Ruang tamu itu tampak penuh dengan foto keluarga. Mewah tapi tetap sederhana. Tama duduk dengan hati cemas. Bertemu dengan Pradipto seperti ketemu guru paling killer di sekolah. Tama masih menunggu sambil duduk. Tiba-tiba saja deheman keras membuat posisi Tama siaga. Ia duduk dengan perasaan was-was. Pria dengan perut buncit itu duduk tepat di depannya. “Om…”sapa Tama sambil memberi salam dengan jabatan tangan. Ia menunduk sebagai tanda hormat. “Ternyata kamu yang namanya Tama. Kamu ganteng juga ya.”puji Pradipto sambil tertawa. Tawa itu tak membuat kecemasan Tama hilang. Aura orang itu berhasil membuatnya tak berkutik. “Iya om, makasih.” “Saya ngajak kamu kesini karena baru tahu kalau Hasta punya teman. Dari dulu dia gak pernah ngajak temannya ke rumah. Ya, walaupun saya seringan di

