertinya Kak Sion sudah pulang," ujar Leo. Selang beberapa menit kemudian, aku mendengar pintu rumahku yang terbuka dan langkah kaki seseorang masuk ke dalam rumahku, Kak Sion masuk ke dalam rumah sembari meletakkan tas kerjanya di atas sofa dan melepaskan mantel hitamnya. "Saya akan menyimpan mantel anda, Tuan Sion.." ujar Kak Bora pada Kak Sion. "Terimakasih, Bora.." ujar Kak Sion seraya menyerahkan mantel hitamnya pada Kak Bora, kemudian Kak Sion duduk di atas sofa, "Filza, tolong letakkan ini di ruang kerjaku," ucap Kak Sion sambil menyerahkan sebuah map berwarna merah kepada Filza. "Baik, tuan muda.." ujar Filza seraya menerima map merah tersebut dan membawanya menuju ruang kerja Kak Sion yang terletak di lantai 2. "Wensy, apa kau lupa menutup pagar rumah saat kau pulang tadi ?" tanya Kak Sion sambil bersandar pada sofa,, "Aku lihat pagar rumah di biarkan terbuka begitu saja" "Ah sepertinya nenek sihir itu tidak menutup pagar dengan benar," gumam Leo kesal. Kak Sion mengerutkan dahinya, "Nenek sihir ?" Leo menghelas nafas, "Tadi Kak Mallory datang, dan sepertinya karena terburu - buru pergi, dia tidak menutup pagar rumah dengan benar.." "Mallory datang ?" tanya Kak Sion tak percaya, "Untuk apa dia kemari ?" "Sepertinya kakek menyuruh Kak Mallory,.. Kakak tahu kan ? Sebentar lagi ulangtahun kakek dan itu artinya adalah waktunya untuk berkumpul dan bertemu dengan keluarga besar di pesta ulangtahun kakek.." ujarku. Kak Sion melirik sebuah amplop berwarna silver yang ada di atas meja, "Jadi Mallory datang untuk mengantarkan undangan ini ?" tanya Kak Sion sembari mengambil amplop tersebut dan membukanya, dia membaca undangan tersebut dengan seksama, "Sepertinya kali ini kita semua harus datang," "Aku tidak akan datang," ujarku. Kak Sion meletakkan undangan tersebut di atas pangkuannya dan menatapku, "Wensy.. Kita harus datang," ujar Kak Sion, "Sepertinya kakek sangat ingin bertemu dengan kita.." "Tapi,-" "Aku mengerti perasaanmu, Wensy.." ucap Kak Sion, "Tapi, kau tidak akan sendirian.. Ada aku dan Leo yang akan bersama denganmu," Aku tahu bahwa Kak Sion dan Leo pasti akan menemaniku, akan tetapi, rasanya aku belum sanggup untuk kembali menemui kakek dan keluarga besarku, "Begini saja, kita hanya akan datang sebentar untuk menyapa kakek, dan kita langsung kembali ke rumah setelahnya," ucap Kak Sion, "Bagaimana, Wensy ?" Aku menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan, "Kakak janji tidak akan berlama - lama di sana ?" tanyaku. Kak Sion menganggukkan kepalanya, "Lagipula tidak ada untungnya bagiku jika berada terlalu lama di sana.. Keluarga papa terlalu banyak bertanya dan ingin tahu urusan pribadiku, hanya akan menambah beban pikiranku," Leo kembali mengompres pipiku dengan ice bag, "Aku juga malas.." Kak Sion menatapku dan Leo dengan bingung, "Loh ada apa dengan wajahmu, Wensy ?" "Kak Mallory,- Ah bukan ! Gorila itu menampar Kak Wensy, dan pipi kiri Kak Wensy jadi memerah dan sedikit bengkak," jawab Leo dengan nada suara kesal. Kak Sion beranjak berdiri dan duduk di sebelahku, dia tak berkomentar apapun tentang Kak Mallory, tapi aku bisa melihat dengan jelas ekspresi wajah Kak Sion saat ini yang terlihat sedang menahan amarah, Dengan perlahan Kak Sion menyentuh wajahku, "Coba ku lihat pipimu," Aku menoleh ke arah Kak Sion dan membiarkan Kak Sion melihat pipi kiriku, "Apakah masih terasa sakit ?" tanya Kak Sion. Aku menggelengkan kepalaku, "Better than before," Kak Sion mengusap kepalaku dengan lembut, "Bisa kau ceritakan padaku apa yang terjadi ?" "Aku akan ceritakan semuanya pada kakak," ujarku, "Tapi bisakah kita membicarakan hal ini sembari makan malam ? Sejak tadi perutku terus merengek karena mencium aroma masakan yang sedap dari arah dapur.." Kak Sion terkekeh mendengar ucapanku, "Baiklah.. Kebetulan aku pun belum makan malam," kemudian Kak Sion menoleh ke arah Kak Tawnia yang baru saja kembali dari arah dapur, "Apakah makan malam sudah siap, Tawnia ?" "Sebentar lagi akan siap, tuan muda.." ujar Kak Tawnia, "Mony serta Bora sedang menata ruang makan untuk anda semua," "Kalau begitu kita pindah dan melanjutkan obrolan kita di ruang makan," ujarku sambil beranjak berdiri. Leo dan Kak Sion pun ikut beranjak berdiri dan mengikuti langkahku menuju ruang makan yang letaknya dekat dengan dapur, Kak Tawnia pun mengikuti kami dari belakang. ~ "Jadi kau akan tetap datang ke perayaan ulangtahun kakekmu ?" tanya Viola yang sedang duduk di atas ranjang pasien sembari menyuapkan sesendok bubur yang masih hangat ke dalam mulutnya. Aku menghela nafas, "Begitulah.." ucapku. Saat ini aku sedang berada di kamar rawat Viola bersama dengan Leila dan juga Ivory. Kami bertiga menyempatkan diri untuk menjenguk Viola begitu kami selesai bekerja, untunglah hari ini tak ada satu pun dari kami bertiga yang harus lembur, jadi kami bisa berkumpul dan mengobrol seperti ini. Ivory menggigit apel merah yang ada di tangan kanannya, "Kalau begitu, kau harus mengenakan gaun pesta yang terbaik.." Aku mengerutkan dahiku, "Untuk apa ? Aku hanya akan datang sebentar," "Tentu saja untuk membuat Mallory berhenti mengejek dan merendahkanmu !" ucap Ivory dengan nada kesal, "Berani sekali dia menampar wajahmu !" "Kali ini aku setuju dengan pendapat Ivory," ucap Leila. "Tidak perlu sampai begitu, lagipula bukan hanya Kak Mallory yang membenciku.." ujarku sambil mendesah pelan, "96% sepupuku, membenci diriku dan juga keluargaku," "Cih ! Memangnya kau punya salah apa, sampai - sampai mereka harus membencimu ?" gumam Ivory kesal, "Jelas - jelas mereka yang bersalah !" Aku mengangkat bahuku, "Aku juga tidak tahu," Leila menyibak rambutnya yang sedikit menghalangi wajahnya, "Mungkin karena kau pintar dan juga cantik ?" "Dan mungkin juga karena kakekmu terlihat sangat menyayangimu," sambung Viola. Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak mungkin.. Kalau bicara soal pintar, Kak Sion jelas - jelas lebih pintar daripada aku.." jawabku, "Dan menurutku Kak Joanna, dua kali lipat lebih cantik di bandingkan diriku.. Lalu yang terakhir, jika kakek memang sangat menyayangiku, aku rasa seharusnya kakek lebih percaya padaku ketimbang dengan cerita - cerita buruk dari orang lain.." Ivory mengetuk - ngetuk jarinya telunjuknya di atas meja, "Kakekmu bukan orang bodoh, Wensy.. Beliau pasti akan mencari kebenaran cerita tersebut dan tidak akan percaya begitu saja tanpa adanya bukti," "Nyatanya, kakek marah padaku dan terlihat membenciku," ujarku. "Tapi, kalau kakekmu sampai mengirimkan undangan seperti itu, bukankah itu artinya kakekmu tidak membencimu ?" tanya Viola, "Aku rasa kakekmu sangat ingin bertemu denganmu, sampai - sampai Kak Mallory datang untuk membawakan undangan tersebut.." Aku mendesah pelan, "Aku tak ingin berharap.. Lagi pula, aku masih mengingat dengan jelas ekspresi wajah kakek yang memandangku dengan penuh dengki saat itu, benar - benar membuatku sesak.." Leila memangku dagunya dengan kedua tangannya, "Hmm.. Tapi mungkin saja kan kakekmu sudah tidak marah lagi.. Dan bisa jadi, ini menjadi kesempatan bagimu untuk memberitahu yang sebenarnya.." Ivory menepuk tangannya, "Tidak bisa begini ! Akhir pekan ini, kita harus mencari gaun baru dan bagus untukmu, Wensy !" Aku memutar bola mataku, "Duh ! Aku sudah memiliki banyak gaun di rumah, lagipula ini hanyalah pesta keluarga biasa.." "Pesta biasa apanya ? Jelas - jelas aku tahu sekali, setiap kakekmu ulangtahun, pasti akan di rayakan di hotel yang mewah dan seluruh keluarga serta tamu yang di undang selalu mengenakan pakaian pesta yang terbilang cukup mewah !" ucap Ivory sambil menatapku dengan galak, "Kau tidak boleh terlihat biasa saja ! Kau harus tampil sebaik mungkin !" "Ini bukan lomba kostum, Ivory.." ucapku sambil menghela nafas. "Aku tahu ! Aku tidak