bc

Ketika Satu Sisi Itu Rusak

book_age18+
180
IKUTI
1K
BACA
billionaire
others
goodgirl
drama
twisted
sweet
city
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Lunar yang mempunyai trauma masa lalu yang membuatnya trauma dengan lelaki akhirnya bertemu dengan Elio yang mulanya terlihat sangat sempurna, seperti pangeran berkuda putih Elio menawarkan kehidupan yang bahagia. Namun setelah berjalannya waktu akhirnya sifat asli yang Elio sembunyikan semakin terlihat oleh Lunar.

chap-preview
Pratinjau gratis
Chapter 1 : Pertemuan Pertama
Seorang wanita terlihat sedang melihat ke arah jendela di sebuah ruangan yang penuh dengan aroma kopi yang khas. Di luar hujan terdengar sangat lebat. Orang-orang terlihat masih berlalu lalang meski badan mereka basah terkena hujan. Wanita itu melihat seorang gadis kecil dan ayahnya yang mencoba meneduh di sebelah kafe saat ini dia berada. Melihat gadis kecil itu tersenyum kearah ayahnya, membuat Lunar merindukan sosok ayahnya. "Ayah.." suaranya terdengar begitu lirih. Beberapa saat kemudian dia tersenyum miring. Mengingat ayahnya adalah hal yang sangat tidak diinginkan olehnya. Dia menatap gelas kosong yang ada dihadapannya. Matanya memerah, menunjukkan kemarahan yang teramat sangat. Lunar mengaduk gelas kopi yang isinya yang sudah hampir habis dan setelah itu langsung meminumnya dengan satu kali tegukan. Matanya melihat kearah sekitar kafe sekali lagi. Tatapannya berhenti di tempat yang biasa digunakan untuk pertunjukan musik. Masih kosong disana, hanya ada peralatan musik yang memang sudah ada disana dari awal. Jam masih menunjukkan pukul 4 sore, masih ada waktu 1 jam sebelum dia bertemu dengan temannya. Disisi lainnya, seorang lelaki sedang memainkan gitar didalam kamarnya. Melodi yang tak beraturan terdengar sangat merdu. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Hujan seolah menemaninya dengan pikirannya yang sangat kacau. Kamarnya sudah terlihat seperti kapal pecah. Tak terurus. Bunyi deringan handphone akhirnya mengalihkannya dari lamunan. “Kamu dimana, bukannya hari ini kamu mengisi acara di kafe.” Suara perempuan terdengar dari ponsel yang saat ini sedang dipegangnya. “Ya, aku kesana sekarang.” Jawabnya kemudian langsung menutup panggilan. Elio seseorang yang sedari tadi memainkan gitar itu pun akhirnya mengambil jam tangan dan kunci mobilnya dari nakas dan langsung menuju kafe. Elio memasuki kafe dimana dia biasa tampil untuk bernyanyi. Hujan hari ini membuat kafe itu memiliki banyak pengunjung hari ini. Dia mempersiapkan peralatan yang akan dipakainya untuk tampil. Gitar dan piano sudah tersedia disana. Elio mulai memainkan piano di depannya. Lagu Break my Heart Again dari Finneas pun memenuhi ruangan. Alunan permainan piano Elio benar-benar terdengar sangat merdu. Suara Elio yang dalam dan alunan musik dari piano langsung membuat terkesan para tamu yanga ada di kafe itu. Begitupun juga dengan Lunar. Lunar berjalan menuju kearah Elio. Semakin dekat, Lunar semakin menatap Elio dengan dalam. Lunar merasa getaran aneh ketika mendengar suara itu. Lagu berakhir, tangan Elio masih berada di atas piano. Tepuk tangan yang begitu meriah terdengar dari semua sudut kafe. Tatapan Elio kemudian beralih ke arah Lunar. Mereka saling berpandangan. Tatapan Lunar yang sendu dan dalam. Dan Elio yang menatap Lunar dengan arti yang tidak bisa dijelaskan. Sebuah tangan menepuk bahu Elio. Dan akhirnya membuat Elio memalingkan pandangannya. "Aku sudah tidak heran. permainanmu memang selalu bagus." Ucap Sandra memuji penampilan Elio. Elio hanya diam dan kembali melihat ke arah Lunar. Tetapi saat berbalik, Lunar sudah tidak ada disana. Lunar kembali ke tempat duduknya saat temannya sudah menelpon, dan berkata dia sudah ada di depan kafe. "Lunar, gue udah di depan. Cepetan keluar!" katanya tadi saat di telefon. Dengan cepat Lunar membereskan semua barang-barangnya dan menuju ke parkiran kafe. *** Lunar terlihat begitu gelisah. Wajahnya penuh dengan keringat. Jam masih menunjukkan pukul 2 dini hari. Lunar kembali terbangun dari tidurnya. Ah, sudah berapa lama dia hidup seperti ini. Tidak bisa tidur nyenyak setiap malam. Pasti ada saja yang membuatnya terbangun. Lunar hidup sendiri. ayahnya pergi, dan Lunar pun tidak ingin mencari tau dimana keberadaan ayahnya tersebut. Ibunya sudah meninggal sejak Lunar berusia 12 tahun. "Hufft.." Lunar menghela nafas sekali lagi. Dia sangat lelah, dia hanya ingin tidur dengan nyenyak. Dia tidak ingin di hantui dengan hal-hal yang membuatnya merasa takut sepanjang malam. Lunar mengambil obatnya di nakas samping tempat tidurnya, dan meminumnya 2 butir sekaligus. Dia benar-benar butuh tidur. karena dia tidak tau apa yang akan di hadapinya esok. Di tempat yang berbeda Elio menyesap lagi batang rokok yang ada di tangannya. Pikirannya kembali kepada kejadian tadi sore ketika ia melihat Lunar. Wanita cantik dengan rambut ikal yang terurai panjang. Matanya menatap Elio seakan-akan mereka pernah bertemu sebelumnya. Apakah aku pernah bertemu dengannya ? Pikir Elio. Alisnya mengernyit dalam. Sepertinya aku tidak pernah bertemu dengan wanita itu.. Sangkal Elio. Elio melihat jam tangannya kembali. Ternyata sudah dini hari. Dia harus segera pulang dan tidur jika besok tidak ingin terlambat bekerja. Elio mematikan batang rokoknya dan kemudian mengemudikan mobilnya yang membawa dirinya pulang kerumah. *** Sinar matahari menyelinap masuk dari celah jendela kamar Lunar. Sedangkan Lunar terlihat masih nyaman dengan tempat tidurnya sekarang. Bunyi alarm dari handphone Lunar pun akhirnya membuat Lunar terbangun. Lunar meregangkan badannya dan mengambil handuk yang tersampir di dekat pintu kamarnya. Lunar pergi menuju kamar mandi. Selesai dengan segala kegiatannya dikamar mandi, Lunar pun berbenah untuk pergi bekerja. Tempat kerjanya tidak jauh dari rumahnya saat ini. Hanya memerlukan waktu 30 menit dengan sepeda motor. Lunar mengeluarkan motornya dan pergi ke kantor. Sesampainya Lunar di kantor, ia langsung memarkirkan sepeda motornya dan masuk kedalam gedung. "Pagi neng Lunar." sapa para satpam yang bekerja disitu. "Pagi pak." Lunar menjawabnya dengan senyuman yang sangat ramah. Lunar langsung pergi memasuki gedung kantor itu. Ketika memasuki ruangan bagiannya, Lunar langsung meletakkan tasnya di meja dan menuju arah pantry. Membuat segelas kopi untuk memulai hari nya. "Wah, Ibu Lunar hari ini datang pagi sekali." salah satu office girl berkata ke arahnya saat ia melihat Lunar di pantry. Lunar tersenyum sambil melihat arah jam tangannya. "Ini udah jam 7.30, sudah cukup siang untuk dikatakan pagi." jawabnya sambil menengguk kopi di gelasnya. Lunar sangat menyukai kopi. Dalam satu hari dia bisa meminum 3 gelas kopi. "Ya kan ibu mulai masuknya jam 8. Tapi jam segini udah disini, hehe. Itu termasuk pagi loh bu." kata si office girl dengan logatnya yang sangat terlihat dan tersenyum ke arah Lunar. Lunar hanya membalasnya dengan tersenyum singkat. Lunar menepuk bahu office girl tersebut dan kembali kedalam ruangannya. "Lun, laporan bulan ini udah kelar? Si bos udah nanyain tuh." kata salah satu teman yang satu bagian dengannya. "Udah kok, si bos udah dateng emang?" tanya Lunar kembali sambil menyiapkan laporan yang sudah rapi di atas mejanya. "Kayaknya udah. Coba aja lu liat di ruangannya." jawabnya. "Ok, thanks ya." ucap Lunar sambil berlalj ke arah ruangan Bagas. Atasan Lunar di bagian keuangan. Lunar mengetuk pintu ruangan Bagas dengan pelan. "Masuk." Setelah terdengar suara itu, Lunar langsung membuka pintu. Bagas terlihat sedang memeriksa beberapa dokumen. "Selamat pagi Pak Bagas. Ini laporan keuangan bulan ini yang bapak minta." ucap Lunar seraya menyerahkan map yang dibawanya sedari tadi. Bagas menerimanya. Lunar bermaksud untuk keluar setelah menyerahkan laporan itu. Tetapi Bagas menahannya sebelum Lunar beranjak dari ruangan tersebut. "Sepertinya dibagian ini kurang kamu periksa Lunar." kata Bagas saat melihat ke arah Lunar. Lunar mengambilnya kemudian memeriksanya sekali lagi. Lunar yakin dia sudah mengerjakannya dengan benar dan teliti. "Sepertinya bapak perlu memeriksanya lagi. Saya pamit supaya bapak bisa memeriksanya. Permisi." kata Lunar setelah meletakkan dokumen kembali ke meja Bagas. Lunar tau bahwa Bagas hanya ingin menahannya supaya tetap berada disana. "Huh." helaan napas Lunar terdengar saat dia sudah kembali ke tempat duduknya. Fiya, teman satu ruangannya bertanya pada Lunar ketika melihatnya menghela napas panjang. "Lagi?" tanyanya. Lunar hanya menggangguk sambil menyalakan personal komputernya. Fiya hanya tertawa terbahak. Semua bagian keuangan sudah tau bahwa Bagas menyukai Lunar. Tapi Lunar adalah orang yang cukup sulit untuk ditakhlukan oleh Bagas. Lunar tidak mudah dekat dengan laki-laki. Bahkan jika ada laki-laki yang mendekatinya. Lunar akan langsung pergi dari tempat itu. Ada hal yang benar-benar membuat Lunar bersikap seperti itu. Disaat teman-teman seusianya sudah menikah dan memiliki anak. berbeda dengan Lunar. Dia bahkan tidak berpikiran untuk menikah. Jam istirahat pun akhirnya tiba. Lunar pergi mengambil kunci sepeda motornya dan dompetnya. "Mau kemana,Lun ?" tanya Fiya. "Keluar sebentar, cari udara segar." jawab Lunar. Lunar pergi kearah kafe yang ada di dekat gedung kantornya. Lunar merasa sesak. Hari ini seperti nya benar-benar menguras tenaganya. Belum lagi Bagas yang terus menerus mengganggunya. Lunar pergi ke kafe dan langsung memesan frappucino dan beberapa cemilan untuk mengisi perutnya. Dia lapar, tapi tidak ingin makan apapun. Lunar melihat ke arah panggung yang ada di dalam kafe tersebut. Hanya ada beberapa alat musik yang terletak disana. Waktu masih sangat begitu siang untuk pertunjukkan musik. Dan juga ini adalah hari senin. Mana ada pertujuan live musik. Pikir Lunar. Kafe yang tadinya cukup sepi mendadak ramai seketika. Ah pantas saja, kafe ini juga dekat dengan kampus, wajar kalau ramai. Sepertinya mereka juga ingin mengisi perutnya. Frappucino pesanan Lunar pun akhirnya datang. Lunar sangat menikmati makanannya, sekarang. Ketika Lunar ingin beranjak dari tempat duduknya untuk kembali ke kantornya, tanpa sengaja ada seseorang yang menyenggol bahu Lunar, dan menumpahkan minuman yang dibawanya ke arah baju Lunar. "Ah, maaf aku tidak sengaja." seorang lelaki tampan yang terlihat seperti orang asing itu pun langsung meminta maaf. Lunar hanya menatap tajam dan meninggalkannya tanpa kata sedikitpun. Meninggalkan kafe yang mendadak hening setelah kejadian itu. Lunar sangat tidak suka, bahkan benci menjadi pusat perhatian, akhirnya langsung pergi dari sana. Sedangkan pria tampan itu melihat kepergian Lunar dengan senyum tipisnya. "Sangat menarik." ucapnya dengan suara yang sangat pelan sampai tidak ada satu orangpun yang mendengarnya. Dan tanpa Lunar sadari, ini adalah awal kehidupan Lunar yang baru. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.5K
bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
73.5K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook