Saat malam tiba, acara reunian itu belum berakhir. Sebagian orang memang sudah pulang, tapi masih banyak yang memilih untuk tetap tinggal. Hasta duduk di kursi kosong yang tadinya tempat duduk Tama. Tama dipanggil guru untuk foto bersama. Bunga yang duduk tepat di sebelahnya tersenyum. Seakan tak pernah ada masalah, mereka saling menyapa dengan kehangatan. Atau mungkin Bunga sudah lupa. Begitulah yang ada di pikiran Hasta. “Apa kabar lo? Kenapa gak pernah ikut reunian?”tanya Hasta memberanikan diri. Keringatnya mengucur deras, tapi hanya ia yang tahu. “Ah, sebenarnya gue bukan gak mau datang. Tapi emang gak sempat. Lo tahu kan gue di Jogja.” “Ya. Emang gak pernah ke Jakarta?” “Engga.” “Lah, emang rumah lo gak disini lagi?” Bunga menggeleng. “Ngak. Bokap gue kan udah pindah tugas.