bilang tentang lomba kostum kan ? Aku hanya ingin kau datang dengan penampilan yang terbaik dan mengalahkan mereka semua.. Kalau bisa, semua mata tertuju padamu dan kau menjadi bintang di acara itu !" Aku berdecak, "Hei, ini kan pesta untuk kakekku, bagaimana bisa aku malah merebut posisi kakek yang seharusnya menjadi bintang di acara tersebut ? Ada - ada saja..." Ivory memijat kepalanya, "Yah paling tidak kau harus mengalahkan penampilan dari semua saudara - saudaramu.." "Ini bukan ajang pencarian bakat atau penentuan gaun terbaik, Ivory.." protesku. "Sudah ! Pokoknya akhir pekan ini kita akan pergi untuk mencari gaun baru untukmu !" Ivory benar - benar bersikeras dan tidak ingin mendengar bantahanku. Aku menghela nafas sembari memutar bola mataku, "Akhir pekan ya ? Kalau begitu, aku ikut !" ucap Leila bersemangat. Aku langsung menoleh ke arah Leila yang duduk di sebelah kiriku, "Eh ?! Kenapa kau tidak berada di pihakku ?" protesku pada Leila. "Loh ? Aku ada di pihakmu, kok.." ujar Leila, "Karena aku berada di pihakmu dan menurutku perkataan Ivory itu benar, jadi aku mendukungmu untuk berpenampilan sebaik mungkin di hadapan saudara - saudaramu.." Aku menepuk dahiku, "Aduh ! Yang benar saja !" "Aku juga ikut !" ujar Viola, "Jangan pernah kalian berpikir untuk pergi tanpa diriku.." "Apa ????" Aku tercengang mendengar ucapan Viola, bahkan kali ini Ivory dan Leila juga ikut tercengang, "Tapi, kau kan masih dalam masa pemulihan," ujar Ivory. "Dokter bilang aku bisa pulang lusa," ujar Viola. "Tetap saja kau masih butuh istirahat, apalagi kau baru saja di operasi," ujar Ivory lagi. "Memangnya tidak apa - apa jika kau langsung beraktivitas seperti itu ? Setahuku, kau masih belum boleh terlalu banyak berjalan.." timpal Leila. "Tenang saja.." ucap Viola, "Lagi pula, aku bisa menggunakan kursi roda agar aku tidak terlalu banyak berjalan, iya kan ?" "Benar juga.." ucap Ivory dan Leila bersamaan. Aku menghela nafas panjang sembari mengusap - ngusap dahiku, bisa - bisanya aku memiliki teman - teman seperti mereka ini, "Akhir pekanku yang penuh damai, hancur sudah.." batinku. Pintu kamar rawat Viola tiba - tiba terbuka, dan Jhion serta George melangkah masuk ke dalam kamar rawat Viola, "Hei kalian !" sapa Leila pada George dan Jhion, "Bagaimana penyelidikan hari ini ?" "Apa semuanya lancar ?" timpal Ivory. George menggulung kedua lengan kemejanya, "Sejauh ini cukup lancar.." "Kami menemukan barang bukti di sekitar tempat kejadian," sambung Jhion. "Apa itu artinya kalian sudah menemukan tersangka ?" tanyaku. "Ada beberapa orang yang kami curigai, dan masih perlu penyelidikan lebih lanjut.." ujar George, "Sepertinya pelaku berusaha menghilangkan barang bukti, entah dia bodoh atau bagaimana, dia hanya membuang pakaian yang dia pakai saat menyerang Viola di tong sampah,.." "Jadi dengan mudah kami bisa menemukan pakaian tersebut... Kami menemukan DNA darah milik Viola dan satu DNA lagi belum kami ketahui," sambung Jhion. "Aku harap pelakunya segera di temukan.." ujar Leila, "Oh iya, ngomong - ngomong, kalian tadi pergi menemui Hillard ?" "Ah, hanya George dan rekan kerjanya saja yang menemui Hillard.." jawab Jhion, "Karena tadi aku ada urusan mendesak," "Lalu bagaimana hasilnya ?" tanya Leila pada George. "Yah dia bukan pelakunya.." ucap George. "Kalian berbaikkan ?" tanyaku pada George sambil tersenyum senang. George berdeham, "Entahlah.. Mungkin," "Cih ! Akui saja jika kau memang sudah berbaikkan dengan Hillard.." ucap Ivory, "Kenapa kau harus merasa malu begitu ?" "Aku tidak malu," protes George, "Hanya, yah.. Memang kami tidak banyak bicara tentang permintaan maaf dan pertemanan, aku dan Hillard hanya bicara mengenai insiden penyerangan Viola.." "Oho ! Benarkah itu, Dirlly George ?" ejek Ivory. George memutar bola matanya kesal, "Diamlah, Ivory.." Aku, Leila, Viola, dan Jhion hanya terkekeh melihat tingkah Ivory dan George yang sering kali seperti anjing dan kucing. "Ngomong - ngomong, bagaimana keadaanmu ?" tanya Jhion pada Viola. "Seperti yang kau lihat.. Sudah lebih baik dari sebelumnya," ujar Viola. "Oh iya," George berdeham sebentar, kemudian dia menatap Viola, "Aku tahu mungkin ini bukan waktu yang tepat dan sedikit mendadak, tapi..." George bergeser sedikit dari tempat dia berdiri yang semula sedikit menghalangi pintu, "Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, Vi.." Kami semua secara bersamaan menoleh ke arah pintu, dan tak di sangka - sangka Hillard melangkah masuk ke dalam kamar rawat Viola sambil menggenggam buket bunga anyelir di tangan kanannya, Selama beberapa detik, kami semua membisu, mungkin karena terkejut dan tak menyangka kehadiran Hillard di sini ? Dan aku pribadi, cukup cemas dengan reaksi yang akan di berikan oleh Viola, "Emm.. Maaf.." suara Hillard memecahkan keheningan, "Sepertinya kedatanganku mengganggu kalian ya ?" Aku melihat Viola, Leila, Ivory masih terdiam sambil menatap Hillard dan bahkan George serta Jhion yang membawa Hillard kesini pun tidak berbicara sepatah katapun. "Maaf karena aku datang secara tiba - tiba.. Aku hanya ingin tahu keadaan Viola.." ujar Hillard pelan pada kami semua, kemudian Hillard menatap Viola sambil tersenyum, "Syukurlah kau baik - baik saja, Vi.." Viola diam tak bergeming sambil tetap menatap Hillard, "Ah ini.. Aku bawakan bunga untukmu," Hillard sambil berjalan mendekat ke arah Viola dan meletakkan buket bunga tersebut di atas meja kecil yang ada di samping ranjang pasien Viola, "Maafkan aku, Vi.. Aku benar - benar minta maaf," ucap Hillard dengan suara parau, "Aku tak akan memintamu untuk menerimaku kembali, aku juga tak akan memaksamu untuk memaafkanku.. Bagiku, melihatmu baik - baik saja itu sudah cukup," Kedua tangan Viola meremas selimutnya, aku tak tahu apa yang di rasakan Viola saat ini, tapi yang pasti sepertinya kehadiran Hillard saat ini membuat kebencian serta kemarahan di hati Viola mulai runtuh secara perlahan, "Aku akan pergi sekarang.." ujar Hillard, "Aku berjanji tidak akan menganggumu dan tidak akan muncul di hadapanmu seperti ini lagi.. Tapi tolong izinkan aku untuk terus melindungimu dari jauh sampai ada seseorang yang bisa melindungimu lebih baik dariku," Melihat Viola yang masih diam dan tak membalas ucapan Hillard, perlahan Hillard membalikkan badannya untuk keluar dari kamar rawat Viola, "Hanya itu ?" suara Viola terdengar serak sambil menatap punggung Hillard, "A-apakah hanya itu yang bisa kau lakukan ?" Hillard kembali berbalik menatap Viola, "Vi.. Aku,-" Air mata Viola perlahan mengalir keluar, "Kau benar - benar menyebalkan !" "J-jangan menangis, Vi.." Hillard tampak bingung melihat Viola menangis dan buru - buru mengusap kedua pipi Viola dengan ibu jarinya. Aku menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan, kemudian aku pun berbisik pada Ivory dan Leila, "Hei.. Ayo kita pulang.." "S-sekarang ?" tanya Ivory bingung. Aku mengangguk sambil tersenyum, "Viola dan Hillard butuh privasi untuk menyelesaikan masalah mereka berdua.." Leila tersenyum sambil mengangguk, "Yah.. Ayo kita pulang," Ivory menatap ke arah Viola yang masih menangis dan Hillard yang sibuk untuk menenangkan Viola, "Kalian yakin Viola akan baik - baik saja ?" "Mereka masih saling mencintai," ujarku. "Sebagai teman, kita hanya bisa mendukung mereka berdua dengan memberikan mereka kesempatan serta waktu untuk menyelesaikan masalah mereka," sambung Leila. Ivory menghela nafas, kemudian dia beranjak berdiri sembari menyampirkan tas kerjanya di bahu kanannya, "Baiklah.. Ayo kita keluar," Aku dan Leila pun beranjak berdiri sembari berjalan menuju pintu, mengikuti Ivory dari belakang, Jhion serta George juga sepertinya sudah mengerti tanpa perlu kami beritahu, keduanya pun segera keluar dari kamar rawat Viola, Leila menutup pintu kamar rawat Viola dengan perlahan, dia mengintip sebentar dari jendela kecil yang ada di pintu, kemudian senyumnya menyungging, "Aku tahu, sebenci dan semarah apapun Viola pada Hillard, pada akhirnya dia tetap mencintai Hillard.." Aku ikut mengintip, dan kulihat kali ini Hillard memeluk Viola yang masih terus menangis, memang pilihan yang tepat untuk memberikan privasi bagi mereka berdua, "Nah sekarang apa yang akan kita lakukan ?" tanya George. "Pulang," jawab Leila sambil melirik jam tangannya. "Kau ada urusan ?" tanya Ivory pada Leila. "Aku harus pulang lebih awal karena besok adalah hari ulangtahun ibuku," jawab Leila. "Ah iya benar ! Hampir saja aku lupa," ucap Ivory, "Besok kau akan mengunjungi makam ibumu seperti biasanya ?" Leila mengangguk, "Tapi kali ini hanya aku dan adikku saja yang akan pergi," "Ayahmu ?" tanya Jhion. "Entahlah.." ujar Leila sambil tersenyum tipis, "Mungkin sibuk berkencan," "EH ??!" sontak aku, Ivory, Jhion dan George memekik kaget begitu mendengar ucapan Leila. Leila terkekeh, "Kalian terkejut ya ?" "Tentu saja !" seru Ivory. "Kau tidak apa - apa ?" tanyaku cemas. Leila menghela nafas pelan sambil tersenyum, "Yah.. Bohong jika aku baik - baik saja," Aku menatap Leila, entah kenapa, rasanya hatiku pedih sekali. Bagiku, Leila adalah sosok gadis yang kuat, dewasa, dan bijaksana. Dia tak pernah sekalipun terlihat kesulitan saat menghadapi masalah, dia selalu bisa menyelesaikan semua masalah yang dia hadapi dengan baik. Kadang - kadang aku tak mengerti, bagaimana bisa Leila tetap tersenyum meskipun terkadang masalah datang dan menghimpit hatinya,.. Dia tidak pernah mengeluh, meskipun hatinya terasa sesak dan terluka. Bagaimana bisa dia bertahan dengan hati yang mungkin berkali - kali hancur ? "Sejujurnya,.. Aku kecewa dan sangat marah ketika aku tahu ayahku diam - diam sedang berkencan, aku merasa, ayahku telah membuang perasaannya pada ibuku dan tidak lagi mencintai ibuku,.." ucap Leila, "Tapi kemudian, suatu hari, aku melihat ayahku terduduk di lantai kamarnya sambil menangis dan memeluk foto ibuku,.. Rupanya aku salah.. Ayahku masih sangat mencintai ibuku," Jhion, George, Ivory dan aku terdiam mendengar ucapan Leila, "Aku tak ingin ayahku terus menerus menderita karena sangat merindukan ibuku,.. Aku juga ingin ayahku bahagia," Leila melanjutkan ucapannya, "Jadi aku dan adikku pun akhirnya memberikan kesempatan bagi ayah untuk mencari sosok yang mungkin bisa mengisi kekosongan hatinya.. Tentu saja dengan catatan, benar - benar wanita yang baik dan juga mencintai ayahku," Leila tersenyum menatap Ivory, George, Jhion dan aku sambil terkekeh, "Jadi begitulah.. Kenapa ayahku bisa berkencan lagi," Aku memeluk Leila dan menepuk - nepuk bahunya pelan, "Hei, Wensy.. Kenapa tiba - tiba begini ?" tanya Leila sambil tertawa kecil. "Aku hanya merasa kau sudah melalui banyak hal yang cukup menyulitkan, dan kau bisa bertahan sampai sejauh ini, kau hebat, Leila.." ucapku. "Terimakasih, Wensy.." ujar Leila, kemudian Leila menepuk - nepuk punggungku pelan, "Kau juga hebat, Wensy.. Kau berhasil bertahan dengan baik sampai sekarang.." Ivory tiba - tiba memelukku dan Leila, "Kalian berdua sudah melakukan yang terbaik.." Leila tertawa kecil, "Kau juga, Ivory.." "Kau sudah melakukan yang terbaik untuk bisa sampai di titik ini," timpalku. Jhion dan George terlihat terkekeh pelan melihat tingkah kami bertiga, "Apa sih yang sedang kalian lakukan ?" komentar George, "Kalau ada yang melihat, pasti mereka akan berpikir kalau kalian bertiga habis kembali dari peperangan," Aku, Ivory, dan Leila saling melepaskan pelukan kami, "Ucapanmu tidak salah," ujarku, "Selama kita hidup, sepertinya kita selalu berperang dengan setiap masalah yang datang di kehidupan kita," "Oho ! darimana kau mendapatkan kata - kata yang bagus seperti itu ?" ucap Ivory sambil menyikut lenganku. Aku menyibakkan rambutku dengan tangan kananku, "Yah, kata - kata itu berasal dari otakku yang cerdas dan cemerlang ini," Ivory menepuk dahiku dengan kencang, "Keluarlah kau segala roh - roh kesombongan ! Jangan mencemari pikiran Wensy yang suci ini.." George langsung terbahak puas begitu mendengar ucapan Ivory, sedangkan Jhion dan Leila tampak sedang menahan tawa mereka berdua, Aku memukul lengan Ivory, "Kau, ya ! Sudah lama tidak bertengkar denganku, makanya kau cari gara - gara denganku, ya ?" Ivory terkekeh, "Peace !! Aku tak mau membangunkan macan yang sedang tidur.." "Tapi kau sudah membangunkannya !" gumamku kesal sambil menjitak kepala Ivory. Ivory meringis pelan, tapi dia tidak protes seperti biasanya jika aku menjitak kepalanya, "Dengan ini kita impas ya.." Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dadaku, "Ya.. Ya.. Ya.. Terserah apa katamu," "Kalian berdua ini,.. Ada - ada saja," komentar Leila sambil terkekeh, tiba - tiba handphone Leila bergetar, menandakan adanya pesan masuk. Leila merogoh tasnya dan mengambil handphonenya, "Oh, aku harus pulang sekarang.. Adikku sudah menungguku di rumah," "Perlu aku antar ?" tanya Jhion, "Setelah itu aku akan mengantar Wensy pulang.." Leila menggeleng, "Tidak usah,.. Aku membawa mobil," kemudian Leila memasukkan handphonenya kembali ke dalam tas. "Kalau begitu, ayo kita turun menuju lobby," ajak Ivory. Kami semua pun mengangguk dan akhirnya berjalan menuju lift secara bersama - sama untuk turun menuju lobby rumah sakit. Ivory menekan tombol turun dan tak perlu menunggu lama pintu lift pun terbuka, kami berlima masuk ke dalam lift, Jhion yang berdiri di dekat tombol - tombol lift pun menekan angka 1, setelah itu pintu lift tertutup dan lift bergerak ke bawah, "Kau ingin makan sushi sebelum pulang ?" bisik Jhion. Aku menoleh ke arah Jhion, "Boleh juga.." Jhion tersenyum tipis padaku, "Okay.." "Hei, apa yang kalian bicarakan ?" goda Ivory sambil tersenyum penuh arti padaku dan Jhion. "Tidak ada.." ujar Jhion. "Jangan berbohong, Jhion" goda Ivory, "Apa jangan - jangan, diam - diam, kalian berdua berkencan, ya ?" "Hohoho.. Apa ini ? Kalian berdua sangat mencurigakan," timpal George. Memang dasar dua manusia ini ! Di saat - saat seperti ini sangat kompak sekali ! "Wah ! Kalian benar - benar sedang berkencan ?" kali ini Leila pun ikut menimpali. "Duh ! Mereka ini !" ucapku dalam hati, "Padahal Jhion hanya mengajakku untuk makan sushi sebelum pulang.. Lagi pula, kenapa juga Jhion harus berbisik seperti itu, yang lain jadi berpikir bahwa kami berdua sedang berkencan," "Aku dan Wensy tidak berkencan," ujar Jhion, "Jadi kalian jangan menyimpulkan hal seperti itu," Ivory menyipitkan matanya, "Aku tidak yakin.. Atau jangan - jangan cintamu bertepuk sebelah tangan ?" TING ! lift berhenti di lantai 1 dan pintu lift terbuka, "Terimakasih Tuhan !" batinku sembari berjalan keluar dari dalam lift. "Hei, Jhion.. Jawab pertanyaanku," ucap Ivory ketika kami semua sudah keluar dari dalam lift. Jhion menghela nafas, "Kau terlalu banyak menonton drama, Ivory.." "Hmm.. Begitukah ?" gumam Ivory, "Yah sepertinya kau benar.. Tidak mungkin juga, manusia yang tidak pernah berkencan sepertimu, tiba - tiba menaruh hati pada Wensy yang sudah berpengalaman dalam berkencan," "Loh, bukannya justru itu hal yang bagus ? Jhion yang belum berpengalaman dan Wensy yang sudah berpengalaman, mereka akan jadi pasangan yang serasi dan saling melengkapi," komentar George. Aku melirik George kesal, "Cari mati, ya ?!" "Sudahlah.. Hentikan kalian berdua,.. Sebelum Wensy dan Jhion menghajar kalian berdua," ujar Leila sambil tertawa kecil melihat Ivory dan George. "Pulanglah kalian berdua," ujarku dengan nada jengah kepada Ivory dan George, "Aku selalu sakit kepala jika melihat kalian berdua kompak seperti ini.. Khayalan dan analisis kalian terlalu tinggi sampai - sampai aku ingin memukul kalian berdua," "Peace !" George dan Ivory menunjukkan cengiran mereka. Leila terkekeh pelan, "Nah kalau begitu, aku pulang dulu ya.." "Oh iya.. Hati - hati di jalan ya," ucapku dan Jhion bersamaan. "Jangan mengebut.." sambung Ivory. "Sampai bertemu besok," timpal George. Leila tersenyum sambil mengangguk, kemudian sambil berlari kecil, Leila keluar dari lobby rumah sakit menuju area parkir rumah sakit. "Besok, kalian akan pergi juga kan ?" tanya Ivory padaku, Jhion dan George. "Kemana ?" George balik bertanya. "Menemani Leila untuk berkunjung ke makam ibunya," jawab Ivory. "Kemungkinan aku bisa pergi," ujarku. "Aku masih belum tahu.." ujar Jhion, "Tapi akan aku usahakan," "Aku juga belum tahu karena besok jadwalku cukup padat," timpal George. Ivory mengangguk, "Baiklah.. Besok aku akan menghubungi kalian lagi," Aku, George, Jhion dan Ivory kembali berjalan untuk keluar dari lobby rumah sakit, namun tiba - tiba seseorang menepuk pundakku dan membuatku menoleh ke belakang, "Nona Wensy ?" sapa seorang pria dengan rambut hitam pekat dan memakai kacamata berbentuk persegi panjang. "Ya ?" tanyaku bingung saat melihat pria tersebut, "Maaf, apakah saya mengenal anda ?" "Loh ? Pak Emrick ?" George menatap pria tersebut. "Kau kenal ?" tanyaku pada George. Pria tersebut tersenyum tipis, "Saya orang yang pernah bernegosiasi dengan anda, Nona.." Aku tampak berpikir sejenak, "Negosiasi ? Negosiasi tentang apa ?" "Berkat bantuan anda, putri saya bisa mendapatkan pengobatan yang baik..." ujar pria tersebut. "Oh ! Anda,-" aku baru sadar bahwa pria yang ada di depanku ini adalah penyusup yang bernegosiasi denganku beberapa waktu yang lalu. Pria bernama Emrick itu tersenyum padaku, "Sebuah kebetulan kita bisa bertemu lagi, nona.." "Iya.. Bagaimana kabar anda ?" tanyaku pada Pak Emrick. "Kabar saya baik.. Bagaimana dengan kabar anda, nona ?" Pak Emrick balik bertanya. Aku tersenyum, "Saya juga baik.. Ah, ngomong - ngomong, darimana anda tahu nama saya ?" "Waktu itu anda sempat menunjukkan kartu akses kantor anda pada saya," ujar Pak Emrick. "Ah benar juga.." ucapku, "Lalu, bagaimana dengan Pallyson,- ah maksud saya dengan orang yang melakukan tabrak lari pada anak anda ?" "Oh, awalnya beliau tidak mau mengaku bersalah, dan menyalahkan saya karena saya melakukan penyusupan dan menyandera beberapa karyawan di kantor tempat anda bekerja," ujar Pak Emrick, "Tapi berkat pengacara yang anda kirimkan, akhirnya beliau harus memberikan uang ganti rugi pada saya dan saya maupun rekan - rekan saya tidak jadi di penjara karena perkara penyusupan tersebut, melainkan kami dalam masa percobaan selama 1 tahun," Aku sedikit ternganga mendengar ucapan Pak Emrick, "Pengacara ? Saya mengirimkan pengacara untuk anda ?" Pak Emrick mengangguk, "Tuan George bilang, itu adalah pengacara yang anda kirimkan untuk membantu saya.." Aku menoleh pada George untuk meminta penjelasan, "Iya.. Pengacara Gunther.." ujar George, "Kau kan yang mengirimkannya ?" "Gunther ? Rasanya aku seperti pernah mendengar nama itu," komentar Ivory. Aku semakin bingung mendengar penjelasan dari George, "Aku tidak mengerti.. Aku sungguh tidak pernah mengirimkan pengacara apapun," "Kau serius ?" tanya George, "Pengacara tersebut mengaku bahwa dia datang karena kau yang memintanya," "Aku serius !" jawabku. George dan Pak Emrick saling berpandangan, mereka berdua juga tampak bingung begitu mendengar kata - kataku, "Apakah ada kartu namanya ?" tanya Jhion yang melihat kebingungan di antara kami bertiga. "Oh ada.. Saya masih menyimpannya," ujar Pak Emrick sambil merogoh saku celananya serta mengeluarkan dompetnya yang berwarna hitam, Pak Emrick mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya, "Ini.." ujarnya sambil menyerahkan kartu tersebut kepadaku. Aku menerima kartu nama tersebut dan membacanya, sedetik kemudian aku langsung tahu siapa yang mengirimkan pengacara untuk Pak Emrick, "Jadi ? Kau kenal pengacara itu ?" tanya George. Aku mengangguk, "Dia pengacara yang bekerja sama dengan perusahaan tempatku bekerja,.. Kemungkinan besar, Pak CEO yang mengirimkan pengacara untuk Pak Emrick.." "Eh ?" Ivory memekik sambil melihat kartu nama yang ada di tanganku, "Pengacara Harry Maxtias Gunther ? Pantas saja namanya tidak asing.." "Tolong sampaikan rasa terimakasih saya pada beliau," ujar Pak Emrick. "Saya akan menyampaikannya," ujarku sambil tersenyum. "Ah lalu, Nona Wensy.. Perkenalkan, ini adalah putri saya, Helia.." ujar Pak Emrick sambil memperkenalkan seorang gadis kecil yang sejak tadi bersembunyi di belakang Pak Emrick. Aku berjongkok untuk menyapa gadis kecil itu, "Hai, Helia.. Namamu cantik sekali, sama seperti dirimu," Gadis bernama Helia itu perlahan mengintip dari belakang tubuh Pak Emrick, kedua matanya yang memiliki manik mata berwarna biru itu terlihat indah, "H-halo, kakak peri.." ujar Helia dengan suara pelan. "Kakak peri ?" tanyaku bingung, "Kenapa kau memanggilku dengan sebutan itu ?" "Karena kakak peri sudah menolongku,.." jawab Helia, "Ayah bilang, berkat kakak peri, aku bisa mendapatkan pengobatan yang bagus dari dokter.." "Oh benarkah ?" Aku tersenyum, "Apa sekarang kau sudah merasa lebih baik ?" Helia menganggukkan kepalanya, "Dokter bilang, hari ini aku sudah boleh pulang ke rumah.." Aku mengusap kepala Helia, "Syukurlah.. Tapi, sepertinya aku lebih suka kau memanggilku dengan sebutan 'Kak Wensy' daripada 'Kakak Peri'.." "Kenapa ?" Helia bertanya padaku. "Hmm.. Karena, aku hanya manusia biasa dan bukanlah seorang peri," ujarku sambil tersenyum. Helia tiba - tiba memelukku erat, "Orang - orang bilang, peri itu tidak ada dan hanya dongeng.. Tapi mereka salah ! Buktinya kakak benar - benar seperti seorang peri ! Kakak sangat cantik dan baik hati !" Aku sedikit terkejut saat Helia yang awalnya tampak malu - malu itu sudah berada di dalam pelukanku, "Kakak peri terimakasih karena sudah membantu ayah dan aku.." ucap Helia, "Aku sangat menyayangi kakak peri !" Aku tersenyum kecil sembari mengusap kepala Helia dengan lembut, yah tidak buruk juga di panggil dengan sebutan "Kakak Peri" setelah berkali - kali aku mendengar orang - orang memanggilku dengan sebutan "Pahlawan", Aku beranjak berdiri seraya menggendong Helia yang tampaknya masih enggan melepaskan pelukannya dariku, "Nona Wensy, terimakasih... Selain anda menolong saya untuk membayar biaya pengobatan putri saya, berkat uang yang anda berikan, saya bisa membuka sebuah restoran daging dan memberikan lapangan pekerjaan untuk rekan - rekan saya yang sempat menganggur karena mengalami PHK," ucap Pak Emrick, "Begitu uang ganti rugi saya dapatkan, saya pasti akan mengembalikan uang yang anda berikan pada saya itu," "Tidak apa - apa," ucapku, "Anda tidak perlu mencemaskan hal itu.. Saya harap ke depannya anda, Helia, dan juga rekan - rekan anda bisa hidup lebih baik," Pak Emrick membungkuk di hadapanku, "Sungguh, terimakasih sekali.. Saya tidak akan melupakan kebaikkan anda, Nona Wensy.." Aku menepuk bahu Pak Emrick, "Saya tidak melakukan hal yang besar.. Semua yang saya berikan pada anda berasal dari Tuhan, jadi saya harap anda tidak lupa untuk bersyukur dan berterimakasih pada Tuhan.." ucapku sambil tersenyum, "Karena saya hanyalah manusia biasa seperti anda," "Anda benar - benar baik hati, nona.." Pak Emrick menatapku sambil tersenyum, kemudian dia pun meraih Helia dan menggendongnya, "Saya senang sekali bisa berjumpa dengan anda lagi, saya harap kita dapat bertemu lagi, Nona Wensy.." Aku mengangguk sambil tersenyum, "Saya harap juga begitu," Pak Emrick merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar kertas, "Ini alamat restoran daging yang baru saja saya buka, saya harap anda bisa berkunjung jika ada waktu," "Saya akan menyempatkan waktu," ucapku. ~ To Be Continued ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN