Elio terbangun dari tidurnya. Cahaya matahari terasa seperti tepat berada di atasnya saat ini. Jam di nakasnya sudah menunjukan pukul 7.30. Sudah cukup siang untuk memulai pagi di hari Senin. Kepala Elio terasa sangat sakit.
"Apakah aku banyak minum tadi malam?" tanyanya pada dirinya sendiri. Elio mengambil segelas air yang selalu ada di nakasnya.
Sebelum pulang kerumahnya Elio menyempatkan dirinya pergi ke club tempat biasanya menghabiskan waktu ketika jenuh. Elio pergi ke kamar mandi sembari terus memegangi kepalanya. Setelah selesai dengan kegiatan di kamar mandi Elio pun bersiap-siap menuju kantornya.
Elio adalah salah satu Direktur muda di perusahaan ternama di Jakarta. Elio pergi ke kantornya dengan mengendarai mobilnya. Ketika menuju kantornya, di jalan dia melihat seseorang yang kemarin menatanya di kafe. Perempuan itu mengendarai sepeda motor dan memakai pakaian yang cukup rapih.
Apakah dia juga bekerja di sekitar sini? pikir Elio. Akhirnya Elio pun mengikuti arah perempuan itu pergi. Elio cukup kaget saat melihat perempuan itu ternyata memasuki area parkiran gedung kantor Elio. Ternyata benar, dia pegawai disini. Kata Elio didalam hatinya.
"Pagi neng Lunar." sapa para satpam yang sudah siap berjaga di depan gerbang kantor.
"Pagi pak." Perempuan itu menjawabnya dengan senyuman yang sangat ramah. Elio terus memerhatikannya dari kejauhan
Ah sepertinya dia bernama Lunar. Elio coba menebak nama perempuan itu. Senyuman nya benar-benar manis. Elio melajukan mobilnya masuk ke halaman kantornya. Dia turun dan kemudian menyerahkan kuncinya ke salah satu satpam yang berjaga.
"Selamat pagi Pak." ucap salah satu Satpam sambil menghormatkan tangannya ke arah Elio. Elio hanya mengangguk dan langsung masuk menuju kantornya. Saat sampai di resepsionis, Elio melihat beberapa karyawannya memakai baju ketat dan make up yang sangat tebal. Ah mereka terlalu keras berusaha. Pikir Elio. Seakan sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu, Elio hanya melewatinya seperti tidak ada apa-apa disana.
Elio pergi ke arah ruangannya. Pagi ini suasana hati Elio benar-benar sedang bagus. Dia tersenyum sepanjang jalan menuju ruangannya. Dan akan berubah menjadi datar ketika ada orang lain. Lunar benar-benar membuat Elio terlihat seperti orang bodoh. Setibanya Elio di ruangannya, Elio langsung mengerjakan pekerjaannya yang harus dia selesaikan sekarang. Dan Elio akhirnya terlarut dengan pekerjaannya.
Jam akhirnya menunjukkan pukul 12 siang. Waktunya istirahat. Elio sudah janji akan makan siang di rumah Sandra. Elio mengambil kunci dan jas nya yang tersampir di kursinya, kemudian pergi menuju tempat parkir. Sebelum sampai di tempat parkir, Elio melihat Lunar yang juga ingin menuju ke tempat parkir. Kebetulan yang membuat Elio lagi-lagi tersenyum. Elio melihat Lunar mengeluarkan sepeda motornya, sepertinya dia ingin pergi ke suatu tempat. Karena Elio tidak ingin kehilangan jejak Lunar, Elio langsung mengeluarkan mobil dan mengendarainya dengan kecepatan cukup tinggi saat Lunar sudah keluar dari tempat parkir.
"Dia pergi kemana?" melihat Lunar yang begitu lihai mengendarai sepeda motornya membuat Elio penasaran, akan kemana perempuan ini pergi.
"Bukannya ini jalan menuju kafe Sandra?" tanyanya lagi pada dirinya sendiri. Elio masih mengikuti Lunar, dan Lunar menuju salah satu kafe milik Sandra, kakak Elio. Elio melihat Lunar yang memarkirkan sepeda motornya, dan masuk kedalam kafe. Elio pun akhirnya mengambil handphonenya dan menelepon Sandra.
"Halo, El. Dimana kamu? bukannya kau bilang mau makan siang dirumah?" tanya Sandra dari seberang telepon.
"Sepertinya aku tidak bisa kesana sekarang, San, aku ingin makan diluar." jawab Elio.
"Kenapa? apakah ada hal penting? Baiklah kalau begitu." tanya Sandra yang terdengat sedikit khawatir dengan Elio.
"Tidak ada. aku hanya benar-benar ingin makan diluar sekarang, sudah ya, akan ku matikan teleponnya." Ucap Elio dan langsung menutup telepon nya.
Setelah menghubungi Sandra, Elio langsung masuk ke dalam kafe. Melihat kesetiap sudut yang ada, mencari keberadaan Lunar. Ternyata Lunar ada di sudut kiri ruangan di dekat jendela. Dia terlihat sangat menikmati waktunya dan frappucino yang ada di mejanya. Elio kemudian memesan es americano dan beberapa kue juga. Kemudian dia duduk tepat di belakang meja Lunar. Beruntunglah karena Sandra sedang tidak ada di kafe sekarang.
Kafe yang tadinya sepi berubah mendadak menjadi ramai. Para mahasiswa dari kampus yang berada di sebrang kafe ini sepertinya juga ingin sekedar nongkrong atau mengobrol bersama teman-teman nya. Elio melihat Lunar yang akan beranjak dari tempatnya. Elio yang ikut terkejut pun langsung berdiri dari kursinya. Reflek Elio ternyata membuatnya menyenggol bahu Lunar dan tidak sengaja membuat es americanonya tumpah ke baju Lunar.
"Ah, maaf aku tidak sengaja." ucap Elio ketika ia melihat es americano yang ada ditangannya sudah membasahi baju Lunar. Elio memperhatikan wajah Lunar. Wajah Lunar mulai memerah karena kesal. Tanpa berbicara apapun Lunar keluar dari kafe. Suasana yang tadinya begitu ramai mendadak hening. Elio menarik ujung bibirnya.
"Sangat menarik." ucapnya dengan suara kecil yang tidak bisa di dengar oleh siapapun.
***
Lunar merasa sangat kesal. Sudah sangat jelas kalau pria tadi bangun saat Lunar hendak beranjak dari tempat nya juga. Bagaimana bisa dia bilang kalau ini tidak sengaja? Apakah dia mau membodohi Lunar? Lunar kembali ke kantor dengan suasana hati yang benar-benar buruk karena pria itu.
"Lun, baju lu kenapa? abis nyebur dimana lu?" ucap Fiya ketika melihat baju Lunar yang hampir berubah menjadi cokelat dengan tawa yang hampir keluar dari mulutnya.
"Berisik, Fi. tadi gue ketemu cowok gila." jawab Lunar sambil menuju arah lokernya untuk mengambil baju cadangan Lunar.
"Lunar, saya tunggu di ruangan saya." Belum sempat Lunar duduk di tempatnya, Bagas sudah memanggilnya lagi untuk ke ruangannya. Apakah Bagas tidak merasa lelah? Lunar saja sudah merasa sangat lelah. Padahal hari ini baru berjalan setengah hari.
Seperti biasa sebelum memasuki ruangan atasannya, Lunar mengetuk pintunya. Setelah mendapatkan ijin untuk masuk ke dalam ruangan, Lunar pun membuka pintunya.
"Ada yang bisa saya bantu pak Bagas?" Tanya Lunar dengan sopan.
"Saya barusan memeriksa laporan yang kamu buat. Ternyata ada yang masih belum sesuai dibagian pengadaan barang. Ini apakah sudah kamu konfirmasi lagi ke bagian produksi?" tanya Bagas dengan wajah seriusnya.
"Saya sudah memastikannya sendiri ke bagian produksi pak, dan memang jumlahnya segitu." jawab Lunar dengan santai. Lunar menunggu respon lain dari alasannya. Tapi sedari tadi Bagas hanya diam sambil menatapnya. Lunar mulai merasa risih karena terus ditatap, akhirnya membuka suaranya kembali.
"Apakah masih ada yang lain pak?" tanya Lunar.
"Tidak, saya hanya heran. Harus berapa kali saya ngomong ke kamu biar kamu mau menerima saya." Lagi, Bagas memulainya lagi. Ini kesekian kalinya Bagas membahas itu.
"Mohon maaf pak, tanpa mengurangi rasa hormat saya, sebaiknya bapak tidak mencobanya lagi di kemudian hari. Saya permisi pak." Ucap Lunar masih mencoba menolaknya dengan sopan, kemudian pergi meninggalkan ruangan Bagas. Setelah Lunar keluar dari ruangan Bagas. Seorang pria lain masuk kedalam ruangan Bagas.
"Oh, Pak Elio. Selamat siang pak." Ucap Bagas dengan nada yang sangat sopan. Elio yang melihat Bagas bersikap sopanpun langsung melempar map yang tadi dibawanya.
"Tumben amat lu, Gas ngomongnya pake nada sopan gitu." ejek Elio.
"Sekarang kan Bapak atasan saya disini. Maka saya harus bersikap sopan terhadap bapak." jawab Bagas dengan suara yang sangat lembut.
"Geli gue, ini kaya bukan lu banget." Ucap Elio sambil melemparkan dirinya ke sofa yang ada diruangan Bagas. Meskipun Bagas hanya manajer keuangan, sebenarnya Bagas juga teman dari Elio. Bagas dan Elio sudah berteman lama sejak mereka duduk di bangku kuliah dan sampai sekarang.
"Cewe yang tadi keluar dari sini itu pegawai sini ya?" Tanya Elio berbasa-basi. Elio benar-benar ingin memastikannya lagi.
"Iya. Namanya Lunar." jawab Bagas, tanpa merasakan kecurigaan sebelumnya.
"Ohh, Lunar." Elio mengangguk kan kepalanya beberapa kali.
"Kenapa, tumben banget lo nanyain pegawai. Biasanya juga kan lo ga perduli." Tanya Bagas yang mulai curiga. Pasalnya Elio itu cukup dingin bagi orang-orang disekitar kantor. Kecuali dengan Bagas, karena Bagas sudah cukup lama berteman dengan Elio.
"Gapapa, gue mau mulai memperhatikan karyawan-karyawan gue mulai saat ini." Jawab Elio dengan percaya diri.
"Sebaiknya gausah. Yang ada nanti mereka bakal makin cari perhatian sama lu. Lu cukup jadi seperti biasanya aja oke." Kata Bagas lagi.
Elio tidak mendengarkan perkataan Bagas. Ia hanya keluar dari ruangan Bagas dan berniat untuk kembali ke ruangannya. Akhirnya dia menemukan dimana si perempuan itu berada.
***
Lunar masih fokus dengan pekerjaannya sampai akhirnya dia melihat pria yang tadi siang menyiramnya dengan kopi, berada di samping meja kerjanya. Lunar kaget, hanya saja dia bisa mengontrol ekspresinya.
"Aku minta maaf ya soal yang tadi." Ucap Elio ke arah Lunar sambil mengulurkan tangannya.
Elio melihat baju Lunar yang sudah berubah dengan yang tadi siang digunakan oleh Lunar. Lunar tidak menyambut uluran tangan Elio. Dia mendiamkannya seakan tidak ada apa-apa disitu.
"Hei, nona. aku lagi ngomong sama kamu loh sekarang." ucap Elio sekali lagi sambil melambaikan tangannya ke depan wajah Lunar. Lunar masih mengabaikannya. Sampai akhirnya Pria itu mengambil tangan Lunar dan menjabatnya. Lunar langsung menepis tangan itu denga kasar. Elio kaget mendapat perlakuan seperti itu dari Lunar.
"Mohon maaf siapapun anda, apakah anda bisa diam dan tidak mengganggu saya saat jam kerja?" ucap Lunar dengan penekanan yang sudah sangat jelas kalau dia sedang tidak ingin diganggu siapapun. Elio yang mendengar ucapan Lunar hanya menaikan ujung bibirnya. Sambil bersiul akhirnya Elio pun keluar dari ruangan Lunar. Seperginya Elio, Fiya langsung menghampiri Lunar.
"Lun, lu tau siapa yang tadi lo usir itu?" tanya Fiya dengan wajah hawatirnya. Lunar menggeleng kecil. Berfikir siapa memang orang itu.
"Dia direktur utama perusahaan ini." ucap Fiya dengan sedikit gemetar. Lunar terdiam sebentar, ketika dia sadar dia sudah berbicara sedikit kasar, akhirnya Lunar pun menenggelamkan wajahnya ke meja.
***