Bunga dijemput Elan untuk segera berangkat ke Semarang. Acara pernikahan sepupunya, Ria, jadi hal penting. Bahkan lebih penting dari acara perpisahannya dengan teman sekelas. Setidaknya, Bunga sudah izin pamit dengan teman sebangkunya. Walau ia tak sempat mengobrol dengan Tama, Anin. Ah, terutama Hasta. Ria merupakan anggota keluarga yang paling berhasil. Ya, sejauh ini. Dia selalu jadi ajang perbandingan untuk yang lain. Terutama Elan. Elan juga tak berselera pergi kesana. Kalau gak pergi, siap-siap saja dia dikutuk jadi batu sama emaknya. “Are you ok?”tanya Elan melihat wajah murung Bunga. “Ya.” “Baguslah.” Elan tahu kalau sepupunya itu sedang mogok ngomong. Kemarin Bunga sempat berantem sama papanya. Lagi-lagi soal keberangkatan hari ini. Mama tirinya malah lebih mengerti. Sejak

