Chapter 8 : Bagas

1732 Kata
Lunar langsung menuju ke ruang tamu saat mendengar nama Bagas di sebut oleh Elio. Bagaimana Bagas bisa kesini? pikirnya. Bagas masih terlihat bergeming di depan pintu. Sedangkan Elio sudah memungut buah yang dibawa oleh Bagas. '' Kok ngelamun Gas, ayok masuk biar nanti gue bikinin minum sekalian.'' kata Elio dengan santainya. Lunar melihat wajah Bagas yang sudah memerah menahan marah. Lunar merasa dia seperti wanita yang ketahuan selingkuh oleh pacarnya. Tapi sebenarnya Lunar benar-benar menganggap Bagas atasannya tidak lebih dan tidak kurang. Jadi harusnya Bagas tidak perlu terlihat sebegini marahnya. Elio masih belum mengerti suasana yang terjadi saat ini, dia masih mencoba mengajak Bagas masuk ke dalam. Akhirnya Bagas mengikuti Elio yang masuk ke dalam ruang tamu rumah Lunar. Elio benar-benar tamu yang tau diri. ''Kok lo bisa ada disini, El?'' tanya Bagas setelah mereka duduk di kursi ruang tamu. Lunar masih belum berbicara apapun sedari tadi. Masih memperhatikan dua orang pria yang sedang berbicara. ''Tadi pagi gue ke kantor, biasanya ada yang nyiapin sarapan di ruangan gue, tapi kali ini meja gue masih kosong, jadi yuadah gue tanya resepsionis udah ada yang liat Lunar dateng ga. Ternyata mereka bilang ga ada. Jadi karena gue khawatir langsung aja gue telpon dia. Dan dugaan gue bener, Lunar sedang sakit.'' jelas Elio panjang lebar kepada Bagas, sambil melirik ke arahku ke arahku. Bahkan mereka berbicara dengan santai tanpa menggunakan bahasa formal. Bagas beralih ke arahku, seperti meminta penjelasan apakah semua itu benar-benar terpukau oleh matanya. Situasi macam apa ini, pikir Lunar. Lunar akhirnya hanya bisa mengangguk kecil mengiyakan semua cerita dari Elio. Bagas menghela napas panjang. Bahkan dia saja baru kali ini datang kerumah Lunar. Dia merasa keduluan oleh Elio. ''Apa kamu sudah memeriksa ke dokter atau minum obat?'' tanya Bagas kepada Lunar. Lunar membalasnya dengan mengangguk. Seakan tidak ingin berbicara apapun, Lunar sedari tadi hanya menjawab dengan anggukan dan gelengan saja. Lunar masih merasa tidak enak kepada Bagas. Meskipun begitu juga Lunar masih menghargai perasaan Bagas terhadapnya. Lunar tau mata Bagas itu kecewa terhadapnya. Akhirnya Lunar hanya diam dan menjawab dengan itu. ''Yaudah kalo gitu mending sekarang ke dokter buat periksa.'' kata Bagas saat melihat wajah Lunar yang pucat pasi. ''Gue udah panggil dokter buat kesini. Tenang aja, Gas.'' ucap Elio. Mendengar Elio berbicara seolah dia sudah tau dan mempersiapkan semuanya, dan itu membuat Bagas merasa kesal. Akhirnya dokter yang dipanggil oleh Elio pun datang untuk memeriksa Lunar. Saat dokter dan Lunar berada di kamar. Bagas menarik Elio keluar rumah Lunar. ' 'El, kalo lo cuma mau main-main tolong jangan sama Lunar.'' ucap Bagas saat mereka sudah berada diluar rumah. ''Dari awal gue udah ga berniat buat mainin dia, tenang aja, Gas.'' jawab Elio dengan yakin. Bagas masih belum bisa mempercayai ucapan Elio. ''Apa lo ga ada cewe lain yang bisa di deketin selain Lunar, El?'' Bagas masih belum bisa melepaskan Lunar untuk Elio. Lunar adalah wanita yang sangat dia sayangi. Meskipun Lunar belum bisa menerima tapi Bagas yakin suatu saat nanti Lunar akan bisa menerima dirinya. ''Sorry Gas, kali ini kayanya kita harus bersaing buat dapetin Lunar.'' jawab Elio dengan santainya, sambil bercanda, dan memukul ringan bahu Bagas. Elio kembali masuk kedalam ruangan. Menunggu di depan kamar Lunar. Saat dia kembali dokter pun membuka kamar Lunar. ''Lunar cuma kecapean aja, sepertinya akhir-akhir ini dia banyak pikiran dan itu bikin dia stres belakangan ini.'' Jelas dokter kepada Elio. Elio mengangguk dan menerima resep obat yang diberikan kepadanya. Lunar masih di dalam kamar, mencoba bangun dan pergi keluar kamar. Dia tidak enak hati meninggalkan para atasannya diluar. Ketika diluar ia hanya menemukan Elio yang sedang berbicara dengan dokter yang tadi memeriksanya. Dimana Bagas? pikrinya. Elio yang menyadari keberadaan samping Lunar pun menuntunnya untuk duduk dinya. Lunar sedikit duduknya. Menurutnya jarak tempat duduknya dan Elio tadi terlalu dekat. Dokter langsung pamit begitu Lunar keluar dari kamar. ''Pak Bagas sudah pulang ya pak?'' tanya Lunar saat melihat saat dokter sudah pulang di antarkan Elio sampai ke depan pagar. ''Sudah, dia tadi nitipin buah-buahan ini aja buat kamu.'' kata Elio sambil memberikan Lunar satu kantong penuh buah. ''Bapak ga mau pulang juga?'' Tanya Lunar kepada Elio yang masih terlihat duduk santai di ruang tamu. Elio melihat Lunar dengan wajah sendunya. Pelan-pelan semakin mendekat. Radar bahaya bulan mulai bergetar. Dia menahan badan Elio yang sudah ada di tersedia. Kemudian mendorongnya pelan. Badannya sedikit bergetar. ''Maaf, saya pulang dulu kalau begitu. Besok kalau kamu belum merasa baikan tidak perlu masuk dulu.'' kata Elio sambil membenarkan letak bajunya. Lunar menggangguk tanpa melihat Elio. ''Oiya obatnya nanti saya lewat lewat ojol ya.'' Tambah Elio saat ia sudah berada di depan pintu rumah Lunar. *** Lunar masih merasa aneh dengan apa yang baru saja terjadi hari ini. Siang hari ojol yang membawa obat untuk Lunar benar-benar datang. Sore harinya Fiya pun datang untuk menjenguk Lunar. Waktu saat ini sudah menunjukkan pukul 8 malam. Suara ketukan pintu depan rumahnya tersentak dari lamunannya. Siapa yang malam-malam begini bertamu kan? Saat Lunar membuka pintu dia melihat Bagas di depan sana. dia bisa dibilang sangat kacau. Rambutnya sudah berantakan dan kancing bajunya terbuka kemana-mana. ''Lunar. Lo kenapa sih nolak gue terus.'' Bagas meracau tidak jelas. Dia mencoba memegang tangan Lunar yang sudah hebat di nikmati. Lunar ketakutan, Bagas yang sekarang bukan Bagas yang menyebalkan. Bagas saat ini adalah Bagas yang seram. Bagas masih mencoba menarik tangan Lunar. Mulutnya bau alkohol, ya Bagas mabuk. dan itu menyeramkan untuk Lunar. ''Lo itu bener-bener bego Lunar. ha ha ha ha. Lo udah tau kan kalo gue suka sama lo itu udah dari lama. Tapi kenapa kamu malah deketin si Elio itu hah.'' nada suara Bagas meninggi, dia mulai meneriaki Lunar. Bulan terus berjalan, masih terasa lembap, dia tidak punya tenaga untuk melawan Bagas. Bulan mulai terisak. ''Kalo gue gabisa milikin lo, Elio juga gaboleh. hahahahahaha.'' Bagas tertawa seram. Lunar hanya bisa pasrah dengan nasibnya kali ini. Handphonenya tertinggal di kamar, jadi dia tidak bisa menghubungi polisi atau siapapun. Bagas melempar semua benda-benda yang menahannya untuk mendekat ke arah Lunar. Benda-benda itu pecah berserakan kemana-mana. Lunar masih mencoba untuk menjauhi Bagas. Setelah membuat kegaduhan, Bagas akhirnya mendapatkan tangan Lunar. Dia menariknya dengan keras sampai Lunar mendarat ke pelukannya. Bagas membabi buta. Ia memenuhi Lunar dengan ciuman yang sangat kasar. Lunar masih mencoba melepaskan dirinya dari Bagas. Tenaga Bagas begitu besar sampai sampai dia sendiri merasa lemah. Bagas belum berhenti, dia masih mendekati dan mencoba untuk menyentuh Lunar, saat ia ingin mendaratkan bibirnya di bibir Lunar, dia berhenti dan membawa beberapa helai rambut Lunar yang menutupi wajahnya ke arah belakang telinganya. ''Gue ga akan ngelakuin ini kalo lo mau terima gue dari lama, Lunar.'' ucapnya dengan suara yang rendah. Tatapan matanya penuh dengan hasrat yang tidak bisa di deskripsikan. Lunar masih terisak, kali ini tangisannya sudah tidak bersuara. Tenaganya terkuras habis untuk melawan Bagas. Bajunya sudah tidak berbentuk sama sekali. Dia berharap seseorang akan datang menolongnya sebelum Bagas lebih jauh berbuat. Bagas semakin mendekat dan mendekat ke arah Lunar. Tapi sebelum itu terjadi Bagas terlempar jauh ke arah tembok pembatas dapur dan ruang tamu. Wajah merah Elio terlihat sangat menyeramkan. Deru napasnya sampai bisa terdengar oleh Lunar. Elio melihat keadaan Lunar yang mengenaskan. Dan melihat ke arah Bagas lagi. Emosinya benar-benar naik saat ini. Melihat Lunar ketakutan dan tidak berdaya seperti ini membuatnya marah. Bagas menyeka darah yang keluar dari mulutnya. Melihat ke arah Elio dan tersenyum miring saat melihat temannya itu marah. Elio langsung menghampiri Bagas dan menjatuhkan tinjuan bertubi-tubi ke arah Bagas. ''Gue habisin lo Bagas.'' ujarnya sambil memukul Bagas tanpa henti. Lunar ingin memberhentikan mereka. Tapi Lunar sendiri sudah tidak mempunyai tenaga apapun. Sakitnya bahkan belum pulih. Lunar merasa pusing dan tiba-tiba pandangan Lunar menggelap. *** Lunar's POV Aku tidak habis pikir dengan apa yang baru saja terjadi padaku. Semuanya terasa tidak nyata untukku. Aku merasa saat ini aku berada di ruangan hampa yang tidak memiliki apapun, semuanya putih. Aku melihat ibu dan ayahku disana. Mereka tersenyum kearah gadis kecil umur 8 tahun. Aku rindu mereka, ''Ibu.'' panggilku saat itu kearah ibuku. Ibu hanya diam sambil tersenyum, tangannya melambai ke arahku. Menyuruhku untuk tetap disini. Gadis kecil itu menghampiriku dan membelai wajahku dengan lembut. Dan dia kembali ke arah ibu. Saat aku ingin menyusul mereka, mereka langsung menghilang. Mereka pergi meninggalkanku, tanpa berkata sepatah katapun. Mereka pergi. Aku terbangun di kamar yang semuanya bernuansa putih. Oh sepertinya ini adalah rumah sakit. Ada banyak orang yang mengelilingiku. Apakah aku sudah mati? Kenapa mereka semua menangis? Diruangan ini ada Elio, Fiya, dan Sandra dan juga orang-orang lainnya yang tidak ku kenali. ''Pak, Lunar udah sadar pak!'' Kata Fiya ke arah Elio saat pandanganku dan Fiya bertemu. ''Kamu ga apa-apa Lunar?'' tanya Elio sambil memeriksa semua tubuhku dari atas sampai bawah tidak ada yang terlewat. Aku hanya melihatnya tanpa menjawab apapun. Dia hendak menyentuhku, aku langsung menepis tangannya yang ingin menyentuhku. Sandra pun kemudian mendekat ke arahku dan memelukku sambil menangis. ''Aku bersyukur kamu masih bangun Lunar.'' ucapnya saat melepaskan pelukanku. Apakah aku baru saja hampir mati? Aku tersenyum melihat ke arah Sandra. ''Gue ga nyangka pak Bagas bisa berbuat sekeji itu sama lo Lun.'' Ah iya Bagas. Bagaimana dia. Apakah dia ditangkap oleh pihak berwajib? ''Kamu ga perlu nyariin dia atau mikirin dia lagi Lun. Dia udah diurus oleh pihak berwajib. Kamu fokus buat sembuhin diri kamu dulu aja ya sekarang.'' Ucap Sandra saat melihatku seperti mencari keberadaan seseorang. Aku melihat Elio memperhatikan kami dari kejauhan. Sepertinya dia tau kalau aku sedang tidak ingin bertemu dengannya saat ini. ''Kamu mau makan sesuatu Lunar?'' tanya Sandra kemudian. ''Aku lagi ga pengen makan apa-apa kak, terimakasih.'' jawabku kemudian. Suasana kamar ini menjadi sangat sepi. Fiya dan Sandra sedang keluar untuk mengisi perut mereka. Hanya ada aku dan Elio saat ini di kamar ini. ''Apa kamu takut sama saya Lunar?'' tanya Elio dengan tiba-tiba. Aku kaget menerima pertanyaan seperti itu dari Elio. Ini sangat mendadak. Aku harus menjawab seperti apa. ''Saya tidak takut sama bapak, saya hanya belum berani untuk dekat-dekat dengan Bapak.'' Jawabku sekenanya. Memang benarkan, aku belum berani lagi, setelah Bagas mengungkit nama Elio. Dan hampir saja memperkosaku karena aku berada di dekar Elio. Elio tidak menjawab apapun kemudian. Suasana kembali hening. Sejujurnya aku sudah mulai mengantuk, tapi aku takut dan tidak bisa tidur karena Elio masih berada di dalam ruangan saat ini. ''Tidurlah Lunar. Biar aku menjagamu di depan.'' Ucap Elio saat melihatku kelelahan. Ah Elio sangat peka. Elio lalu keluar dari ruangan dan aku pun tertidur dengan nyenyak. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN