Chapter 6 : Her (Lunar's POV)

1812 Kata
Akhirnya jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Aku membereskan semua barang-barangku dan menuju parkiran untuk mengambil kendaraanku dan pulang kerumah. Lift berhenti di lantai 5 dan saat pintu lift terbuka aku melihat Elio berjalan dengan seorang perempuan yang tidak aku kenali. Mereka sangat terlihat serasi. Elio yang tampan dan perempuan itu yang mempesona. "Baru pulang Lunar?" tanyanya saat mereka masuk kedalam lift yang menuju lantai bawah ini. Beberapa saat kemudian aku tersadar. Bukankah Elio tadi bilang dia ada urusaan pergi keluar? tapi kenapa jam segini dia baru turun dari lantai 5? "Iya Pak, pekerjaan hari ini baru saja selesai." Aku menjawabnya dan mencoba menghilangkan rasa penasaranku tentang nya. Ingat itu bukan urusanku sama sekali. Aku disini hanya pegawai, jadi buang jauh-jauh rasa penasaranmu itu Lunar. Akhirnya lift berhenti tepat di basement parkiran kantor ini. Perempuan itu melihat ke arahku dan tersenyum. Senyum yang sangat manis. Ah kalau memang dia pacar Elio, kuakui mereka benar-benar pasangan yang sangat serasi. Elio langsung melangkahkan kakinya keluar lift tanpa melihat ke arahku. Ya memang harusnya seperti itukan? Akupun keluar dan mengambil sepeda motorku yang ku parkirkan di tempat sebelah kawasan parkir mobil. Tepat pukul 6 sore aku sampai di rumah. Saat aku ingin membuka pintu, ada surat yang hampir saja ku injak. Tidak ada nama dan alamat pengirimnya. Aku membawa surat itu masuk ke dalam. Mungkin saja itu surat tagihan listrik bulan ini kan? Sebelum rasa malas ku datang aku langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Malam ini aku ingin makan spageti, dan langsung saja aku memasaknya. Setelah selesai dengan urusan perutku aku kembali ke kamar untuk sekedar membaca buku atua novel. Novel terbaru yang kubeli 2 minggu lalu, belum sempat aku baca karena. Saat aku ingin mengambil novel tersebut, amplop surat yang ku temukan tadi menarik perhatianku. Kalau memang ini surat tagihan listrik, amplopnya terlihat begitu sederhana. Tapi siapa juga yang iseng mengiriminya surat disaat sudah banyak alat komukasi yang canggih seperti ini. Aku membukanya perlahan takut isinya akan ikut sobek saat aku menyobeknya. Didalamnya ada satu lembar kertas putih yang sudah terisi kata-kata. Aku mulai membacanya, ini memang untukku, tapi siapa pengirimnya? Aku membalik-balikkan kertas dan amplop itu lagi. Memeriksanya lagi dengan teliti. Tapi aku tidak menemukan apa yang aku inginkan. Menyerah akupun akhirnya memutuskan untuk membacanya saja. Halo Lunar. Senang akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Semoga kita bisa bertemu lagi lain kali ya . Orang ini benar-benar tidak ada kerjaan rupanya. Kalau bertemu kan harusnya menyapa atau menemuiku. Tetapi kenapa dia mengirim surat yang sangat singkat seperti ini? Aku memastikannya lagi barang kali dia menuliskan tanda atau inisial apapun disurat itu. Tapi nihil, aku tidak menemukan apa-apa disana. Aku menyerah dan langsung membuang surat iseng itu ke tempat sampah dekat pintu kamarku. *** Pagi ini seperti biasa aku berangkat ke kantor, tapi kali ini aku berangkat dengan membawa mobilku. Ada barang yang harus aku beli setelah pulang dari kerja. Saat turun dari mobil aku berpapasan dengan Elio. "Selamat pagi pak." Sapaku setelah melihat nya keluar dari mobilnya. "Wah, jarang sekali ya kita berpapasan seperti ini." Ucapnya dengan senyum yang merekah di wajahnya. Aku membalasnya dengan senyum kecil. "Saya permisi masuk kedalam duluan pak." Ucapku bermaksud untuk pamit masuk terlebih dahulu tapi ucapan Elio membuatku mengurungkan niat ku untuk langsung masuk kedalam. "Kemarin itu kakak saya Lunar." Ucapnya. Aku berhenti di tempat dan kemudian langsung melihat ke arah Elio dengan tatapan yang bingung. "Saya hanya tidak ingin membuat kamu salah paham. Dia kakak saya." Jelasnya lagi. Oh sepertinya dia sedang membicarakan wanita kemarin yang bersama dengannya itu. "Oh, apakah bapak sedang membicarakan wanita cantik kemarin yang bersama bapak?" tanyaku memastikannya lagi. Dia mengangguk kecil. Saat aku melihatnya dia menunjukkan mata bulatnya. Ah kenapa dia bisa terlihat begitu lucunya. "Saya gamau kamu mikir dia itu pacar saya." Ucapnya lagi. Dia berjalan mendekat kearahku. Badanku reflek berjalan mundur kebelakang. Kulihat mukanya sedikit kebingungan. "Iya baik pak, bapak tidak perlu mendekat seperti itu ke arah saya." Ucapku pelan. "Kenapa?" tanyanya. memang orang yang tidak mengenalku pasti akan bertanya seperti itu. Dulu Bagas pun begitu, tetapi sepertinya dia sekarang menyerah dan lebih memilih berada di jarak aman dariku. "Saya hanya sedikit tidak nyaman pak." jawabku dengan suara sepelan mungkin. Sepertinya Elio tidak mendengarkan suara ku tadi, dia semakin mendekat dan mendekat lagi. Kakiku terus berjalan mundur sampai sudah tidak bisa kemanapun lagi. Aku memejamkan mataku ketakutan. Tapi tidak ada apapun yang terjadi, saat aku membuka mata wajah Elio terlihat tepat di depan wajahku. Dia mencium dahiku, dan menjentikkan jarinya di kepalaku. "Kamu harus terbiasa dekat denganku, Lunar." katanya sambil berlalu dari sana. Aku mengerjabkan mataku, apakah aku salah dengar tadi? terbiasa? kenapa aku harus? Aku pun mengikuti langkah Elio dari belakang. Seperti yang sudah-sudah aku mempersiapkan croissant dan dan teh yang biasa di minum oleh Elio. Ini baru hari ke 3 aku bekarja dengannya tapi aku merasa kalau aku sudah bekerja sangat lama dengan Elio. Selesai menyiapkan semuanya aku mencoba mencari keberadaan Elio, karena sedari tadi aku tidak melihat nya dimanapun. Mataku memperhatikan semua ruangannya dan aku melihat bingkai foto dia dan wanita itu. Mereka tersenyum senang disana. Senyum yang sangat terlihat bahagia, dan mereka terlihat sangat muda di foto itu. Elio kembali keluar dari ruangan yang ada di belakang meja kerjanya itu. "Terpesona huh?" tanyanya, apakah dia baru meremehkanku karena aku melihat fotonya itu? "Tidak pak bukan begitu, eumm ini foto bapak dengan kakak bapak kah?" tanya ku sesopan mungkin takut menyinggung perasaannya. Dia mengangguk "Namanya Sandra, dia yang punya kafe yang biasa kamu datengin tidap istirahat." jelasnya lagi. Wah aku tidak menyangkanya bahwa kafe biasa aku berdiam diri adlah milik kakak Elio. "Siang ini mau pergi makan bareng disana?" tanya Elio padaku. "Sekalian kita ketemu sama Sandra, kayanya dia juga suka sama kamu deh." ucapnya lagi. Aku mengangguk dan mengiyakan ajakan Elio. Aku tidak bisa menolak ajakan nya. Aku pamit dan kembali ke ruanganku untuk mengerjakan tugas ku yang harus aku selesaikan. Jam makan siangpun akhirnya datang, seperti ucapannya tadi pagi, dia benar-benar mengajakku ke kafe kakaknya. Kami pergi menggunakan mobil Elio. Tadi ketika kami turun ke ruangan parkir, banyak mata para karyawan dan staff lain yang melihat kearahku dengan sinis. Resiko, saat karena saat ini aku sedang berjalan dengan bos besar. Aku sudah siap saat aku disuruh menjadi asisten Elio. Aku tau ini akan terjadi padaku. Selama perjalanan, Elio dan aku saling diam. Dia tidak berbicara apapun dan akupun tidak berani memulai pembicaraan terlebih dahulu. Aku ingin menyalakan radio di mobil ini, tapi ini bukan mobilku, jadi aku urungkan. Akhirnya selama beberapa menit saling diam, kami sampai di kafe itu. Suasana kafenya tidak begitu ramai hari ini. Saat masuk ke dalam aku melihat wanita kemarin itu sedang berbicara dengan salah satu pelanggan yang ada disitu. Dia sangat cantik dan ramah. Kesanku saat pertama kali melihatnya kemarin dan hari ini. "El, kamu datang. Oh siapa ini?" katanya sesaat setelah melihat Elio dan aku yang berdiri disamping Elio dengan ramah dan senyum yang indah. "Iya, San, ini Lunar, asisten pengganti selama Yola cuti." jawab Elio menjelaskan tentangku. "Aku Sandra, kakak Elio, salam kenal Lunar." katanya sambil mengulurkan tangannya kearahku. Aku menyambut uluran tangannya dan menyebutkan namaku. "Saya Lunar kak." jawabku kemudian. Dia langsung menarik tanganku dan membawanya ke arah meja yang sepi dari orang lalu lalang. "Kamu duduk disini dulu aja ya." Ucap Sandra kemudian langsung meninggalkan ku dan Elio yang menyusul duduk kemudian. "Dia sepertinya suka sama kamu Lun." ucap Elio kemudian, aku sedikit melototkan mataku saat mendengar Elio berkata seperti itu. Melihat responku Elio langsung membenarkan ucapannya. "Maksudnya bukan suka yang seperti itu Lunar, tapi ya dia senang mendapat teman baru sepertimu." Jelasnya lagi. Aku menghembuskan napas lega saat tau maksud Elio adalah seperti itu. Sandra orangnya ramah tentu banyak yang akan menyukainya juga. "Sandra cantik dan ramah, pasti orang lain juga mudah menyukainya bukan." kataku mengungkapkan apa yang ada di pikiranku saat itu. Elio menggeleng mendengarkan pernyataanku. "Dia baru bisa tersenyum saat ini setelah beberapa tahun." ucapannya membuatku sedikit kaget. Aku ingin bertanya lebih lanjut, tapi tak lama kemudian Sandra datang ke meja kami sambil membawa beberapa cake dan minuman yang belum pernah aku lihat sebelumnya disini. "Aku tadi buat resep minuman baru, ini kamu cobain ya terus kasih tau aku apa yang kurang dari minuman ini." katanya sambil menyerahkan satu gelas sprinkle berwarna ungu di gelas yang cantik. Aku mengangguk dan mulai mencicipinya, ini terasa sangat enak dan menyegarkan, tapi ada yang kurang. "Eum kak Sandra, aku boleh jujur? Ini sedikit terlalu manis apa kau bisa mengurangi manisnya sedikit?" Jujurku setelah itu mencoba membaca ekspresi wajah seperti apa yang akan Sandra tunjukkan. Dia terlihat tersenyum cerah. "Aku juga berpikir seperti itu. Nanti akan kukurangi sedikit gulanya."Jawabnya lagi dengan senyuman yang tidak hilang dari wajahnya. "Lunar sudah lama bekerja dengan Elio?" tanyanya lagi. "Kalau di perusahaan pak Elio sudah hampir 5 tahun, kalau bekerja langsung dengan Elio sepertinya baru beberapa hari saja kak." Jawabku jujur. Sandra melihat ke arah Elio dengan senyum kecil di bibirnya. Senyumnya seperti mengisyaratkan sesuatu. "Dia salah satu pegawai terbaik di kantor loh kak." Elio tiba-tiba ikut berbicara dan menambahkan. aku menggeleng tidak menyutujui ucapan Elio. Itu terasa sangat berlebihan untukku. Kami akhirnya berbincang bincang tentang banyak hal, Sandra orang yang benar-benar menyenangkan, Dan sepertinya mulai saat ini aku bisa menambah teman baru. Kami berbincang sampai lupa waktu. Saat aku menyadari bahwa jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 1 tepat, aku berbicara kepada Elio dan Sandra kalau ini sudah waktunya masuk kantor. "Kamu masih khawatirkan jam kantor Lun, jangan khawatir bahkan saat ini kamu sedang pergi bersama dengan direktur utama kantornya." Ucap Elio sedikit terdengat sangat berlebihan. "Tetap saja pak, ini waktunya saya untuk masuk, saya tidak ingin mendapat tatapan sinis lagi dari karyawan dan staff di kantor pak." jelasku, Sandra akhirnya menyuruh Elio untuk kembali ke kantor sesuai dengan apa yang ku ucapkan tadi. Dan kami pun akhirnya berpamitan dengan Sandra. "Lunar nanti kalau mau apapun jangan sungkan buat dateng kesini lagi ya." katanya sambil menyium pipi kiri dan kananku secara bergantian. "Iya kak, makasih untuk makanan enaknya hari ini." Ucapku saat melepas pelukannya. Aku dan Elio akhirnya keluar dari kafe dan kembali ke kantor. Saat kembali ke kantor, mereka menatapku dengan tatapan sinis, lagi. sedikit membuatku makin tidak nyaman. Aku membiarkan Elio pergi duluan ke ruangannya, dan aku berniat menyusulnya saat dia sudah pergi duluan. Tapi Elio keberatan dan akhirnya tanganku ditarik oleh Elio untuk masuk bersama kedalam lift. "Perduli banget sama mereka sih." ucap Elio saat pintu lift sudah tertutup. Aku yang masih terkejut dengan sikap Elio hanya terdiam tanpa merespon apapun. Tanganku masih di genggamannya. Aku langsung menarik tanganku saat sadar, Elio pun memegang tengkuk belakangnya. Terasa canggung. Akhirnya kami sampai di ruangan Elio, saat sampai disana, aku dan Elio melihat seorang pria yang berdiri di depan ruangan Elio. Dia adalah lelaki yang waktu itu datang bersama dengan Bagas. Aku merasakan suasana yang sedikit mencekam. Benar saja Elio terlihat tidak senang dan mengepalkan tangannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN