"Apakah setelah melihatnya menangis dan berlutut di hadapanku sambil meminta maaf, dia tetap tidak bisa di percaya ?" ucapku, "Apakah setelah aku melihat bahwa Hillard masih menyimpan lukisan - lukisan wajah Viola dan merawat bunga ayelir yang Viola tanam saat mereka masih bersama, dia masih tidak bisa di percaya ?"
George tampak terdiam sembari memikirkan kata - kataku,
"Hillard masih menyimpan lukisan wajahku ?" tanya Viola tidak percaya, "Dan dia juga masih merawat bunga anyelir yang aku tanam ?"
Aku mengangguk, "Bunga anyelir yang kau terima ini, adalah bunga anyelir yang ada di rumah Hillard.."
Viola melirik bunga anyelir tersebut dengan ekor matanya, "Ternyata dia merawatnya dengan baik.." gumam Viola.
"Dia merasa bersalah sekali karena tidak bisa menjagamu dengan baik dan menolongmu tepat waktu.." ujarku pada Viola.
Viola menatapku, "Lalu.." dia terlihat ragu sejenak, "Kenapa dia tidak menemuiku ?"
Aku menggenggam tangan kiri Viola, "Dia ingin menemuimu tapi di satu sisi dia juga takut kalau nanti kemunculannya hanya membuatmu marah dan semakin membencinya,"
Viola menarik nafas dalam - dalam dan membuangnya perlahan, "Aku memang marah padanya, tapi aku tak membencinya.."
Aku tersenyum mendengar ucapan Viola, "Vi.. Kalau kau masih mencintai Hillard, kembalilah padanya,"
"T-tapi.." Viola menatapku ragu.
"Tenang saja, aku sudah memaafkan Hillard, kami sudah berbaikkan meskipun nantinya akan ada sedikit kecanggungan di antar kami.." ujarku lembut, "Aku tidak mau menjadi penghalang antara kau dan Hillard,"
Viola terdiam begitu mendengar ucapanku, kemudian aku menatap Ivory, George, Leila dan juga Jhion satu per satu, "Kalian juga, tak perlu lagi marah dan membenci Hillard karena kesalahannya padaku 3 tahun yang lalu, dia memang melakukan kesalahan, tapi karena dia sudah menyesal dan menyadari perbuatannya, aku juga ingin kalian memaafkannya.. "
"Mungkin awalnya tidak akan mudah, tapi setelah di pikir - pikir lagi, kita sudah mengenal Hillard lebih dari 6 tahun, dia juga bagian dari kita, bukankah menyenangkan jika kita bisa berteman seperti dulu lagi ?" lanjutku, "Menghabiskan waktu dan membuat kenangan - kenangan yang tidak terlupakan bersama - sama lagi.. Bukankah itu hal yang bagus dan baik bagi persahabatan kita ?"
"Tetap saja ! Jangan terlalu mempercayai kata - katanya !" ucap George, "Apa kau tidak bisa belajar dari masa lalu ?"
"George,... Bukankah 3 tahun sudah cukup untuk meredakan amarah kita padanya ? Bukankah sudah cukup setelah 3 tahun kita membencinya ? " ujarku, "Aku tahu dia bersalah, akan tetapi bukankah dia juga secara tidak langsung telah dirugikan oleh Athan ?"
Semua diam tak bergeming, masing - masing tampak sibuk memikirkan ucapanku,
"Aku ingin memberikan kesempatan kedua bagi Hillard untuk memperbaiki hubungannya dengan kita.." kataku lagi, "Aku tak memaksa kalian, tapi ku harap, kalian juga mau memberikan kesempatan yang sama untuk Hillard.."
"Aku.." Leila tampak menjilat bibir bawahnya, "Aku akan melakukan hal yang sama dengan Wensy, aku akan memaafkan Hillard,"
"Aku juga.." timpal Ivory, "Kalau Wensy yang pernah dirugikan saja mau memaafkan Hillard, kenapa aku tidak ? Jadi aku akan memberikan kesempatan kedua untuk Hillard.."
Jhion menghela nafas, "Baiklah.. Jika memang itu hal yang baik, aku juga akan melakukannya,"
Aku menatap George dan Viola yang masih belum memberikan jawaban,
"Apa ??" tanya George, "Kenapa kau menatapku seperti itu ?"
"Aku hanya menatapmu saja.." jawabku, "Memang salah ? Aku memiliki mata dan aku bisa melihat, lantas kenapa aku tidak boleh menatapmu ?"
George berdecak, "Kau pasti berharap aku akan memberikan jawaban yang sama dengan Ivory, Leila dan Jhion, bukan ?"
Aku menganggkat bahu, "Aku kan tidak memaksa.. Kau memiliki hak untuk memilih,"
"Hah !!" George menghela nafas dengan kasar, kemudian dia menoleh pada Viola, "Vi, bagaimana denganmu ? Apa kau setuju dengan keputusan mereka ?"
Viola menatap kami satu per satu, kemudian dia menoleh ke arah keranjang yang berisi bunga anyelir yang ada di atas meja kecil di samping ranjang pasiennya, Viola memainkan kuku jari tangannya, dia kembali menatap kami lagi,
Aku bisa melihat jelas sorot mata Viola, dan dia masih bimbang...
"Vi, jika memang kau belum siap untuk menerima Hillard kembali, tidak apa - apa.." ucapku pada Viola sambil tersenyum, "Kau berhak memilih dan menentukan yang terbaik untuk hati dan juga perasaanmu,"
Viola mengangguk pelan, "Beri aku waktu.. Akan aku pikirkan,"
Aku mengangguk begitu mendengar jawaban Viola, "Baiklah, aku mengerti.." kemudian aku kembali menatap George, "Lalu bagaimana denganmu, George ?"
George mengusap leher belakangnya, lagi - lagi dia menghela nafas, "Besok aku akan pergi ke rumah Hillard untuk menanyakannya seputar kejadian penusukan Viola.." kemudian dengan suara pelan George melanjutkan kata - katanya, "Selain itu aku akan memaafkannya, jika aku melihat dengan jelas bahwa dia benar - benar menyesal tentang 3 tahun yang lalu.."
"Cih.. Dasar kau ini ! Padahal aku tahu jelas, kau pasti sebenarnya sudah ingin memaafkan Hillard, bukan ?" ejek Ivory, "Hanya saja harga dirimu itu terlalu tinggi,"
"Hei, aku ini hanya menggunakan intuisiku sebagai seorang detektif.." ujar George, "Aku tak bisa langsung percaya tanpa adanya bukti yang ku lihat dengan mata kepalaku sendiri,"
"Ya.. Ya.. Ya... Baiklah, tuan detektif," ucap Ivory jengah.
George tak menghiraukan lagi ucapan Ivory, dia mengeluarkan handphone hitamnya dari dalam saku celananya, "Aku harus menghubungi Nicholas dan memberitahunya untuk pergi ke rumah Hillard besok," George tampak mengetik sesuatu di handphonenya, tapi di sela - sela kesibukannya dia sempat melirik Jhion, "Besok kau ikut denganku, ya.."
Jhion mengambil sepotong apfelsturdel lagi, "Sepertinya besok aku sedikit sibuk karena harus membantu Kak Sion, tapi akan aku usahakan untuk datang,"
"Ohoo.." Ivory tersenyum mengejek pada George, "Apa kau malu untuk menemui Hillard sendirian, George ??"
"Hei, memangnya aku ini apa ?!" ucap George kesal.
"Sudah.. Sudah.." Leila langsung menghentikan George dan Ivory sebelum kedua saudara itu mulai beradu mulut serta saling mengejek dan membuat gaduh, "Daripada menghabiskan waktu dengan beradu mulut, lebih baik kita makan saja berliner strawberry dan apfelsturdel yang sudah Wensy beli untuk kita.." ucap Leila sambil mengambil sebuah berliner strawberry dari dalam box.
Aku mengambil sepotong apfelsturdel dan memberikannya pada Bryan, "Terimakasih untuk bantuan anda hari ini, Asisten Bryan.."
Bryan menerima apfelsturdel tersebut dari tanganku sambil tersenyum hangat, "Saya senang karena setidaknya saya selalu bisa membantu anda saat anda memang membutuhkan bantuan, manager... Dan ke depannya juga, saya akan terus melakukan hal yang serupa,"
Aku tersenyum kecil mendengar perkataan Bryan, tanpa ku sadari, hubunganku dengan Bryan saat ini terasa lebih dekat dari sebelumnya.
~
Aku melepaskan mantelku seraya menghenyakkan tubuhku di atas sofa yang ada di ruang tamuku, benar - benar hari yang panjang dan juga melelahkan,
Aku meletakkan tasku di atas meja beserta 2 toples vanillekipferl dan sebuah box yang berisi 5 potong apfelstrudel dan 4 buah berliner strawberry,
Teman - temanku rupanya tak sanggup menghabiskan semua kue yang aku beli, bahkan vanillekipferl yang aku beli saja tak terjamah oleh mereka, jadi aku memutuskan untuk memberikan 1 toples vanillekipferl pada Bryan sebagai ucapan terimakasih karena sudah banyak membantuku hari ini, dan sisanya aku bawa pulang ke rumah.
"Selamat datang Nona Wensy," ujar Kak Tawnia, kepala pelayan rumah tangga yang bekerja di rumahku, Kemudian Kak Tawnia menoleh kepada seorang gadis berusia 22 tahun yang memiliki rambut panjang sebahu, "Filza, tolong bawakan barang Nona Wensy ke dalam kamarnya.."
"Baik, kepala pelayan Tawnia.." ucap Filza sembari mengambil tas kerjaku dan juga mantelku yang ada di dekatku, "permisi, Nona Wensy.."
"Iya, silahkan Filza.." ujarku.
"Mony dan Bora," Kak Tawnia menoleh kepada dua pelayan lainnya, "Tolong siapkan makan malam untuk Nona Wensy dan juga untuk Tuan muda Sion,"
"Baik, kepala pelayan Tawnia," jawab Mony dan Kak Bora bersamaan.
Kak Tawnia yang berusia 27 tahun dan Kak Bora yang berusia 25 tahun berasal dari daerah yang sama yaitu Irlandia.
Kak Tawnia sudah bekerja sebagai kepala pelayan rumah tangga selama 5 tahun, sedangkan Kak Bora sudah bekerja sebagai pelayan di rumahku selama 4 tahun. Aku memanggil mereka dengan sebutan 'kakak' karena menurutku itu membuatku lebih akrab dengan mereka dan lagipula umur kami bertiga tidak berbeda terlalu jauh.
Lalu Filza adalah seorang gadis berusia 22 tahun yang berasal dari India, dia sudah bekerja di rumahku selama hampir 2 tahun, sedangkan Mony adalah seorang gadis berusia 21 tahun yang berasal dari Kamboja, dia baru bekerja selama 1 tahun 6 bulan di rumahku.
Dua minggu yang lalu, kedua orangtuaku memberikan libur untuk mereka agar mereka bisa pulang ke kampung halaman mereka dan mengunjungi keluarga mereka.
Selama dua minggu belakangan ini kami sekeluarga harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri dan karena kami semua hanya akan berada di rumah saat pulang kerja alias saat malam hari, jadi tak banyak pekerjaan rumah yang perlu dilakukan selain daripada menyapu dan mengepel, soal urusan menyuci baju kami serahkan pada laundry dan untuk makan kami biasa memesan makanan atau kadang - kadang kami memilih untuk makan saja di restoran terdekat.
Untunglah Kak Tawnia, Kak Bora, Mony dan Filza sudah kembali dari liburan mereka dan kembali bekerja seperti biasa,
"Dimana Leo ?" tanyaku pada Kak Tawnia.
"Tuan muda Leo sedang berada di kamarnya, nona.." jawab Kak Tawnia.
"Ah begitu," ujarku, "Apakah dia sudah makan malam ?"
"Sudah, nona.." ujar Kak Tawnia, "Saya akan bawakan teh hangat untuk anda,"
"Terimakasih, Kak Tawnia.." ujarku sambil tersenyum.
Kak Tawnia pun pergi ke arah dapur untuk membuatkan teh hangat untukku,
Aku menegakkan sedikit tubuhku sambil memijat - mijat perlahan kedua pundakku yang terasa sedikit sakit dan pegal itu,
"Nona Wensy.. Apakah anda sakit ?" tanya Filza yang baru saja turun dari lantai 2 rumahku setelah dia meletakkan tas serta mantelku di dalam kamarku.
"Ah tidak, Filza.." jawabku, "Hanya sedikit pegal.."
Filza mendekat ke arahku dan langsung memijat kedua pundakku, "Biar saya yang memijat anda.. Mungkin anda terlalu lelah,"
"Terimakasih, Filza.." ujarku, "Bagaimana kabar keluargamu ?"
"Kabar mereka sangat baik.." jawab Filza sambil tersenyum, "Berkat bantuan dari Tuan Billy dan Nyonya Mary, keluarga saya bisa memiliki tempat tinggal yang layak,"
"Lalu bagaimana dengan kabar adik - adikmu ? Apakah kesehatan mereka sudah lebih baik dari sebelumnya ?" tanyaku.
Filza menganggukkan kepalanya sambil terkekeh pelan, "Kalau nona bertemu dengan mereka, nona pasti tidak akan bisa mengenali mereka karena berat badan mereka benar - benar bertambah drastis,.."
"Benarkah ? Ah, apa kau memiliki foto mereka ?" tanyaku senang.
Filza langsung berhenti memijatku dan dia pun berdiri di sampingku sambil menunjukkan layar handphonenya padaku, "Ini nona.." ucap Filza.
Aku memperhatikan sebuah foto yang ada di layar handphone Filza, tampak Filza sedang berfoto bersama dengan kelima adiknya, 3 di antaranya adalah perempuan dan 2 lainnya adalah laki - laki, "Wah, mereka sudah semakin besar.. Ah, sepertinya aku harus mengunjungi mereka tahun ini,"
Sorot mata Filza terlihat berbinar - binar, dia sepertinya bahagia sekali, "Tentu saja nona harus datang mengunjungi keluarga saya, mereka semua menunggu kedatangan anda dan pasti akan senang sekali jika mereka tahu anda akan datang,"
"Oh benarkah ?" tanyaku.
Filza menganggukkan kepalanya, "Apalagi karena berita tentang anda yang menyelamatkan para sandera dari para penyusup masuk televisi, orangtua saya tak berhenti membanggakan kebaikan hati anda di hadapan para tetangga dan kenalan kami,"
"Aduh ! Berita itu lagi ! Hampir saja aku melupakannya karena masalah penyerangan Viola," batinku, "Kalau keluarga Filza yang berada di India saja sudah mendengar berita itu, pasti orangtuaku yang sedang berada di Jepang pun sudah tahu.. Tapi anehnya, kenapa papa dan mama tidak pulang ke rumah ? atau paling tidak menelponku ?"
"Nona benar - benar luar biasa.." Filza melanjutkan ucapannya, "Saya saja tidak menyangka nona akan melakukan hal senekat itu, padahal jelas - jelas hal tersebut beresiko tinggi dan cukup membahayakan nyawa nona,"
Aku tersenyum tipis mendengar ocehan Filza yang sangat bersemangat itu, "Saya hanya melakukan kewajiban saya,"
"Nona, kewajiban nona adalah bertanggung jawab pada pekerjaan nona.." ujar Kak Tawnia yang sudah kembali dari dapur seraya meletakkan secangkir teh hangat di atas meja yang ada di hadapanku, "Apa yang nona lakukan bukanlah kewajiban, melainkan karena nona memang memiliki hati yang sangat baik.."
Filza mengangguk setuju, "Kalau nona bukanlah orang yang baik hati, pasti nona tidak akan melakukan hal berbahaya seperti itu.. Nona bisa saja kan hanya berdiam diri sampai polisi datang ?"
"Entahlah.. Aku tidak yakin," ucapku sambil tersenyum kecil sembari mengangkat cangkir porselen berwarna putih yang ada di atas meja dan meneguk sedikit teh hangat yang ada di dalamnya.
"Saya serius, nona.." seru Filza yang terlihat gemas begitu mendengar ucapanku, "Nona itu benar - benar peduli pada orang lain dan memiliki hati yang baik,"
Kak Tawnia berdeham sedikit, "Filza, perhatikan nada bicaramu pada Nona Wensy.."
"Ah iya.." Filza langsung mengatup mulutnya, "Maafkan saya, Nona Wensy.."
"Tidak apa - apa, Kak Tawnia.." ucapku sambil terkekeh seraya meminum sedikit lagi teh hangat dari cangkir porselen yang ada di tanganku, "Tidak ada yang salah dengan nada bicara Filza, malahan dia terlihat imut,"
"Tapi nona, tetap saja ada batasan antara kami para pelayan dan anda," ujar Kak Tawnia.
Aku mengerutkan dahiku, "Kenapa kakak berpikir begitu ?"
"Nona, kami harus selalu ingat tentang posisi kami.." ucap Kak Tawnia lagi.
Aku semakin mengerutkan dahiku, "Ada apa ini ? Rasanya Kak Tawnia seperti berubah, padahal sepertinya selama ini tak pernah ada masalah.. Aneh sekali !"
"Aku tahu kalau Kak Tawnia, Filza, Mony, dan Kak Bora bekerja sebagai pelayan di rumah ini, akan tetapi kita ini sama - sama manusia.." ucapku sembari meletakkan cangkir porselenku di atas meja, "Aku tahu batasan yang kalian maksud adalah bersikap sopan pada kami sekeluarga, tapi bukan berarti posisi kalian lebih rendah dari kami.."
"Nona,-"
"Kak Tawnia," aku memotong ucapan Kak Tawnia, "Selama ini aku selalu menganggap kalian semua bagian dari keluargaku, apakah ada kesalahan yang aku atau keluargaku lakukan sampai Kak Tawnia rendah diri ?"
"Tidak, nona.." ujar Kak Tawnia, "Sungguh ! Nona dan keluarga nona tidak melakukan hal yang buruk pada saya ataupun yang lainnya,"
Aku menatap Kak Tawnia dengan sorot mata serius, "Atau apakah ada seseorang yang mengatakan hal buruk kepada kakak ? Sampai - sampai kakak jadi merendahkan diri kakak sendiri ?"
Kak Tawnia tampak terdiam begitu mendengar pertanyaanku,
"Filza, apa kau tahu sesuatu ? Katakan saja padaku," tanyaku sembari menoleh pada Filza.
Filza tampak menundukkan kepalanya, "T-tidak, nona.."
Aku tak yakin mendengar jawaban dari Filza, rasanya ada sesuatu yang janggal, belum sempat aku bertanya lagi, tiba - tiba seorang gadis berjalan masuk ke dalam rumahku,
"Aku yang mengatakan pada mereka untuk menyadari posisi mereka serta mengetahui batasan yang jelas antara majikan dan pelayan," ucap gadis itu dengan suara angkuh.
"Kak Mallory ? Apa yang kakak katakan tadi ?"
Gadis itu dengan seenaknya duduk di sofa yang ada di ruang tamu sambil meletakkan kedua kakinya di atas meja, "Apakah kau tidak mau menyapa kakak sepupumu ini terlebih dahulu dan menjamunya dengan secangkir teh hangat ?"
Aku menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan, "Filza, tolong bawakan teh hangat untuk Kak Mallory.." ujarku pada Filza.
"Baik, Nona Wensy.." ucap Filza seraya berjalan menuju dapur.
Aku menatap Kak Mallory, "Ada apa kakak datang ke sini ?"
Bukannya menjawab pertanyaanku, Kak Mallory malah melepaskan mantel merahnya dan melemparkannya dengan sengaja ke arah Kak Tawnia, "Gantung itu..."
"Baik, Nona Mallory.." ujar Kak Tawnia dengan suara sedikit bergetar sambil mencengkram erat mantel Kak Mallory di tangan kanannya.
Aku dengan cepat menahan pergelengan tangan Kak Tawnia yang hendak beranjak pergi itu, dan langsung mengambil mantel merah milik Kak Mallory dari tangan Kak Tawnia,
"Sebenarnya apa yang sedang kakak lakukan sekarang ?" tanyaku kesal karena sejak tadi Kak Mallory tidak mau menjawab pertanyaanku.
Kak Mallory tidak menjawabku, dia merogoh tas merahnya dan setelah itu dia melemparkan sebuah amplop berwarna silver ke atas meja, aku mengambil amplop tersebut dari atas meja dan langsung membukanya, aku menarik secarik kertas dari dalam amplop silver tersebut yang rupanya adalah undangan untuk merayakan ulangtahun kakekku,
"Kau dan keluargamu harus datang tanpa terkecuali," ujar Kak Mallory.
"Aku tidak akan datang," ucapku dingin sambil memasukkan kembali undangan tersebut ke dalam amplop dan meletakkannya di atas meja.
Kak Mallory langsung melirikku sinis begitu mendengar ucapanku, "Kau bilang apa tadi ? Apa kau sadar, beberapa tahun belakangan ini kau selalu menghindari pertemuan keluarga ?"
"Itu adalah urusanku.." ujarku, "Bukan urusan kakak,"
"Ah.. Apa kau takut ?" ucap Kak Mallory sambil tersenyum sinis.
"Untuk apa aku datang ke tempat yang sama sekali tidak menyukai kehadiranku ? Bukankah kakak yang takut jika aku datang ? Karena aku lebih unggul dari kakak dalam segala hal ?" ucapku sambil tersenyum.
Kak Mallory menatapku geram, "Bilang saja kalau kau memang takut !"
Aku menatap langit - langit rumahku, "Hmm.. Aku hanya berpikir bahwa hal itu hanya membuang - buang waktuku yang berharga,"
"Ini ulangtahun, kakek ! Bukannya membuang - buang waktu !" ucap Kak Mallory.
"Aku tahu," jawabku, "Tapi kakek sendiri tidak menyukai kehadiranku karena ada seseorang yang memfitnahku, jadi kenapa aku harus datang ?"
"Wensy, kau,-"
Tepat saat itu Filza datang sembari meletakkan secangkir teh hangat di atas meja, "Nona Mallory, ini teh hangat untuk anda.." ucap Filza.
Kak Mallory mengambil cangkir tersebut dari atas meja, "Nyalakan penghangat ruangan," ujar Kak Mallory dengan ketus pada Filza.
"Y-ya ?" Filza tampak gugup karena takut melihat ekspresi wajah Kak Mallory yang terlihat kesal dan menyeramkan itu.
"Kau tidak dengar ?! Nyalakan penghangat ruangan !" ucap Kak Mallory.
"T-tapi, Nona Mallory,-"
"Tidak usah, Filza.." ucapku sambil bersandar pada sofa sembari menyilangkan kedua tanganku di depan dadaku.
Kak Mallory langsung menatapku tajam, "Wensy, sejak tadi kau terus menerus melawan perkataanku ya ?"
Aku menatap Kak Mallory dengan tenang, "Untuk apa menyalakan penghangat ruangan, sedangkan perapian di ruangan ini masih menyala ? Apa kakak tidak sadar, sejak tadi kakak terus menerus memerintah Kak Tawnia dan Filza dengan seenaknya ?"
"Apakah aku melakukan hal yang salah ? Wajar kan kalau aku meminta pada pelayan seperti mereka untuk menggantung mantelku serta menyalakan penghangat ruangan ? Itu kan pekerjaan mereka berdua.. Mereka di bayar untuk itu," ujar Kak Mallory, "Kau seharusnya mengajarkan pada para pelayan rendahan itu untuk sadar akan posisi mereka,"
Aku menatap tajam Kak Mallory, "Apa ? Rendahan ?"
"Bukankah itu benar ? Mereka ada di sini untuk melayani keluargamu, jadi sudah sepantasnya kedudukan serta posisi mereka lebih rendah dari keluargamu,"
"Meskipun mereka pelayan, tapi bukan berarti kakak bisa merendahkan mereka seperti itu..." ucapku sambil berusaha tetap tenang.
Kak Mallory menurunkan kedua kakinya dari atas meja dan menatapku dengan tatapan tajam seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, "Apakah kau sedang mencoba menggurui aku, Wensy ?"
"Kakak tidak memiliki hak untuk mengatur mereka," ucapku.
"Apa kau bilang ?!" Kak Mallory beranjak berdiri sambil meninggikan nada bicaranya.
Aku menarik nafas dalam - dalam sembari menghembuskannya kembali dengan perlahan, "Mereka semua bekerja sebagai pelayan di rumahku, dan aku lah yang berhak mengatur mereka, bukan kakak.."
Kak Mallory tersenyum sinis, "Ini bukan rumahmu, tapi ini adalah rumah orangtuamu,"
"Dan aku adalah anak dari kedua orangtuaku.." jawabku sambil tersenyum, "Sedangkan Kak Mallory," aku menatap Kak Mallory dari ujung kepala hingga ujung kakinya, "Bukanlah anak dari orangtuaku.. Kakak hanyalah orang luar yang tidak memiliki wewenang apapun dalam rumahku,"
"Kau pandai bicara juga , ya.." ucap Kak Mallory sambil mengepalkan kedua tangannya.
Aku tersenyum sambil beranjak berdiri, "Aku hanya bicara tentang fakta, kak.."
Kak Mallory berjalan mendekat ke arahku, "Rupanya setelah mendapat pujian dan juga gelar 'pahlawan' dari masyarakat, kau jadi besar kepala ya, Wensy ?"
Aku memutar bola mataku, "Hah ! Lagi - lagi berita itu !" batinku.
"Apakah kakak iri padaku ?" tanyaku maju mendekati Kak Mallory sembari menunduk sedikit karena tubuhku lebih tinggi di bandingkan dengan Kak Mallory, "Asal kakak tahu saja, aku tak pernah berharap mendapat julukan 'pahlawan' dari masyarakat.."
Kak Mallory tertawa sinis sambil menatapku remeh, "Ya ampun, kau masih tidak mau mengaku rupanya ? padahal jelas - jelas ada yang merekammu secara terang - terangan seperti itu, masa kau tidak sadar ? Ah ! Atau jangan - jangan, itu semua hanya rekayasa semata agar kau bisa mendapatkan perhatian dari publik ?"
"Nona Wensy bukan orang yang seperti itu !" ujar Filza pada Kak Mallory.
Kak Mallory melirik sinis ke arah Filza, "Kau berani melawanku, ya ?!"
Aku menggenggam pergelangan tangan Filza dan menyembunyikannya di belakang tubuhku, "Apa kakak tahu ? Kakak sudah melewati batas.."
"Wensy, Kau,-!" Kak Mallory menatapku marah.
Aku menatap kedua mata Kak Mallory, "Percuma saja kakak bersekolah di tempat yang bagus, tapi nyatanya kakak sama sekali tidak memiliki etika yang baik,"
"Wensy Jeremiah ! Jaga bicaramu padaku !" teriak Kak Mallory marah.
Aku membanting mantel Kak Mallory ke atas lantai, "Kenapa ? Apakah aku salah bicara ? Bukankah ucapanku benar ?!"
"Kau !!"
"Kakak kesal ?!" tanyaku sambil tersenyum sinis, "Makanya jangan seenaknya bicara pada Kak Tawnia, Filza, Mony ataupun Kak Bora ! Jangan seenaknya merendahkan mereka ! Mereka juga manusia dan layak untuk di hargai !!"
Kak Mallory menyunggingkan senyum sinisnya, "Hebat sekali, Wensy ! Teruslah berpura - pura seperti ini, aku akan lihat sampai mana kau akan terus berpura - pura !"
"No-na W-Wensy tidak pernah berpura - pura," ucap Filza sambil menatap Kak Mallory dengan berani meskipun suaranya bergetar.
"Nona kami bukanlah orang yang seperti itu, Nona Mallory.." sambung Kak Tawnia.
Kak Mallory melirik Filza dan Kak Tawnia dengan sorot matanya yang terlihat marah itu, "Hei kalian berdua ! Apakah aku pernah mengizinkan kalian untuk ikut campur ?!"
"Saya tahu hal ini sangatlah tidak sopan, tapi saya tidak akan diam saja jika anda terus menerus mengatakan hal yang buruk pada Nona Wensy," ucap Kak Tawnia lagi.
"Setelah bekerja di sini, kau jadi sangat angkuh ya ?! Padahal hanya pelayan rendahan, tapi bicaramu itu benar - benar terdengar sombong sekali !" teriak Kak Mallory marah dan hampir saja menampar wajah Kak Tawnia.
Aku dengan cepat menahan tangan Kak Mallory, "CUKUPP !!"
Kak Mallory terlihat geram sekali, dia menghempaskan tangannya dari cengkraman tanganku, lalu, PLAKK !! Dia langsung menampar pipiku dengan keras, "Kau melawanku hanya untuk membela orang - orang rendahan seperti mereka ?!"
"Apa yang anda lakukan !" seru Kak Tawnia sambil menarik tangan Kak Mallory.
Dengan keras Kak Mallory mendorong tubuh Kak Tawnia sampai terjatuh, "Beraninya kau menyentuh tanganku ! Dasar pelayan tidak tahu sopan santun !"
Aku meringis sambil memegang pipi kiriku yang terasa perih itu,
Kesabaranku..
Sudah habis !!!
"YANG TIDAK TAHU SOPAN SANTUN ITU KAU !!" teriakku marah, "BERHENTI MENERIAKI MEREKA DAN KELUAR DARI SINI SEKARANG JUGA !!!"
Mendengar teriakanku yang sangat keras itu Mony dan Kak Bora berlari dari arah dapur, bahkan Leo yang sedari tadi berada di kamarnya berlari menuruni tangga untuk melihat apa yang membuatku berteriak marah seperti itu,
Kak Mallory menatapku tak percaya, "Apa ?!"
"KAU TIDAK TAHU SOPAN SANTUN, MALLORY !!" teriakku.
Kak Mallory menatapku tajam, "Coba katakan sekali lagi, kau memanggilku apa tadi ?!"
"Apakah masih kurang jelas ?!" ucapku dengan wajah datar, "Mallory, kau tidak memiliki sopan santun dan tidak tahu batasan dalam bertindak !"
"Wah ! Aku tak percaya ini !! Sekarang bahkan kau berani berteriak dan melawanku ?!"
Aku tertawa sinis, "Untuk apa aku takut pada seseorang yang bahkan tidak mau menghargai orang lain dan tidak memiliki etika sepertimu, Mallory ?"
Wajah Kak Mallory terlihat memerah karena marah, dia seperti akan menerkam dan mencabikku kapan saja,
"Kak Mallory, sebaiknya kakak pulang saja," ucap Leo sambil berdiri di antara aku dan Kak Mallory.
Kak Mallory menatap Leo dengan tatapan tajam, "Minggir, Leo ! Jangan ikut campur !"
Leo balik menatap Kak Mallory dengan tatapan dingin, "Pulanglah, kak.. Jangan membuat keributan di rumah kami,"
"Membuat keributan, katamu ?!" Kak Mallory tertawa sinis, "Bukankah seharusnya kau mengatakan hal itu pada kakak perempuanmu yang merupakan aib dalam keluargamu ?"
"A-apa ?! A-aib ?!" kataku dalam hati, "Apa maksudnya ?"
"Sebaiknya jaga ucapan kakak sebelum amarahku meledak," ucap Leo dengan wajah datar namun suaranya terdengar menahan marah.
Kak Mallory tak mengubris ucapan Leo, dia berjalan mendekat ke arahku, tangan kanannya menepuk bahu kiriku dan Kak Mallory berbisik padaku, "Asal kau tahu saja, Wensy.. Aku tahu rahasiamu.. Ah ! Atau haruskah aku sebut sebagai aibmu di masa lalu ?"
"Bagaimana dia bisa tahu ?" batinku.
"Apa kau pikir, kau sudah menyembunyikannya dengan baik ?" bisik Kak Mallory lagi seraya menyunggingkan senyumannya, "Sebaiknya, jaga sikapmu padaku sebelum aku menyebarkan aibmu di hadapan banyak orang,.."
"Tidak.. Aku harus tenang," batinku lagi, "Tak mungkin Kak Mallory mengetahui hal itu.. Dia tidak pernah sekalipun bertemu dengan Athan,.. Dia pasti hanya berusaha menggertakku,"
"Kira - kira bagaimana ya reaksi semua orang ketika tahu tentang masa lalumu dengan Athan ?" Kak Mallory melanjutkan kata - katanya, "Akankah mereka mengasihanimu atau justru mereka malah akan membencimu ?"
DEG !!
Aku sangat terkejut begitu mendengar kata - kata Kak Mallory,
Darimana dia tahu tentang hal itu ?!
Aku yakin sekali bahwa selama ini, aku menyembunyikan hal tersebut secara rapat - rapat dari keluargaku sendiri dan bahkan keluarga besarku.
Tapi bagaimana bisa Kak Mallory, kakak sepupuku yang bisa di bilang tidak terlalu dekat denganku, mengetahui hal yang sangat ingin aku sembunyikan ?
Kak Mallory menatap kedua mataku sambil tetap tersenyum, "Apakah kau ingin tahu reaksiku saat mengetahui hal itu, Wensy ?" sedetik kemudian ekspresi wajahnya berubah menjadi datar dan terlihat sekali bahwa dia membenciku, "Sudah pasti aku merasa jijik padamu,"
Aku mengepalkan kedua tanganku sekuat tenaga, berusaha menahan agar serangan panikku tidak kambuh,
"Kau harus tenang, Wensy.." ucapku dalam hati, "Bagaimanapun juga aku harus mengontrol ekspresi serta perasaanku,"
"Jangan mengarang cerita, Kak Mallory !!" bentak Leo yang membuat kami semua tersentak kaget, selama ini Leo tak pernah sekalipun berani membentak orang yang berumur lebih tua dari dirinya.
"Apa kau bilang ?! Mengarang cerita ?!" Kak Mallory menatap Leo marah.
"Asal kakak tahu saja ! Perilaku kakak saat ini benar - benar menggelikan !" bentak Leo.
"Hei bocah ! Tahu apa kau ?!" bentak Kak Mallory.
Leo memungut mantel Kak Mallory yang ada di atas lantai, kemudian dengan kasar dia menarik lengan Kak Mallory agar menjauh dariku,
"LEPASKAN AKU, BOCAH SIALAN !!" teriak Kak Mallory marah sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Leo.
Bukannya melepaskan Kak Mallory, Leo justru bersikap semakin kasar dengan menyeret Kak Mallory menuju pintu rumah,
"Leo.." panggilku yang akhirnya berlari kecil menyusul Leo dan Kak Mallory. Kak Tawnia, Filza, Mony dan Kak Bora mengikutiku dari belakang.
Jujur ! Aku khawatir Leo akan membuat Kak Mallory terluka, itu akan menimbulkan masalah baru lagi.
Aku melihat Leo membuka pintu rumah dengan tangan kirinya, dia menghempaskan cengkramannya dari lengan Kak Mallory dan mendorong Kak Mallory keluar dari dalam rumah sembari melemparkan mantel merah yang ada di tangannya ke arah wajah Kak Mallory, kaki kanan Leo menendang sepatu higheels merah milik Kak Mallory,
Aku cukup kaget dengan tindakan Leo saat ini, mataku pun langsung tertuju pada lengan Kak Mallory yang terlihat memerah akibat cengkraman tangan Leo,
"Bersyukurlah karena aku hanya menyeret kakak keluar dan tidak memukul wajah kakak," ucap Leo sembari menatap tajam Kak Mallory.
"Dasar bocah kurang ajar !" geram Kak Mallory yang terlihat meringis kesakitan akibat cengkraman tangan Leo sembari mengenakan sepatu higheels nya, "Kau dalam masalah besar, Leo ! Aku akan adukan hal ini pada kakek.."
"Aku tidak takut.." ucap Leo.
"Kau sombong sekali," ucap Kak Mallory sinis.
"Silahkan kakak mengadu pada kakek, dan aku pun akan mengadukan apa yang telah kakak lakukan hari ini pada kakek.." ucap Leo lagi, "Kira - kira mana yang akan kakek bela ?"
"Kakek tidak akan mempercayai kalian !" teriak Kak Mallory.
Leo tersenyum, "Apa kakak lupa bahwa disini ada CCTV ? Aku hanya perlu memberikan rekaman CCTV tersebut kepada kakek bukan ?"
Kak Mallory langsung tak bisa berkata apa - apa selain menatap Leo kesal,
"Sekali lagi aku lihat kakak menginjakkan kaki di rumah ini dan mengganggu Kak Wensy, aku tidak akan tinggal diam !" ancam Leo sambil menatap tajam Kak Mallory, "Semua orang yang berusaha mengusik Kak Wensy, tidak akan aku biarkan ! Ingat itu baik - baik !"
"Kau ingin disebut sebagai pahlawan ya ?" ucap Kak Mallory dengan nada mengejek.
"Aku tidak peduli dengan penilaian kakak," ujar Leo, "Aku hanya ingin melindungi kakakku yang berharga !"
"Berharga ? Apanya yang berharga ?" Kak Mallory tertawa sinis.
Leo menatap Kak Mallory dengan tatapan dingin, "Haruskah aku menyiram kakak dengan air dingin agar kakak mau pergi dari sini ?"
Kak Mallory langsung terlihat tersentak kaget, "Dasar bocah tidak tahu sopan santun !" seru Kak Mallory marah, tapi pada akhirnya dengan sedikit terburu - buru dia mengenakan mantelnya seraya membalikkan badannya dan keluar dari pekarangan rumah kami, sepertinya ancaman Leo benar - benar membuatnya sedikit takut.
Begitu Kak Mallory pergi, Leo pun langsung menutup pintu rumah,
"Ada - ada saja, kenapa nenek sihir itu harus datang sih ?!" gumam Leo kesal sembari membalikkan badannya dan menatapku, "Kakak baik - baik saja ?"
"Emm.. Iya," jawabku yang masih sedikit terkejut melihat kemarahan Leo.
Leo menyentuh pipi kiriku, "Aduh ! Lihat ini ! Pasti gorila itu yang membuat pipi kakak seperti ini kan ?!"
"Ah tidak apa - apa.." ujarku sambil mengelak dari sentuhan tangan Leo.
"Apanya yang tidak apa - apa ?! Pipi kakak terlihat merah dan bengkak !" ucap Leo kesal sembari menarik tanganku menuju ruang tamu dan menyuruhku untuk duduk di sofa.
Entah sejak kapan Mony pergi ke dapur, tapi yang jelas di tangannya saat ini sudah ada ice bag berisi es batu,
Leo mengambil ice bag itu dari tangan Mony dan dengan hati - hati menempelkannya di pipi kiriku, "Seharusnya kakak memanggilku tadi,"
"Ku pikir kau pasti sedang sibuk belajar karena sebentar lagi masa - masa ujian," ujarku.
"Aku pasti akan membantu kakak jika tahu nenek sihir itu datang," ujar Leo.
Aku hanya terkekeh kecil,
"Apa yang nenek sihir itu lakukan disini ?" tanya Leo padaku.
"Dia memberikan undangan untuk kita sekeluarga," jawabku.
Leo mengerutkan dahinya, "Undangan apa ?"
"Ulangtahun kakek," jawabku pelan.
Leo menurunkan ice bag dari pipiku, dia menatapku, "Apa aku perlu membuang undangan tersebut ? Atau perlukah aku membakarnya ?"
Aku mengacak - ngacak rambut Leo, "Tidak perlu sampai seperti itu.. Aku baik - baik saja,"
Leo menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskannya dengan kasar, "Andai saja kakek mempercayai kakak dan tidak membenci kakak,"
"Yah.. Apa boleh buat," ujarku, "Nyatanya kakek lebih mempercayai orang lain daripada diriku,"
"Tapi kalau kakek masih mengirimkan undangan ulangtahun seperti ini, bukankah itu artinya kakek ingin bertemu dengan kakak ?" ucap Leo, "Mungkin saja kakek sudah tahu kebenarannya dan sekarang kakek mempercayai kakak ?"
Aku mengangkat bahuku, "Entahlah.. Aku tidak ingin mengharapkan sesuatu yang belum pasti,"
Leo menatapku lekat - lekat, "Apakah kakak membenci kakek ?" tanya Leo pelan.
Aku menoleh ke arah Leo, "Menurutmu ? Apakah aku terlihat membenci kakek ?"
~
To Be Continued ...